Behind-The-Scenes: ‘Bertutur Lewat Mading di Sekolah HighScope Indonesia’ by Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur

APY_3649

Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex merupakan sebuah bentuk lokakarya pendidikan tentang pentingnya peran wanita dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, para peserta diberi wawasan tentang peranan wanita melalui seni bertutur serta menyampaikan informasi yang disampaikan sebelumnya dengan cara mengarang kisah-kisah wanita muda inspiratif melalui sebuah mading. Kegiatan mading sendiri terpilih menjadi kegiatan utama karena sudah mulai jarang dilakukan di lingkungan sekolah dan menjadikannya sebagai aktifitas yang sederhana dan bersifat nostalgia, balik ke masa kecil. Acara yang dimulai dengan sebuah ide sederhana memerlukan tenaga yang banyak agar tercapai pesannya dengan efektif kepada peserta lomba dan hadirin acara. Komentar-komentar peserta yang dikumpulkan setelah acara mencerminkan nilai-nilai yang mereka dapat seperti pentingnnya melestarikan budaya Indonesia karena nuansa dan tema acara yang tradisional dan menarik. Moral lain adalah pemberdayaan wanita-wanita muda menggunakan imajinasi dan pemikiran yang original. “Eventnya membantu mengembangkan kreatifitas generasi muda dan membangkitkan rasa nasionalisme dengan cara yang seru dan menarik.” (Assyla Ridha, MC acara).

Dibalik kesuksesan acara, rencana-rencana awal dimodifikasi sekian kalinya sampai akhirnya menciptakan hasil akhir yang memuaskan. Terdapat banyak perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi seperti tanggal acara, lokasi, jadwal/rundown yang tidak tampak pada saat acara berlangsung.

Berminggu-minggu sebelum acara berlangsung, informasi tentang sebuah kegiatan yang besar pada bulan Desember sudah disampaikan kepada guru dan kepala sekolah HighScope. Beberapa murid sudah diberikan informasi secukupnya tentang acara untuk disampaikan kepada teman-teman mereka, sebagai teaser untuk membuat murid-murid penasaran. Poster-poster hasil ciptaan murid-murid pilihan yang ditempel di lingkungan sekolah memamerkan hadiah utama dan mendorong banyak murid untuk semangat mengikuti lomba. Informasi tentang Lomba Bertutur Lewat Mading tersebar di berbagai grup ekstrakurikuler HighScope seperti PERMISHI, Literatur dan DLDA (Dark Lights Digital Arts) dan kertas registrasi pun disebarkan untuk diiisi oleh murid-murid yang tertarik mengikuti lomba. Pemberitahuan tentang lomba-lomba tambahan seperti foto live report dan video juga disampaikan agar menarik lebih banyak peserta.

Setelah rundown dan jadwal acara sudah disetujui oleh pihak Kotex dan sekolah HighScope, penetapan tanggal dan waktu masih menjadi salah satu rintangan yang dihadapi sebelum acara berlangsung. Setelah diberitahu tanggal acara yang sudah ditetapkan, beberapa murid protes karena situasi yang kurang sesuai dengan keinginan mereka, contohnya seperti pembatalan pertunjukan PERMISHI yang sudah menjadi tradisi untuk diadakan pada bulan Desember tiap tahun ajaran. Acara tahunan OSIS pun juga mengalami pengunduran. Agar semua pihak dapat mengatasi masalah, penyesuaian jadwal oleh pihak OSIS dan PERMISHI dilakukan agar pertunjukan mereka tetap bisa dilaksanakan di lain hari, yaitu pada tanggal 15 Desember. Band-band yang tidak tampil pada hari itu bersedia untuk tampil pada saat acara tanggal 16 Desember sebagai bentuk dukungan. Setelah pengumuman formal diberikan di grup angkatan kelas 10, 11 dan 12, murid-murid mulai banyak bertanya tentang syarat dan ketentuan serta rundown acara. Perincian lebih diberi kepada partisipan acara beberapa hari sebelumnya agar mereka dapat menentukan kelompok serta tema dari mading mereka.

Band-band sekolah sudah diminta partisipasi sebagai hiburan acara setelah informasi sudah tersebar, ditambah dengan partisipasi anggota OSIS yang diikutsertakan dalam proses pemilihan MC serta penyebaran informasi tambahan. Dipilih sebanyak tiga band sekolah dengan masing-masing membawakan 2 lagu. Para MC diundang rapat agar dapat diberi pengarahan yang jelas serta rundown acara.

IMG_4305

Malam sebelum hari acara, lokasi sedang penuh gemuruh campuran suara konstruksi panggung dan pajangan dekor, obrolan pengawas acara dan lantunan samar lagu-lagu yang akan mengiringi kegiatan acara. Properti yang dikirim itu langsung dari sumber-sumber diluar Jakarta seperti Malang Kediri, Pacitan, Gunung Kidul dan pasar pedesaan sudah diangkut ke lokasi dan tinggal dipasang ditempat. Berbagai macam wayang dan topeng tradisional mulai dipajang diatas instalasi gedebok-gedebok pisang di setiap sudut lokasi. Elemen-elemen visual yang hadir dalam Lomba Bertutur melalui Mading, HighScope juga mampu berceritera. Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung. Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan. Sederet keranjang anyaman penuh dengan potongan kain yang berpola ramai, kacang-kacangan dan biji-bijian kering serta bahan-bahan unik lainnya (sabut kelapa, kapas, dll.) untuk digunakan peserta lomba. Daun pisang juga tampak diletakkan diatas lantai yang tidak ditutupi oleh terpal biru, agar tidak mengotori lantai. Peralatan yang disiapkan oleh pihak sekolah, seperti cat, kuas dan lain-lain juga sudah disiapkan. Pekerja yang sudah tampak biasa kerja lembur menerima bekal makan malam yang disiapkan dengan senang hati.

IMG_4599

Pukul 00.00 haru Rabu tanggal 16 Desember, lokasi masih berisi pekerja dan panitia acara yang tangguh melawan rasa lelah merapikan peralatan-peralatan. Aula sekolah yang biasanya kosong tanpa hiasan pelan-pelan disulap menjadi indah dan siap untuk dipakai esok harinya. Semua merupakan hasil kerja keras tim dan pihak sekolah supaya acara tidak membosankan dan dijamin menyegarkan mata murid-murid dan tamu yang sudah matang direncanakan sejak bulan November yang lalu.

Acara yang dipenuhi dengan tawa dan kemeriahan suasana tradisional budaya Indonesia pada tanggal 16 Desember 2015 lalu menjadi buah bibir manis untuk murid-murid Sekolah HighScope Indonesia. Sebelum lomba dimulai, anak-anak sudah terhibur dengan pertunjukan seni bertutur oleh Kak Azis Franklin dan penampilan dari band-band PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia). Pada saat lomba berlangsung, kreativitas dan imajinasi anak-anak menjadi bahan ide untuk mading mereka yang dipajang dan dipresentasikan kepada para juri pada saat-saat terakhir. hiburan spontan dari pihak sekolah (pertunjukan musik dari murid dan para pengawas) ketika pemberian hadiah menjadi penutup yang mengesankan untuk acara tersebut. Diharapkan lebih banyak tawa dan kemeriahan yang dapat dialami oleh Sekolah HighScope Indonesia dengan acara-acara edukatif seperti Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex.

APY_3698APY_3704APY_3711APY_3657APY_3689APY_3692

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s