Caping Panji

Artikel Kediri Bertutur

IMG_1035d

Caping Panji menceritakan tentang budaya panji yang diambil dari sisi kehidupan masyarakat Jawa dalam kebudayaan agraris. Caping panji merupakan gambaran masyarakat Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam tatanan kehidupannya. Hidup makmur, damai, tentram dan sejahtera hanya dapat diwujudkan bila semuanya dapat selaras.

Penari:
– Slamet Jiromifa
– Indah Purnaningtyas
– Sanggar Carang Gedang
– Ilustrasi Musik: Mbah war

IMG_0488aIMG_0441aIMG_0601a

Caping Panji telah ditampilkan di “Gua selomangleng,” kota Kediri-Jawa timur [pada tanggal 20 Desember 2015], terletak di kaki Gunung Klotok. “Gunung Klotok” merupakan bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di sebelah timur. Gua Selomangleng merupakan situs bersejarah tempat pertapaan “Sanggrama Wijayatunggadewi, ” yang lebih dikenal dengan nama “Dewi Kilisuci,” seorang puteri mahkota dari Kerajaan Kahuripan. Dewi Kilisuci atau Sanggrama Wijaya adalah puteri Raja Airlangga yang lebih memilih jalan pertapaan demi mencapai pencerahaan dari pada menjadi pewaris tahta kerajaan. Kisah perjalan dewi kilisuci memiliki kemiripan dengan perjalanan Sidharta Gautama yang pergi meninggalkan kemewahaan istana demi perjalanan suci. “Gua Selomangleng,” merupakan Widya Kadewatan atau Widya Mandala, yang berarti tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dewi kilisuci adalah insipirator pluralisme dan pemersatu.

Adanya arca budha dan relief garuda mukha di dalam Gua Selomangleng menjadi bukti bahwa sinkretisme antara Hindu dan Budha sudah terjadi di era Dewi Kilisuci. Merujuk pada simbol Budha dan Hindu yang terdapat di dalam gua, berarti dulunya penganut Hindu dan penganut Budha pernah tinggal bersama-sama, hidup rukun dan damai di satu tempat yang sama yaitu; kawasan Gua Selomangleng.

Dewi Kilisuci adalah sosok sentral bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji. Bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji, berarti bersatunya kerajaan Jenggala dan Daha (Kediri). Kisah Dewi Kilisuci sebagai pemersatu Panji dan Dewi Sekartaji terdapat dalam cerita atau lakon “Panji Semirang.” Kisah Dewi Kilisuci banyak dikaitkan dengan mitos, legenda, foklor, sampai seni tradisi; mitos Lembu Sura dan Mahesa Sura yang ada di Gunung Kelud, kesenian kuda kepang dan reog kendang, cerita Panji Semirang dll.

IMG_0993IMG_1342aIMG_1536IMG_1627IMG_1520aIMG_1637aIMG_1572aIMG_1435IMG_1418IMG_1677

Behind-The-Scenes: ‘Bertutur Lewat Mading di Sekolah HighScope Indonesia’ by Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur

APY_3649

Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex merupakan sebuah bentuk lokakarya pendidikan tentang pentingnya peran wanita dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, para peserta diberi wawasan tentang peranan wanita melalui seni bertutur serta menyampaikan informasi yang disampaikan sebelumnya dengan cara mengarang kisah-kisah wanita muda inspiratif melalui sebuah mading. Kegiatan mading sendiri terpilih menjadi kegiatan utama karena sudah mulai jarang dilakukan di lingkungan sekolah dan menjadikannya sebagai aktifitas yang sederhana dan bersifat nostalgia, balik ke masa kecil. Acara yang dimulai dengan sebuah ide sederhana memerlukan tenaga yang banyak agar tercapai pesannya dengan efektif kepada peserta lomba dan hadirin acara. Komentar-komentar peserta yang dikumpulkan setelah acara mencerminkan nilai-nilai yang mereka dapat seperti pentingnnya melestarikan budaya Indonesia karena nuansa dan tema acara yang tradisional dan menarik. Moral lain adalah pemberdayaan wanita-wanita muda menggunakan imajinasi dan pemikiran yang original. “Eventnya membantu mengembangkan kreatifitas generasi muda dan membangkitkan rasa nasionalisme dengan cara yang seru dan menarik.” (Assyla Ridha, MC acara).

Dibalik kesuksesan acara, rencana-rencana awal dimodifikasi sekian kalinya sampai akhirnya menciptakan hasil akhir yang memuaskan. Terdapat banyak perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi seperti tanggal acara, lokasi, jadwal/rundown yang tidak tampak pada saat acara berlangsung.

Berminggu-minggu sebelum acara berlangsung, informasi tentang sebuah kegiatan yang besar pada bulan Desember sudah disampaikan kepada guru dan kepala sekolah HighScope. Beberapa murid sudah diberikan informasi secukupnya tentang acara untuk disampaikan kepada teman-teman mereka, sebagai teaser untuk membuat murid-murid penasaran. Poster-poster hasil ciptaan murid-murid pilihan yang ditempel di lingkungan sekolah memamerkan hadiah utama dan mendorong banyak murid untuk semangat mengikuti lomba. Informasi tentang Lomba Bertutur Lewat Mading tersebar di berbagai grup ekstrakurikuler HighScope seperti PERMISHI, Literatur dan DLDA (Dark Lights Digital Arts) dan kertas registrasi pun disebarkan untuk diiisi oleh murid-murid yang tertarik mengikuti lomba. Pemberitahuan tentang lomba-lomba tambahan seperti foto live report dan video juga disampaikan agar menarik lebih banyak peserta.

Setelah rundown dan jadwal acara sudah disetujui oleh pihak Kotex dan sekolah HighScope, penetapan tanggal dan waktu masih menjadi salah satu rintangan yang dihadapi sebelum acara berlangsung. Setelah diberitahu tanggal acara yang sudah ditetapkan, beberapa murid protes karena situasi yang kurang sesuai dengan keinginan mereka, contohnya seperti pembatalan pertunjukan PERMISHI yang sudah menjadi tradisi untuk diadakan pada bulan Desember tiap tahun ajaran. Acara tahunan OSIS pun juga mengalami pengunduran. Agar semua pihak dapat mengatasi masalah, penyesuaian jadwal oleh pihak OSIS dan PERMISHI dilakukan agar pertunjukan mereka tetap bisa dilaksanakan di lain hari, yaitu pada tanggal 15 Desember. Band-band yang tidak tampil pada hari itu bersedia untuk tampil pada saat acara tanggal 16 Desember sebagai bentuk dukungan. Setelah pengumuman formal diberikan di grup angkatan kelas 10, 11 dan 12, murid-murid mulai banyak bertanya tentang syarat dan ketentuan serta rundown acara. Perincian lebih diberi kepada partisipan acara beberapa hari sebelumnya agar mereka dapat menentukan kelompok serta tema dari mading mereka.

Band-band sekolah sudah diminta partisipasi sebagai hiburan acara setelah informasi sudah tersebar, ditambah dengan partisipasi anggota OSIS yang diikutsertakan dalam proses pemilihan MC serta penyebaran informasi tambahan. Dipilih sebanyak tiga band sekolah dengan masing-masing membawakan 2 lagu. Para MC diundang rapat agar dapat diberi pengarahan yang jelas serta rundown acara.

IMG_4305

Malam sebelum hari acara, lokasi sedang penuh gemuruh campuran suara konstruksi panggung dan pajangan dekor, obrolan pengawas acara dan lantunan samar lagu-lagu yang akan mengiringi kegiatan acara. Properti yang dikirim itu langsung dari sumber-sumber diluar Jakarta seperti Malang Kediri, Pacitan, Gunung Kidul dan pasar pedesaan sudah diangkut ke lokasi dan tinggal dipasang ditempat. Berbagai macam wayang dan topeng tradisional mulai dipajang diatas instalasi gedebok-gedebok pisang di setiap sudut lokasi. Elemen-elemen visual yang hadir dalam Lomba Bertutur melalui Mading, HighScope juga mampu berceritera. Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung. Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan. Sederet keranjang anyaman penuh dengan potongan kain yang berpola ramai, kacang-kacangan dan biji-bijian kering serta bahan-bahan unik lainnya (sabut kelapa, kapas, dll.) untuk digunakan peserta lomba. Daun pisang juga tampak diletakkan diatas lantai yang tidak ditutupi oleh terpal biru, agar tidak mengotori lantai. Peralatan yang disiapkan oleh pihak sekolah, seperti cat, kuas dan lain-lain juga sudah disiapkan. Pekerja yang sudah tampak biasa kerja lembur menerima bekal makan malam yang disiapkan dengan senang hati.

IMG_4599

Pukul 00.00 haru Rabu tanggal 16 Desember, lokasi masih berisi pekerja dan panitia acara yang tangguh melawan rasa lelah merapikan peralatan-peralatan. Aula sekolah yang biasanya kosong tanpa hiasan pelan-pelan disulap menjadi indah dan siap untuk dipakai esok harinya. Semua merupakan hasil kerja keras tim dan pihak sekolah supaya acara tidak membosankan dan dijamin menyegarkan mata murid-murid dan tamu yang sudah matang direncanakan sejak bulan November yang lalu.

Acara yang dipenuhi dengan tawa dan kemeriahan suasana tradisional budaya Indonesia pada tanggal 16 Desember 2015 lalu menjadi buah bibir manis untuk murid-murid Sekolah HighScope Indonesia. Sebelum lomba dimulai, anak-anak sudah terhibur dengan pertunjukan seni bertutur oleh Kak Azis Franklin dan penampilan dari band-band PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia). Pada saat lomba berlangsung, kreativitas dan imajinasi anak-anak menjadi bahan ide untuk mading mereka yang dipajang dan dipresentasikan kepada para juri pada saat-saat terakhir. hiburan spontan dari pihak sekolah (pertunjukan musik dari murid dan para pengawas) ketika pemberian hadiah menjadi penutup yang mengesankan untuk acara tersebut. Diharapkan lebih banyak tawa dan kemeriahan yang dapat dialami oleh Sekolah HighScope Indonesia dengan acara-acara edukatif seperti Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex.

APY_3698APY_3704APY_3711APY_3657APY_3689APY_3692

Inspirasi Kreasi Inovatif: Pengalaman Murid-Murid HighScope Indonesia By Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur
APY_3565

Lomba Bertutur Lewat Mading, SMU High/Scope, TB Simatupang, JakSel

Hari Rabu tanggal 16 Desember 2015 murid-murid Sekolah HighScope Indonesia telah menyambut dengan hangat kemeriahan suasana acara lomba Mading yang diselenggarakan oleh Kotex Indonesia. Dari luar tempat acara terdengar obrolan anak-anak, bercampur aduk menjadi seribu dengungan suara, dengan beberapa murid mencelotehkan komentar dan pertanyaan tentang dekorasi gedebok pisang dan berbagai macam wayang yang menjadi atraksi mata serta lukisan-lukisan tangan yang dipamerkan di dinding dan jendela lokasi. Mereka menunjuk kepada panggung yang tampak siap untuk menjadi serambi pertunjukkan seni, yang dikabarkan akan dipersembahkan oleh teman-teman mereka dari PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia) dan seorang seniman asli, bernama Kak Azis Franklin. Kak Azis tampak seru menjadi bahan obrolan murid-murid dengan alat musik tradisional yang dimainkannya, sebuah alat musik senar yang menyerupai gitar yang bernama Sampek. Lantunan lagu tradisional yang dibawakannya menjadi iringan obrolan anak-anak. Alat musiknya beserta nyanyian lantang oleh Kak Azis memperdalam nuansa Indonesia yang ditunjukkan oleh dekorasi-dekorasi ditambah dengan lantunan musik tradisional dan fusion (semi-tradisional) menjadi pengisi waktu yang sesuai sambil menunggu acara dimulai.

Memasuki tempat acara, para siswa/i dipersilahkan untuk membuka sepatu sebagai bentuk praktek lesehan, atau suasana kedaerahan dan kesederhanaan yang menjadi salah satu dasar budaya Indonesia. “Lesehan” memiliki konsep budaya dalam media komunikasi nenek moyang jaman dulu dimana dengan falsafah lesehan berarti duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Ini mengandung nilai kesetaraan, tenggang rasa, dan humanisme. Kedua MC acara, murid-murid HighScope bernama Rafael Aditya dan Assyla Ridha mengalihkan sorotan mata peserta acara dari dekorasi dan obrolan teman-teman mereka. Acara dimulai dengan tepuk tangan yang menggelegar, menyambut kehadiran Ms. Callie Mackenzie, sang Kepala Sekolah. Setelah apresiasi dari Ms. Callie, disambut lagi presentasi dari Kotex oleh Mbak Ami Damayanti (perwakilan dari Kotex). Seminar kecil ini menyampaikan kegunaan produk-produk dari Kotex serta mendukung aktifitas wanita-wanita muda yang sibuk serta memberikan solusi untuk para wanita yang merasa kesulitan untuk tetap aktif pada saat halangan dengan menggunakan produk mereka. Para peserta mendapat informasi yang lebih tentang brand dan produk-produk mereka. Siswi perempuan akan mendapat goodie bag berisi produk-produk Kotex dan siswa laki-laki pun mendapat informasi tambahan yang informatif serta sertifikat mengikuti acara. Pihak acara juga membagikan flyer berisi informasi tambahan untuk lomba Mading, fotografi dan video pada saat pidato Ms. Calllie.

APY_3128APY_3361

Setelah seminar dari Kotex, seniman Azis Franklin dipersilahkan kedua MC untuk memperagakkan seni bertutur, yaitu menceritakan dongeng tradisional Indonesia dengan menggunakan wayang dan media gambar-gambar yang diperlihatkan di layar putih. Kak Azis menunjukkan keluwesan dan kegesitannya dalam menggerakan wayang, dan peserta-peserta yang hadir pun terbawa dalam candaan dan pembawaan seniman yang memikat perhatian. Cerita-cerita yang dibawakannya berisi legenda dewa-dewi kuno Indonesia penuh dengan moral dan makna serta fabel yang menghibur dan diperankan oleh Kak Azis dengan memanipulasi suaranya menyerupai berbagai macam peran binatang. Cerita-cerita tersebut dapat menarik perhatian murid-murid yang jarang mendengar kisah-kisah tradisional selain yang sudah terbiasa dibawakan seperti Malin Kundang atau Jaka Tarub. Kak Azis menyampaikan kisah-kisah tradisional dengan gaya yang menarik dan sangat mendukung partisipasi murid-murid, sehingga penonton tidak merasa bosan dengan cerita yang dibawakan. Penggunaan media peraga, seperti wayang, topeng dan pakaian seniman tersebut menjadikan penampilannya sebagai pertunjukan seni asli dan tidak setengah-setengah. Murid-murid pun menjadi tertarik mendengarkan cerita yang tidak biasa disampaikan, dan senang melihat Kak Azis dengan gayanya yang hangat dan mengundang tawa. Murid-murid tampak santai duduk di lantai dan memakai batik untuk menunjukkan keragaman budaya Indonesia.

APY_3253APY_3283

Setelah pertunjukkan seni oleh Kak Azis, ia secara detil menjelaskan pentingnya melestarikan seni bertutur kepada murid-murid. Kak Azis dengan cermat memperagakkan berbagai macam metode untuk menyampaikan sebuah cerita dengan menarik dan menghibur. Seni bertutur diartikan sebagai seni menceritakan sebuah kisah yang memilikki makna dan pesan yang berarti, dan lebih memikat imajinasi penonton dibandingkan hiburan biasa. Agar tidak membosankan, Kak Azis tetap mempresentasikan seminar kecil tersebut dengan gaya khasnya yang ceria dan penuh canda. Kemeriahan acara ditambah dengan dinyanyikannya lagu ‘Happy Birthday’ untuk dua murid HighScope, dan menunjukkan kekompakan siswa/i. Kedua MC dengan semangat menyampaikan doa-doa dan harapan untuk kedua murid yang ulangtahun untuk mengisi waktu menunggu set-up oleh band PERMISHI yang akan tampil. Band yang bernama XNY dengan santai membawakan dua lagu sambil mempersilahkan peserta untuk memakan cemilan tradisional Indonesia yang sudah disiapkan diatas lembaran-lembaran daun pisang yang lebar dan hijau. Para peserta dipersilahkan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana. Murid-murid mendapat jeda sejenak dari pertunjukan budaya Indonesia dan mendengarkan dua lagu modern yang dibawakan band tersebut. Mereka tampak senang menikmati musik yang dibawakan oleh band dan memberi tepuk tangan yang besar setelah selesai.

APY_3340

Sambil membuka agenda selanjutnya, penyampaian aturan lomba oleh Mbak Kandi Windoe, para MC mempersilahkan peserta untuk kembali masuk ke dalam tempat acara dan mengumumkan bahwa waktu mulai lomba Mading akan segera dimulai. Para peserta terlihat tertarik mendengar penjelasan tentang definisi dan keterangan mading, sebuah karya seni yang jarang terdengar dan tidak sering dilakukan di sekolah. Mereka juga sangat konsentrasi dalam mendengar penjelasan tentang komponen-komponen penilaian yaitu muatan nilai pesan (40%) yang dinilai oleh Mr. Ody representatif dari HighScope, muatan bertutur (35%) yang dinilai oleh Kak Azis Franklin, dan muatan estetika (25%) yang dinilai oleh Mbak Ami, representatif dari Kotex. Setelah penjelasan tentang peraturan lomba Mading, foto live report dan video, murid-murid berukumpul dengan kelompoknya masing-masing dan mulai mengerjakan Mading mereka. Setiap kelompok diberi nomer urutan secara acak untuk waktu peniliaian. Kelompok yang terbentuk sebanyak 12 grup, dengan jumlah peserta yang berbeda-beda antara 5 hingga 10 orang.

IMG_5158APY_4139

Tema acara secara keseluruhan mencondong kepada budaya dan seni Indonesia, memamerkan keragaman kultur Indonesia yang dihubungkan kepada isi dan pesan yang diharapkan dalam produk mading. Sudah banyak anak-anak muda Indonesia yang merasa “asing” terhadap budaya mereka sendiri, tidak menyadari nilai-nilai kearifan lokal (toleransi, budi pekerti, keteladanan, keselarasan, dan keharmonisan). Maka, tema kreasi inovatif akan mengajak para peserta untuk memadukan unsur-unsur tradisional dan modern untuk menciptakan sebuah “pintu masuk” bagi generasi muda untuk mengenali dan mempelajari seni budaya milik bangsanya. Seni bertutur yang dilakukan oleh Kak Azis Franklin diharapkan menjadi inspirasi dan sumber inovasi untuk peserta. Nuansa Indonesia pun menjadi salah satu bahan yang dapat dimasukkan dalam mading untuk memberi dukungan kepada budaya Indonesia dan wanita-wanita muda Indonesia. Dengan tema kreasi inovatif, murid-murid diharapkan untuk dapat menyampaikan pesan-pesan positif tentang kalangan wanita-wanita muda dan bertutur lewat mading secara langsung pada saat penjurian. Ricuh suara peserta pun bercampur aduk dengan musik yang mengiringi acara ketika lomba Mading sudah dimulai. Para siswa/i dengan semangat mengumpulkan bahan-bahan mading yang telah disiapkan di bagian belakang ruangan, mulai dari alat-alat biasa seperti gunting, cat, lem dan pensil dan yang lebih unik seperti beras dan biji-bijian, potongan-potongan kain, serabut kelapa, batu hias, dan lain-lain. Setiap kelompok yang berisi maksimal 10 orang terlihat sibuk mendiskusikan konsep pesan serta desain yang akan disampaikan di mading mereka. Lirikan dan sorotan tajam terhadap kelompok lain juga dilakukan oleh peserta-peserta yang berambisi memenangkan hadiah utama. Jepretan hasil kamera dan handphone juga banyak terdengar disana-sini ruangan. Para peserta terlihat senang membuat mading, yakni sebuah instalasi seni yang berupa hasil dari kreativitas dan imajinasi mereka sendiri. Murid-murid dengan riang dan santai duduk di lantai dan mengobrol dengan teman-teman mereka, terbawa dengan suasana yang ramai dan seperti perkumpulan biasa, namun tidak lupa dengan karya dan cerita yang mereka harus siapkan. Ketika waktu yang diberikan sudah selesai, masih banyak peserta yang memilih untuk menyelesaikan mading mereka terlebih dahulu sebelum menyantap makan siang.

Diluar ruang acara, terdapat sketsel-sketsel hitam dengan aksen emas untuk menggantung karya-karya para peserta. Sketsel tersebut dibawa masuk ruangan dan para peserta menyiapkan mading mereka, hasil dari kerja keras mereka selama 3-4 jam. Biji-bijian dan batu hias tajam yang berserakan dilantai telah diumumkan oleh para MC dan dijadikan himbauan bagi para peserta. Tumpahan cat dan bahan-bahan mading lainnya yang sudah berantakan di laintai telah menjadi bukti akan semangat peserta. Grup 1-6 dipanggil untuk mempresentasikan mading-mading mereka, lengkap dengan seni bertutur dan moral yang bermakan untuk dinilai. Setelah grup 1-6 sudah selesai, grup yang tersisa dipanggil kedepan. Terdengar banyak tawa yang menggelegar pada saat cerita dan isi mading yang lucu, dan juga renungan untuk penonton ketika mading yang serius dan penuh arti telah selesai mempresentasikan karya seni mereka.

APY_3478APY_3948APY_4072APY_4044

Setelah juri sudah selesai memberikan evaluasi setiap karya mading, para MC mengundang dua band PERMISHI untuk mengisi waktu sambil memproses hasil penilaian. Mading-mading dipindahkan ke sebelah kanan tempat agar penonton dapat melihat band-band dengan jelas. Terdengar lagi tepukan tangan yang meriah, menyambut penampilan oleh teman-teman sekelas. Kegelisahan mereka akan pengumuman pemenang agak reda dengan hiburan musik yang meriah. Guru-guru pun menjadi sumber hiburan yang tak terduga, dengan ajakan MC untuk bebas memanggung ternyata mengungkapan talenta guru-guru di bidang musik, dengan banyak guru yang memperlihatkan keterampilan mereka memainkan alat-alat musik. Suasana menjadi lebih seru, mirip dengan festival seni dan budaya.

APY_4020APY_4038APY_4025APY_4016

Setelah pengumuman pemenang lomba mading dan fotog live report, para pemenang dengan langsung diberi hadiah dan apresiasi dari representatif dari penyelenggara acara. Karya-karya mading tetap dipajang di lokasi sebagai atraksi foto-foto dan menjadi sumber kebanggaan bagi para peserta. MC dengan gesit mengundang lagi hiburan musik untuk meningkatkan kemeriahan suasana, dan acara pun ditutup dengan berakhirnya lagi terakhir serta penutup dari para MC, ucapan terima kasih bagi penyelenggara dan peserta acara.