Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 4 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

10255432_1393497827626370_5124720479423638272_n

Dear diary,
Pada sabtu malam ini aku membuka buku biografi Gayatri Rajapatni untuk meneruskan petualangan kehidupan sang Ratu Majapahit. Dalam bab yang aku baca pada minggu ini, banyak hal yang menunjukkan bahwa Gayatri itu wanita yang hebat. Banyak hal yang terjadi dalam bab ini, namun itu menjadi suatu bukti bahwa Gayatri adalah wanita yang kuat dan mampu melewati apa pun tanpa menyerah pada kepercayaannya.
Dalam bab ini Wijaya sudah resmi menjadi Rajanya Majaphit dan memiliki Gayatri sebagai pendampingnya dalam mengelola kerajaan yang telah mereka bangun. Wijaya memutuskan untuk memberi penghargaan atau semacam balasan untuk kebaikan yang telah disediakan oleh para penduduk yang sudah setia kepada Kerajaan Majapahit dan membantunya dalam keadaan yang sulit. Raja Wijaya memberikan para petani tanah untuk penduduk desa Kudadu, agar mereka bebas dari sewa tanah dan mereka dapat menyimpan tanah tersebut secara turun-temurun.

Arya Wiraraja diangkat menjadi Menteri oleh Wijaya, karena dia menjadi penasihatnya saat perang. Wijaya menyatakan bahwa walaupun dia membangun sistem pemerintahan yang baru ia memiliki tujuan dan niat yang sama seperti Raja Kertanegara yang telah membangun Kerajaan Singhasari.

Setelah Wijaya telah mengangkat anggota-anggota baru untuk berpartisipasi dalam pemerintahan, Rangga Lawe dendam karena ia tidak dapat posisi yang ia inginkan, yaitu menjadi Menteri Kepala Pemerintahan. Rangga Lawe memimpin suatu pemberontakan yang menyebabkan kerusuhan dalam kerajaan dan itu menjadi bukti bahwa Rangga Lawe bukanlah orang yang tepat untuk menjadi Menteri. Posisi sebagai Menteri Kepala Pemerintahan itu diberikan kepada Mpu Nambi oleh Wijaya, padahal dia adalah saingannya Rangga Lawe. Akhirnya Rangga Lawe mengancam Mpu Nambi dan merelakan diri untuk bertarung untuk mendapat posisi yang ia inginkan dalam pemerintahan. Namun, Nambi tidak mau bertarung dengan Rangga Lawe, maka dari itu ia mengabaikannya. Ayahnya Rangga Lawe menasihatinya untuk tetap bekerja sama Wijaya, tetapi Rangga Lawe berkeras kepala dan memilih untuk memberontak kerajaan dengan menggunakan senjata. Wijaya kecewa dengan kelakuannya Rangga Lawe, padahal sebelumnya ia menghormati keberaniannya, tetapi Raja Wiijaya tidak memiliki pilihan maka dari itu ia harus membunuh Rangga Lawe dan pengikutnya yang bergabung dalam pemberontakkan tersebut.

Ayahnya Rangga Lawe meminta Wijaya untuk menetapkan janjinya yaitu untuk memberi sebagian tanah Jawa untuknya. Wijaya selalu menetapkan janjinya, jadi dia akan memberikan sebagian tanahnya kepada ayahnya Rangga Lawe. Gayatri menjadi penasihat Wijaya dalam kondisi ini, karena dia yang memiliki pemikiran yang strategis.
Sejak kemenangan Majapahit melawan pihak-pihak lain orang-orang yang mengikuti Wijaya itu menjadi serakah dengan kekuatan. Banyak yang menginginkan perhatian Wijaya hanya untuk menjadi posisi yang tinggi dalam kerajaan. Namun dalam keadaan sesulit itu, Wijaya menemukan dirinya lagi saat dia bersama dengan Gayatri. Pernikahannya dengan Gayatri adalah satu-satunya hal yang membuatnya bahagia. Dalam saat-saat yang sulit Wijaya selalu kembali ke Gayatri dan meminta nasihat supaya kerajaan tetap dalam kondisi yang ideal.

Gayatri dan Wijaya memikirkan caranya untuk menyatukan masyarakat bersama untuk menjadi bangsa yang satu. Mereka mulai berpikir mengapa para penduduk yang tinggal di pelabuhan ingin membela saingannya, maka dari itu mereka memulai suatu investigasi agar mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mereka. Wijaya mengirim beberapa orang untuk pergi ke pelabuhan-pelabuhan dan mencari tahu informasi. Gayatri memutuskan bahwa sebagai kerajaan yang sukses mereka harus menyatukan seluruh masyarakat dan tidak hanya beberapa, namun mereka memprioritaskan orang-orang asing yang datang ke dalam Kerajaan Majapahit. Wijaya menyarankan bahwa mereka harus mengutamakan pedagang dan tenaga ahli, sedangkan Gayatri setuju tetapi dia juga ingin kerajaan Majapahit terlihat seperti mereka memiliki komunitas yang suci dan kepercayaan yang kuat, maka dari itu mereka juga memprioritaskan orang-orang pemuka agama.

Dari situ kita bisa melihat bahwa Gayatri adalah wanita yang sangat mempercayai agama, karena dia itu selalu terlibat dalam dunia spiritual. Dia menginginkan Kerajaan Majapahit untuk tetap menjalani kepercayaan mereka, karena untuk menjadi komunitas yang sukses harus ada keyakinan. Agama memperlihatkan bahwa Kerajaan Majapahit itu membela kebaikan dan sangat terlibat dalam kepercayaan masing-masing untuk memberi kesan bahwa mereka kuat secara spiritual. Kerajaan yang memiliki ikatan yang kuat dengan dunia spiritual itu menunjukkan bahwa komunitas itu tradisional dan mengikuta nilai-nilai moral mereka sendiri. Kalau mereka mengikuti tradisi lama, berarti mereka menghormati nenek moyang mereka yang telah menciptakan budaya tersebut.
Dalam bab ini Gayatri melahirkan dua putri yang cantik yang bernama Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi. Tribhuwana dinamakan kakaknya Gayatri yang paling pertama, dan putrinya itu adalah anak sulungnya. Pada awalnya Gayatri khawatir jika Wijaya akan marah karena dia hanya memiliki dua putri dan tidak punya anak lelaki, karena tidak ada penerus keluarga. Namun, Wijaya memiliki perspektif yang berbeda dan dia tidak merasa bahwa dia harus memilki anak lelaki dengan Gayatri, karena kedua putrinya sudah cukup untuknya. Ikatan yang dimiliki Wijaya dengan kedua putrinya itu sudah memenuhi keinginannya, karena mereka memiliki hubungan yang kuat. Secara fisik kedua putrinya Gayatri memiliki penampilan dari ayahnya sedangkan kecerdasan dapat dari Gayatri.

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 4 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

Ken Dedes sang bunga desa

 

Dear Diary,
Aku melanjutkan cerita ini dengan membaca bagian keempat yang berjudul “Menanti Putra Mahkota dari Rahim Ken Dedes” (Menurutku judulnya sudah memberikan sedikit gambaran tentang bagian ini).
Bagian ini dimulai dengan betapa bahagianya sang Akuwu Tunggul karena telah berhasil menculik dan membawa pulang perempuan yang ia dambakan bernama Ken Dedes dengan paras yang sangat cantik dan ia akan menjadi calon permaisurinya. Sesampainya di istana, Akuwu disabut oleh nayaka praja yang berpura-pura bahagia untuknya karena didalam hati mereka, mereka tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh penguasa mereka tapi bisa apa mereka selain membisu dan ikuti kemauannya?
Setelah itu, Akuwu pun membawa Ken Dedes kepada dua orang abdi dalem (orang-orang yang mengabdikan diri mereka terhadap raja ataupun keratin) kepercayaannya yang bernama Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang yang bertugas di sebuah bilik agung Tumapel dan sekarang, mereka bertugas untuk melayani semua keinginan Ken Dedes. Dulunya, mereka bertugas, merawat, dan merias beberapa orang selir karena itu memang keahlian mereka. Akuwu meminta mereka untuk merawat dan merias calon permaisurinya dengan baik.
Mereka menerima tugas itu dan Akuwu akhirnya meninggalkan tempat tersebut, tetapi sebelum pergi ia sempat membisikkan sesuatu kepada kedua abdi dalem tanpa didengar oleh Ken Dedes; pastinya itu sesuatu yang penting. Setelah Akuwu benar-benar pergi, mereka berdua mempersilahkan Ken Dedes untuk membersihkan diri dengan air hangat yang diikuti oleh luluran, bedak, dan mangir. Ken Dedes hanya merespon dengan anggukan lesu karena pikirannya masih bercampur aduk akan kesedihan karena penculikan yang ia alami. Ia merasa seperti dipenjara walaupun saat itu, ia dikelilingi perhiasan-perhiasan indah dan akan menjadi calon permainsuri sang penguasa.
Kedua abdi dalem dapat merasakan kegelisahan yang dialami tuannya dan kesedihan juga terlihat di matanya yang berwarna biru. Mereka pun mencoba untuk menghiburnya. Tetapi, mereka juga merasa bingung. Mengapa perempuan secantik ini merasa sedih, padahal sebentar lagi ia akan menjadi permainsuri sang raja; wanita manapun pasti akan sangat bahagia jika mereka mendapatkan kesempatan tersebut. Nyai Gede Mirah dan Nyali Rimang pun akhirnya berbicara dan berbicara kepadanya, bertanya tentang hal tersebut. Ken Dedes tetap terdiam, hanya menjawab dalam hati. Ia berfikir, Bagaimana bisa merasa senang? Orang dia diculik oleh sang raja yang kejam dan hanya memikirkan kemauannya sendiri.
Mereka berdua pun bertanya lagi, mengatakan bahwa putranya kelak akan menjadi pangeran di istana tumapel dan akan menjadi raja. Akhirnya, Ken Dedes membuka mulut dan mengatakan, “Yang namanya cinta itu… apakah bisa dipaksakan? Meskipun aku hendak dijadikan sebagai permainsuri, tetapi kalau aku tidak mencintainya, apakah aku bisa merasakan kebahagiaan?”
Keduanya pun bertanya lagi, apa kurangnya Akuwu Tunggul, orang yang dimata mereka memiliki semuanya? Ken Dedes (terdengar sedikit kesal) menjawab bahwa menurutnya, cinta itu abstrak dan tidak dapat diukur dengan hal-hal bersifat duniawi. Cinta itu adalah hal yang bersifat suci dan murni dan tidak dapat diukur dengan ukuran serendah itu.
Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang pun sadar akan sikap Ken Dedes dan baru menyadari bahwa ia adalah putri Empu Parwa dari Desa Panawijen yang sudah kasura (atau terkenal). Pantas saja ia tidak seperti perempuan biasanya yang gila harta, ia berbeda.

Ken Dedes pun meminta untuk ditinggal sendirian. Setelah kedua abdi dalem tersebut pergi, Ken Dedes pun merenungi nasibnya dan memikirkan tentang bagaimana marahnya ayahnya tentang penculikan ini. Ia mulai berpikir, apakah ayahnya akan melakukan sesuatu tentang penculikan anak semata wayangnya ini? Atau apakah ayahnya akan merestui pernikahan ini? Didalam hatinya, ia tau pasti ayahnya tidak akan pernah merestui hal seperti ini.
Disini kita dapat melihat bahwa Ken Dedes tidak mempedulikan hal-hal yang berbau materialistik atau sementara, sama seperti ayahnya. Ia lebih mementingankan keluarganya dan terus memikirkan tentang mereka. Ia tidak peduli jika orang yang akan ia nikahi adalah orang paling terkaya dan paling berkuasa, jika hatinya busuk maka tidak ada intinya. Apalagi ia tidak mencintai Akuwu Tunggul sama sekali dan ia belum mendapat restu dari orang tuanya.

Ia pun memutuskan untuk melakukan semadi (perenungan dalam tapa brata) dan mencoba untuk mendapatkan ketenangan didalam hatinya. Ia terus melakukannya sampai tengah malah, tidak sempat untuk beristirahat walaupun besok adalah hari pernikahannya.

Besoknya, Akuwu Tunggul benar-benar berencana untuk melaksanakan pernikahannya bersama Ken Dedes secara diam-diam. Ia meminta mereka untuk mendandani calon permaisurinya. Setelah dirias, ia terlihat sangat cantik seperti bulan. Padahal, ekspresi Ken Dedes tidak menunjukkan sedikitpun kebahagiaan. Setelah selesai melakukan tugasnya, Nyai Gede Mirah pergi keluar dari bilik agung tempat Ken Dedes tinggal tersebut dan memanggil Akuwu Tunggul dan penasihat Keraton, sang Hyang Belangka yang akan menikahi Akuwu dan Ken Dedes. Ken Dedes mulai gemetaran, merasa takut akan hal yang akan menimpanya.

Ken Dedes pun didudukkan disebuah bangku yang telah dihiasi permadani dan diapit oleh kedua abdi dalem dimasing-masing sisi. Tak lama kemudian, terdengar suara mantra-mantra berbahasa Sanskerta yang diucapkan sebagai tanda resminya pernikahan tersebut. Setelah mantra selesai dibacakan, Ken Dedes sudah resmi menjadi permaisuri sang penguasa Tumapel!

Hari demi hari pun berlalu. Ken Dedes menjadi pengantin selama 40 hari; ia tidak diperbolehkan keluar dari biliknya sama sekali, bahkan jika hanya melihat-lihat pemandangan. Ken Dedes tidak dapat melakukan apapun selain pasrah dan nurut. Pada hari ke-40, Ia pun didandan lebih cantik lagi dan dibawa ke Alun-alun Negeri Tumapel bersama Akuwu Tunggul; disana, mereka melakukan upacara brahmacarya.
Mungkin menurut perempuan-perempuan lain diseluruh Tumapel, Ken Dedes adalah wanita yang paling beruntung dan bahagia tetapi dalam hatinya, Ken Dedes merasa sebaliknya.

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 3 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

553027b10423bd871b8b4568

Source of visual: courtesy of https://indonesianmosaicstoneartpainting.wordpress.com/2012/10/13/indonesian-mosaic-stone-art-painting-ken-dedes/

Dear Diary,
Kali ini, aku melanjutkan membaca bagian ketiga dari buku Ken Dedes. Bagian ini dimulai dengan scene dimana semua orang sedang merasa sedih karena Ken Dedes, sang bunga telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Bukan hanya ibunya yang sedih, bahkan para cantrik serta para dhayang merasakan kesedihan yang sama besarnya dengannya. Pada saat itu, Empu Parwa masih diluar desa dan belum mengetahui apa yang telah terjadi kepada putrinya yang tercinta tersebut.
Walaupun Empu Parwa tidak mengetahui kejadian ini, hatinya merasa tidak tenang disaat ia sedang memimpin upacara dengan merapal mantra-mantra dalam bahasa Sanskerta; ini biasa dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Gusti Kang Murbeng Dumandi. Jikapun sang Empu Parwa merasa gelisah, ia mengabaikannya dan tetap berkonsentrasi dan melanjutkan upacara yang sedang berlangsung bersama murid-muridnya. Disaat malam tiba, banyak dari muridnya telah tertidur sedangkan yang lainnya dalam kondisi setengah tertidur. Empu Parwa sendiri masih terjaga dan terus melanjutkan upacara tersebut; ia adalah pemimpin dengan kewibawaan yang menjadi contoh bagi murid-muridnya. Tak terasa, matahari mulai menunjukkan dirinya dari ufuk timur, mengingatkan mereka bahwa saatnya untuk mengakhiri acara mereka tersebut dan kembali ke desa mereka.
Empu Parwa beserta murid-murdinya pun mengundurkan diri dan pulang. Disaat mereka sampai di pandepoknannya, cantrik-cantriknya mulai meminta maaf, mengatakan bahwa mereka telah gagal menjalankan perintah guru mereka. Empu Parwa meminta mereka untuk tenang dan menceritakan apa yang telah terjadi selama ia pergi. Mereka semua terdiam sampai salah seorang dari mereka berkata bahwa putrinya Ken Dedes telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Hal ini membuat Empu kaget dan marah; bahkan wajahnya menjadi memerah, menahan murka. Tetapi ia tidak dapat merasa marah terhadap cantrik-cantriknya tersebut karena mereka menghadapi orang yang paling berkuasa di Tumapel.
Empu Parwa pun mulai berkata lantang bahwa ia akan terkena hukum karma dan ia akan mati ditikam sebuah Keris Empu Gandring (sebuah senjata pusaka yang berasa dari Kerajaan Singhasari atau lebih sdikenal dengan sebutan Keris.) Dan kita harus ingat, seperti yang kutulis di diaryku yang kedua, Empu Parwa dikenal sebagai brahmana yang gentur tapane; apapun yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Setelah ia mengeluarkan kutukannya, langit siang yang terang-benderang mendadak mengeluarkan suara halilintar yang menggelegar, seakan hal yang Empu Parwa katakan telah disetujui. Mata semua orang disekitar Empu Parwa membelalak disaat suara guntur terdengar begitu lantang dan mereka juga yakin bahwa kutukan itu akan menjadi kenyataan.
Hari demi hari pun berlalu semenjak Ken Dedes diculik. Ibunya masih menangis dan menolak untuk keluar dari kamarnya. Sebagai suami yang baik, Empu Parwa mencoba menenangkan istrinya. Istrinya pun bertanya kepada Empu mengapa ia tidak melakukan apapun? Apakah Empu Parwa hanya akan diam saja dan membiarkan putri yang sangat mereka cintai diculik begitu saja? Empu hanya bisa terdiam dan setelah beberapa lama menjawab bahwa ia percaya sang dewa agung pasti akan melindungi putri mereka dan penculikan ini adalah satu-satunya cara agar Ken Dedes (pada suatu hari nanti) dapat menjadi ibu dari raja-raja besar di Jawa. Istrinya pun menjadi lebih tenang dan mempercayai apa yang dikatakan suaminya.
Di bagian ini, memang tidak banyak penjelasan tentang Ken Dedes. Tetapi menurut aku, dalam situasi ini, Ken Dedes akan sabar, sama seperti ayahnya. Sampai sejauh ini, saya belajar bahwa Ken Dedes memiliki karakter tersebut dan yang lainnya seperti rendah hati, spiritual, memiliki pendirian yang tinggi, patuh kepada orang tua, dan hal-hal lainnya yang menurutku dapat kita tiru, apalagi orang-orang dikalangan muda seperti remaja. Oleh sebab itu, aku juga merasa bahwa Ken Dedes bisa menjadi seseorang yang inovatif karena ia memiliki sikap-sikap ini.

 

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 3 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

java-prajnaparamita2

 

Dear diary,
Pada Senin siang kemarin aku melanjutkan membaca buku mengenai Gayatri Rajapatni. Aku mulai mengerti nama belakangnya Gayatri, Rajapatni itu sebenarnya suatu gelar yang diberikan kepadanya dari Wijaya. Gayatri itu diberikan gelar tersebut membuktikan bahwa dia itu dipilih Wijaya untuk menjadi wanita utama dalam kerajaan. Wijaya akhirnya menjadi Raja Majapahit dan ia menikahi Gayatri, lalu dia memberikan Gayatri gelar Rajapatni, yang berarti Pendamping Raja. Gayatri menjadi Ratunya Majapahit, kerajaan yang asal-usul namanya itu berasal dari buah maja yang pahit. Dalam desa tersebut ditemukan banyak buah maja, maka dari itu kerajaannya dinamakan Majapahit. Gayatri dan Wijaya memiliki hubungan yang romantis, karena mereka saling memiliki perasaan untuk satu sama lainnya. Sedangkan hubungannya Tribhuwana dan Wijaya itu hanya dilaksanakan untuk menciptakan perdamaian antar kerajaan.
Wijaya jatuh cinta saat dia melihat bahwa Gayatri itu berniat untuk melakukan apa pun untuk merebut kembali kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya, sang Raja Kertanegara. Keteguhan Gayatri menjadi salah satu alasan mengapa Wijaya memilihnya untuk menjadi istrinya. Gayatri sangat pintar dalam bidang strategi, tata negara, hukum dan dia menikmati teater. Ilmunya dalam strategi membuat dia menjadi seorang ratu yang bijak karena dia pandai membuat rencana-rencana agar kerajaan bisa lebih sukses dan makmur. Wijaya semakin mengagumi Gayatri saat dia melihat bahwa Gayatri memiliki harapan tinggi untuk Majapahit, walaupun kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya sudah hancur. Selain memiliki harapan tinggi dia juga berniat untuk melakukan apa pun untuk membangun kembali kerajaan yang memenuhi kriteria yang dibuat oleh Raja Kertanegara.
Gayatri ternyata merasa cemas sebelum kakaknya yang tertua, Tribhuwana, akan bereaksi buruk terhadap hubungannya dengan Wijaya. Tetapi ternyata Tribhuwana mendukung hubungan Gayatri dan Wijaya, karena ia merasa bahwa Wijaya pantas menerima pasangan yang akan membuatnya bahagia. Takdir Tribhuwana dan kedua kakaknya Gayatri yang lain itu tidak terlalu jelas, namun disebutkan bahwa Wijaya menikahi dirinya ke dalam keluarganya Kertanegara maka dari itu dia melindungi kakak-kakaknya Gayatri. Dinyatakan bahwa ketiga kakaknya Gayatri mengalami trauma karena mereka disandera oleh Mongol, tetapi Wijaya memastikan bahwa saudari-saudarinya Gayatri dirawat dengan baik.

Dalam kisah-kisah Majapahit, Gayatri tidak terlalu kelihatan kalau dibandingkan dengan Hayam Wuruk, Raja Wijaya, Maha Patuh Gajah Mada, atau Ratu Tribhuwana. Gayatri itu sebenarnya memberi dampak yang besar dalam kejayaan kerajaan Majapahit, karena dia yang memiliki konsep yang dapat mempersatukan masyarakat dalam Kerajaan Majapahit. Ternyata menurut hasil research aku, Gayatri menjadi pembimbing dua tokoh yang terkenal dalam Kerajaan Majapahit, yaitu Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Hayam Wuruk adalah cucunya Gayatri, sedangkan Gajah Mada menjadi semacam muridnya. Gayatri melahirkan seorang putri yang dia namakan Tribhuwana, lalu Tribhuwana menikah dengan Kerthawardana dan memiliki anak yang bernama Hayam Wuruk. Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi penguasa-penguasa Kerajaan Majapahit di saat kerajaannya sudah stabil. Hayam Wuruk menjadi lelaki pertama yang menguasai kerajaan Singhasari dan Majapahit setelah kakek buyutnya, Raja Kertanegara.

Pada masa Gayatri dan Wijaya, Kerajaan Majapahit masih dalam kondisi di mana masih bertumbuh, maka dari itu mereka menjadi peran-peran yang penting dalam perkembangan Kerajaan Majapahit. Gayatri menjadi tulang belakang Kerajaan Majapahit karena dia dan Raja Wijaya membangunnya dari awal. Setelah jatuhnya kerajaan Singhasari, Gayatri dan Wijaya membangun kerajaan Majapahit karena keduanya ingin memenuhkan cita-cita ayahnya, Raja Kertanegara yang meninggal setelah serangan Mongol. Sejak kejadian tersebut Gayatri berjanji untuk mengembalikan kondisi kerajaan seperti sebelumnya dan merawat apa yang telah diwariskan oleh ayahnya.
Khusus minggu ini aku membaca dua bab dalam buku karena kekurangan materi mengenai Gayatri. Dalam bab selanjutnya aku mulai mengenali ciri-ciri kerajaan Majapahit, karena caranya Gayatri menguasai kerajaan tersebut. Dijelaskan bahwa ada orang asing yang datang ke Majapahit untuk mempelajari agama yang diaplikasikan oleh masyarakat Majapahit. Orang asing itu bernama Frater Odoric dan dia berasal dari Eropa. Tujuan dia untuk datang ke Istana Majapahit pada tahun 1322 adalah untuk mempelajari agama dan dia sempat berbagi cerita mengenai kepercayaan yang ia pegang. Frater Odoric adalah seorang Padri Kristen dan dia sangat terkagum oleh hal-hal baru yang dia telah pelajari dari Jawa. Tuan rumah, yaitu Gayatri itu merasa bahwa pengetahuan yang diceritakan oleh Frater Odoric itu kurang menarik. Beliau lebih tertarik dengan ilmu astronomi dan geografi yang Frater Odoric bawa. Orang-orang Jawa itu percaya adanya hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Pencipta dan manusia dengan alam. Sedangkan kepercayaan dari negeri Barat, hubungan manusia itu hanya sebatas manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan. Orang-orang Jawa sadar bahwa mereka harus merawat alam, karena alam sudah memberi manusia makanan, tempat tinggal, dan kekayaan alam yang melimpah sedangkan tanah di negeri-negeri Barat itu memiliki 4 musim dimana kekayaan alam tidak sekaya dengan pulau Jawa. Kepercayaan orang Barat itu lebih mengenai kontrol manusia atas alam dan terpisahnya kondisi realita dengan spiritual, sedangkan menurut kepercayaan Jawa masyarakat penting adanya keselarasan dalam aspek spiritual dengan kehidupan nyata. Masyarakat Jawa sudah merasa bahwa kepercayaannya lebih bermakna. Orang Jawa lebih bersyukur atas hal-hal yang sudah diberikan oleh alam karena kehidupan manusia tergantung dengan alam semesta. Cara memberi kembali kepada Tuhan dan alam semesta adalah dengan merawat yang telah diciptakan oleh Allah. Ini dinamakan keselarasan manusia dengan alam. Menurut kepercayaan Jawa caranya berhubungan dengan Tuhan adalah melewati alam. Mereka percaya bahwa alam itu memiliki kekuatan yang dapat berdampak besar dalam kehidupan manusia, maka dari itu mereka suka memberi sesajen dan semacam persembahan dan diberikan kembali ke alam.

Baca episode berikutnya

 

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 2 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

tumblr_mf366nofMl1rmmazso1_500

Visual: by dancing doll; source: deviantart.com

Dear Diary,
Aku melanjutkan membaca buku Ken Dedes, lebih spesifiknya bagian kedua. Ceritanya dimulai dengan penjelasan bahwa hati Akuwu Tunggul Ametung yang sudah tua ini masih tidak terpuaskan walaupun sudah memiliki puluhan selir dan masih mencari perempuan yang pantas menjadi permaisurinya. Menurut aku, sikap ini sangat serakah dan ini menunjukkan bahwa ia hanya peduli nikmat dunia dibandingkan alam baka.
Disaat Akuwu Tunggul Ametung akhirnya memiliki keinginan yang kuat untuk mencari permainsuri, salah satu brahmana sepuh menyebut nama Ken Dedes dan menceritakan bahwa ia adalah gadis yang sangat cantik dan terkenal dengan kawaskithan-nya sehingga membuatnya sebagai orang yang cocok untuk dijadikan permaisuri. Tetapi, Akuwu juga diperingatkan bahwa jangan sampai ia bersifat buruk didepan ayahnya Ken Dedes, sang Empu Parwa. Ia terkenal sebagai seorang brahmana yang gentur tapane; apapun yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Hal ini memang membuat Akuwu Tunggul Ametung menjadi takut. Tetapi, tekadnya malah semakin kuat dan merencanakan untuk langsung melamarnya pada keesokan harinya. Ia terus menerus membayangkan betapa cantiknya gadis yang disebut Ken Dedes ini.
Esoknya, Iapun berangkat menggunakan kereta kencananya, ditemani oleh ketiga orang kepercayaannya yang bernama Bapiang, Jarasandha, dan Kebo Ijo. Didalam perjalanannya, ketiga orang ini membahas tentang Ken Dedes, memberikan gambaran kepada Akuwu Tunggul Ametung tentang betapa cantiknya gadis ini dan membuatnya semakin tidak sabar untuk menemui calon permaisurinya.

Dia membayangkan bahwa saat ia sampai disana, ia disambut dengan hangat oleh Empu Parwa dan ia menanyakan maksud kedatangannya ke rumahnya. Iapun langsung menjelaskan bahwa ia ingin melamar anaknya yang diterima dengan senang hati direstui oleh Empu Parwa dan tanpa mereka ketahui, Ken Dedes mendengar segalanya dan merasa deg-degan, bahkan bisa dibilang malu. Ia terus-terusan mondar-mandir dari ruang tengah ke kamarnya; dia merasa tidak percaya diri dan mukanya memiliki ekspresi malu-malu kucing. Disaat itu juga, Akuwu pun mulai membahas tentang pernikahan yang akan dilaksanakan itu, pernikahan dimana akan terbuat janji suci diantara sang Akuwu dan Ken Dedes, sang gadis yang cantik jelita.
Lalu, seluruh imajinasi Akuwu Tunggul Ametung itu langsung runtuh seketika ketika ia mengetahui bahwa sang Empu Parwa sedang pergi memimpin upacara ritual keagamaan diluar desa. Karena ia sangat tidak sabar, Iapun meminta untuk bertemu dengan Ken Dedes. Iapun akhirnya masuk dan menemui Ken Dedes.

Dalam bagian ini, bisa terlihat bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seseorang yang sangat percaya diri karena ia adalah sang penguasa didaerahnya dan bisa dibilang cukup arogan, menganggap bahwa semua orang pasti akan tunduk padanya karena ia orang yang paling berkuasa dan penting. Dia juga terlihat tidak sabaran, ingin mendapatkan semua yang dia inginkan secepatnya tanpa ada halangan.

Dan saat itulah dimana sang hati Akuwu Tunggul Ametung langsung berdebar. Itulah saat dimana ia bertemu dengan Ken Dedes yang kecantikannya membuatnya salah tingkah. Matanya terus-terusan memandang kearah wajah Ken Dedes yang sudah lama ia impikan. Selain memiliki paras yang cantik, ia memang terlihat berbeda. Ia terlihat keibuan dan dewasa, membuat lelaki manapun menjadi jatuh hati pada pandangan pertama.

Akhirnya, Akuwu pun bertanya kepada Ken Dedes apakah dia mau tinggal di Kutharaja dan meninggalkan desanya. Ken Dedes terdiam dan berpikir mengapa sang Akuwuu mendadak bertanya seperti itu. Apakah sang Akuwu menyukainya? Akuwu pun bertanya lagi pertanyaan yang sama dan dibalas dengan, “mohon maaf, memangnya ada apa disana?”

Karena pikirannya sudah kesana kemari dan hatinya berdebar-debar, Sang Akuwu pun menyatakan cintanya kepada orang yang dicintainya itu dan memintanya untuk menjadi permaisurinya. Ken Dedes tidak langsung menjawab, malah terdiam dan mukanya memerah. Ia pun berbisik kepada dua orang emban-nya, mendiskusikan hal tersebut. Ini adalah impian semua perempuan dimanapun; menjadi seorang permainsuri. Tetapi, Ken Dedes akhirnya menolak lamaran sang Awuku secara baik-baik dengan alasan karena ayahnya sedang tidak dirumah dan dia merasa bingung. Iapun meminta untuk sang Akuwu untuk datang besok sore dan membicarakannya dengan ayahnya.

Disini, Ken Dedes menunjukkan pemikiran rasional dan tidak sembrono. Memang, hal ini adalah dambaan seluruh perempuan. Siapa yang tidak mau? Akan tetapi, ia juga memikirkan keluarganya; apakah ayahnya akan merestui? Iapun mengikuti hati nuraninya dan melakukan hal yang benar dan melanjutkan kebaktiannya kepada orang tuanya yang tercinta.

Tetapi, bukannya bersabar, Awuku malah berkata lain, ia menjadi keras kepala. Menurutnya, jawaban Ken Dedes lebih penting dari jawaban dan restu sang ayah. Merekapun sempat beradu mulut; disatu sisi Ken Dedes tidak mau menerima lamaran tanpa sepengetahuan dan restu ayahnya dan disisi lainnya, sang Akuwu sudah tidak sabar ingin menjadikan Ken Dedes sebagai permainsurinya dan membawanya ke Kutharaja.
Didalam hati, Akuwu kagum terhadap Ken Dedes. Memang terbukti bahwa ia adalah seorang gadis yang berbakti dan patuh kepada orang tuanya. Mau dipaksa apapun, ia tetap tidak mau pergi dari desanya.

Segala cara telah dicoba Akuwu tetapi Ken Dedes tetap tidak mau mematuhinya dan tidak terayu sedikitpun. Iapun menjadi marah dan mulai kehabisan ide. Akhirnya ia memilih cara terakhir, membawa paksa Ken Dedes ke istananya; dengan kata lain, menculiknya.
Ken Dedes yang masih lemah mencoba untuk melepaskan diri tetapi mereka terlalu kuat. Ia pun terpaksa untuk dibawa pergi ke istana milik sang raja dengan berat hati dan menitikkan air mata.

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 1 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

13633367

Dear Diary,
Aku adalah seorang remaja yang bisa dibilang menyukai membaca. Biasanya aku membaca buku yang memiliki genre fiksi karena cerita-cerita tersebut memberikan sesuatu yang unik dan bahkan hal-hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Tetapi, aku mulai membaca buku yang berjudul Ken Dedes Sang Penggoda yang ditulis oleh Wawan Susetya. Aku bukanlah tipe orang yang suka membaca buku dengan cerita seperti ini tetapi mengapa tidak mencoba sesuatu yang baru ditahun yang baru? Jujur, aku tidak pernah mendengar apapun tentang buku ini ataupun nama Ken Dedes. Oleh karena itu, aku sangat clueless dan tidak tahu apapun mengenai buku ini. Akupun memulai membaca buku ini. Oleh karena itu, aku akan membaca buku ini per-bagian dan jika diperlukan, aku akan melakukan research singkat untuk lebih mengerti tentang buku ini.

Bagian pertama buku ini berjudul Rahasia Ardhanariswari atau Nareswari Ken Dedes. Cerita ini dimulai dengan pengenalan seorang karakter yang bernama Empu Parwa alias Empu Purwa Widada; Ia adalah seorang Pandhita (atau bisa disebut Mahaguru) dan disini diceritakan bahwa ia tinggal di desa Panawijen atau Panawijil yang dideskripsikan sebagai tempat yang masih hijau dan memiliki pemandangan yang indah dan hal tersebut terlihat di wajahnya yang terlihat tenang. Tetapi, kedudukannya sebagai Mahaguru terancam karena Empu Parwa diduga tidak memiliki izin resmi dan ia diduga telah menobatkan dirinya sendiri. Walaupun hal ini sedang terjadi, ia terus mengajar dan tidak mempedulikannya. Empu Parwa juga tidak melaporkan kegiatannya kepada Akuwu Tunggul Ametung ataupun sang Brahmana Belakangka.

Brahmana Belangka adalah seseorang yang sangat dimuliakan di Negeri Tumapel tetapi Empu Parwa mengatakan hal lain; mengapa kita harus memuliakan orang yang bekerja dibawah arahan Sri Kertajaya, seorang raja yang zalim? Mengapa kita harus memuja seseorang yang diam-diam memiliki pendulangan emas yang melimpah? Mengapa kita harus memberikan toleransi kepada orang yang mengambil hasi panen rakyat secara segan-segan? Brahmana Belangka dan orang-orang kaya lainnya hanya mementingan kepentingan pribadi masing-masing tanpa memedulikan kepentingan rakyat yang menderita. Karena sikap ini juga, mantra-mantra kitab suci Wedha telah kehilangan makna di lingkungan Negeri Tumapel.

Menurut Empu Purwa, manusia memang harus merenungkan tentang kehidupan yang mereka jalani; apakah mereka benar-benar ingin hidup yang bahagia atau tetap menderita seperti kehidupan di dunia? Ia mengatakan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian, bukan dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Saya setuju dengan pemikiran ini. Di dunia, tidak ada yang akan hidup selamanya, pasti suatu saat kita semua akan meninggal dan oleh sebab itu, sebisa mungkin kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya selagi ada waktu.

Empu Parwa memiliki satu anak perempuan yang bernama Ken Dedes. Istri Empu Parwa sangat menyayangi putri semata wayangnya ini sampai memanjakannya terus menerus (dan bisa dibilang terlalu berlebihan). Tentunya Empu Parwa tidak membiarkan sikap istrinya itu untuk melewati batas; ia tidak ingin putrinya menjadi anak yang manja. Mereka bahkan berdebat dan mengalami kesulitan untuk menetapkan hal yang benar.
Karena terbiasa dimanja oleh ibunya, Ken Dedes menjadi seorang anak yang berpenampilan acak-acakan dan terlihat sangat berbeda dari norma yang telah ditetapkan. Ia berani membantah siapapun yang tidak menuruti keinginannya, bahkan orang tuanya sendiri. Ia juga berani untuk menggoda murid-murid ayahnya, terutama yang memiliki wajah yang tampan. Akhirnya istri Empu Parwa sadar bahwa kelakuan anaknya sudah kelewatan dan akhirnya setuju dengan suaminya. Empu Parwa mulai mengenalkan tokoh-tokoh dongeng yang memiliki sifat heroik atau spiritual seperti kisah Sidharta Gautama dan perwayangan lainnya dan meyakinkan putrinya bahwa ia juga bisa seperti mereka. Empu juga tidak lupa untuk mengenalkan dan mengajarkan tentang kitab Wedha.

Walaupun awalnya Ken Dedes sangat malas dalam melakukan hal-hal tersebut, iapun (secara perlahan) mengikuti apa yang dikatakan ayahnya dengan baik. Setelah beberapa lama melakukan hal-hal tersebut, ia menjadi wanita yang bertolak belakang dari dia yang dulu; ia sudah menjadi perempuan yang dewasa; dia menjadi putri idaman kedua orang tuanya.

Ia sekarang memiliki balance antara cantik diluar dan didalam (atau disebut dengan filosofi Rupasampat Wahyabyantara). Bukan hanya itu, ia juga memiliki suatu rahasia tentang Ardhanariwari atau Nareswari yang konon dikatakan bahwa siapapun yang menikahi perempuan yang memiliki rahasia ini, maka ia diramalkan akan dapat keturunan raja-raja besar di Jawa. Hal ini didengar oleh sang Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel dan dia terkenal sebagai orang yang sangat haus akan perempuan-perempaun cantik.

Ken Dedes dicerminkan sebagai suatu tokoh yang awalnya memang melakukan hal-hal yang bisa dibilang tidak pantas ataupun sopan. Tetapi setelah ayahnya mulai mengajarkan tentang kebaikan, lama kelamaan iapun menjadi seorang gadis yang dewasa dan spiritual, mengikuti jejak ayahnya. Ia juga memiliki kecantikan bukan hanya diluar, tetapi didalam. Hal ini sangat penting karena buat apa cantik secara fisik tetapi didalamnya tidak ada kecantikan sama sekali? Ken Dedes juga dapat menjadi contoh kita dalam kehidupan sehari-hari; bagaimana ia berubah dari seorang anak perempuan yang terlalu dimanjakan dan semena-mena menjadi seorang perempuan yang spiritual dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Setelah membaca bagian pertama dari buku ini, aku menjadi lebih tertarik tentang cerita ini (walaupun diawal aku merasa cukup bosan). Aku juga belajar mengenai hal-hal baru seperti istilah-istilah baru bahkan filosofi yang tidak digunakan di conversation sehari-hari seperti Pandhita, Anglam-lami, Nitis, Camcara (samsara), Panandhang, dan masih banyak lagi. Aku juga jadi lebih tahu sedikit dan mendapatkan gambaran mengenai cerita ini serta alurnya.

Baca episode berikutnya.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 2 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

15974805

Dear diary,
Gayatri adalah salah satu tokoh wanita yang dikagumi oleh masyarakat, karena ia mempunyai sikap ketegasan dan mandiri yang seharusnya dimiliki seorang putri. Gayatri adalah wanita yang mendirikan kerajaan Majapahit. Majapahit tidak akan semakmur pada saat itu jika Gayatri tidak mempertahankan kekuasaannya.
Dalam bab kedua buku Gayatri Rajapatni, kerajaan mulai kembali berdiri dan melawan Mongol. Sejak serangan pasukan Mongol, Gayatri harus tidak diketahui keberadaannya agar dia aman. Gayatri dan pelayannya melarikan diri ke Kediri untuk bersembunyi dari para pasukan Mongol. Dia menyamar sebagai “Ratna Sutawan” yaitu seorang putri pegawai rendah. Pangeran Wijaya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Kediri, tetapi Raja Jayakatwang tidak tahu bahwa sebenarnya ia berencana untuk memenangkan hatinya sang Raja lalu mengkhianatinya. Pangeran Wijaya diam-diam membangun pasukan terdiri dari pengikut-pengikut setia kerajaan Singhasari. Wijaya berencana untuk menyerang Kediri dengan bergabung dengan pasukan Mongol. Sang pangeran menjanjikan bahwa ia akan membagikan sebagian harta yang ia dapatkan dari Kediri kepada Mongol, padahal sebenarnya ia akan bertarung dengan Mongol setelah ia selesai dengan kerajaan Kediri.
Dalam pertemuan rahasia Pangeran Wijaya dan Gayatri, kedua tokoh tersebut mulai mengembangkan perasaan untuk sesama. Gayatri tertarik dengan Pangeran Wijaya dan kebetulan keduanya saling menyukai. Hubungan Gayatri dan Wijaya itu romantis, sedangkan kalau Tribhuwana dan Wijaya pernikahannya terjadi untuk membuat keharmonian dan damai antara dua kerajaan.
Dalam bab ini sisi sensitifnya Gayatri itu lebih terlihat, karena tampaknya dia mulai mengembangkan perasaan untuk Pangeran Wijaya. Gayatri membuktikan bahwa seseorang bisa terlihat tabah tetapi bisa juga memiliki sisi yang lebih rentan. Karena Gayatri itu seorang putri dan menjadi sosok yang terkenal dalam masyarakat ia harus bersikap teguh untuk membuktikan bahwa dia itu sanggup menghadapi apa pun untuk merebut kerajaannya kembali. Namun, dalam keadaan tersebut dia harus menghindari publik agar dia tidak terdeteksi oleh Kublai Khan dan pasukannya untuk sementara.
Setelah orangtuanya Gayatri meninggal itu memberinya lebih banyak alasan untuk bersemangat dan merebut kerajaannya kembali. Mungkin dia merasa murung karena kedua orangtuanya yang dia sayangi sudah tiada, tetapi dia menunjukkan wajah yang berani dan tegar. Serangan dari Mongol itu nasib buruk untuk Gayatri, karena hanya dari satu kejadian itu dia sudah kehilangan orang-orang yang ia pedulikan dan sekarang dia harus pergi ke Kediri untuk menghindari pasukan Mongol. Pada saat itu Kediri dan kerajaan Singhasari itu memiliki konflik, tetapi Gayatri berani untuk memasuki wilayahnya raja Jayakatwang. Padahal Raja Jayakatwang adalah pembunuh ayahnya Gayatri, tetapi ia memberanikan diri untuk berkeliling di sana agar tidak diketahui keberadaannya oleh pasukan Mongol.

Setelah kejadian di mana orangtuanya Gayatri meninggal itu menjadi motivasinya untuk membangun kembali kerajaan yang sudah hancur berkeping-keping menjadi satu lagi. Kerajaan Singhasari sudah dalam kondisi yang sangat parah sejak serangan Mongol sampai raja Kertanegara harus bertarung dengan beberapa pasukannya, tetapi usahanya gagal karena akhirnya ia meninggal. Dengan bantuan Pangeran Wijaya dan saudari-saudarinya yang lebih tua dia pelan-pelan merebut kembali kerajaannya. Pada saat itu Singhasari membutuhkan seorang pemimpin, seorang raja untuk menjalankan kerajaan. Gayatri memilih Wijaya untuk memimpin kerajaan Majapahit karena dia percaya bahwa Wijaya dapat memenuhi kriteria yang dibutuhkan seorang raja. Wijaya memiliki hubungan dengan keluarganya Kertanegara, dia gagah dan kuat, dan dia memiliki niat untuk membangkitkan kerajaan kembali. Secara bijak, Gayatri memilih Wijaya untuk menguasai kerajaan sebagai raja Majapahit agar kerajaannya bisa kembali kepada kondisinya yang ideal.

Dalam lanjutan kisahnya Gayatri, dia harus menyamar sebagai anaknya seorang pegawai yang rendah dan dia harus berpenampilan sederhana. Di dalam buku tersebut memang dinyatakan bahwa Gayatri itu lebih nyaman jika menggunakan baju yang lebih simpel. Dari antara kakak-kakaknya ia yang berpenampilan lebih sportif, sedangkan saudari-saudarinya memberikan lebih banyak waktu dan usaha dalam berdandan.
Gayatri berbeda dengan saudari-saudarinya yang lebih tua, karena dia memiliki gaya yang tomboi tetapi tetap berpenampilan seperti wanita. Bahkan ayahnya sendiri mengatakan bahwa dia gayanya seperti lelaki. Daripada merasa tidak yakin terhadap penampilannya, Gayatri memilih untuk membanggakan gayanya karena itu menjadi ciri khasnya yang membuatnya berbeda dari saudari-saudarinya.

Selain penampilannya yang berbeda, Gayatri juga memiliki kesukaan teater yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Ketiga kakaknya yang lebih tua lebih menyenangi cerita Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Gayatri lebih menyukai kisah-kisah Panji. Alasan itu karena menurut dia kisah Panji itu lebih bermanfaat, karena kisah Panji itu cerita lokal. Dengan membaca kisah-kisah tersebut Gayatri merasa bahwa ceritanya akan bermanfaat saat dia menguasai kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya, Raja Kertanegara. Konflik yang terjadi dalam cerita Panji itu menyesuaikan situasi yang terjadi di dalam negara, maka dari itu memiliki lebih besar kemungkinan bahwa akan suatu saat terjadi. Caranya tokoh-tokoh dalam kerajaan menangani situasi saat terjadi permasalahan itu menjadi bahannya Gayatri untuk mempelajari kebijakan dalam menguasai suatu kerajaan. Dia mempelajari bahwa untuk menjadi seorang pemimpin Gayatri harus bersikap tabah.

Baca Episode berikutnya.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 1 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

Prajnaparamita_Java_Side_Detail

Dear diary,

Pada siang hari ini aku membaca buku tentang Gayatri Rajapatni karya tulisan Earl Drake, yaitu tokoh wanita yang membangun Kerajaan Majapahit. Awalnya aku tidak tertarik untuk membaca buku mengenai sejarah, tetapi sepanjang ini aku menemukan cerita ini unik. Caranya penulis menjelaskan ceritanya membuat pembaca mengerti karena pilihan kata yang mudah tetapi tetap bervariasi. Memang aku lebih menyukai cerita berbahasa Inggris dan yang lebih modern atau science fiction, tetapi saat aku membaca buku ini ternyata ada aspek fantasinya. Memang berbeda dengan hal yang akan kau baca dalam buku Harry Potter, tetapi menarik karena berbeda dengan materi yang kita baca pada jaman sekarang.

Setelah membaca buku itu aku mendapat keterangan bahwa Gayatri adalah tokoh yang kuat, karena sifat independennya dan ia juga tidak mudah menyerah. Sifat-sifat yang menjadi hal yang penting untuk dimiliki untuk menjadi orang yang hebat. Gayatri memiliki tiga kakak perempuan, yang pertama dan tertua bernama Tribhuwana, yang kedua Mahadewi, dan yang ketiga Jayendradewi. Gayatri sangat mengagumi kakaknya yang pertama karena sifatnya yang suka berlucu dan melawak. Gayatri tidak memiliki sifat itu, maka dia paling senang menghabiskan waktunya dengan kakaknya yang tertua yaitu Tribhuwana. Tribhuwana sudah menjadi seorang istri yang berpasangan dengan Pangeran Wijaya, yaitu sepupunya yang ketiga. Mahadewi, kakaknya yang kedua baru saja bertunangan dengan Ardaraja, yaitu sepupu jauhnya yang diangkat sebegai Komandan kawal untuk istana. Jayendradewi masih menunggu untuk dijodohkan oleh orangtuanya karena ia tidak sabar untuk bertemu dengan pasangannya.

Gayatri mengagumi ayahnya juga, karena dia menikmati waktu yang ia habiskan dengan ayahnya yang digunakan untuk berbincang mengenai topik-topik yang serius. Gayatri tidak terlalu peduli untuk menikah cepat-cepat seperti ketiga kakaknya yang lebih tua daripadanya. Namun kalau waktunya datang untuk Gayatri menikah, dia menginginkan laki-laki yang baik, berani, dan akan selalu menyayanginya dalam situasi apa pun. Gayatri pernah menyatakan bahwa satu-satunya laki-laki yang ingin untuk mengesankan adalah ayahnya sendiri. Gayatri itu memiliki sifat yang berbeda antara kakak-kakaknya, karena dia lebih mandiri dan berani. Dia sangat peduli pada konflik-konflik yang dihadapi kerajaan, maka dari itu iya akur dengan ayahnya. Gayatri juga cerdik, karena dia senang belajar hal-hal yang baru.

Selain mandiri dan pandai, Gayatri juga menyukai teater kuno karena ia menemukan kisah-kisah tersebut menarik. Dalam kisah-kisah yang diceritakan biasanya bisa ditemukan pesan moral yang berharga, karena dapat diaplikasikan ke dalam hidup sehari-hari. Ketiga kakaknya lebih menyukai kisah Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Gayatri lebih tertarik dengan kisah-kisah yang lokal karena kejadian-kejadian yang terjadi dalam ceritanya memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadi dibandingkan hal-hal yang terjadi dalam ceritanya Mahabharata dan Ramayana. Jika kerajaan Jawa menghadapi masalah, bacaan kisah-kisah seperti Panji akan lebih bermanfaat untuk memecahkan konflik-konflik tersebut.

Dalam bab pertama buku ini diceritakan bahwa kerajaan Jawa diancam oleh Kaisar Mongol di Cina, yang bernama Kublai Khan. Disebutkan bahwa kerajaan Jawa itu dihina oleh Kaisar, maka dari itu sang Raja, ayahnya Gayatri, marah karena ungkapan Khan. Pada awalnya Raja ingin menakuti Cina dengan membunuh salah satu prajuritnya lalu dikirim balik ke Cina, tetapi salah satu pihak dalam diskusi, yaitu gurunya Gayatri tidak setuju dengan keputusan tersebut, karena Cina itu negara yang makmur dan kuat maka akan sulit untuk berperang dengan mereka. Gurunya Gayatri percaya jika kerajaan Jawa membalas ancaman Cina maka akan ada perang dan kemungkinan besar Jawa tidak akan bertahan dan kalah. Akhirnya Raja memutuskan untuk tidak melaksanakan rencana tersebut dan memilih untuk berdamai.

Prajurit-prajurit dari Mongol datang ke istana untuk menyerang kerajaan dan kedua orangtua Gayatri meninggal, Tribhuwana memutuskan untuk ikut dengan Pangeran Wijaya, dan kedua kakaknya diambil sebagai sandera. Gayatri sedih karena ia sangat menyayangi keluarganya dan kematian orangtuanya ada di tangan Kaisar Khan. Setelah kejadian tersebut dia tidak diam dan bersedu, tetapi itu hanya memberinya alasan untuk melawan balik. Dengan alasan motivasi yang tepat, Gayatri dapat memenangkan perang karena dia memiliki alasan yang kuat untuk melawan Mongol.

Dari bab ini aku belajar bahwa Gayatri itu tokoh yang memberikan banyak hal untuk disukai karena sifatnya yang heroik. Belum terlihat dari cerita ini karena usianya yang masih muda, tetapi sudah terlihat potensinya. Dari kejadian di mana orangtuanya meninggal dia menangani situasinya dengan baik. Pada awalnya dia pastinya sedih dan membutuhkan waktu untuk memproses semuanya sendiri, tetapi setelah itu ia kembali ke realitas dan menghadapi semuanya daripada lari dari konflik. Gayatri bertindak untuk menghadapi masalah-masalahnya dan hal seperti itu sesuatu yang harus dikagumi karena pilihan itu tidak mudah dan tindakan seperti itu langka pada jaman sekarang. Gayatri memilik banyak sifat yang membuatnya seorang ratu, karena dia pandai menangani seluruh kerajaan. Sejak kecil pun dia sudah menunjukkan bahwa dia sanggup memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh kerajaan. Dari ayahnya, sang raja, ia belajar berbagai hal yang harus ia bisa lakukan untuk mengatur suatu kerajaan. Gayatri mengagumi ayahnya sehingga dia mewarisi sifat-sifat kepribadiannya yang bijak.

Baca Episode berikutnya.