Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 3 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

553027b10423bd871b8b4568

Source of visual: courtesy of https://indonesianmosaicstoneartpainting.wordpress.com/2012/10/13/indonesian-mosaic-stone-art-painting-ken-dedes/

Dear Diary,
Kali ini, aku melanjutkan membaca bagian ketiga dari buku Ken Dedes. Bagian ini dimulai dengan scene dimana semua orang sedang merasa sedih karena Ken Dedes, sang bunga telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Bukan hanya ibunya yang sedih, bahkan para cantrik serta para dhayang merasakan kesedihan yang sama besarnya dengannya. Pada saat itu, Empu Parwa masih diluar desa dan belum mengetahui apa yang telah terjadi kepada putrinya yang tercinta tersebut.
Walaupun Empu Parwa tidak mengetahui kejadian ini, hatinya merasa tidak tenang disaat ia sedang memimpin upacara dengan merapal mantra-mantra dalam bahasa Sanskerta; ini biasa dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Gusti Kang Murbeng Dumandi. Jikapun sang Empu Parwa merasa gelisah, ia mengabaikannya dan tetap berkonsentrasi dan melanjutkan upacara yang sedang berlangsung bersama murid-muridnya. Disaat malam tiba, banyak dari muridnya telah tertidur sedangkan yang lainnya dalam kondisi setengah tertidur. Empu Parwa sendiri masih terjaga dan terus melanjutkan upacara tersebut; ia adalah pemimpin dengan kewibawaan yang menjadi contoh bagi murid-muridnya. Tak terasa, matahari mulai menunjukkan dirinya dari ufuk timur, mengingatkan mereka bahwa saatnya untuk mengakhiri acara mereka tersebut dan kembali ke desa mereka.
Empu Parwa beserta murid-murdinya pun mengundurkan diri dan pulang. Disaat mereka sampai di pandepoknannya, cantrik-cantriknya mulai meminta maaf, mengatakan bahwa mereka telah gagal menjalankan perintah guru mereka. Empu Parwa meminta mereka untuk tenang dan menceritakan apa yang telah terjadi selama ia pergi. Mereka semua terdiam sampai salah seorang dari mereka berkata bahwa putrinya Ken Dedes telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Hal ini membuat Empu kaget dan marah; bahkan wajahnya menjadi memerah, menahan murka. Tetapi ia tidak dapat merasa marah terhadap cantrik-cantriknya tersebut karena mereka menghadapi orang yang paling berkuasa di Tumapel.
Empu Parwa pun mulai berkata lantang bahwa ia akan terkena hukum karma dan ia akan mati ditikam sebuah Keris Empu Gandring (sebuah senjata pusaka yang berasa dari Kerajaan Singhasari atau lebih sdikenal dengan sebutan Keris.) Dan kita harus ingat, seperti yang kutulis di diaryku yang kedua, Empu Parwa dikenal sebagai brahmana yang gentur tapane; apapun yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Setelah ia mengeluarkan kutukannya, langit siang yang terang-benderang mendadak mengeluarkan suara halilintar yang menggelegar, seakan hal yang Empu Parwa katakan telah disetujui. Mata semua orang disekitar Empu Parwa membelalak disaat suara guntur terdengar begitu lantang dan mereka juga yakin bahwa kutukan itu akan menjadi kenyataan.
Hari demi hari pun berlalu semenjak Ken Dedes diculik. Ibunya masih menangis dan menolak untuk keluar dari kamarnya. Sebagai suami yang baik, Empu Parwa mencoba menenangkan istrinya. Istrinya pun bertanya kepada Empu mengapa ia tidak melakukan apapun? Apakah Empu Parwa hanya akan diam saja dan membiarkan putri yang sangat mereka cintai diculik begitu saja? Empu hanya bisa terdiam dan setelah beberapa lama menjawab bahwa ia percaya sang dewa agung pasti akan melindungi putri mereka dan penculikan ini adalah satu-satunya cara agar Ken Dedes (pada suatu hari nanti) dapat menjadi ibu dari raja-raja besar di Jawa. Istrinya pun menjadi lebih tenang dan mempercayai apa yang dikatakan suaminya.
Di bagian ini, memang tidak banyak penjelasan tentang Ken Dedes. Tetapi menurut aku, dalam situasi ini, Ken Dedes akan sabar, sama seperti ayahnya. Sampai sejauh ini, saya belajar bahwa Ken Dedes memiliki karakter tersebut dan yang lainnya seperti rendah hati, spiritual, memiliki pendirian yang tinggi, patuh kepada orang tua, dan hal-hal lainnya yang menurutku dapat kita tiru, apalagi orang-orang dikalangan muda seperti remaja. Oleh sebab itu, aku juga merasa bahwa Ken Dedes bisa menjadi seseorang yang inovatif karena ia memiliki sikap-sikap ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s