“Menemukan Apa Yang Terlewatkan” oleh Asti

Inspirasi Kediri Bertutur

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merupakan salah satu dari beberapa tulisan pilihan dari mahasiswa kelas “Analisa Konsumen” UNIVERSITAS INDONESIA, FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK, PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI, PROGRAM PENDIDIKAN S1 KLS INTERNASIONAL PERIKLANAN angkatan 2013.

Kediri bertutur diawali oleh sebuah perjalanan budaya: “Kusadari bahwa untuk mencapai tingkat kualitas kehidupan yang lebih baik bukan berarti mendapatkan status serta harta benda yang melimpah.  Dalam perjalananku, aku mencari kualitas hidup dimana spirit humanis yang menjadi penggerak jiwa ragaku. Pelajaran ini hanya bisa kudapatkan dengan melakukan perjalanan budaya,” Kandi Windoe.

Dengan spirit yang sama, Kediri Bertutur mengajak para mahasiswa untuk menemukan perjalanan budaya mereka. Saatnya Kediri Bertutur mempersembahkan karya Gabriella Astiti saat Jejak Jalan Pintar ke Jogja November 2014.

“Menemukan Apa Yang Terlewatkan” oleh Asti

Jalan-jalan kembali ke rumah rasanya memang menyenangkan, apalagi ketika kesempatan tersebut jarang didapatkan. Rumah disini adalah kota Yogya yang menjadi kampung halaman saya dan keluarga. Meskipun sudah tak terhitung berapa kali pulang ke Yogya, tidak akan pernah bosan rasanya. Saya sendiri bukanlah seseorang yang lahir dan besar di Yogya, namun darah Yogya mengalir kental dalam diri saya. Yogya juga merupakan kota terpilih untuk saya mengenyam pendidikan selama 3 tahun di SMA. Banyak hal yang sudah saya lewati di Yogya menjadikan kota ini lebih dari sekedar rumah dan kota kenangan, tapi tempat saya berproses dan mencari jati diri.

Di tengah kesibukan kuliah yang menggila, pada akhir bulan November kemarin saya mendapat kesempatan untuk pulang lagi ke Yogya. Jalan-jalan kali ini sangat lah berbeda dengan kesempatan sebelumnya. Kali ini jalan-jalan dilakukan bersama teman-teman kelas periklanan dan Mbak Kandi sebagai dosen kami. Jalan-jalan ini dilakukan dalam rangka pembelajaran mata kuliah Analisis Konsumer. Terlepas dari berbagai teori tentang perilaku konsumer, jalan-jalan ini memberi perspektif yang berbeda dan lebih dalam bagi kami untuk menganalisis konsumer lebih dalam. Lebih jauh dari sekedar kepentingan kuliah, jalan-jalan kali ini membawa arti sendiri untuk pembelajaran hidup saya.

13 mahasiswa, 1 dosen, beserta Mas Widi, seorang rekan dari Mbak Kandi yang sangat membantu dalam kelancaran trip ini, berjalan-jalan tidak hanya ke Yogya tetapi juga ke Solo, Magelang, dan Kulonprogo. Tempat-tempat yang memang juga tidak asing bagi saya. Trip kali ini berupa wisata budaya yang sangat berbeda dari wisata budaya lain yang pernah saya lakukan. Melihat dan merasakan lebih jauh kearifan lokal penduduk setempat menjadi poin utama dari perjalanan kali ini.

Berbeda karena destinasi dari kota-kota tersebut sama sekali bukanlah tempat wisata pada sesungguhnya. Kami mempunyai 6 destinasi sepanjang perjalanan. Tempat-tempat itu adalah Plenthe Percussion di Solo, kediaman Abdi Dalam di lingkungan Keraton Yogyakarta, sanggar Pamulangan Beksa yang masih berada di lingkungan keraton, desa Salaman di Magelang, sanggar tari Sripang Laras di Kulonprogo, dan kerajinan gerabah di Kasongan di Bantul, Yogya. Wisata budaya kali ini lebih mengutamakan silahturahmi sebagai bentuk pendalaman terhadap budaya dan kearifan lokal.

Sebelum melakukan perjalanan ini, saya merasa sangat percaya diri dan bahagia karena di antara teman-teman lainnya, saya lah yang paling mengenal kota-kota tersebut. Rasa percaya diri ini datang dari banyaknya pengalaman saya mengunjungi kota-kota yang menjadi pilihan trip kelas kami. Walaupun pada kenyataannya, 6 destinasi di atas sama sekali belum pernah saya dengar ataupun saya kunjungi sebelum melakukan perjalanan ini.

Ada rasa ragu yang terbesit sebelum perjalanan ini dilakukan dan ternyata itu benar-benar terjadi. Rasa keyakinan diri yang saya punya benar-benar berubah dengan rasa kekaguman yang luar biasa terhadap apa yang saya kunjungi. Saya mengira bahwa dengan berkali-kali mengunjungi kota-kota tersebut, apalagi tinggal selama 3 tahun lamanya di Yogya, menjadikan saya paham betul dengan budaya kesenian yang ada. Hal ini terbukti salah karena setelah mengunjungi keenam destinasi tersebut, banyak hal yang belum saya ketahui dan saya pelajari.Setelah merefleksikan kembali pengalaman saya tinggal di Yogya setelah melakukan trip ini, ternyata memang ada sesuatu yang terlewatkan, yaitu mendalami diri dengan budaya lokal ataupun kesenian lokal yang ada di Yogya. Ilmu saya selama ini hanya sebatas tahu dan bahkan itupun tidak banyak.

Sebagai pendatang dari Jakarta pada masa SMA, saya mempunyai motivasi yang mulia untuk belajar dalam suasana yang berbeda jauh dari Jakarta. Terlebih lagi sekolah saya adalah sekolah khusus perempuan yang menyediakan asrama dan disitulah tujuan utama saya berpindah dari Jakarta, untuk hidup mandiri di asrama. 3 tahun lamanya yang dirasa cukup untuk selain belajar di sekolah tetapi juga mengetahui budaya dan kearifan lokal. Melihat kembali dari trip ini, ternyata rasa mengetahui saja tidaklah cukup bagi seseorang untuk menghargai kesenian budayanya sendiri. 3 tahun lamanya, rasanya sama seperti seseorang yang tinggal di suatu lingkungan tetapi tidak tahu tetangga sekitarnya. Sebuah fenomena yang tak jarang terjadi di masa modern ini.

Pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di asrama semasa SMA sebenarnya tak terhitung banyaknya. Sekolah saya kebetulan adalah sekolah swasta yang digemari banyak penduduk lokal dan juga banyak sekali pendatang dari luar Yogya, bahkan dari luar pulau Jawa. Sekolah saya sendiri sudah menjadi tempat peleburan budaya dari berbagai penjuru Indonesia, terlebih lagi asrama saya tempat teman-teman pendatang tinggal. Fenomena peleburan budaya inilah yang saya hadapi sehari-hari mulai dari dialek, kebiasaan, cara berpikir, dan berkomunikasi yang melebur dalam kebudayaan Yogya.

Peleburan yang terjadi ini memang tidak membuat budaya asli Yogya punah, namun ketika sudah bercampur oleh budaya luar pastilah tidak terlalu original. Apalagi fenomena ini terjadi di kalangan pelajar yang sangat memeluk erat peradaban modern yang dinamis. Dimana mereka sangat update dengan trend yang terjadi saat itu dan tidak terlepas dari pengaruh budaya barat maupun budaya dari Jepang dan Korea. Dalam menghadapi fenomena ini, sekolah saya masih menyediakan kesempatan bagi murid-muridnya untuk belajar budaya asli Yogya, seperti muatan lokal bahasa Jawa di kelas 1 SMA, pelajaran seni tari selama 2 tahun pertama di SMA, dan ekstrakurikuler karawitan. Namun dirasa tidak ada yang dianggap serius dari ketiga pilihan itu. Hal serupa pun terjadi pada saya yang hanya melakukan itu semua demi nilai pelajaran. Saya merasa ada ketertarikan lain dibanding mendalami kesenian lokal pada saat itu. Kebebasan dalam berbudaya memang menjadi hak masing-masing individual, namun pendalaman nilai-nilai kearifan lokal yang tidak kuat hanya akan membuat kebudayaan modern semakin berkuasa.

Hal-hal inilah yang terlewatkan selama 3 tahun lamanya bersekolah di Yogya, bahkan ketika mengunjungi Yogya di saat liburan. Di kesempatan jalan-jalan inilah saya pada akhirnya sadar bahwa seni budaya daerah tidak di titik sekedar tahu saja, melainkan mendalami nilai-nilai di dalamnya. Semuanya tidak akan terjadi tanpa peran Mbak Kandi dan kecintaannya terhadap budaya dan kearifan lokal yang dengan semangat mengajak dan menginspirasi kami. Dalam wisata budaya ini, Mbak Kandi tidak mengajak kami ke tempat-tempat pertunjukannya melainkan kembali ke tempat dimana mereka semua berproses.

Kami semua memulai perjalanan di hari Jumat sore ketika kami pergi ke Solo untuk menuju kediaman Plenthe dan kawan-kawan. Plenthe percussion adalah sekelompok musisi perkusi yang bermain gendang dengan mas Suryadi sebagai pendirinya dan juga dikenal sebagai mas Plenthe. Kelompok perkusi ini mempunyai sejarah panjang dan perjuangan yang berat hingga bisa di titik ini. Plenthe percussion sudah banyak sekali menciptakan lagu dan juga konser ke luar negeri. Bersama rekan-rekan, Plenthe dapat mengawinkan segala jenis genre musik dengan alat musik tradisional. Tidak banyak yang mengenal mereka, namun sayangnya karyanya lebih banyak dihargai di luar negeri.

Dari tempat kediamannya, terasa sekali jejak-jejak perjuangan yang semua dimulai dari dasar, sangat dasar. Ada rasa kagum yang sangat mendalam dari grup Plenthe percussion karena semua ini diawali dengan meyakini pepatah klasik, yaitu “Malu Bertanya Sesat di Jalan”. Mas Suryadi yang hanya tamatan sekolah dasar berhasil berkarya berkat keberanian dia bertanya kepada mereka yang ahli. Dari bertanya tentang cara bermain musik, sampai bisa konser di luar negeri. Dari bertanya tentang cara menggunakan komputer, hingga mempunyai satu set iMac beserta audio mixer dan alat editing di studio rekamannya. Di kediamannya di solo itu lah studio rekaman dan tempat berlatih ia bangun sedikit demi sedikit.

Apa yang saya tangkap dari keyakinannya akan pepatah itu adalah Mas Suryadi berani belajar dari orang lain. Berbeda dengan orang modern kebanyakan jaman sekarang yang cenderung memilih untuk belajar sendiri dari internet. Dari bertanya, Mas Suryadi pun membangun relasi yang terbentuk hingga sekarang. Menurut pengakuannya, ia belajar tanpa sepeser pun uang keluar. Sebagai kontribusinya, Mas Suryadi juga mengajari banyak anak jalanan di sekitarnya untuk belajar perkusi. Rumahnya di Solo benar-benar terbuka untuk siapapun dari hanya sekedar nongkrong, membuat lagu, atau belajar musik.

Merefleksikan dari perjalanan Mas Suryadi, rasanya perjuangan itu benar-benar nyata dirasakan dari bagaimana ia memulai. Saya percaya bahwa nilai yang didapat oleh Plenthe sangat jauh berbeda dibanding saya yang juga berkarya namun segalanya telah tersedia oleh orang tua. Pelajaran berharga dari mas Plenthe lebih dari sekedar menghargai musik karya asli Indonesia, tetapi juga menaruh keyakinan yang tulus untuk berkarya tanpa menjadi komersil.

Jalan-jalan dilanjutkan pada hari kedua dimana pagi harinya kami mengunjungi kediaman seorang abdi dalam keraton. Keraton Yogyakarta memang adalah salah satu destinasi wisata favorit, namun untuk bersilahturahmi bersama abdi dalam langsung di kediamannya sungguhlah sesuatu yang spesial. Sesampainnya di rumah, kami bertemu dengan dua orang yang berpakaian khas abdi dalam keraton. Mas Sigit dan Pak Mono adalah dua orang abdi dalam yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun.

Abdi dalem adalah seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk berkerja demi kelangsungan Keraton Yogyakarta di bawah pimpinan Sri Sultan. Mas Sigit adalah seorang abdi dalem prajurit dan Pak Mono adalah seorang abdi dalem punakawan yang bekerja di bagian administrasi. Pekerjaan abdi dalem selama ini hanya mendapatkan sejumlah pemberian dari Sri Sultan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemberian terhadap mereka sangat jauh di bawah layaknya gaji pada umumnya. Itu pun hanya sebuah pemberian dari Sri Sultan, bukan gaji yang bisa dinego oleh karyawan. Memang saat ini mereka juga mendapat honor dari Pemerintah.

Menjadi Abdi dalem bagi mereka adalah suatu panggilan hidup yang mulia. Bekerja sepenuh hati tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih jarang bisa dijiwai oleh kebanyakan orang pada masa sekarang. Baik Pak Mono, Mas Sigit dan para abdi dalem lainnya hidup bahagia dalam kesederhanaan. Bentuk syukur dari kesederhanaan inilah yang pada akhirnya menjadi luar biasa jika dipandang dari saya yang percaya bahwa kebutuhan seseorang tidak akan pernah ada habisnya. Dari sini saya percaya bahwa level kebutuhan seseorang pada akhirnya ditentukan dari cara orang itu bersyukur.

Besarnya level dedikasi para abdi dalem tentunya juga mendapat timbal balik dari Keraton. Pak Mono merasa bersyukur karena dengan bekerja di Keraton beliau mendapat banyak ilmu. “Dari yang tadinya tidak tahu apa-apa, karena sering disuruh jadi banyak tahu” begitu menurut pengakuannya. Pak Mono pun sudah merasa senang jika dirinya menjadi salah satu kepercayaan Sultan. Bahkan saat ditugaskan membawa payung di saat pernikahan putri Sri Sultan, terbesit rasa bangga dari Pak Mono.

Apa yang saya suka dari abdi dalem adalah perbedaan pangkat sama sekali tidak terlihat dari seragamnya. Hal ini membuat mereka tidak segan satu sama lain. Selain itu banyak sekali filosofi di balik seragam abdi dalem. Salah satunya adalah lipatan yang ada di ujung jarik mereka yang mempunyai filosofi “sebesar-besarnya lautan masih ada batas”. Artinya adalah sebesar-besar apapun orang itu tentunya ada batasnya. Pelajaran berharga yang sesungguhnya sangat sederhana adalah menjalani dengan total apa yang menjadi panggilan hidup kita dan memaknai setiap rejeki yang kita punya. Dengan begitu hidup akan terasa lebih dari cukup.

Sekitar tiga jam silahturahmi bersama Pak Mono dan Mas Sigit, kami akhirnya melanjutkan perjalanan setelah makan siang menuju sebuah sanggar yang tidak jauh dari situ. Sanggar Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa adalah sebuah sanggar tari klasik Yogyakarta dibawah didikan ibu Siti Sutia yang berada di pendopo yang sudah berumur 1 abad lebih. Cinta murni dari ibu Tia akan tari tradisional membuat dia sangat berdedikasi untuk menularkan rasa cinta tersebut terhadap anak didiknya. Bu Tia, yang juga merupakan abdi dalem, dipercaya oleh Sri Sultan untuk mengajari seni tari kepada putri-putrinya. Rasa cinta itulah yang sudah membawa beliau pergi ke banyak Negara untuk mempersembahkan tari klasik Yogyakarta. Bagi ibu Tia menari adalah hidupnya. Dengan menari dan mendengarkan musik tradisional, bu Tia bisa mencapai relaksasi dan kentrentraman yang mendalam.

Keseluruhan dedikasi ibu Tia ada di sebuah falsafah jawa dari sebuat tari bernama Joget Mataram, yaitu nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Filosofi ini berartikan fokus terhadap apa yang kita kerjakan, semangat, percaya diri, dan punya disiplin yang kuat. Menurut bu Tia falsafah tersebut sudah cukup untuk membuat kita sukses dalam hal apapun. Berjam-jam kami berbincang bersama ibu Tia rasanya tidak terasa. Terbesit dengan jelas rasa bangga nya dia dengan kesenian tradisional. Hal ini benar-benar membuat saya menyesal karena tidak menanggapi serius kesempatan semasa SMA untuk belajar tari tradisional, melainkan hanya melakukan itu untuk sekedar nilai. Di sanggar itu, kami juga bertemu dengan mas Alin, anak dari bu Tia, yang menjadi pengajar tari putra di situ. Selain itu ada juga mbak Bunga, asli Palembang, yang sangat pandai dalam menari klasik Yogya.

Perjalanan berikutnya dalam hari yang sama ke desa Salaman di Magelang. Sebuah desa yang terkenal dengan designer-nya yang sudah banyak memenangkan kontes design dan mendapat ratusan dollar. Sebutan bagi mereka sendiri adalah desainer kampung, karena mereka berprofesi sebagai petani di siang hari dan menjadi desainer di malam hari. Melihat design-design mereka saya sangat berdecak kagum karena bisa membuat sampai sedemikian rupa dengan fasilitas yang terbatas. Dulu asumsi saya adalah orang design selalu mengutamakan laptop Mac, karena barang tersebut selalu di identifikasikan dengan orang yang kreatif.

Pada malam itu di Salaman sebenarnya ada sebuah seminar yang terdiri dari 6 pembicara, dan salah satunya adalah Mbak Kandi. Seminar tersebut bertujuan untuk membuka wawasan para desainer kampung bahwa design lebih dari sekedar karya kriya. Secara tidak langsung, seminar tersebut sangat berguna bagi diri saya juga. Sayangnya pada malam itu kami tidak mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para desainer kampung karena mereka semua sibuk mendengarkan seminar. Namun semangat dalam keterbatasan mereka sudah cukup membuat saya kagum luar biasa.

Esok harinya adalah hari terakhir kami dari jalan-jalan kami. Pada pagi hari kami mengunjungi sanggar Sripang Laras yang didirikan oleh ibu Sri. Sanggar tersebut terletak di pelosok Kulon Progo dan didirikan di tempat kediaman ibu Sri. Sanggar ini sangat terkenal dengan tari angguknya yang sudah membawa penarinya ke berbagai kota hingga Jakarta. Murid-murid dari ibu Tia semuanya adalah anak-anak yang juga mempunyai kecintaan yang tulus untuk belajar menari.

Menari, menari, dan menari sudah menjadi hobi bagi mereka dan hobi tersebut terus menular di kalangan anak-anak. Sama sekali tidak ada paksaan dari orang tua, semuanya datang dari inisiatif mereka. Andai hal seperti ini terjadi dimana-mana.

Sanggar ibu Sri sangatlah sederhana. Semua dia bangun dari keringatnya sendiri dan juga modal hutang dari bank. Sedikit demi sedikit dari hasil pentas ia kumpulkan untuk membeli kostum dan peralatan. Saat ini semua koleksi dia sudah lengkap bersama gamelan dan juga alat mixer yang sederhana. Semuanya dirasa cukup untuk saat ini walaupun beliau menginginkan untuk mempunyai joglo.

Hal yang luar biasa dari ibu Sri adalah dia turut mengajar anak-anak yang berkebutuhan khusus. Menurut ibu Sri, anak anak SLB jauh lebih pintar dalam mendalami daripada anak-anak pada umumnya. Dari situ juga ibu Sri bisa belajar bahasa isyarat. Saya pun bersama teman-teman sangat menikmati momen-momen dimana berbincang dengan anak-anak. Cukup banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari bagaimana ibu Tia berproses bersama anak-anak didiknya.

Akhirnya sampailah kami di destinasi terakhir kami yaitu desa Kasongan di Bantul tempat para pengrajin gerabah. Sesampainya disitu perhatian kami langsung tertuju untuk membentuk prakarya dari gerabah. Tempat pengrajin yang kami datangi bernama Lakeisha. Jika biasanya kami fokus untuk mewawancara orang-orang, di situ kami tidak terinvensi bahkan untuk dokumentasi sekalipun. Konsentrasi total tersebut harus diakui bahwa itu jarang dirasakan di kelas, sehingga saya pun menikmati setiap proses pembuatan Gerabah. Untungnya saya sempat bertanya-tanya sebentar sebelum pulang kepada pemiliknya. Lakeisha sendiri adalah salah satu tempat pengrajin gerabah yang sangat unggul di bidang online marketing sehingga selalu kebanjiran pesananan.

Perjalanan kami akhirnya selesai disitu dengan berbekal banyak pelajaran hidup. Melihat kembali cerita di atas tentang apa saja yang saya lewatkan selama tiga tahun tinggal di Yogya, rasanya dalam tiga hari saja saya mendapat lebih dari sekedar pengetahuan tentang kesenian budaya. Dari silahturahmi yang kami lakukan, nilai-nilai mendalam tentang budaya dan kearifan lokal dapat dimengerti dengan mudah. Kebebasan berbudaya memang sepenuhnya hak masing-masing individual. Kita pun tidak harus menguasai salah satu kesenian tradisional bila tidak memungkinkan. Namun dengan mengapresiasi, mendukung, dan ikut melestarikan, kesenian tidak akan pernah hilang. Sebagai orang yang sangat paham dengan dinamika jaman yang modern, akan lebih baik bahwa kesenian budaya juga ikut diselaraskan.

Mengutip dari mas Widi, jalan-jalan pintar ini bagi saya tidak hanya mengajarkan saya untuk berbudaya, tetapi juga belajar menaruh dedikasi total tentang apa yang menjadi pilihan hidup kita. Berbagai hal yang membatasi kiranya tidak mejadi halangan karena kreatifitas tidak terpaku pada halangannya saja. Tak lupa, atas apa yang kita kerjakan, akan lebih baik jika ilmu tersebut diajarkan juga kepada banyak orang. Menjalin relasi kira nya sangat penting juga demi kelangsungan perjalanan hidup kita, karena kita tidak akan tahu kejutan lain yang akan terjadi.

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s