KEDIRI BERTUTUR 2013: SESAJEN BUMI SEKARTAJI

Artikel Kediri Bertutur

Memayu Hayuning Bawana:

Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Daya hidup manusia adalah pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Warisan leluhur kita mengajarkan bahwa manusia yang berhasil adalah yang melakukan harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta.

Wujud laku spiritual dalam tataran batiniahnya, dan laku ritual dalam tataran lahiriahnya menentukan kualitas manusia. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Contoh yang baik adalah adanya pemberian sesaji yang memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).

Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam dan semua mahluk isinya.

Kediri Bertutur 4: Sesaji Bumi Sekartaji

Kediri Bertutur untuk ke-4 kalinya akan menampilkan pementasan bentuk ketulusan-keikhlasan yang didasari kesadaran kami bahwa setiap detik kami telah menikmati begitu banyak anugerah Tuhan dan alam semesta.

Sesaji Bumi Sekartaji adalah ungkapan rasa syukur kami, yang tinggal di tanah Kediri, terhadap Tuhan dan alam semesta yang telah memberi berkah, serta memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan. Kediri merupakan tanah sakral dimana para dewa dan manusia berinteraksi dalam keselarasan.

Di jaman Kerajaan Prabu Airlangga “Sang Peminum Air” (1019-1042), beliau merupakan titisan Dewa Wisnu (dengan wahana Garudamukha dimana dalam mitos kebudayaan Jawa merupakan makhluk yang kuat, tangguh, kokoh, serta sakti yang berhasil dijinakkan dan dijadikan singgasananya) ditugaskan untuk menyelamatkan dunia dari ancaman bahaya perpecahan.

Kemakmuran dan ketentraman tercapai saat pemerintahan Airlangga yang ibukotanya ditetapkan di Kahuripan pada tahun 1031. Perjuangan Airlangga merupakan perintis menuju ke arah persatuan Indonesia dimana wilayah kerajaannya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali.

Disaat Prabu Airlangga meninggalkan jabatan raja untuk pergi bertapa dalam pencarian arti kehidupan, beliaupun membelah wilayah kerajaannya menjadi dua, yaitu Kadiri (Panjalu) dan Janggala untuk menghindari adanya peperangan antara kedua putranya Sri Samarawijaya dan Sang Mapanji Garasakan dengan memberikan masing-masing wilayah kerajaan.

Dilaksanakannya upacara pemujaan pada sang Pemangku Jagad agar tetap langgenglah Jagad ini. Bisikan Dewata mengajarkan bahwa bumi itu leleh oleh air yang turun dari angkasa. Empu Barada berjalan di angkasa sambil menuangkan air kendi berisikan air suci dari atas. Terciptalah sungai yang kemudian menjadi batas antara dua bahagian negara: Janggala Keling di utara bengawan (Sang Garasakan) dan Panjalu Kadhiri di selatan bengawan (Sang Samarawijaya).

Setelah perginya sang Prabu Airlangga untuk bertapa, Prabu Garasakan ingat pesan sang ayah yang memintanya mengasuh adik-adiknya (Sanggramawijaya/Dewi Kilisuci dan Samarawijaya) sehingga tidak ada rasa dengki antara mereka meskipun serasa sulit melaksanakan bertenggang rasa dengan saudara lain ibu. Terjadilah peperangan antar dua kerajaan Panjalu dan Janggala.

Meskipun Kadhiri Panjalu dengan Janggala Keling selalu berebut unggul akan tetapi pada suatu saat terjadilah perjodohan antara keturunan prabu Mapanji Garasakan dengan keturunan prabu Samarawijaya yaitu perkawinan Panji Wireswara putra mahkota dari Janggala yang menikah dengan paduka dewi Warastrasari yaitu paduka Dewi Sekartaji (Kadhiri Panjalu) yang menyatukan Panjalu jayati dengan Janggalapraja.

Kediri Bertutur 4 secara kontinu menghadirkan cerita “Raden Panji dan Sekartaji/Galuh Candrakirana” yang merupakan cerita populer di kalangan masyarakat jawa dulu. Sejarah kerajaan Kediri adalah setting dari kidung asmara kisah cinta antara Raden Panji dan Sekartaji/Candrakirana. Sekartaji/Candrakirana adalah putri dari kerajaan Panjalu (Daha) yang konon kecantikannya menggungguli kecantikan semua bidadari di khayangan. Kerajaan Janggala (Kahuripan) memiliki putera mahkota yang bernama Raden Inu Kartapati/Panji Asmarabangun. Perjodohan antara Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji dimaksudkan untuk memperkokoh persatuan antara Janggala dan Panjalu untuk menjadi negara kesatuan yang besar dan kokoh.

Sosok Panji Asmarabangun dalam dunia pewayangan digambarkan sebagai “Arjuna” tokoh tampan dan sakti, yang selalu memenangi peperangan. Tidak berbeda dengan “Arjuna, ” Panji Asmarabangun tampil sebagai sosok ksatria yang menjadi pujaan wanita dan memiliki daya pesona asmara yang memikat hati para kekasihnya.

Penggambaran sang dewi Sekartaji/Candrakirana tidak hanya sebatas s  osok putri yang cantik nan jelita.  Dalam kisah Panji Semirang, Dewi Sekartaji/Candrakirana menyamar sebagai pemimpin kelompok prajurit yang menggambarkan sosok wanita yang mandiri dan memiliki jiwa ksatria. Sosok wanita Jawa yang tangguh, lincah serta memiliki jiwa yang liat telah hadir sejak dulu.

Kisah asmara “Raden Panji Dan Galuh Candrakirana/Dewi Sekartaji” adalah perjalanan cinta yang penuh liku bahkan melalui jalan “peperangan dan pengembaraan”. Dibalik peristiwa peperangan, pengembaraan dalam perjalanan asmara yang penuh liku terkandung nilai-nilai edukasi dan sarat dengan pesan moral yang mencakup aspek politik (pemerintahan birokrasi), sosial, ekonomi, budaya, religi, serta harmonisasi antara manusia dan alam. Andhe-andhe lumut, Kethek Ogleng, Panji Laras, Keong Emas, Timun Emas, Panji Anggreni, Panji Angkronakung adalah lakon-lakon cerita yang sangat populer di kalangan masyarakat jawa dulu dan di kalangan dalam keraton diantara ratusan bahkan ribuan cerita Panji yang ada.

Perwujudan pentas lakon Panji ditampilkan melalui seni wayang beber, wayang krucil/kayu, wayang gedog, tari topeng, ketoprak, tembang(macapat), relief, arca dan tradisi/ budaya bertutur orang tua dulu. Lakon-lakon cerita Panji dan Candrakirana pada peradaban dan budaya masyarakat kekinian, sudah tidak mendapat tempat lagi sehingga terpendam dalam budaya jaman kekinian dan dianggap usang dan kuno.

Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung.  Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini –“tembang dan dongeng” dilakonkan.

Cerita Panji telah mengalami banyak transformasi dalam proses bertutur. Dalam kisah-kisahnya banyak penyampaian pesan moral yang bisa digunakan sebagai rujukan sikap, perbuatan dan tingkah lakukan bagi masyarakat umum. Penggambaran tokoh Panji Inu Kartapati sarat dengan amanat yang mengandung nilai-nilai kehidupan khususnya nilai kepahlawanan dan kesatriaan dimana dia tampil untuk menyelamatkan bangsa, negara maupun kerajaan-kerajaan lain serta nilai tanpa pamrihnya saat membantu pihak lain.

Lewat Kediri Bertutur, lakon-lakon cerita Panji dan Candrakirana diketengahkan dan diceritakan lagi di tengah masyarakat kita yang kekinian dan telah kehilangan jejak akar budayanya sendiri. Melalui seni rakyat (jaran kepang), tradisi bertutur nenek moyang dulu “wayang dari merang (batang padi) dan daun” sampai pentas wayang krucil adalah perwujudan Kampung Bertutur dalam menjaga, merawat dan melestarikan harta karun budaya milik bangsa sendiri “Budaya Panji” yang juga sangat populer di luar jawa sampai mancanegara.

Terciptanya iklim masyarakat yang guyub “kebersamaan” dan rukun di tempo dulu serta penanaman nilai-nilai budi pekerti kepada anak-anak, tidak bisa dipisahkan dari peranan dan fungsi “tradisi bertutur.” Lewat Kediri Bertutur ini, “kegeniusan tradisi” nenek moyang dulu yaitu “bertutur” tidak lagi menjadi “tradisi yang hilang” dalam masyarakat sekarang yang  berkiblat pada budaya modernitas.

Suatu srawung kampung dimana terjadi proses  budaya yang melekat dengan masyarakat setempat secara sosiologis (terjadinya peristiwa hidup bersama dalam masyarakat dan ikatan-ikatan antar manusia dengan cara membentuk budaya dalam keseharian untuk tumbuh bersama mereka). Lewat Kediri Bertutur, lakon-lakon cerita Panji dan Candrakirana diketengahkan dan diceritakan lagi di tengah masyarakat kita yang kekinian dan telah kehilangan jejak akar budayanya sendiri.

Lewat Kediri Bertutur ini, “kegeniusan tradisi” nenek moyang dulu yaitu “bertutur” tidak lagi menjadi “tradisi yang hilang” dalam masyarakat sekarang yang berkiblat pada budaya modernitas.

Kediri Bertutur ke-4: 29 Juni 2013

Pagelaran Seni dan Budaya “Kediri Bertutur” mengetengahkan dan menghadirkan kembali lakon-lakon cerita Panji dan Dewi Sekartaji, ditengah masyarakat kita yang “kekinian,” yang telah kehilangan “jati diri” akar budayanya sendiri. Bentuk-bentuk kesenian budaya Panji dan Dewi Sekartaji seperti seni rakyat jaran kepang, wayang krucil, reyog ponogoro, tari dan tembang jawa adalah wahana “ekpresi dan eksplorasi” bentuk pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur.

Budaya spiritual masyarakat jawa kuno, “ritual peribadatan, sesaji, ruwatan sampai tradisi panen raya,” sebagai sumber pendekatan dan penafsiran dari gagasan dan konsepsi pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur. Pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur diharapkan menjadi “peristiwa budaya,” yang sanggup membangkitkan kembali “kesadaran dan spirit” masyarakat saat ini akan “keluhuran dan kegeniusan budaya” yang diwariskan nenek moyang kita.

1. “Sesaji Bumi Sekartaji” – Koreografi Tari

Airlangga dalam mitologi jawa kuno diyakini sebahai awatara (titisan) Dewa Wisnu. Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang pernah didirikan Airlangga “Sang Awatara dari Dewa Wisnu.” Diatas bumi Jawa inilah Dewa Wisnu pernah menjelma menjadi seorang raja yang termasyhur dan dipuja sepanjang masa.

Atas permintaan Airlangga, dengan menyiramkan air kendi “Empu Barada” membelah/membagi Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri (Daha). Dewi Sekartaji, putri mahkota kerajaan Kediri (Daha) yang dikenal dengan Candra Kirana yang berarti ‘Cahaya Bulan Purnama” memiliki garis keturunan dari “Sang Dewa.” Prabhamandala (Cahaya Kedewaan) itu memancar kemilau dalam diri Sekartaji dan menyinari tanah kerajaan sang putri mahkota.

“Sesaji Bumi Sekartaji,”menggambarkan Prabhamandala (cahaya kedewaan) Dewi Sekartaji, kesakralan bumi Daha, beserta budaya ritual pemujaan dan sesaji masyarakat jawa kuno. Karya ini juga mengangkat kesenian rakyat jaran kepang yang meruapkan salah satu bentuk dari budaya Panji. Kesenian jaran kepang ini mengisahkan peristiwa cerita cinta Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun.

2. Kolaborasi Dalang Wayang Krucil dan Seni Tari lakon “Panji Semirang”

Sekartaji menolak menukar golek kencananya (boneka emas) untuk ditukar dengan boneka perak Galuh Ajeng adiknya. Penolakan Sekartaji atas perintah sang raja Daha, yang tidak lain ayah kandungnya, membuat Sekartaji diusir dari keraton Daha.

Paduka Liku, isteri selir raja Daha, ibu dari Galuh Ajeng adalah tokoh utama atas terjadinya pengusiran Sekartaji. Dewi Sekartaji beserta dayang-dayang pergi mengembara meninggalkan istana. Sekartaji menyamar menjadi seorang laki-laki dengan nama Panji Semirang.

Panji Semarang sangat sedih memikirkan Panji Asmarabangun dan Galuh Ajeng akan melangsungkan pernikahannya. Atas nasehat dan saran Dewi Kilisuci, bibi Sekartaji, seorang bikuni, Panji Semirang menyamar menjadi pemain gambuh (pengamen). Panji Asmarabangun sangat sedih, muram dan pendiam, mengetahui isterinya bukan Sekartaji. Panji Asmarabangun sadar bahwa dirinya telah diperdayai Paduka Liku, dengan menikahi Galuh Ajeng.

Melihat penampilan rombongan gambuh Panji Semirang, Panji Asmarabangun takjub, terpesona dan sekaligus curiga. Rombongan gambuh yang lemah gemulai dan luwes bagai wanita membuat Panji Asmarabangun curiga akan jati diri Panji Semirang.

Di puri keraton kerajaan Gegelang, tempat Panji Semirang/Sekartaji beristirahat, Panji Asmarabangun melihat Panji Semirang/Sekartaji yang mengenakan pakaian wanita sedang menimang boneka emas sambil menembangkan tembang yang menawan hati.

Panji Asmarabangun sangat bahagia melihat Panji Semirang adalah Sekartaji yang sedang menimang boneka emas yang dibuatnya.

3. Reyog Ponorogo

Mengisahkan pasukan Klana Sewandono, raja kerajaan Bantarangin Ponorogo, yang datang ke Kerajaan Daha/Kediri untuk mengikuti Sayembara Sekartaji.

a_Kisah Sekartaji melahirkan kesenian jaran kepang a_Sekartaji membawa genta_kesakralan sosok Sekartaji a_Tari Serimpi_tari penyambutan Sekartaji untuk Panji Asmorobangunga_fungsi tarian dalam ritual peribadatan budaya jawa kuno a_kesenian jaranan atau kuda kepang dan reog ponorogo dibalik peristiwa cinta sekartajia_Kisah Sekartaji melahirkan kesenian jaran kepang a_peristiwa percintaan panji asmorobangun dan sekartaji a_peristiwa percintaan panji asmorobangun dan sekartaji2a_peristiwa percintaan panji asmorobangun dan sekartaji3 a_Prabhamandala_cahaya kedewaan Sekartaji sbg keturunan dewa wisnu_airlangga a_Prabhamandala_cahaya kedewaan Sekartaji sbg keturunan dewa wisnu_airlangga2a_ritual peribadatan bumi Sekartaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s