Jaranan tidak hanya sebatas penari ‘dadi’

Artikel Kediri Bertutur

Jaranan dikenal sebagai seni rakyat yang digemari oleh masyarakat di Kediri. Para prajurit mempertunjukkan karakter keberanian lelaki mereka melalui gerak-gerik yang gagah. Kuda Lumping/Jaranan/Kuda Kepang adalah seni tari yang dimainkan dengan menaiki kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Para prajurit biasanya diiringi dengan musik khusus yang sederhana yaitu dengan gong, kenong, kendang dan slompret (alat musik tradisional). Kesenian Jaranan begitu sederhana akan tetapi memiliki daya tarik yang kuat.

Dahulu rakyat menggunakan panggung rakyat sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa. Bentuk kesenian Kuda Kepang merupakan cara rakyat menyindir para penguasa. Kuda merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan elit bangsawan dan prajurit kerajaan yang di saat itu tidak dimiliki rakyat. Tarian Kuda Lumping dipentaskan tanpa mengikuti pakem seni tari yang berkembang di lingkungan kerajaan. Jelas bahwa seni tari Jaranan adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan kerajaan. Dikarenakan seni Kuda Lumping sangat digemari oleh semua kalangan masyarakat maka selain sebagai media perlawanan, Tarian Jaranan digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam, sama halnya melalui kesenian Wayang Kulit.

391025_2630646639717_853517348_n

Asal usulnya Jaran Kepang terkandung dalam cerita rakyat asli Kediri saat pemerintahan Prabu Amiseno dibawah Kerajaan Ngurawan (salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas). Sang Prabu Amiseno memiliki putri yang sangat cantik nan rupawan bernama Dyah Ayu Songgolangit (Dewi Sekartaji). Banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya.

Dewi Songgolangit memiliki adik laki-laki tampan dan terampil dalam olah keprajuritan bernama Raden Tubagus Putut. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Pengembaraannya membawa Raden Tubagus Putut untuk mengabdi kepada Prabu Kelono Sewandono di Kerajaan Bantar Angin (Ponorogo). Berkat keahliannya dalam olah keprajuritan, maka ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom.

Prabu Kelono Sewandono mendengar tentang kecantikan Dyah Ayu Songgolangit dan ingin meminangnya, maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui siapa dirinya oleh ayahandanya maupun kakaknya.

Di kerajaan Ngurawan banyak pelamar yang berdatangan diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Singakumbang (celeng). Dewi Songgolangit terkejut akan kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar, karena meskipun dia memakai topeng untuk menyamar, Dewi Songgolangit mengetahui bahwa itu adiknya sendiri.

Dewi Songgolangit menghadap ayahandanya untuk menyampaikan bahwa Pujonggo Anom adalah putranya dan mendengar penuturan itu, maka murkalah sang ayah. Sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topengnya yang dikenakan wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan kepada Dewi Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono.

Akhirnya Dewi Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; barang siapa yang dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad, serta pengarak manten menuju ke Kediri harus “nglandak sahandape bantala” (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri.

Pujonggo Anom melaporkan permintaan Dewi Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan bahan berupa batang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah, lempengan besi dijadikan tetabuhan yang enak didengar.

Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit. Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin (Ponorogo)  menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Kediri. Maka mulailah kesenian itu diberikan nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang penari yang menggambarkan punggawa kerajaan sedang menunggang kuda dengan tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh kelompok gamelan yang terdiri dari ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung.

401168_2631173372885_423954744_n

Kemudian datanglah Barong Singo Barong bersama Patih Singakumbang dari Lodoyo yang datang tidak melalui jalan biasa melainkan melalui bawah tanah menuju Alun Alun Kediri.  Barong Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singa Barong dan terjadilah perang. Singa Barong dan Singakumbang memiliki kekuatan gaib dimana mereka bisa merubah wujud menjadi binatang, Singa Barong menjadi singa dan Singakumbang menjadi celeng. Dalam keamarahannya, dalam bentuk singa dan celeng, Singa Barong dan Singakumbang beserta para pengikutnya menghancurkan segala sesuatu yang menghalang mereka.

397113_2629875980451_1122822844_n

Kelono Sewandono melawan mereka dengan pecut Samandiman, akan tetapi Pujonggo Anom ingat bahwa Singa Barong dan Singa kumbang senang mendengar suara gamelan, maka dimainkannya lagu gamelan. Singo Barong dan Singa kumbang menjadi tenang hingga mereka menari mengikuti alunan gamelan.

405127_2630438554515_1684064093_n

Singa Barong menjadi tunduk kepada Prabu Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri. Dengan bergabungnya Singa Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga sekarang ini.

Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang disebut “gambuh:” antara lain Dupa (kemenyan yang dicampur minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau, dan kapur yang dilumatkan menjadi satu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh akan membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang Gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari, maka penari itu bisa menari dibawah alam sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusupinya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang makan pecahan kaca semprong.

407533_2630485515689_1889845343_n

Terkadang tindakan kemasukan roh ke dalam raga ini dinilai sebagai sesuatu yang kurang baik atau kurang dipahami. Tanpa adanya pehaman konteks budaya, maka seni tari Jaranan sering disalahpahami. Saat pengaruh agama Hindu dan Buddha masih kental di jaman kerajaan Jawa, kedekatan diri dengan roh leluhur adalah bentuk harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta.

383642_2631175012926_456908227_n

Wujud laku spiritual dalam tataran batiniah, dan laku ritual dalam tataran lahiriah menentukan kualitas manusia. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Contoh yang baik adalah adanya pemberian sesaji yang memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).

378547_2631175972950_1716243457_n

Kebanyakkan seni tari rakyat telah lepas dari makna sejarah dan kandungan norma dan nilai pesan. Yang diapresiasi hanyalah sebatas tampilan saja sehingga condong menilai tanpa pemahaman sejarah maupun kandungan budaya.   Jaranan/Jaran Kepang/Kuda Lumping merupakan seni rakyat yang memiliki nilai sejarah dan mengandung nilai ksatria dalam membela yang adil dan benar.
Narasumber:

http://kudasaktikusumo.com/filosofi-kesenian-jaranan/

http://foreverjaranan.blogspot.com/2011_04_01_archive.html

Buku “Jaranan: The Horse Dance and Trance in East Java by Victoria M. Clara van Groenendael

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s