JOGJA: Contemplation Through Culture by Axel

Inspirasi Kediri Bertutur

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merupakan salah satu dari beberapa tulisan pilihan dari mahasiswa kelas “Analisa Konsumen” UNIVERSITAS INDONESIA, FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK, PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI, PROGRAM PENDIDIKAN S1 KLS INTERNASIONAL PERIKLANAN angkatan 2013.

Kediri bertutur diawali oleh sebuah perjalanan budaya: “Kusadari bahwa untuk mencapai tingkat kualitas kehidupan yang lebih baik bukan berarti mendapatkan status serta harta benda yang melimpah.  Dalam perjalananku, aku mencari kualitas hidup dimana spirit humanis yang menjadi penggerak jiwa ragaku. Pelajaran ini hanya bisa kudapatkan dengan melakukan perjalanan budaya,” Kandi Windoe.

Dengan spirit yang sama, Kediri Bertutur mengajak para mahasiswa untuk menemukan perjalanan budaya mereka. Saatnya Kediri Bertutur mempersembahkan karya Axel Hadiningrat saat Jejak Jalan Pintar ke Jogja November 2014.

JOGJA: CONTEMPLATION THROUGH CULTURE
BY AXEL HADININGRAT

Saya lupa kapan terakhir kali saya menginjakkan kaki saya di tanah Jogja, mungkin itu karena saya jarang sekali datang ke Jogja, padahal pada tahun 2001-2007 ayah saya tinggal di Jogja untuk bekerja dinas di sana, sehingga walaupun saya tidak pernah datang ke Jogja, kota yang penuh dengan kekayaan budaya itu bukanlah tempat yang asing bagi saya. Jika kita tarik garis sejarah, keluarga saya adalah keluarga yang sangat kental dengan budaya Jawa pada mulanya, bapak dari ayah saya adalah bagian dari keluarga keraton Solo, that’s why my last name is “Hadiningrat”. Nama sudah sangat jawa tapi kenapa saya baru sekali-dua kali datang ke Jogja? Hal ini kadang menjadi pertanyaan saya yang lucu, tetapi mungkin itu karena saya cenderung malas untuk jalan-jalan, saat saya masih sekolah dulu saya lebih memilih untuk berlibur di Bandung atau Jakarta saja dan mungkin sesekali berlibur ke luar negeri daripada datang ke Jogja.

Hal yang lucu lagi adalah ketika saya menonton tayangan FTV di TV dan ada salah satu adegan mengambil latar tempat di Malioboro Jogja, suddenly muncul perasaan “kok tiba-tiba gue jadi pengen kesana ya?” dan pada saat itulah saya berharap jika nanti ada waktu luang atau saat ada waktu untuk berlibur saya ingin sekali datang kesana. Akhirnya kesempatan itu datang beberapa minggu yang lalu. Saya mendapat tugas untuk datang dan mengeksplorasi kota Jogja dalam mata kuliah consumer analysis, therefore I’m very excited.

Hari pertama saya menginjakkan kaki saya di Jogja saat saya melihat kanan kiri, I totally forgot about the street and the ambience of this city, namun what I still remember adalah kehangatan yang menyapa saya. Lantunan lagu dari KLA Project “Yogyakarta” menemani perjalanan saya dari bandara menuju hotel penginapan, seakan lagu itu berpadu dengan suasana hangatnya kota Jogja.

Malam tiba saatnya rombongan bergegas untuk pergi ke suatu tempat di Solo untuk bertemu salah satu kelompok musisi local disana. Saat dalam perjalanan menuju kesana, saya agak sedikit judgemental terhadap komunitas ini, pertama saya berfikir bahwa mereka hanyalah musisi tradisional biasa, yang berkarya hanya dalam negeri saja, namun ternyata semua itu salah besar. Saat kami sampai ditujuan, saya sangat terheran dengan sapaan ramah dari tuan rumah.  Welcome to the house of plenthe, tempat yang sangat sederhana namun menyimpan bibit-bibit emas. Kami tamu yang baru saja datang disuguhi oleh berbagai macam makanan rumahan yang sangat lezat. Tulisan tidak dapat mengungkapkan betapa hangatnya suasana saat itu, namun yang dapat digambarkan adalah pengalaman dan ilmu yang sangat berharga pada malam itu.

Picture2

Good meal, and great conversation, hal itu yang menggambarkan suasana pada malam itu. Kami berkesempatan untuk sharing mengenai banyak hal baik itu budaya dan music bersama anggota dari plenthe. Plenthe adalah sebuah komunitas music kontemporer yang ada di Solo, hal pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah apa arti music bagi mereka. Menurut mereka music adalah segalanya, dari music mereka bisa hidup, dan sebagai manusia kita tidak pernah lepas dari audio. Hal yang membuat saya takjub adalah tentang wawasan mereka terhadap music. They felt the same way as I do towards Indonesian music quality, indeed my feeling is freaking tired about those such garbage on TV. Music karbitan yang menghiasi televisi Indonesia saat ini sangat disturbing dan tidak mendidik. Menurut plenthe, music menyuguhkan estetika, suatu keindahan, namun yang perlu dipertanyakan dari music saat ini adalah adalah nilai etika. Music Indonesia saat ini sangat tidak beretika, contoh yang mereka berikan adalah fenomena music dangdut koplo. Plenthe sangat mengidolakan didi kempot musisi dangdut keroncong yang sangat legendaris, menurut mereka wajah dari music koplo sangat jauh kualitasnya dibandingkan music dangdut aslinya. Tidak memikirkan nilai etika adalah disaat dangdut koplo juga terkesan memberikan nuansa pornografi didalamnya, ironisnya yang menonton dangdut koplo biasanya anak-anak kecil juga, dalam hal ini Plenthe sangat tidak kesal dan tidak setuju.

Picture3

Lebih jauh lagi kita berdiskusi tentang music, saya semakin amaze dengan wawasan mereka terhadap music, apalagi terhadap istilah istilah music yang jarang sekali kita tau, namun mereka sangat menguasainya. Kelompok music yang baru saja datang dari Canada sehari sebelumnya ini memperkenalkan kepiawayaian mereka dalam bermusik di studio workshopnya. Hardware dan software canggih menghiasi ruangan studio plenthe. Mereka mengenalkan music kontemporer yang selama ini telah membesarkan nama mereka. Setelah kita selesai berdiskusi, melihat mereka bermain, akhirnya kami berpamitan dengan mereka, hanya dalam selang 2-3 jam kita bersama mereka. Kami sudah dianggap selayaknya saudara jauh yang datang ke rumah mereka, hangat sapa, dan ramah tutur kata selalu teringat dibenak saya. Apa yang saya dapati setelah perjumpaan saya engan plenthe adalah keingingan mereka yang sangat kuat untuk mau belajar. Mereka selalu ingin mengeksplorasi apa yang ingin mereka ketahui, dan itulah yang membuat mereka menguasai apa yang mereka kerjakan, dan pada saat itulah saya mengerti seberapa penting arti sebuah pencarian ilmu bagi kehidupan kita.

Picture1

Hari berganti, dini hari terlewati. Awan mendung yang menyelimuti kota istimewa Jogja pagi itu begitu mengharu biru. Kami menyusuri jalanan kota Jogja dengan penuh semangat. Sampailah kita di Kraton ngayogyakarta jogja. Lagi-lagi kehangatan menyambut kami, terlihat dari kejauhan seiring kita berjalan dari parkiran, berdiri seorang pria yang sedang tersenyum melihat kami tiba menggunakan baju biru lengan panjang, dengan samping batik, memakai blangkon di kepala, tanpa menggunakan sandal. Beliaulah abdi dalem kraton yang bernama Mas Sigit. Setelah bersalaman, kami langsung digiring menuju rumah kediaman Mas Mono, salah satu abdi dalem teman mas sigit, lalu kembali kita berdiskusi lagi. “Abdi dalem hanya 2 pekerjaannya, Disuruh, dan dimarahin” begitulah jawaban Mas Mono setelah saya tanyakan mengenai bagaimana seru nya menjadi abdi dalem. Pada awaknya saya berfikir bahwa jawaban Mas Mono itu merupakan keluhan, ternyata hanya gurauan saja, kenyataannya adalah mereka sangat mencintai pekerjaan mereka.

Picture4

Loyalty, Respect, & Love, itulah kata-kata yang menggambarkan karakter abdi dalem dari mata saya. Loyalty adalah dimana mereka begitu setia mengabdi kepada kraton walaupun gaji yang mereka dapatkan tidak sepadan, namun pengabdian mereka bukan atas dasar materi, melainkan mereka melakukannya karena mereka percaya bahwa mengabdi kepada kraton sama halnya dengan melakukan amalan mereka kepada tuhan. Respect adalah ketika mereka sangat menghargai orang lain dan tidak menutup diri, kesan pertama saya sebelum sampai di Kraton, saya berfikir bahwa mereka akan enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan, ternyata lagi-lagi saya salah besar, mereka begitu senang berkomunikasi dengan kami. Quotes yang paling menyentuh saya adalah ketika Mas Sigit menjawab pertanyaan saya tentang apa yang membedakan orang jogja dengan orang Jakarta, “Saat seumur mas, saya juga sama seperti mas, tidak ada yang membedakan kami dengan orang lain atau orang Jakarta, hanya saat saya berada di Kraton saya seperti ini, mengabdi dan siap mati”. Kata-kata yang menyentuh itu membuka mata saya terhadap perspektif orang jogja ketika bertemu orang asing, mereka begitu menghargai perbedaan dan tidak menutup diri kepada hal-hal baru. Terakhir adalah Love, mendefinisikan begitu besarnya kecintaan mereka terhadap kraton dan budaya Jawa, hal itulah yang sudah hilang dari anak-anak muda saat ini, dimana cinta sejati yang sederhananya hanya saling sayang menyayangi, kini sudah menjadi komoditi dan selalu didasarkan atas nama materi. Sujiwo Tejo dalam presentasinya bercerita tentang apa itu arti cinta, beliau menyampaikan bahwa cinta yang murni adalah cintanya “Ayam” saat ayam jantan menyukai ayam betina tanpa basa basi ayam jantan langsung membuahi ayam betina, sesederhana rasa saling saying menyayangi satu sama lain, dan Sujiwo Tejo menyampaikan bahwa “itulah cinta yang murni bukan melihat kamu siapa, bapa kamu siapa, ibu kamu siapa, pekerjaan kamu apa, tapi memang kita saling mencintai ya sudah”. Kemudian setelah selesai berdiskusi panjang bersama Mas Mono dan Mas Sigit saya lebih sadar mengenai arti cinta murni yang sebenarnya.

Hari menjelang siang, mendung semakin kelabu, sedikit demi sedikit namun pasti, rintik hujan membasahi kota itu. Rombongan kembali berjalan menuju suatu tempat tidak jauh letaknya dari kraton. Tibalah kami di Yayasan pamulang Baksa Sasmita Mardawa, sesampainya kami disana sambil menunggu datangnya pemilik dari yayasan tersebut kami sedikit bersantai melepas lelah di sebuah Joglo disana, saat saya melihat keatas ada angka bertuliskan “1900” tepat diatas langit-langit joglo tersebut, saya bertanya-tanya apa maksud dari angka tersebut? Apakah tempat ini dibangun pada tahun itu? Berarti sudah 100 tahun lebih tempat ini berdiri. Pertanyaan itu akhirnya terjawab saat Bu Tia datang, beliau adalah pemilik dari sanggar ini. Memang betul Joglo tempat kami beristirahat itu sudah berdiri hampir lebih dari 110 tahun lamanya, dan tetap berdiri kokoh sampai sekarang, Joglo ini pula jawab beliau menjadi tempat latihan dari murid-murid sanggar tari yayasan ini.

Diskusi kami saat itu lebih banyak berbicara tentang tarian, jujur saya bukanlah orang penyuka tari, tetapi apa yang saya pelajari dari diskusi itu adalah bagaimana sebuah passion jika kita tekun, akan menjadi sesuatu yang besar bagi kehidupan kita. “Menari adalah hidup saya” jawab wanita yang sudah berumur diatas 50 tahun ini. Beliau menjelaskan tentang seberapa penting menari bagi kehidupannya, mengapa kita perlu mengetahui diri kita, dan pentingnya membangun semangat, konsentrasi, percaya diri, dan disiplin. Ibu Tia tidak pernah takut akan regenerasi karena ia rasa bahwa keinginan anak muda untuk menari masih tinggi di Jogja. Prestasi yang bu tia capai melalui tari sudah memancanegara, negara-negara seperti Amerika, Jepang, China sudah pernah bu tia kunjungi, namun walaupun presatsinya sudah internasional, tapi sikap dan attitude yang bu tia tunjukkan tetap bercita rasa local. Kata-kata Bu Tia yang masih saya ingat adalah tentang Semangat, Konsentrasi, Percaya diri, dan disiplin. Menurut saya keempat element itulah kunci hidup kita sehari-hari, ternyata pembicaraan yang awalnya saya fikir hanya tentang sebatas tarian dan pengalaman menjadi sebuah pencerahan baru buat saya, dan diskusi pun ditutup dengan befoto bersama.

Malam pun tiba, hampir 2 jam perjalanan kita dari Jogja menuju ke satu desa di kabupaten magelang. Desa ini sangat menarik bagi saya, Mba Kandi bercerita bahwa di desa ini lah dimana warganya pada pagi hari nyawah, atau jadi kuli bangunan, namun saat malam hari mereka menjadi designer logo dan dibayar menggunakan dollar. Merekalah yang biasa disebut sebagai “designer kampung”. Para designer yang memang berasal dari kampung. Sungguh sebuah fakta yang unik, sebagai orang Jakarta saya selalu berfikir bahwa Indonesia itu Jakarta, dan hanya orang-orang Jakarta yang menguasai teknologi, tetapi ternyata lagi-lagi saya salah berfikir. Di desa yang mungkin terlupakan oleh kita terdapat sekelompok masyarakat yang sangat kreatif dan penghasil devisa juga. Hal yang saya sayangkan saat saya berada disana adalah saya tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan para designer kampung tersebut, karena saat itu saya lebih focus menonton acara seminar yang diselenggarakan di desa tersebut.

Picture6

Picture5

Last day means last but not least, Keesokan paginya diiringi mendungnya langit jawa saat itu menemani perjalanan kita ke suatu desa di daerah Kulon Progo. Tibalah kami disebuah sanggar tari angguk disana. Anak-anak sanggar tari disana yang usianya mungkin baru berusia 7-14 tahun menunjukkan kepiawaian mereka dalam menari, setelah selesai kami langsung mengahampiri mereka dan mengajak mereka untuk sedikit berdiskusi. Lagi-lagi saya dihadapkan dengan suatu keyakinan terhadap pentingnya sebuah passion didalam diri, saat saya kecil saya bercita-cita ingin menjadi Polisi, namun beberapa lama kemudian berubah ingin menjadi dokter, dan seterusnya sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di jurusan komunikasi. Namun walaupun saya sudah menetapkan jalan hidup saya, tetap saja saya masih belum menemukan apa sebenernya passion saya, hal yang terjadi pada diri saya sangat berbeda ketika saya berdialog dengan murid-murid sanggar tari angguk ini, mereka dengan yakinnya menyerukan jawaban yang sama bahwa “nari itu asik, dan aku ingin jadi penari”. Wajah yang yakin dan percaya diri terlihat dari paras mereka. Walaupun tinggal di kampung bukan berarti mereka tidak mengeksplorasi dunia luar, mereka juga terpengaruh oleh media. Mereka mengikuti sinetron-sinetron yang berkembang saat ini di televise, namun hal yang membedakan adalah mereka cenderung lebih senang menonton acara tari yang disiarkan di TVRI. Mendengar kata TVRI saja saya sudah kaget, apalagi mendengar saat anak sebelia mereka masih menonton TVRI. Ini yang menjadi tamparan bagi saya, disaat saya berfikir bahwa mengapa kita terlalu banyak mengadopsi budaya luar kedalam fikiran kita tanpa mengindahkan budaya atau media sendiri? Lebih senang menonton acara-acara yang disiarkan oleh cable TV dari pada menonton acara-acara di TV nasional sendiri.

Mengerjakan pekerjaan yang kita senangi dan membuat kita nyaman, adalah hal terpenting yang kelak harus kita lakukan, anak-anak tari kulonprogo ini membawa saya kembali pada masa kecil yang sudah terlupakan oleh saya. Sewaktu kecil kita bermimpi menjadi Superman, lalu mengikatkan selimut dari tempat tidur kita dipunggung seakan kita memakai jubah yang mirip dengan superman dan kita melakukannya tanpa berfikir apa-apa selain keinginan kuat untuk menjadi superman. Lalu mengapa saat ini ketika kita ingin menjadi sesuatu yang kita inginkan ada terdapat keraguan yang tidak menentu? Anak-anak sanggar tari kulonprogo ini membawa semangat baru bagi kehidupan saya bahwa, mengapa tidak untuk kita befikir kembali mengikuti passion kita, selagi kesempatan masih ada dan yang terpenting adalah kita nyaman melakukan apa yang kita kerjakan, karena kita mencintai pekerjaan kita.

Setelah selesai bersanda gurau dan bercengkarama bersama anak-anak tari desa kulon progo, rombongan langsung pergi menuju satu tempat terakhir di tempat pengrajin tanah liat gerabah kasongan. Disana kita belajar mengerti nilai suatu barang. Kadang dunia teknologi yang begitu berkembang pesat dimana gadget menjadi kebutuhan masing-masing orang membuat kita terpengaruh dan cenderung ketergantungan dengan gadget-gadget tersebut. Namun hal itu menjadi berbeda saat kami berada disana, sama sekali kita tidak menyentuh gadget yang kita bawa. Kita terfokus membuat sesuatu dari jari-jari tangan kita, pemilik dari tempat tersebut mengizinkan kita untuk membuat apa saja dengan tanah liat yang sudah mereka sediakan. Saya iseng bertanya kepada teman saya yang perempuan, “sebagai cewek, kalo ada cowo yang ngasih kamu suatu barang terus cowo itu bilang kalo barang ini dia yang bikin sendiri dengan tangan dia sendiri, apa yang kamu rasakan?” Teman saya dengan lantang menjawab “Ya seneng banget lah, justru nilainya ada disitu walaupun barangnya biasa aja tapi kan usaha yang dia lakuin untuk bikin barang itu besar” saya terkejut mendengarnya, ternyata orang itu lebih suka menilai kerja kerasnya daripada hasilnya, walaupun saya yakin tidak semua orang berfikiran sama seperti teman saya ini. Namun hal yang bisa diambil adalah suatu barang itu akan sangat berharga jika usaha yang diberikan untuk membuatnya pun besar. Hingga pada akhirnya saya kembali focus untuk membuat sesuatu dari tanah liat yang ada digenggaman saya itu, dan setelah selesai barang yang sudah jadi itu akan saya jadikan oleh-oleh sepulangnya saya nanti.

Perjalananpun berakhir membawa kesan dan pelajaran. Begitu berharga perjalanan kami selama 3 hari 2 malam itu, mungkin jika bukan karena perjalanan itu saya tidak akan mungkin menginjakkan kaki saya di kulonprogo, atau desa design di kabupaten magelang, atau mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Musisi-musisi berprestasi di Solo. Saya yakin bahwa kelak apa yang kita lakukan akan menjadi sebuah cerita dikemudian hari namun hari-hari yang kita jalani dalam pembelajaran disana bukan hanya sekedar cerita, melainkan suatu pencerahan. Hari-hari itu dimana saya yakin bahwa cerita yang akan saya ceritakan nanti bukanlah cerita sedih melainkan cerita yang sangat inspiratif dan menyentuh. Kelak saya berharap bahwa apapun yang saya lakukan dan kerjakan dimasa depan adalah hal yang sebetulnya saya senangi dan saya cintai. Saya belajar betapa pentingnya mengenali diri kita dan mengetahui untuk apa kita dilahirkan ke dunia ini. Melalui orang-orang inspiratif yang saya ajak untuk berdiskusi disana, saya belajar tentang pentingnya mengikuti passion kita, dan seberapa penting mengenali diri kita, masih banyak pelajaran hidup yang akan saya dapati di hari-hari berikutnya, tetapi perjalanan waktu itu membuat saya seakan sedang membuka buku tulis baru kemudian hati saya terdorong untuk menulis dilembar-lebar putih berikutnya, kiasan tersebut mengungkapkan bahwa saya ingin mengksplorasi lagi sesuatu yang belum saya ketahui sebelumnya, agar kelak saya bisa lebih tau siapa diri saya, jika plenthe bermusik untuk mengenalkan budaya local ke dunia internasional, atau Ibu Tia yang menari untuk melestarikan budaya bangsa, lalu kelak untuk apa dan siapa saya hidup didunia ini? Pertanyaan itulah yang timbul dari perjalanan saya di Jogja saat itu, dan akan saya jawab nanti di perjalanan hidup saya yang lain dihari-hari selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s