Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 6 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

Raden-Wijaya

Dear diary,
Pada malam Selasa ini aku melanjutkan investigasi tentang Gayatri Rajapatni. Saat aku melakukan research ternyata mencari artikel mengenai Gayatri itu sulit untuk ditemukan, karena memang dia tidak seterkenal Raja Wijaya, Hayam Wuruk, atau Gajah Mada. Jumlah artikel mengenai Gayatri Rajapatni itu tidak terlalu banyak, berhubungan statusnya Wijaya itu lebih tinggi daripada Gayatri. Padahal Gayatri itu melakukan sebanyak yang dilaksanakan oleh Raja Wijaya, tetapi dia tidak dikenali oleh banyak orang. Dampak yang diberikan oleh Gayatri ke kerajaan Majapahit itu sama besarnya dengan Wijaya, tetapi hanya beberapa yang menyadari bahwa Gayatri itu peran yang penting juga di balik Kerajaan yang melimpah.
Kalau diperhatikan sebenarnya ada banyak patung-patung Gayatri di beberapa candi, karena dia menjadi sosok yang terkenal di dunia seni. Pada masanya Gayatri ia sangat menyukai teater, seperti yang aku sebutkan di catatan yang sebelumnya. Gayatri juga mendalami bagian spiritualnya, karena dia memiliki kepercayaan yang kuat. Menurut aku, Gayatri menjadi sosok yang hebat dalam Kerajaan Majapahit karena dia memiliki nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-harinya. Gayatri menggunakan nilai-nilainya sebagai pembimbing untuk mengarahkan dia untuk menjadi orang yang baik. Gayatri bertahan pada nilai-nilainya karena dia tahu bahwa itulah kriteria yang harus dia ikuti untuk menjadi dampak yang baik untuk kerajaannya.
Dalam bab ke enam dalam cerita Gayatri Rajapatni, kisahnya mulai dari kematian Raja Wijaya. Wijaya meninggal pada umur yang cukup muda, yaitu sekitar empat puluhan. Seluruh masyarakat sedih saat mendengar berita buruk tersebut, karena Wijaya sudah menjadi Raja yang ideal untuk Kerajaan Majapahit. Masyarakat menghormati Wijaya karena dia membuktikan bahwa dia adalah Raja yang luar biasa. Menurut Gayatri, Wijaya adalah contoh pemimpin yang ideal, karena dia peduli kepada masyarakat dan dia pun bisa memilih keputusan yang bijak dengan memiliki Gayatri sebagai pendampingnya. Meninggalnya Raja Wijaya itu menyedihkan untuk seluruh kerajaan Majapahit, karena semua orang bahagia saat dia menjadi pemimpin Majapahit.
Gayatri menangani kematian Wijaya dengan berani, karena dia tahu bahwa masyarakat membutuhkan dia untuk tetap tabah melalui segala hal yang sudah dilewati seluruh kerajaan. Pastinya Gayatri membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri untuk merenungkan suaminya yang telah meninggal. Pada saat sedih ini Gayatri berdiri lagi dan memastikan bahwa Kerajaan Majapahit itu memiliki pemimpin yang baru untuk mengarahkan masyarakat dengan bijak.
Satu-satunya keturunan Wijaya yang lelaki itu Kalagemet atau sekarang dipanggil Jayanegara. Gayatri sudah tahu dari awal bahwa Jayanegara bukanlah orang yang tepat untuk menggantikan Wijaya sebagai Raja. Jayanegara tidak dididik dengan benar oleh ibunya, yaitu Dara Petak. Dara Petak itu membiasakan Jayanegara untuk menjadi anak yang manja, maka dari itu anaknya menjadi jenis orang yang melakukan apa saja yang ia inginkan. Kebiasaannya Jayanegara itu berdampak buruk untuknya karena dia menjadi orang yang egois dan tidak memikirkan orang lain tetapi hanya diri sendiri. Pada saat Jayanegara dijadikan Raja, ia masih berada di usia yang sangat muda. Jayanegara belum cukup tua untuk mengetahui caranya untuk mengelola satu negara. Ditambahkan kebiasaan buruk yang dia miliki, caranya mengatur suatu negara bukanlah taktik yang baik dan benar untuk kerajaan.
Sejak Jayanegara menjadi Raja Majapahit, terjadi banyak pemberontakan yang berdampak besar kepada kerajaan. Jayanegara itu tidak murni dari Jawa, maka dari itu beberapa orang menolaknya sebagai raja karena dia tidak pantas. Jayanegara itu memiliki campuran Jawa-Melayu, Jawa yang dia dapatkan dari Raden Wijaya dan Melayu dari Dara Petak. Salah satu kejadian pemberontakan yang paling bahaya adalah pemberontakan Kuti, karena dia menginginkan kuasa kerajaan. Akhirnya Jayanegara diculik oleh Kuti dan pasukannya, tetapi Gajah Mada menyelamatkannya. Gajah Mada adalah pemimpin pasukan pada saat itu, tetapi akhirnya dinaikan jabatannya oleh Jayanegara karena dia sudah membuktikan bahwa dia setia untuk melindungi atasannya.
Gayatri mengamati Gajah Mada dari awal dan dia memiliki firasat bahwa dia akan menjadi pemimpin yang bagus untuk kerajaan. Saat Gajah Mada dinaikkan jabatannya oleh Jayanegara, Gayatri menjadi lebih sering berbincang dengan Gajah Mada bahkan dia menawarkan diri untuk menjadi gurunya. Gayatri mengajarkan berbagai hal kepada Gajah Mada, seperti politik yang terjadi dalam kerajaan. Gayatri menasehati Gajah Mada untuk berhati-hati dengan di mana dia menepati kesetiaannya, karena dapat membahayakan situasi jika dia membantu orang yang salah. Gajah Mada itu mampu untuk melakukan hal-hal yang besar, maka dari itu dia harus bisa memiliki kebijakan saat menepatkan kesetiaannya kepada seseorang. Gayatri dan Gajah Mada menjadi dekat dan lebih sering berdiskusi bersama mengenai keadaan kerajaan.
Suatu hari Jayanegara datang ke Gayatri dan menyatakan bahwa dia ingin menikahi kedua putri tirinya, yaitu Tribhuwana dan Wiyah Rajadewi. Jayanegara ingin menikahkan kedua adik-adiknya karena dia takut akan bersaing dengan adik iparnya untuk menjadi raja kerajaan Majapahit. Gayatri tidak menerima usulannya karena dia ingin Majapahit untuk dipimpin oleh sosok yang bijak dan tabah, tidak seperti Jayanegara yang ceroboh dan egois.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s