Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 1 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

13633367

Dear Diary,
Aku adalah seorang remaja yang bisa dibilang menyukai membaca. Biasanya aku membaca buku yang memiliki genre fiksi karena cerita-cerita tersebut memberikan sesuatu yang unik dan bahkan hal-hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Tetapi, aku mulai membaca buku yang berjudul Ken Dedes Sang Penggoda yang ditulis oleh Wawan Susetya. Aku bukanlah tipe orang yang suka membaca buku dengan cerita seperti ini tetapi mengapa tidak mencoba sesuatu yang baru ditahun yang baru? Jujur, aku tidak pernah mendengar apapun tentang buku ini ataupun nama Ken Dedes. Oleh karena itu, aku sangat clueless dan tidak tahu apapun mengenai buku ini. Akupun memulai membaca buku ini. Oleh karena itu, aku akan membaca buku ini per-bagian dan jika diperlukan, aku akan melakukan research singkat untuk lebih mengerti tentang buku ini.

Bagian pertama buku ini berjudul Rahasia Ardhanariswari atau Nareswari Ken Dedes. Cerita ini dimulai dengan pengenalan seorang karakter yang bernama Empu Parwa alias Empu Purwa Widada; Ia adalah seorang Pandhita (atau bisa disebut Mahaguru) dan disini diceritakan bahwa ia tinggal di desa Panawijen atau Panawijil yang dideskripsikan sebagai tempat yang masih hijau dan memiliki pemandangan yang indah dan hal tersebut terlihat di wajahnya yang terlihat tenang. Tetapi, kedudukannya sebagai Mahaguru terancam karena Empu Parwa diduga tidak memiliki izin resmi dan ia diduga telah menobatkan dirinya sendiri. Walaupun hal ini sedang terjadi, ia terus mengajar dan tidak mempedulikannya. Empu Parwa juga tidak melaporkan kegiatannya kepada Akuwu Tunggul Ametung ataupun sang Brahmana Belakangka.

Brahmana Belangka adalah seseorang yang sangat dimuliakan di Negeri Tumapel tetapi Empu Parwa mengatakan hal lain; mengapa kita harus memuliakan orang yang bekerja dibawah arahan Sri Kertajaya, seorang raja yang zalim? Mengapa kita harus memuja seseorang yang diam-diam memiliki pendulangan emas yang melimpah? Mengapa kita harus memberikan toleransi kepada orang yang mengambil hasi panen rakyat secara segan-segan? Brahmana Belangka dan orang-orang kaya lainnya hanya mementingan kepentingan pribadi masing-masing tanpa memedulikan kepentingan rakyat yang menderita. Karena sikap ini juga, mantra-mantra kitab suci Wedha telah kehilangan makna di lingkungan Negeri Tumapel.

Menurut Empu Purwa, manusia memang harus merenungkan tentang kehidupan yang mereka jalani; apakah mereka benar-benar ingin hidup yang bahagia atau tetap menderita seperti kehidupan di dunia? Ia mengatakan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian, bukan dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Saya setuju dengan pemikiran ini. Di dunia, tidak ada yang akan hidup selamanya, pasti suatu saat kita semua akan meninggal dan oleh sebab itu, sebisa mungkin kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya selagi ada waktu.

Empu Parwa memiliki satu anak perempuan yang bernama Ken Dedes. Istri Empu Parwa sangat menyayangi putri semata wayangnya ini sampai memanjakannya terus menerus (dan bisa dibilang terlalu berlebihan). Tentunya Empu Parwa tidak membiarkan sikap istrinya itu untuk melewati batas; ia tidak ingin putrinya menjadi anak yang manja. Mereka bahkan berdebat dan mengalami kesulitan untuk menetapkan hal yang benar.
Karena terbiasa dimanja oleh ibunya, Ken Dedes menjadi seorang anak yang berpenampilan acak-acakan dan terlihat sangat berbeda dari norma yang telah ditetapkan. Ia berani membantah siapapun yang tidak menuruti keinginannya, bahkan orang tuanya sendiri. Ia juga berani untuk menggoda murid-murid ayahnya, terutama yang memiliki wajah yang tampan. Akhirnya istri Empu Parwa sadar bahwa kelakuan anaknya sudah kelewatan dan akhirnya setuju dengan suaminya. Empu Parwa mulai mengenalkan tokoh-tokoh dongeng yang memiliki sifat heroik atau spiritual seperti kisah Sidharta Gautama dan perwayangan lainnya dan meyakinkan putrinya bahwa ia juga bisa seperti mereka. Empu juga tidak lupa untuk mengenalkan dan mengajarkan tentang kitab Wedha.

Walaupun awalnya Ken Dedes sangat malas dalam melakukan hal-hal tersebut, iapun (secara perlahan) mengikuti apa yang dikatakan ayahnya dengan baik. Setelah beberapa lama melakukan hal-hal tersebut, ia menjadi wanita yang bertolak belakang dari dia yang dulu; ia sudah menjadi perempuan yang dewasa; dia menjadi putri idaman kedua orang tuanya.

Ia sekarang memiliki balance antara cantik diluar dan didalam (atau disebut dengan filosofi Rupasampat Wahyabyantara). Bukan hanya itu, ia juga memiliki suatu rahasia tentang Ardhanariwari atau Nareswari yang konon dikatakan bahwa siapapun yang menikahi perempuan yang memiliki rahasia ini, maka ia diramalkan akan dapat keturunan raja-raja besar di Jawa. Hal ini didengar oleh sang Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel dan dia terkenal sebagai orang yang sangat haus akan perempuan-perempaun cantik.

Ken Dedes dicerminkan sebagai suatu tokoh yang awalnya memang melakukan hal-hal yang bisa dibilang tidak pantas ataupun sopan. Tetapi setelah ayahnya mulai mengajarkan tentang kebaikan, lama kelamaan iapun menjadi seorang gadis yang dewasa dan spiritual, mengikuti jejak ayahnya. Ia juga memiliki kecantikan bukan hanya diluar, tetapi didalam. Hal ini sangat penting karena buat apa cantik secara fisik tetapi didalamnya tidak ada kecantikan sama sekali? Ken Dedes juga dapat menjadi contoh kita dalam kehidupan sehari-hari; bagaimana ia berubah dari seorang anak perempuan yang terlalu dimanjakan dan semena-mena menjadi seorang perempuan yang spiritual dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Setelah membaca bagian pertama dari buku ini, aku menjadi lebih tertarik tentang cerita ini (walaupun diawal aku merasa cukup bosan). Aku juga belajar mengenai hal-hal baru seperti istilah-istilah baru bahkan filosofi yang tidak digunakan di conversation sehari-hari seperti Pandhita, Anglam-lami, Nitis, Camcara (samsara), Panandhang, dan masih banyak lagi. Aku juga jadi lebih tahu sedikit dan mendapatkan gambaran mengenai cerita ini serta alurnya.

Baca episode berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s