Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 7 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

ken_arok__singosari_kingdom__by_edolazuardi-d68zvx6

Ilustrasi oleh Edo Lazuardi; source: http://edolazuardi.deviantart.com/art/Ken-Arok-Singosari-Kingdom-377908314

Bagian dari cerita ini dimulai dengan bagaimana semangatnya sang Akuwu Tunggul untuk memberantas para perampok-perampok yang telah mengganggu Tumapel akhir-akhir ini setelah diperintahkan langsung oleh Sri Kertajaya. Salah satu faktor yang membuatnya sangat semangat karena perampok-perampok ini dapat mengancam kedudukan dia menjadi raja di Tumapel dan ia pun memerintahkan ketiga pengawalnya yang bernama Jarasandha, Bapiang, dan Kebo Ijo untuk membantunya. Tetapi, karena mereka tidak langsung turun tangan dan meminta prajurit mereka untuk melakukan tugas mereka, misi-misi mereka pun sering gagal hingga membuat sang Akuwu marah dan memanggil ketiga pengawalnya tersebut.
Ketiganya pun beralasan bahwa perampok-perampok tersebut sangat tangguh dan terlatih; bahkan banyak dari prajurit mereka menjadi korban. Akan tetapi, alasan ini malah membuatnya menjadi lebih marah karena faktanya, mereka adalah orang-orang yang ia percaya jika ada hal seperti ini terjadi. Pada akhirnya, sang Akuwu menyuruh mereka istirahat dan ia sendiri akan menghadapi perampok-perampok tersebut. Sang Hyang Belakangka (penasihat Keraton Tumapel) langsung mengingatkan Akuwu bahwa ia tidak bisa gegabah. Bagaimana jika nanti akan banyak orang yang menyerangnya jika ia pergi sendirian? Iapun menyarankan bahwa ia sebaiknya memberikan tugas ini kepada ketiga pengawalnya tersebut dan menyuruh mereka untuk mengutus prajurit pilihan mereka dalam jumlah yang besar. Akuwu pun menuruti dan menyuruh ketiga orang tersebut untuk menyerang dan kembali dengan semua kepala mereka. Mereka pun siap dan menjalankan tugas yang telah diperintahkan oleh Akuwu.

Pada hari yang telah ditentukan, mereka pun berangkat. Didalam perjalanan mereka, mereka diserang oleh perampok-perampok yang telah mereka incar selama ini. Biasanya, mereka beraksi secara induvidu tetapi kali ini, mereka melakukannya secara bersamaan. Mereka pun mengenalkan diri dan mengaku bahwa mereka adalah perampok yang telah mereka cari-cari selama ini dan pada akhirnya, mereka pun bertengkar secara ramai-ramai. Kedua belah pihak memiliki kekuatan yang sama sehingga perkelahian itu bertahan cukup lama. Seiring waktu berlalu, pertandingan ini semakin tidak seimbang. Para perampok menjadi semakin lemah; apa yang mereka pikirkan? Pastinya mereka akan kelelahan melawan prajurit dengan senjata yang lengkap. Lagipula, mereka kalah dalam jumlah. Temu, sang pemimpin para perampok tersebut merasakan hal tersebut dan akhirnya menyuruh kawanannya untuk mundur dan pada akhirnya, tidak ada yang menang ataupun kalah, tetapi pastinya ada banyak korban.

Disaat ketiga pengawal itu melaporkan hasil mereka yang ternyata gagal menangkap perampok-perampok tersebut, sang Akuwu merasa heran kenapa ketiga orang kepercayaannya tidak bisa melakukan tugas tersebut. Ini membuat Dia berfikir, bagaimana caranya agar kerajaan Tumapel dapat menangkap para perampok ini. Ia pun berkata bahwa sebaiknya prajurit Tumapel dikirim secepatnya karena perampok-perampok tersebut sedang merawat anggotanya yang terluka, sehingga membuat mereka lebih rentan. Dan ketiga pengawal tersebut kembali mencari perampok-perampok ini dan menyusuri setiap pelosok dari Tumapel. Hal ini banyak membuat warga Tumapel takut; apakah mereka akan ditangkap?

Ternyata, para perampok tersebut bersembunyi didalam hutan dibawah Gunung Arjuna dan entah bagaimana, hal ini terbocor dan prajurit Tumapel pun pergi ke arah tersebut dan pada akhirnya, mereka dikepung. Tetapi Temu, sang ketua dari kelompok berserta beberapa anggota lainnya yang tidak terluka berpencar dan berhasil kabur walaupun sisanya yang masih terluka hanya bisa pasrah dan akhrinya ditangkap. Disaat Temu hampir saja berhasil kabur, para prajurit sudah mengepung dia. When he thought all hopes are lost, mendadak ada seekor naga yang muncul dari belakangnya dan menyerang Bapiang dan para prajurit tersebut, bahkan membunuh Bapiang. Setelah itu, naga tersebut pun lenyap begitu saja.

Tanpa mengambil waktu lagi, Temu pun berlari dan akhirnya memanjat pohon silawan hingga ke puncaknya. Sayangnya, Jarasandha beserta para prajuritnya melihat aksinya dan sudah mengepung pohon tersebut. Jarasandha pun berteriak dan memintanya untuk turun dari pohon itu dan menyerah saja. Tentu saja, Temu menolak dan terus bertahan di atas pohon itu. Karena Jarasandha dan prajuritnya tidak mau membuang-buang waktu, mereka pun memutuskan untuk menebang pohon silawan tersebut. Karena Temu sudah putus asa, Temu hanya bisa berdoa kepada sang Pramundita.

Meskipun Temu ada seorang berandalan yang sering membuat keonaran, permohonannya untuk keselamatan pun menggetarkan Kahyangan Jonggring Saloka, sebuah istana atau khayangan Bathara Guru alias sang Pramesthi Guru. Hal ini bahkan menyebabkan perdebatan antara ketiga Dewa-Bathara yang bernama Bathara Brahma, Bathara Syiwa, dan Bahtara Whisnu. Mereka pun menganggap bahwa diri Temu merupakan “wadah” yang tepat bagi mereka untuk menjalani reinkarnasi dan Pramesthi Guru menyatakan Bathara Whisnu-lah yang berhak menyatu kedalam Temu dan menolongnya. Temu pun merasa kaget disaat ia didatangi Bathara Whisnu, dimana ia mengatakan bahwa ia akan menolong dirinya tersebut.

Pada bagian dari buku ini, Ken Dedes tidak disebutkan sama sekali, membuatku menjadi tidak dapat membahas tentang dirinya. Tetapi, menurut aku, bagian dari cerita ini menunjukkan bahwa jika kita memiliki keyakinan bahwa jika kita memang memiliki niat baik, pasti akan ada jalannya.

 

 

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 6 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

ken_arok_by_dekka_93

Ilustrasi oleh Dekka – 93;  source: http://dekka-93.deviantart.com/art/KEN-AROK-159872403

Perampok-perampok yang kubahas didalam diary kelima (sebelum yang ini) bukan hanya mencuri, mereka tidak takut menyakiti saudagar-saudagar atau siapapun yang membawa harta yang melintasi daerah mereka jika mereka tidak mau memberikan barang berharga mereka.
Bagaimana tanggapan sang penguasa? Sejujurnya, Akuwu Tunggul sendiri tak mempedulikan siapa persisnya orang-orang yang telah berbuat onar di daerah Tumapel; ia hanya peduli tentan bagaimana caranya agar mereka hilang. Hal ini sangat bahaya, apalagi hal ini membuat hubungannya bersama Sri Kertajaya menjadi renggang. Tetapi, apakah sebenarnya perampok-perampok ini jahat? Adakah alasan dibelakang semua pencurian harta-harta ini? Apakah alasan yang sebenarnya?
Salah satu perampok yang aku sebutkan di diary kelimaku bernama Borang. Ia dijelaskan sebagai pemuda yang gagah dan pendiam yang menyembah Bathara Whisnu tiba-tiba berani melawan. Tetapi sebenarnya, ia memiliki alasan tersendiri. Tidak jarang ia melihat harta rakyat dirampas oleh prajurit Tumapel yang diutus oleh Akuwu Tunggul dan gadis-gadis desa yang lugu pun juga tidak lepas dari perampasan ini. Pasti kita bertanya-tanya, “mengapa rakyat hanya diam saja?” Jawabannya karena jika mereka mencoba melawan, maka prajurit-prajurit tersebut tidak takut untuk bertindak secara keji: memukuli, bahkan hingga babak belur. Oleh sebab itu, Borang dan yang lainnya merasa mereka harus melakukan sesuatu untuk mengubah hal tersebut dan tak jarang ia membagikan hasil perampokan dia ke rakyat yang membutuhkan. Latar belakang perampok lainnya pun tak berbeda jauh dari Borang. Oleh karena itu, mereka menjadi pahlawan bagi rakyat di kampung mereka masing-masing.
Untuk Akuwu Tunggu sendiri, alasan ia mengambil harta-harta yang bukan miliknya ini adalah dikarenakan ia menyetorkan beberapa bagian dari harta tersebut ke Kediri. Ia melakukan ini karena ia harus mengikuti perinta raja Kediri yang (sepertinya) meminta pajak besar-besaran. Dan karena sang Akuwu cerdik, ia meminta pajaknya lebih besar dari yang raja Kediri minta; sebagian dari hartanya yang ia berikan masuk kepada kas Negeri Tumapel dan sisanya masuk kedalam kantong pribadi. Bukan hanya harta saja, Sang Akuwu juga merampas hal lain seperti lahan-lahan pertanian, perkebunan, lahan tambang, dan yang lainnya yang jelas-jelas milik rakyatnya dan menjadikannya sebagai miliknya. Rakyat pun terpaksa menjadi budak yang harus bekerja lebih keras lagi hanya untuk kemuliaan raja. Siapa rakyat yang tidak sakit hati dan kesal?
Dan oleh sebab itu, perampok-perampok ini menyalahkan sang penguasa Tumapel! Karena kerakusan yang Sang Akuwu lakukan selama ini dan memperlakukan rakyatnya sendiri sebagai budak, mereka harus bertindak sebelum keadaan di Tumapel semakin memburuk (for them, anyways).
Perampok seperti Borang, Arih-Arih, Santing, dan Hayam memang melakukan aksi kejahatan dengan niat yang baik, ada perampok yang tidak melakukan hal yang seperti ini. Namanya adalah Temu. Ia mencuri harta benda milik orang lain (tidak peduli milik siapapun) hanya untuk keuntungan pribadi. Ia sering beraksi sendirian (walaupun terkadang ditemani sahabatnya yang bernama Tanca) karena ia memiliki kesaktian yang luar biasa; ibaratnya ditusuk senjata tajam pun tidak akan menyakitinya dan ia memiliki kesaktian ini secara alami. Biasanya uang tersebut ia pakai untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, dan berjudi dan jika uangnya habis, ia akan mencari korban baru untuk dicuri.
Menurut aku, pencuri yang bernama Borang ini tidak ada bedanya dari Sang Akuwu Tunggul, hanya caranya saja yang berbeda tapi intinya sama saja. Mereka sama-sama hanya mempedulikan nikmat semata seperti harta-benda dan tidak mempedulikan orang lain yang lebih membutuhkan harta tersebut.
Awalnya, Lembong memang rakyat biasa. Tetapi setelah beberapa lama ia berfikir, mengapa ia tidak bisa menikmati hidup dengan kekayaan, dengan memiliki rumah yang layak, makan dan minum setiap hari dengan enaknya. Mengapa ia tidak bisa? Energi yang awalnya bisa saja menjadi suatu yang positif menjadi sebaliknya. Ia memilih menjadi perampok.
Memang, setelah menjadi perampok kehidupan Lembong bersama istrinya secara ekonomi sudah sangat baik. Tetapi, apa enaknya memiliki semua ini jika tidak mempunyai buah hati? Sudah banyak dukun, orang pintar, atau orang yang ahli membuat ramu-ramuan yang mereka datangi, tapi tidak ada hasil. Mereka pun sempat berargumen; antara sang istri yang tidak mau menyerah dan Lembong yang merasa bahwa memang ini takdir kalau istrinya memang mandul. Tetapi istrinya dapat meyakinkan suaminya untuk tetap mencari selagi waktunya masih ada untuknya agar memiliki anak.
Pada suatu malam, seperti biasanya ia mencari korban untuk dirampok. Iapun melewati perkuburan umum di desanya yang terkenal angker tetapi ia tidak terlalu mempedulikannya. Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan bayi yang berasal dari dalam kuburan tersebut. Secara hati-hati, ia mencari asal dari suara tersebut dan menemukan bayi yang tergeletak begitu saja. Ini memberikan ide dan iapun membawa bayi itu pulang dan memberitahu istrinya.
Awalnya, istrinya merasa ragu-ragu tetapi akhirnya merawat anak itu seperti anak kandung mereka dan bayi itu dinamakan Temu. Seperti Ken Dedes dulu, Temu sangat dimanjakan oleh ibunya. Tetapi bedanya, ayah Ken Dedes dan ibunya akhirnya mendidik ia kearah yang benar sedangkan Temu tetap dimanjakan dan akhirnya disaat ia remaja, kenakalannya pun semakin menjadi-jadi. Dan tidak beda dari ayahnya, ia menjadi suka berjudi, mabuk-mabukan, mencuri, dan merampok. Lama-kelamaan, kebiasaan buruk Temu pun semakin menjadi-jadi sehingga membuat kedua orang tuanya jengkel. Karena sudah tidak tahan lagi, mereka pun mengusir Temu dari rumahnya.
Singkat cerita, Temu tetap berjudi dan menjadi pencuri seperti ayahnya. Bukan hanya disegani oleh perampok-perampok lain, ia juga disegani Akuwu Tunggul Ametung karena kerugian yang ia sebabkan dari merampok. Tetapi beda dengan ayahnya, ia pun ingin mengembalikan harta-harta tersebut kepada rakyat seperti perampok lainnya.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 7 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

dff43dfb4a00e824ca95d29602191f83

Dear diary,
Pada siang ini aku melanjutkan buku Gayatri Rajapatni dan sepanjang ini kehidupannya itu dipenuhi dengan berbagai hal yang terjadi secara mendadak. Kejadian-kejadian dalam kehidupan Gayatri itu sangat besar dan berdampak pada kerajaan karena dia memang sosok yang terkenal dalam kerajaan Majapahit. Dalam beberapa bab yang baru saja aku baca, hal-hal yang terjadi itu sangat mempengaruhi Gayatri. Hal-hal yang dia alami itu sangat luar biasa dan membutuhkan keberanian dan kebijaksanaan untuk memainkan perannya dalam kerajaan.
Dalam bab ini, Gayatri harus memutuskan siapa yang akan menjadi raja untuk kerajaan Majapahit. Sejak kematiannya Jayanegara, tidak ada yang menjadi pemimpin kerajaan dan dia telah merusak reputasi kerajaan pula. Harus ada yang menjadi penggantinya Jayanegara dan dia harus bisa mengembalikan kerajaan Majapahit menjadi kondisinya yang semula.

Menurut masyarakat Gayatri itu masih punya dendam dengan Kediri, maka dari itu mereka ragu-ragu untuk membuatnya menjadi raja atau pemimpin utama negara. Setelah semua yang terjadi dalam kehidupannya, Gayatri tidak mau menjadi pemimpin untuk kerajaan Majapahit. Dia memutuskan untuk memberi gelaran itu kepada putrinya yang pertama, yaitu Tribhuwana. Sekarang Tribhuwana boleh memilih siapa saja untuk menjadi pasangannya maka dari itu siapa pun yang menjadi suaminya akan menjadi rajanya Majapahit. Gayatri mempercayai putrinya untuk memilih pasangan yang benar. Gayatri sudah membesarkan anak-anaknya dengan baik, maka dari itu Tribhuwana sudah pasti akan memilih suami yang bisa memenuhi keinginannya dan juga bisa memainkan peran sebagai rajanya Majapahit.

Gayatri mungkin tidak akan menjadi pemimpin utama untuk kerajaan Majapahit, tetapi dia akan menasehati Tribhuwana dalam segala hal yang akan dia lakukan. Gayatri akan membimbing Tribhuwana untuk menjadi pemimpin yang ideal, berarti putrinya harus bisa memiliki sifat-sifat seperti kekuatan, kebijaksanaan, dan pemikiran yang strategis. Gayatri memutuskan untuk menjadi bhikuni yang berarti bahwa dia akan mendalami bagian spiritualnya. Gayatri tidak ingin terlibat dalam kerajaan lagi karena dia merasa bahwa perannya sebagai raja atau ratu itu bisa dimainkan oleh Tribhuwana. Secara resmi Gayatri itu dilepaskan sebagai ratu, namun dia tetap menjadi sosok yang penting dalam kerajaan Majapahit.

Dari segala hal yang telah terjadi akhirnya ada berita yang menyenangkan untuk kerajaan Majapahit karena Tribhuwana melahirkan bayi lelaki yang dia namakan Tetep, yang berarti anak ayam dalam lindungan induknya. Setelah dibesarkan akhirnya Tribhuwana memutuskan untuk memanggil anaknya Hayam Wuruk yang membuat rakyat mengingat namanya karena sering disebutkan dalam cerita rakyat. Sejak saat itu masyarakat sudah mengetahui bahwa kerajaan Majapahit akan memiliki masa depan yang cerah, karena Hayam Wuruk adalah lelaki dan bisa menjadi raja Majapahit. Hayam Wuruk juga keturunan aslinya Tribhuwana dan bisa didampingi oleh kedua wanita yang kuat dalam keluarganya, yaitu ibunya dan neneknya, Gayatri.

Selain itu, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih karena dia disukai oleh masyarakat kerajaan Majapahit. Gajah Mada memang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang bijak, maka dari itu Gayatri sudah melatihnya dan mengajarkannya segala hal yang dia tahu mengenai masalah politis yang terjadi dalam kerajaan. Gajah Mada adalah karakter yang sangat ambisius dan saat ada rapat besar bersama tokoh-tokoh yang penting dalam kerajaan, dia menyatakan keinginannya untuk meluaskan daerah kerajaan Majapahit. Gajah Mada mampu melakukan hal apa pun untuk membuat rencananya berjalan dengan lancar, walaupun harus menggunakan semacam kekerasan terhadap pihak-pihak lain. Menurut dokumen yang membahas rapat itu, pihak lain menentang Gajah Mada karena hal yang dia katakan, karena menurut mereka rencananya itu akan menjadi kesalahan besar. Pihak lain tidak setuju dengan sarannya Gajah Mada karena itu keputusan yang mendadak dan tidak akan berjalan dengan lancar.

Akhirnya Gajah Mada datang ke Gayatri untuk meminta bimbingan agar dia bisa meluaskan tanah kerajaan Majapahit. Gayatri pada awalnya tidak suka caranya Gajah Mada mengatakan pikirannya, karena gerakan yang salah. Gayatri menyarankan Gajah Mada untuk berbagi pikirannya dengan pelan dan tidak secara mendadak, karena itu membuat yang lain terkejut dan pada akhirnya tidak akan ada yang menyetujuinya. Gayatri membimbing Gajah Mada dengan membimbingnya dengan hal-hal yang harus dilakukannya untuk meluaskan Majapahit. Gayatri memastikan bahwa Gajah Mada akan meyakinkan pihak-pihak lain dengan pelan dan lembut agar mereka merasa aman dan pikiran terbuka mengenai rencananya Gajah Mada.

Gayatri mengusulkan Gajah Mada untuk mempersatukan negara-negara yang lebih dekat dulu agar mereka bisa mempertahankan kedaulatannya. Daerah-daerah itu termasuk Jawa, Madura, dan Bali. Menurut Gayatri daerah-daerah tersebut akan menyetujui karena mereka memiliki hukum dan kepercayaan yang mirip dengan Majapahit, maka dari itu mereka akan rukun bersama-sama. Lalu setelah menyatukan negara-negara terdekat mereka akan melibatkan wilayah yang memiliki kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Tengah, Lombok, Sumatera Utara dan Selatan. Tahap terakhir adalah untuk menyatukan Majapahit dengan Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Tumasek, dan Pahang. Daerah-daerah tersebut akan menjadi tantangan yang paling besar, karena mereka memiliki sedikit kesamaan dengan Majapahit. Gajah Mada akan membutuhkan taktik untuk meyakinkan pihak-pihak tersebut untuk bergabung dengan Majapahit. Namun, Gayatri sudah menyarankan Gajah Mada untuk meyakinkan semuanya dengan cara yang pelan dan lembut agar mereka merasa lebih nyaman untuk menyetujui rencananya.

Walaupun Gayatri sudah bukan termasuk dalam kerajaan, dia masih memainkan peran yang penting untuk membimbing lanjutan pemimpin-pemimpin Majapahit. Gayatri yang lebih berpengalaman dan bijak membantu Gajah Mada dan Tribhuwana dengan mengusulkan rencana untuk membawa kesejahteraan untuk Majapahit.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 6 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

Raden-Wijaya

Dear diary,
Pada malam Selasa ini aku melanjutkan investigasi tentang Gayatri Rajapatni. Saat aku melakukan research ternyata mencari artikel mengenai Gayatri itu sulit untuk ditemukan, karena memang dia tidak seterkenal Raja Wijaya, Hayam Wuruk, atau Gajah Mada. Jumlah artikel mengenai Gayatri Rajapatni itu tidak terlalu banyak, berhubungan statusnya Wijaya itu lebih tinggi daripada Gayatri. Padahal Gayatri itu melakukan sebanyak yang dilaksanakan oleh Raja Wijaya, tetapi dia tidak dikenali oleh banyak orang. Dampak yang diberikan oleh Gayatri ke kerajaan Majapahit itu sama besarnya dengan Wijaya, tetapi hanya beberapa yang menyadari bahwa Gayatri itu peran yang penting juga di balik Kerajaan yang melimpah.
Kalau diperhatikan sebenarnya ada banyak patung-patung Gayatri di beberapa candi, karena dia menjadi sosok yang terkenal di dunia seni. Pada masanya Gayatri ia sangat menyukai teater, seperti yang aku sebutkan di catatan yang sebelumnya. Gayatri juga mendalami bagian spiritualnya, karena dia memiliki kepercayaan yang kuat. Menurut aku, Gayatri menjadi sosok yang hebat dalam Kerajaan Majapahit karena dia memiliki nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-harinya. Gayatri menggunakan nilai-nilainya sebagai pembimbing untuk mengarahkan dia untuk menjadi orang yang baik. Gayatri bertahan pada nilai-nilainya karena dia tahu bahwa itulah kriteria yang harus dia ikuti untuk menjadi dampak yang baik untuk kerajaannya.
Dalam bab ke enam dalam cerita Gayatri Rajapatni, kisahnya mulai dari kematian Raja Wijaya. Wijaya meninggal pada umur yang cukup muda, yaitu sekitar empat puluhan. Seluruh masyarakat sedih saat mendengar berita buruk tersebut, karena Wijaya sudah menjadi Raja yang ideal untuk Kerajaan Majapahit. Masyarakat menghormati Wijaya karena dia membuktikan bahwa dia adalah Raja yang luar biasa. Menurut Gayatri, Wijaya adalah contoh pemimpin yang ideal, karena dia peduli kepada masyarakat dan dia pun bisa memilih keputusan yang bijak dengan memiliki Gayatri sebagai pendampingnya. Meninggalnya Raja Wijaya itu menyedihkan untuk seluruh kerajaan Majapahit, karena semua orang bahagia saat dia menjadi pemimpin Majapahit.
Gayatri menangani kematian Wijaya dengan berani, karena dia tahu bahwa masyarakat membutuhkan dia untuk tetap tabah melalui segala hal yang sudah dilewati seluruh kerajaan. Pastinya Gayatri membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri untuk merenungkan suaminya yang telah meninggal. Pada saat sedih ini Gayatri berdiri lagi dan memastikan bahwa Kerajaan Majapahit itu memiliki pemimpin yang baru untuk mengarahkan masyarakat dengan bijak.
Satu-satunya keturunan Wijaya yang lelaki itu Kalagemet atau sekarang dipanggil Jayanegara. Gayatri sudah tahu dari awal bahwa Jayanegara bukanlah orang yang tepat untuk menggantikan Wijaya sebagai Raja. Jayanegara tidak dididik dengan benar oleh ibunya, yaitu Dara Petak. Dara Petak itu membiasakan Jayanegara untuk menjadi anak yang manja, maka dari itu anaknya menjadi jenis orang yang melakukan apa saja yang ia inginkan. Kebiasaannya Jayanegara itu berdampak buruk untuknya karena dia menjadi orang yang egois dan tidak memikirkan orang lain tetapi hanya diri sendiri. Pada saat Jayanegara dijadikan Raja, ia masih berada di usia yang sangat muda. Jayanegara belum cukup tua untuk mengetahui caranya untuk mengelola satu negara. Ditambahkan kebiasaan buruk yang dia miliki, caranya mengatur suatu negara bukanlah taktik yang baik dan benar untuk kerajaan.
Sejak Jayanegara menjadi Raja Majapahit, terjadi banyak pemberontakan yang berdampak besar kepada kerajaan. Jayanegara itu tidak murni dari Jawa, maka dari itu beberapa orang menolaknya sebagai raja karena dia tidak pantas. Jayanegara itu memiliki campuran Jawa-Melayu, Jawa yang dia dapatkan dari Raden Wijaya dan Melayu dari Dara Petak. Salah satu kejadian pemberontakan yang paling bahaya adalah pemberontakan Kuti, karena dia menginginkan kuasa kerajaan. Akhirnya Jayanegara diculik oleh Kuti dan pasukannya, tetapi Gajah Mada menyelamatkannya. Gajah Mada adalah pemimpin pasukan pada saat itu, tetapi akhirnya dinaikan jabatannya oleh Jayanegara karena dia sudah membuktikan bahwa dia setia untuk melindungi atasannya.
Gayatri mengamati Gajah Mada dari awal dan dia memiliki firasat bahwa dia akan menjadi pemimpin yang bagus untuk kerajaan. Saat Gajah Mada dinaikkan jabatannya oleh Jayanegara, Gayatri menjadi lebih sering berbincang dengan Gajah Mada bahkan dia menawarkan diri untuk menjadi gurunya. Gayatri mengajarkan berbagai hal kepada Gajah Mada, seperti politik yang terjadi dalam kerajaan. Gayatri menasehati Gajah Mada untuk berhati-hati dengan di mana dia menepati kesetiaannya, karena dapat membahayakan situasi jika dia membantu orang yang salah. Gajah Mada itu mampu untuk melakukan hal-hal yang besar, maka dari itu dia harus bisa memiliki kebijakan saat menepatkan kesetiaannya kepada seseorang. Gayatri dan Gajah Mada menjadi dekat dan lebih sering berdiskusi bersama mengenai keadaan kerajaan.
Suatu hari Jayanegara datang ke Gayatri dan menyatakan bahwa dia ingin menikahi kedua putri tirinya, yaitu Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi. Jayanegara ingin menikahkan kedua adik-adiknya karena dia takut akan bersaing dengan adik iparnya untuk menjadi raja kerajaan Majapahit. Gayatri tidak menerima usulannya karena dia ingin Majapahit untuk dipimpin oleh sosok yang bijak dan tabah, tidak seperti Jayanegara yang ceroboh dan egois.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 5 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

15974805Dear diary,
Pada selasa malam ini aku melanjutkan buku Gayatri dan semakin banyak membaca aku menjadi lebih mengenali karakteristik sang Ratu. Gayatri adalah wanita yang mengagumkan karena wataknya yang luar biasa. Secara keseluruhan Gayatri memiliki cara pemikiran yang strategis, maka dari itu dia selalu merencanakan hal-hal yang dia lakukan yang membantu dia untuk meraih tujuan yang dia inginkan. Kebiasaan seperti itu menjadi hal yang penting dalam mengelola kerajaan, karena sebagai Ratu dan pemimpin suatu kerajaan Gayatri harus bisa menciptakan kondisi yang ideal untuk seluruh masyarakat agar komunitas berjalan dengan baik. Setidaknya dia bisa merencanakan aksi-aksi yang harus dilakukan, maka dari itu akan lebih mudah untuk mengelola kerajaannya karena dia memiliki bakat dalam mengorganisasi. Dia mendapatkan wataknya dari ayahnya sang Raja Kertanegara tetapi sayangnya meninggal karena serangan pasukan Mongol.
Dalam bab ini diketahui bahwa Gayatri sudah mempunyai dua putri bersama Wijaya. Namanya kedua putrinya adalah Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi. Gayatri dan Wijaya memiliki caranya sendiri untuk menghabiskan waktu dengan kedua anaknya. Wijaya itu lebih atletis, maka dari itu dia dan kedua putrinya hobinya adalah untuk berkuda. Sedangkan Gayatri lebih suka mengajar kedua anaknya, karena dia ingin Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi untuk lebih mengenali dunia kesenian dan spiritual. Gayatri adalah orangtua yang menginginkan kedua anaknya untuk mendapat pendidikan yang berkualitas, maka dari itu dia memutuskan untuk mengajari topik-topik yang dia senang untuk didiskusikan bersama dengan kedua putrinya. Seperti ayahnya, Raja Kertanegara, Gayatri menyukai topik-topik yang kontroversial karena dia suka mempelajari hal-hal baru. Rasa ingin tahunya Gayatri itu sifat yang berjalan dalam keluarga.
Gayatri mengajarkan Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi tentang kisah Panji dan ternyata mereka juga lebih menyukai cerita lokal daripada Ramayana dan Mahabharata. Gayatri dan kedua putrinya menikmati cerita Panji dan itu menjadi hal yang mereka diskusikan bersama-sama.

Wijaya mempunyai anak lelaki dengan Dara Petak dan namanya Kalagemet yang berarti “lawan yang ringkih” mereka memanggilnya itu karena kepribadiannya yang buruk. Saat Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi lebih muda, mereka pernah diajak oleh pengasuhnya untuk bermain dengan Kalagemet. Dara Petak dan Kalagemet tinggal di sayap istana yang lebih jauh, maka dari itu putri-putri Gayatri dan Wijaya jarang melihatnya. Namun pada saat itu pengasuhnya mengajak Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi untuk bertemu dengan Kalagemet, tetapi sayangnya tingkah lakunya Kalagemet membuat Gayatri kecewa. Gayatri menemukan Tribhuwana dengan hidung berdarah karena dia melindungi adeknya dari Kalagemet. Kalagemet pernah melukai hewan piaraannya salah satu putrinya Gayatri dan dia juga pernah memaksa Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi untuk menciumnya. Segala hal itu membuat Gayatri kecewa dan dia memutuskan untuk tidak mengijinkan Tribhuwana dan Wiyah Rajawedi untuk bermain dengan Kalagemet lagi.

Kalagemet itu satu-satunya anak lelaki yang dimiliki oleh Raden Wijaya, maka dari itu dia otomatis akan menjadi Raja Majapahit. Gayatri khawatir dengan keberadaan kerajaannya di tangannya Kalagemet, karena menurut Gayatri dia tidak pantas untuk menjadi seorang raja. Gayatri mengandalkan kedua putrinya untuk menjadi Ratu-ratu kerajaan Majapahit, karena ia tidak bisa mempercayai Kalagemet untuk mengelola kerajaan yang telah dia bangun susah payah. Gayatri merasa bahwa Kalagemet tidak akan bertanggung jawab atas aksi-aksinya dan itu akan mencerminkan citra kerajaan Majapahit. Pada awalnya Gayatri memang khawatir nasibnya Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi karena mereka akan menjadi pemimpin kerajaan Majapahit, tetapi Wijaya memastikan kepada Gayatri bahwa kedua putrinya akan berpasangan dengan pria yang pantas untuk mengelola kerajaan karena mereka memiliki penampilan ayahnya dan kecerdasan ibunya.

Gayatri menuduh ibunya Kalagemet, yaitu Dara Petak untuk sifat-sifat anaknya. Seharusnya Dara Petak bisa mengasuh anaknya dengan baik dan membimbingnya untuk menjadi orang yang ramah dan sopan, bukan sebaliknya. Dara Petak memang memiliki watak yang menyebalkan, maka dari itu anaknya menjadi terpengaruh oleh kelakuan ibunya. Dara Petak dan Gayatri menjadi bermusuhan karena mereka saling tidak menyukai sesama. Dara Petak saking sebalnya dengan Gayatri, dia memulai menyebarkan gosip bahwa Gayatri itu hanya “pelacur kuil” dan “putri gadungan” padahal sudah jelas bahwa dia itu anaknya Raja Kertanegara dan dia memang turun temurun keluarganya. Sayangnya orangtuanya Gayatri sudah meninggal karena serangan tersebut, maka dari itu mereka tidak bisa membuktikan bahwa gosip-gosip tersebut itu tidak benar. Gayatri mengambil keputusan untuk mengabaikan rumor-rumor tersebut karena dia tahu lebih baik daripada untuk melawan Dara Petak dan menyebabkan lebih banyak masalah. Akhirnya Dara Petak meninggal karena dia kena penyakit mual dan demam yang pada saat itu menyerang tubuhnya. Wijaya dan Gayatri memutuskan agar Tribhuwana, kakaknya yang pertama, untuk mengurus Kalagemet agar ia dibentuk menjadi seseorang yang mampu memimpin satu negara. Gayatri percaya bahwa Tribhuwana akan merawat Kalagemet dengan baik, karena memang dia dari dulu ingin mempunyai anak tetapi tidak bisa karena permasalahan mengenai kesehatan. Dalam tangannya Tribhuwana Gayatri percaya bahwa Kalagemet akan menjadi orang yang lebih baik dan cerdas.

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 5 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

13633367

Minggu ini, aku mulai membaca bagian kelima dari buku ini. Disini diceritakan bahwa Akuwu Tunggul sangat menikmati bulan madunya hingga melupakan tugas utamanya; mengurusi wilayah kekuasaannya. Perampokan, pencurian, dan kejahatan-kejahatan lainnya semakin merajalela. Sebenarnya, ia tidak terlalu peduli kalau hal ini menimpa rakyatnya. Akan tetapi, hal yang membuatnya kesal lagi adalah mereka juga mengambil hartanya dari prajurit-prajuritnya yang sedang membawa harta benda miliknya seperti emas, perak, ternak terbaik dikerajaan tersebut, dan hal lainnya. Karena ia sangat mencinta hal-hal yang berbau duniawi, tentu ini membuatnya sangat resah.
Nama-nama perampok yang sering mengambil habis hartanya Akuwu Tunggul adalah Temu, Tanca, Hayam, Borang, Arih-Arih, dan Santing. Tetapi, mereka bukan seperti perampok pada biasanya. Mereka seperti menargetkan harta Tunggul Ametung. Mereka seakan-akan tahu banyak hal seperti kelemahan prajurit-prajurit Tumapel, waktu pemberangkatan kereta yang membawa benda-benda berharga miliki Tunggu Ametung yang membawanya dari Tumapel ke Kediri, bahkan jumlah prajurit yang akan mengantarnya. Apakah mereka bersekutu? Jikapun itu masalahnya, mengapa mereka bekerja secara terpisah-pisah? Beberapa dari mereka beroperasi ditengah hutan, ada yang di pedesaan, bahkan ada yang menyerang di kutharaja Tumapel.

Perampokan pun terus-menerus terjadi dan hal ini membuat Akuwu Tunggul resah. Bukan hanya Akuwu Tunggul yang merasa resah, para saudagar yang sering melakukan perjalanan dalam rute yang sama pun merasakan efek dari maraknya perampokan-perampokan ini dan mereka pun tidak dapat melakukan apapun, bahkan mencoba melawan perampok-perampok tersebut akan memberikan mereka masalah yang lebih besar lagi.

Pada saat inilah, kita dan penduduk di Tumapel dapat melihat dan merasakan keamanan di Negeri Tumapel sudah didekat jurang. Bahkan orang-orang yang tidak menjadi target perampok-perampok tersebut merasa takut dan gelisah dan hal ini membuat mereka menjadi takut untuk keluar rumah.

Tetapi, hal ini memang ada untungnya, apalagi bagi fakir miskin di negeri Tumapeng. Tidak jarang hasil harta yang diperoleh oleh perampok-perampok ini diberikan kepada mereka, walaupun hanya sebagian kecil; ini tetap membantu mereka.

Hal ini membuat Akuwu Tunggul menjadi geram dan marah. Ia sudah meminta prajurt-prajuritnya untuk melawan perampok-perampok tersebut tetapi mereka selalu gagal. Ini membuat Akuwu Tunggul menjadi ingin untuk turun tangan dan melawan perampok-perampok tersebut secara langsung. Tetapi hal ini tidak dapat ia lakukan karena setelah ia berfikir begitu, salah satu penasihat negeri Tumapel berkata bahwa ini adalah hal tidak aman untuk ia lakukan dan ia pun percaya.

Semakin hari, berita ini semakin meluas dan sampai ke telinga Sri Kertajaya Raja Kediri. Iapun meminta Akuwu Tunggul untuk menemuinya di Kediri. Hal ini menambahkan keresahan yang Akuwu Tunggul sedang alami. Bukan hanya ini yang membuatnya resah, jika ia pergi untuk menemui Kanjeng Gusti Prabu di Kediri, ini berarti ia harus meninggalkan istrinya yang cantik yang bernama Ken Dedes tersebut selama beberapa hari. Padahal, bulan madunya belum sampai sebulan.

Ia percaya suatu kaidah orang Jawa yang berbunyi: witing trisna jalaran saka kulina! Jika ia berusaha mati-matian memerhatikan, menyayangi, dan menuruti semua keinginan permainsurinya, lama-kelamaan pasti ia akan luluh dan memberikan cinta yang sama besarnya. Ia sangat yakin suatu hari ia akan mendapatkan cinta tersebut dari Ken Dedes, walaupun hal ini membutuhkan waktu.

Di bagian ini, Ken Dedes masih seperti di bagian sebelumnya; murung dan tidak ada kebahagiaan sedikitpun terpancar darinya. Ia masih ditemani oleh Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang, keduanya pun mencoba untuk membuat Ken Dedes bahagia. Mereka menganggap bahwa ia lama-kelamaan ia pasti akan senang dan mengatakan banyak perempuan yang merasa sepertinya dengan suami yang dipilih orang tuanya, bahkan membandingkan pengalaman pribadi mereka. Ken Dedes pun tidak setuju, mengatakan bahwa kasus mereka dengan yang ia sedang alami berbeda. Ia tidak mendapatkan restu apapun dari ayahnya. Bukan hanya tidak direstui, beliau pun tidak menghadiri pernikahan anak semata wayangnya itu.

Disini, Ken Dedes terlihat memiliki pendirian yang kuat, walaupun orang-orang disekitarnya berkata lain. Ia tetap mengikuti apa yang menurutnya benar, walaupun orang lain menganggap hal sebaliknya. Padahal orang lain menganggap ia adalah wanita paling beruntung diseluruh negeri Tumapel tetapi hal ini tidak benar baginya. Menurut aku, ini adalah hal yang patut dicontoh oleh semua orang karena hal-hal seperti memang penting kita pegang erat, apalagi di era dimana kita sangat mudah dibrainwash dan diprovokasi oleh media-media.

Kedua dhayang itupun akhirnya mengerti apa yang selama ini Ken Dedes yang malang itu rasakan. Ken Dedes pun bercerita bahwa pernikahan ini semu dan ia diculik oleh Akuwu Tunggul dan mereka pun kaget. Mau siapapun kamu, hal seperti ini adalah perbuatan yang sangat keji. Keinginan mereka untuk memberitahu Ken Dedes mengenai perburuan sang Akuwu Tunggul terhadap gadis-gadis cantik di daerah kekuasaannya hanya untuk memuaskan nafsunya. Tetapi, mereka menutup mulut karena dari kejauhan, mereka melihat tuan mereka ke arah sini, dengan tampang seperti ada masalah.
Sesampainya sang Akuwu disana, kedua dhayang pergi, meninggalkan pasangan itu sendirian. Karena Akuwu Tunggul sangat keras kepala, ia masih mencoba untuk memenangkan hati Ken Dedes (yang akhirnya gagal, seperti biasanya). Tetapi, Ken Dedes menjadi berfikir, mengapa orang seperti Akuwu Tunggul memilih gadis desa seperti dirinya? Sedangkan Akuwu Tunggul masih berat hati untuk mengatakan bahwa ia harus meninggalkan permaisuri tercintanya tersebut. Setelah ia akhirnya mengatakan apa yang harus ia katakan, ia mencium kening istrinya dan membelai-belai rambut hitamnya lalu pergi.

Disaat Akuwu Tunggul akhirnya bertemu dengan Sri Kertajaya, dimana ia dimarahi karena lalai melakukan tugasnya dan ia harusnya tetap fokus walaupun ia sedang bulan madu. Tentu Akuwu Tunggul merasa malu tetapi disaat ia mengingat permaisurinya, ia kembali semangat dan ingin menjadi pahlawan bagi istrinya. Disaat ia kembali ke Tumapel, ia mulai merencakan apa yang akan ia lakukan untuk menghilangkan perampok-perampok ini dari daerah kekuasaannya.