Kediri Bertutur 2012: Sistim Budaya & Pendidikan dari nenek moyang

Artikel Kediri Bertutur

Mengenal Panji dan petualangannya, menurut beberapa karya sastra dan cerita babad, karakter Panji atau Panji Inu Kertapati digambarkan sebagai seorang kesatria, laki-laki yang berwajah tampan, bersikap pendiam dan halus budi, gemar menuntut ilmu dan gemar membaca, seniman piawai dan mumpuni berbagai cabang seni, bertabiat jujur dan lurus hati, menyayangi binatang terutama binatang piaraan, ramah dan sopan terhadap sesamanya, setia dan menghormati istrinya, simpatik dan menarik, pandai menulis di kertas lontar, pahlawan perang hingga dijuluki Kusuma Yudha, piawai menari dan bermain gamelan, piawai mendalang wayang.

Petualangan Panji, begitulah istilah yang mungkin cocok untuk menceritakan kisah-kisah perjalanan hidup seorang Panji pada jaman sekarang ini. Cerita Panji Inu Kertapati atau yang juga dikenal dengan nama Panji Asmara Bangun setelah kisah petualangannya berakhir dengan menikahi Candrakirana atau Dewi Sekartaji seorang putri dari kerajaan Daha (Kadhiri). Panji Inu Kertapati adalah seorang kesatria kraton Jenggala, nama saat masih berada didalam kraton adalah Raden Kudarawisrengga, merupakan putra tertua dari Prabu Lembu Amiluhur Raja Jenggala kala itu. Awalnya Panji Inu Kertapati dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Sekartaji, yaitu
puteri dari Prabu Lembu Amerdadu, Raja Daha yang merupakan adik kandung dari Raja Jenggala. Namun takdir berkata lain, dalam rencana
perjodohan tersebut banyak diselingi perbagai rintangan dan kejadian yang membuat pernikahan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji urung
dilaksanakan.

Perjodohan yang diterima sebagai bakti seorang anak kepada orang tua ini berubah menjadi sebuah kisah drama yang penuh dengan petualangan. Itu semua terjadi ketika ternyata Panji Inu Kertapati jatuh cinta dengan perempuan pujaan hatinya yakni Retno Angreni putri seorang Patih Kraton Jenggala. Bermula dari kisah percintaan inilah, drama dan berbagai konflik masuk dalam kehidupan Panji Inu Kertapati. Setelah Raja Jenggala menyadari bahwa ada hambatan yang menghalangi niatnya untuk menjodohkan Panji dengan Sekartaji, muncullah berbagai skenario untuk bisa mewujudkan rencana perjodohan tersebut. Semua itu akhirnya harus ditebus dengan kematian Retno Angreni. Kematian Angreni melahirkan dua versi penyebab, yaitu Angreni bunuh diri karena tahu dirinya akan dibunuh oleh orang suruhan Raja, dan mati dibunuh oleh Raden Nila Prabangsa yaitu anak tertua dari selir Raja Jenggala.

Sejak kematian Retno Angreni itulah kehidupan Panji Inu Kertapati mulai diwarnai dengan pengembaraan dan peperangan. Dan berita batalnya pernikahan Panji Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji tersebut tersebar hingga ke negeri negeri asing yang membuat para Rajanya tertarik untuk melamar putri kraton Kediri tersebut. Termasuk Prabu Klana Sewandana, seorang Raja dari tanah Hindu yang berencana berangkat ke Kediri dengan membawa pasukan prajurit seratus kapal banyaknya untuk melamar Dewi Sekartaji. Kisah tersebut berakhir dengan peperangan besar antara pasukan Prabu Klana Sewandana dengan prajurit Kediri. Dan Prabu Klana Sewandana-pun akhirnya dikalahkan oleh Panji Inu Kertapati. Dan kisah kesetiaan penantian Dewi Sekartaji berakhir dengan bahagia karena Panji Inu Kertapati telah kembali dan menikahinya di Kediri.

Dibalik peristiwa peperangan, pengembaraan dalam perjalanan asmara yang penuh liku terkandung nilai-nilai edukasi dan sarat dengan pesan moral yang mencakup aspek politik (pemerintahan birokrasi), sosial, ekonomi, budaya, religi, serta harmonisasi antara manusia dan alam. Andhe-andhe lumut, Kethek Ogleng, Panji Laras, Keong Emas, Timun Emas, Panji Anggreni, Panji Angkronakung adalah lakon-lakon cerita yang sangat populer di kalangan masyarakat jawa dulu dan di kalangan dalam keraton diantara ratusan bahkan ribuan cerita panji yang ada.

Perwujudan pentas lakon Panji ditampilkan melalui seni wayang beber, wayang krucil, wayang gedog, tari topeng, ketoprak, tembang (macapat), relief, arca dan tradisi /budaya bertutur orang tua dulu. Lakon lakon cerita Panji dan Candrakirana pada peradaban dan budaya masyarakat kekinian, sudah tidak mendapat empat lagi sehingga terpendam dalam budaya jaman kekinian dan dianggap usang dan kuno.

Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Orang kini menyebutnya “lokal genius.” Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi. Tembang, dongeng adalah bentuk- bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan.

Bermain adalah cara belajar yang menyenangkan, mulai dari lenggak lenggok jaranan anak-anak hingga gemulainya Dewi Sekartaji dan mbok embannya, kemeriahan gamelan sederhana yang mengiringi lagu-lagu dolanan anak, semuanya tersaji dengan ‘kemegahan’ yang sederhana, tapi susah menahan diri untuk tidak ikut bergoyang karenanya bila kita ada disana.

Kediri Bertutur memberikan banyak inspirasi tentang cara belajar dari masa lalu, bukan dengan cara ‘semena-mena’ atau asal melestarikannya, tapi lebih memahami sebuah warisan cara bertutur yang mengajarkan kebaikan dengan menanamnya dalam diri kita, apalagi sejak usia anak-anak.

Kediri Bertutur meninggalkan kenangan akan keindahan dan kepahlawanan kisah kisah tempo dulu yang tidak akan usang meski hadir di jaman serba canggih sekalipun, dan saat terlihat anak-anak tetap bermain dengan kegembiraan dengan warisan tradisi mereka, sungguh mereka tidak merasa bahwa mereka sedang belajar tentang kebaikan di dalamnya.

Dalam pementasan Kediri Bertutur ini yang menjadi ciri khas dan kekuatannya adalah, semua pementasan disajikan oleh anak-anak dengan pakaian seadanya atau pakaian sehari-hari dengan penambahan atribut dari dedaunan, hal ini membuat suasana bermain lebih menonjol dibandingkan sebuah pementasan.

Dari sini proses belajar dan mengenal budaya asli yang mereka warisi turun temurun terjadi lebih alami dan tidak dalam bentuk pemaksaan, sehingga rasa senang dan rasa suka bisa muncul dalam diri anak-anak, baik yang terlibat langsung maupun yang menonton.

Anak-anak menikmati cara bertutur yang sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka dulu dengan cara mereka, yaitu dunia bermain. Tidak terlihat sebuah kegiatan atau bentuk pembelajaran atau menggurui yang tertangkap secara langsung di acara tersebut, yang ada adalah suasana
bersenang-senang dan bermain.

Yang terlihat secara langsung dalam acara ini adalah, keterlibatan penuh masyarakat dalam proses terus menerus mengenal budaya aslinya, dengan melibatkan secara aktif di segala persiapan dan pelaksanaannya, dan bukan semata-mata sebuah bentuk hiburan rakyat yang umum dilakukan secara komersial.

Bagi anak-anak yang terlibat, acara ini tak ubahnya seperti mereka sedang bermain di pekarangan rumah saat bulan purnama tiba. Kemeriahan justrudatang dari kesederhanaan dan spontanitas yang terjadi selama persiapan hingga digelarnya acara.

Terlepas dari atribut yang mereka kenakan sebagai kostum, seperti dedaunan dan topeng atau penthul yang terbuat dari bahan alam, lakon yang mereka bawakan dari cerita Panji dan Dewi Sekartajipun tidak sepenuhnya mereka pahami secara utuh, namun semangat anak-anak ini sangat menjiwai dalam membawakan setiap perannya dalam pementasan tersebut. Mulai dari ukelan atau gerakan pakem tarian dalam membawakan jaranan, hingga saat kesurupan yang biasa terjadi dalam setiap pertunjukan.

Lewat kampung bertutur, lakon-lakon cerita Panji dan Candrakirana diketengahkan dan diceritakan lagi di tengah masyarakat kita yang kekinian dan telah kehilangan jejak akar budayanya sendiri. Melalui seni rakyat (jaran kepang), tradisi bertutur nenek moyang dulu “wayang dari merang (batang padi) dan daun” sampai pentas wayang krucil adalah perwujudan kampung bertutur dalam menjaga, merawat dan melestarikan harta karun budaya milik bangsa sendiri “Budaya Panji” yang juga sangat populer di luar jawa sampai mancanegara.

Terciptanya iklim masyarakat yang guyub – “kebersamaan” dan rukun di tempo dulu serta penanaman nilai-nilai budi pekerti kepada anak-anak, tidak bisa dipisahkan dari peranan dan fungsi “tradisi bertutur.” Lewat Kampung Bertutur ini, “kegeniusan tradisi” nenek moyang dulu yaitu “bertutur” tidak lagi menjadi “tradisi yang hilang” dalam masyarakat sekarang yang berkiblat pada budaya modernitas.

Narasumber: Kratonpedia “Bermain dan Belajar Bertutur di Kediri” oleh Wd Asmara.

Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Bujel, Mojoroto Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk Sonoageng, Nganjuk Sonoageng, NganjukSonoageng, Nganjuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s