Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 5 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

13633367

Minggu ini, aku mulai membaca bagian kelima dari buku ini. Disini diceritakan bahwa Akuwu Tunggul sangat menikmati bulan madunya hingga melupakan tugas utamanya; mengurusi wilayah kekuasaannya. Perampokan, pencurian, dan kejahatan-kejahatan lainnya semakin merajalela. Sebenarnya, ia tidak terlalu peduli kalau hal ini menimpa rakyatnya. Akan tetapi, hal yang membuatnya kesal lagi adalah mereka juga mengambil hartanya dari prajurit-prajuritnya yang sedang membawa harta benda miliknya seperti emas, perak, ternak terbaik dikerajaan tersebut, dan hal lainnya. Karena ia sangat mencinta hal-hal yang berbau duniawi, tentu ini membuatnya sangat resah.
Nama-nama perampok yang sering mengambil habis hartanya Akuwu Tunggul adalah Temu, Tanca, Hayam, Borang, Arih-Arih, dan Santing. Tetapi, mereka bukan seperti perampok pada biasanya. Mereka seperti menargetkan harta Tunggul Ametung. Mereka seakan-akan tahu banyak hal seperti kelemahan prajurit-prajurit Tumapel, waktu pemberangkatan kereta yang membawa benda-benda berharga miliki Tunggu Ametung yang membawanya dari Tumapel ke Kediri, bahkan jumlah prajurit yang akan mengantarnya. Apakah mereka bersekutu? Jikapun itu masalahnya, mengapa mereka bekerja secara terpisah-pisah? Beberapa dari mereka beroperasi ditengah hutan, ada yang di pedesaan, bahkan ada yang menyerang di kutharaja Tumapel.

Perampokan pun terus-menerus terjadi dan hal ini membuat Akuwu Tunggul resah. Bukan hanya Akuwu Tunggul yang merasa resah, para saudagar yang sering melakukan perjalanan dalam rute yang sama pun merasakan efek dari maraknya perampokan-perampokan ini dan mereka pun tidak dapat melakukan apapun, bahkan mencoba melawan perampok-perampok tersebut akan memberikan mereka masalah yang lebih besar lagi.

Pada saat inilah, kita dan penduduk di Tumapel dapat melihat dan merasakan keamanan di Negeri Tumapel sudah didekat jurang. Bahkan orang-orang yang tidak menjadi target perampok-perampok tersebut merasa takut dan gelisah dan hal ini membuat mereka menjadi takut untuk keluar rumah.

Tetapi, hal ini memang ada untungnya, apalagi bagi fakir miskin di negeri Tumapeng. Tidak jarang hasil harta yang diperoleh oleh perampok-perampok ini diberikan kepada mereka, walaupun hanya sebagian kecil; ini tetap membantu mereka.

Hal ini membuat Akuwu Tunggul menjadi geram dan marah. Ia sudah meminta prajurt-prajuritnya untuk melawan perampok-perampok tersebut tetapi mereka selalu gagal. Ini membuat Akuwu Tunggul menjadi ingin untuk turun tangan dan melawan perampok-perampok tersebut secara langsung. Tetapi hal ini tidak dapat ia lakukan karena setelah ia berfikir begitu, salah satu penasihat negeri Tumapel berkata bahwa ini adalah hal tidak aman untuk ia lakukan dan ia pun percaya.

Semakin hari, berita ini semakin meluas dan sampai ke telinga Sri Kertajaya Raja Kediri. Iapun meminta Akuwu Tunggul untuk menemuinya di Kediri. Hal ini menambahkan keresahan yang Akuwu Tunggul sedang alami. Bukan hanya ini yang membuatnya resah, jika ia pergi untuk menemui Kanjeng Gusti Prabu di Kediri, ini berarti ia harus meninggalkan istrinya yang cantik yang bernama Ken Dedes tersebut selama beberapa hari. Padahal, bulan madunya belum sampai sebulan.

Ia percaya suatu kaidah orang Jawa yang berbunyi: witing trisna jalaran saka kulina! Jika ia berusaha mati-matian memerhatikan, menyayangi, dan menuruti semua keinginan permainsurinya, lama-kelamaan pasti ia akan luluh dan memberikan cinta yang sama besarnya. Ia sangat yakin suatu hari ia akan mendapatkan cinta tersebut dari Ken Dedes, walaupun hal ini membutuhkan waktu.

Di bagian ini, Ken Dedes masih seperti di bagian sebelumnya; murung dan tidak ada kebahagiaan sedikitpun terpancar darinya. Ia masih ditemani oleh Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang, keduanya pun mencoba untuk membuat Ken Dedes bahagia. Mereka menganggap bahwa ia lama-kelamaan ia pasti akan senang dan mengatakan banyak perempuan yang merasa sepertinya dengan suami yang dipilih orang tuanya, bahkan membandingkan pengalaman pribadi mereka. Ken Dedes pun tidak setuju, mengatakan bahwa kasus mereka dengan yang ia sedang alami berbeda. Ia tidak mendapatkan restu apapun dari ayahnya. Bukan hanya tidak direstui, beliau pun tidak menghadiri pernikahan anak semata wayangnya itu.

Disini, Ken Dedes terlihat memiliki pendirian yang kuat, walaupun orang-orang disekitarnya berkata lain. Ia tetap mengikuti apa yang menurutnya benar, walaupun orang lain menganggap hal sebaliknya. Padahal orang lain menganggap ia adalah wanita paling beruntung diseluruh negeri Tumapel tetapi hal ini tidak benar baginya. Menurut aku, ini adalah hal yang patut dicontoh oleh semua orang karena hal-hal seperti memang penting kita pegang erat, apalagi di era dimana kita sangat mudah dibrainwash dan diprovokasi oleh media-media.

Kedua dhayang itupun akhirnya mengerti apa yang selama ini Ken Dedes yang malang itu rasakan. Ken Dedes pun bercerita bahwa pernikahan ini semu dan ia diculik oleh Akuwu Tunggul dan mereka pun kaget. Mau siapapun kamu, hal seperti ini adalah perbuatan yang sangat keji. Keinginan mereka untuk memberitahu Ken Dedes mengenai perburuan sang Akuwu Tunggul terhadap gadis-gadis cantik di daerah kekuasaannya hanya untuk memuaskan nafsunya. Tetapi, mereka menutup mulut karena dari kejauhan, mereka melihat tuan mereka ke arah sini, dengan tampang seperti ada masalah.
Sesampainya sang Akuwu disana, kedua dhayang pergi, meninggalkan pasangan itu sendirian. Karena Akuwu Tunggul sangat keras kepala, ia masih mencoba untuk memenangkan hati Ken Dedes (yang akhirnya gagal, seperti biasanya). Tetapi, Ken Dedes menjadi berfikir, mengapa orang seperti Akuwu Tunggul memilih gadis desa seperti dirinya? Sedangkan Akuwu Tunggul masih berat hati untuk mengatakan bahwa ia harus meninggalkan permaisuri tercintanya tersebut. Setelah ia akhirnya mengatakan apa yang harus ia katakan, ia mencium kening istrinya dan membelai-belai rambut hitamnya lalu pergi.

Disaat Akuwu Tunggul akhirnya bertemu dengan Sri Kertajaya, dimana ia dimarahi karena lalai melakukan tugasnya dan ia harusnya tetap fokus walaupun ia sedang bulan madu. Tentu Akuwu Tunggul merasa malu tetapi disaat ia mengingat permaisurinya, ia kembali semangat dan ingin menjadi pahlawan bagi istrinya. Disaat ia kembali ke Tumapel, ia mulai merencakan apa yang akan ia lakukan untuk menghilangkan perampok-perampok ini dari daerah kekuasaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s