Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 4 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

Ken Dedes sang bunga desa

 

Dear Diary,
Aku melanjutkan cerita ini dengan membaca bagian keempat yang berjudul “Menanti Putra Mahkota dari Rahim Ken Dedes” (Menurutku judulnya sudah memberikan sedikit gambaran tentang bagian ini).
Bagian ini dimulai dengan betapa bahagianya sang Akuwu Tunggul karena telah berhasil menculik dan membawa pulang perempuan yang ia dambakan bernama Ken Dedes dengan paras yang sangat cantik dan ia akan menjadi calon permaisurinya. Sesampainya di istana, Akuwu disabut oleh nayaka praja yang berpura-pura bahagia untuknya karena didalam hati mereka, mereka tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh penguasa mereka tapi bisa apa mereka selain membisu dan ikuti kemauannya?
Setelah itu, Akuwu pun membawa Ken Dedes kepada dua orang abdi dalem (orang-orang yang mengabdikan diri mereka terhadap raja ataupun keratin) kepercayaannya yang bernama Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang yang bertugas di sebuah bilik agung Tumapel dan sekarang, mereka bertugas untuk melayani semua keinginan Ken Dedes. Dulunya, mereka bertugas, merawat, dan merias beberapa orang selir karena itu memang keahlian mereka. Akuwu meminta mereka untuk merawat dan merias calon permaisurinya dengan baik.
Mereka menerima tugas itu dan Akuwu akhirnya meninggalkan tempat tersebut, tetapi sebelum pergi ia sempat membisikkan sesuatu kepada kedua abdi dalem tanpa didengar oleh Ken Dedes; pastinya itu sesuatu yang penting. Setelah Akuwu benar-benar pergi, mereka berdua mempersilahkan Ken Dedes untuk membersihkan diri dengan air hangat yang diikuti oleh luluran, bedak, dan mangir. Ken Dedes hanya merespon dengan anggukan lesu karena pikirannya masih bercampur aduk akan kesedihan karena penculikan yang ia alami. Ia merasa seperti dipenjara walaupun saat itu, ia dikelilingi perhiasan-perhiasan indah dan akan menjadi calon permainsuri sang penguasa.
Kedua abdi dalem dapat merasakan kegelisahan yang dialami tuannya dan kesedihan juga terlihat di matanya yang berwarna biru. Mereka pun mencoba untuk menghiburnya. Tetapi, mereka juga merasa bingung. Mengapa perempuan secantik ini merasa sedih, padahal sebentar lagi ia akan menjadi permainsuri sang raja; wanita manapun pasti akan sangat bahagia jika mereka mendapatkan kesempatan tersebut. Nyai Gede Mirah dan Nyali Rimang pun akhirnya berbicara dan berbicara kepadanya, bertanya tentang hal tersebut. Ken Dedes tetap terdiam, hanya menjawab dalam hati. Ia berfikir, Bagaimana bisa merasa senang? Orang dia diculik oleh sang raja yang kejam dan hanya memikirkan kemauannya sendiri.
Mereka berdua pun bertanya lagi, mengatakan bahwa putranya kelak akan menjadi pangeran di istana tumapel dan akan menjadi raja. Akhirnya, Ken Dedes membuka mulut dan mengatakan, “Yang namanya cinta itu… apakah bisa dipaksakan? Meskipun aku hendak dijadikan sebagai permainsuri, tetapi kalau aku tidak mencintainya, apakah aku bisa merasakan kebahagiaan?”
Keduanya pun bertanya lagi, apa kurangnya Akuwu Tunggul, orang yang dimata mereka memiliki semuanya? Ken Dedes (terdengar sedikit kesal) menjawab bahwa menurutnya, cinta itu abstrak dan tidak dapat diukur dengan hal-hal bersifat duniawi. Cinta itu adalah hal yang bersifat suci dan murni dan tidak dapat diukur dengan ukuran serendah itu.
Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang pun sadar akan sikap Ken Dedes dan baru menyadari bahwa ia adalah putri Empu Parwa dari Desa Panawijen yang sudah kasura (atau terkenal). Pantas saja ia tidak seperti perempuan biasanya yang gila harta, ia berbeda.

Ken Dedes pun meminta untuk ditinggal sendirian. Setelah kedua abdi dalem tersebut pergi, Ken Dedes pun merenungi nasibnya dan memikirkan tentang bagaimana marahnya ayahnya tentang penculikan ini. Ia mulai berpikir, apakah ayahnya akan melakukan sesuatu tentang penculikan anak semata wayangnya ini? Atau apakah ayahnya akan merestui pernikahan ini? Didalam hatinya, ia tau pasti ayahnya tidak akan pernah merestui hal seperti ini.
Disini kita dapat melihat bahwa Ken Dedes tidak mempedulikan hal-hal yang berbau materialistik atau sementara, sama seperti ayahnya. Ia lebih mementingankan keluarganya dan terus memikirkan tentang mereka. Ia tidak peduli jika orang yang akan ia nikahi adalah orang paling terkaya dan paling berkuasa, jika hatinya busuk maka tidak ada intinya. Apalagi ia tidak mencintai Akuwu Tunggul sama sekali dan ia belum mendapat restu dari orang tuanya.

Ia pun memutuskan untuk melakukan semadi (perenungan dalam tapa brata) dan mencoba untuk mendapatkan ketenangan didalam hatinya. Ia terus melakukannya sampai tengah malah, tidak sempat untuk beristirahat walaupun besok adalah hari pernikahannya.

Besoknya, Akuwu Tunggul benar-benar berencana untuk melaksanakan pernikahannya bersama Ken Dedes secara diam-diam. Ia meminta mereka untuk mendandani calon permaisurinya. Setelah dirias, ia terlihat sangat cantik seperti bulan. Padahal, ekspresi Ken Dedes tidak menunjukkan sedikitpun kebahagiaan. Setelah selesai melakukan tugasnya, Nyai Gede Mirah pergi keluar dari bilik agung tempat Ken Dedes tinggal tersebut dan memanggil Akuwu Tunggul dan penasihat Keraton, sang Hyang Belangka yang akan menikahi Akuwu dan Ken Dedes. Ken Dedes mulai gemetaran, merasa takut akan hal yang akan menimpanya.

Ken Dedes pun didudukkan disebuah bangku yang telah dihiasi permadani dan diapit oleh kedua abdi dalem dimasing-masing sisi. Tak lama kemudian, terdengar suara mantra-mantra berbahasa Sanskerta yang diucapkan sebagai tanda resminya pernikahan tersebut. Setelah mantra selesai dibacakan, Ken Dedes sudah resmi menjadi permaisuri sang penguasa Tumapel!

Hari demi hari pun berlalu. Ken Dedes menjadi pengantin selama 40 hari; ia tidak diperbolehkan keluar dari biliknya sama sekali, bahkan jika hanya melihat-lihat pemandangan. Ken Dedes tidak dapat melakukan apapun selain pasrah dan nurut. Pada hari ke-40, Ia pun didandan lebih cantik lagi dan dibawa ke Alun-alun Negeri Tumapel bersama Akuwu Tunggul; disana, mereka melakukan upacara brahmacarya.
Mungkin menurut perempuan-perempuan lain diseluruh Tumapel, Ken Dedes adalah wanita yang paling beruntung dan bahagia tetapi dalam hatinya, Ken Dedes merasa sebaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s