“Dunia Telah Lupa Akan Arti Pengaruh (Dampak) Kemenangan Majapahit Atas Kublai Khan”

Artikel Kediri Bertutur

image-6

Tewasnya Kublai Khan (Mongol) di Jawa bukanlah sebatas kemenangan Majapahit atas “Pasukan Langit – pasukan yang hampir tak terkalahkan di dunia.” Kublai Khan merupakan penguasa keji yang menjadikan dunia penuh pembantaian tanpa belas kasihan, dan dunia bagai kerajaan hewan.

Kekalahan Mongol atas Majapahit berarti “dunia telah terbebas dari masa kegegelapan.” Dan kemenangan Majapahit berarti kemenangan dunia. Dunia kembali berani menatap masa depannya. Eropa dilepaskan dari pembantaian, dan dunia Islam diberikan kemudahan untuk menyingkirkan para penguasa keji Mongol, dan Cina kembali lagi dipimpin penguasa dari anak-anak negeri.

Kemenangan Majapahit atas Kublai Khan (Mongol) berarti terbebasnya dunia dari masa-masa kegelapan. “Sudah seharusnya Dunia berterimakasih pada Majapahit yang berasal dari Jawa.” (Sumber: Majapahit Peradaban Maritim, karya Irawan Djoko Nugroho). Shared By: Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur.

source foto:
http://www.akarnews.com/4802-seri-kejayaan-nusantara-menung…

”Damar Wulan & Minak Djinggo,” Benar Ada Atau Fiksi Belaka.

Artikel Kediri Bertutur

Dari catatan silsilah Raja Majapahit tak mencatat nama “Damar Wulan” didalamnya. Apakah ini bisa diartikan bahwa sebenarnya sosok Damar Wulan hanya fiksi belaka?

Damar Wulan adalah seorang ksatria yang mampu mengalahkan penguasa Blambangan (Minak Djinggo) yang menyerang kerajaan Majapahit. Putri Suhita (Kencana Wungu) adalah alasan di balik kemurkaan Minak Djinggo (Penguasa Blambangan). “Minak Djinggo Nagih Janji.”

ade-soekirno-damarwulan-ils-jan-m-2

Minak Djinggo menuntut yang telah menjadi haknya atas jasa-jasanya yaitu menyelamatkan Kerajaan Majapahit dari serangan musuh. Dan sebagai imbalannya, Minak Djinggo akan dinikahkan dengan Putri Suhita (Kencana Wungu). Namun Putri Suhita (Kencana Wungu) menolak untuk dipersunting Minak Djinggo yang buruk rupa. “Minak Djinggo Menggugat.” Majapahit dianggap ingkar janji.

Puncaknya Minak Djinggo melakukan pemberontakan pada Majapahit. Dan muncullah sosok Damar Wulan, ksatria yang berwajah tampan, penyelamat kerajaan Majapahit dari murka Minak Djinggo. Damar Wulan mampu mengalahkan Minak Djinggo, dan atas jasanya itu Damar Wulan dinikahkan dengan Putri Suhita.

Cerita ini bertahan ratusan tahun hingga sekarang, “Minak Djinggo Nagih Janji, dan Majapahit Ingkar Janji.” Dan jika Damar Wulan dan Minak Djinggo adalah sosok yang sebenarnya tak pernah ada, kenapa ada dan untuk tujuan apa cerita ini dibuat?

ade-s-damarwulan-hal-dlm-1Ade s. - Damarwulan hal dlm 2.jpg

Sedangkan Majapahit merupakan Kerajaan pembaharu di tanah Jawa, dimana ideologi pengaruh Hindu (India) tidaklah mutlak sebagai “kebenaran absolut” yang berdiri sendiri, namun bersanding (selaras) dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalam Cerita Panji (asli Jawa) yang terpahat di candi-candi kerajaan Majapahit.

Lantas, apa peran dan fungsi cerita Damar Wulan vs Minak Djinggo dibuat, dan dikaitkan dengan kerajaan Majapahit yang telah mencapai puncak kebudayaan (peradaban)?

Apakah peran dan fungsi cerita Damar Wulan vs Minak Djinggo dibuat untuk tujuan mencitrakan Majapahit tentang kebenaran yang sebenarnya tak pernah ada – tipu muslihat? (Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur)

source foto:
http://sastrobuku.blogspot.co.id/2012_11_01_archive.html

“Surgo Nunut, Neroko Katut. Benarkah ini falsafah Jawa ataukah falsafah impor yang dijawakan?”

Artikel Kediri Bertutur

1485168876508500838882

Kesejarahan di era kerajaan Majapahit, kebudayaan Jawa pada waktu itu tidak menganut sistem patriarkhi. Ini terbukti di masa Kerajaan Majapahit, bahwa perempuan pernah menduduki tahta kerajaan (Raja) yaitu; Tribuana Wijaya Tungga Dewi dan Suhita.

Dan di dalam cerita Panji sendiri jelas mengandung makna pesan “Kesetaraan Antara Laki Dan Perempuan.” Pesan kesetaraan ini bisa dilihat saat Panji sendirian (tanpa Sekartaji), kisah hidupnya tanpa arah dan tujuan, demikian juga sebaliknya jika Sekartaji tanpa Panji. Setelah penyatuan Panji dan Sekartaji, barulah kehidupan yang selaras (serasi) dapat dicapai.

Jika melihat kesejarahan Majapahit, dan menangkap pesan yang terkandung di dalam cerita Panji , “Surgo Nunut, Neroko Katut” jelas bukan sistem yang ada di dalam kebudayaan Jawa. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

”Melihat Keberadaan Cerita Panji di Relief-Relief Candi Hindu Masa Kerajaan Majapahit”

Artikel Kediri Bertutur

relief-panji-di-candi-penataran2

Di banyak peninggalan bangunan candi-candi kerajaan Majapahit yang bernafas Hindu, kita akan menemukan banyak relief-relief cerita Panji dipahatkan. Di candi-candi peninggalan itu, kita juga menjumpai arca-arca dewa-dewi dalam mitologi Hindu.

Relief cerita Panji yang tidak datang dari India, namun sebuah karya asli Jawa, juga memiliki kedudukan yang sama penting dengan dewa-dewi dalam mitologi Hindu. Mitologi Hindu dan cerita Panji yang bersanding di dalam sebuah bangunan candi Hindu memberikan bukti bahwa Jawa pada saat itu, dibawah Kerajaan Majapahit telah mencapai “peradaban.”

relief-candi-prambanan

”Peradaban” yang dimaksud disini adalah hasil pencapaian yang bersifat kehalusan rasa, budi pekerti, keindahan akan keberagaman, dan rasa seni. Dibawah kekuasan Kerajaan Majapahit, nusantara lama bagai surga (aman, damai, dan tentram) bagi semua suku bangsa di dunia dengan segala perbedaannya. (Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur)

Foto source:
http://www.gonjangganjing.com/tag/prambanan/
https://kediribertutur.com/2015/08/

“Menafsir Bancak – Doyok Figur Kedewaan Jawa Yang Tidak Terpengaruh Dari Kebudayaan India.”

Artikel Kediri Bertutur

Bancak, Doyok dalam cerita Panji dikenal sebagai abdi (pengasuh) Panji Asmorobangun. Personifikasi Bancak-Doyok di relief-relief Panji digambarkan berpenampilan layaknya rakyat biasa. Abdi yang menemani dan mengawal tuannya (Panji Asmorobangun) menempuh pengembaraan di alam bebas (diluar istana). Pengembaraan Panji di luar istana bukanlah sesuatu yang mudah, “Hukum rimba berlaku disana.”

Apakah benar Bancak-Doyok adalah seorang abdi biasa yang tanpa memiliki keilmuan?

Bagaimana mungkin Bancak-Doyok mampu mengemban tugas mengasuh dan mengawal pengembaraan putra mahkota bila tanpa memiliki kesaktian (keilmuan)?

Tentunya Bancak-Doyok bukanlah orang biasa, Bancak -Doyok adalah figur yang memiliki kekuatan (keilmuaan) yang tinggi bak dewa. Mengasuh, membimbing, mengawal serta melindungi pengembaraan Panji Asmorobangun, bangsawan kerajaan bukan perkara mudah, dan tidaklah mungkin orang biasa mampu menjalankan peran yang diemban Bancak-Doyok.

Dalam mitologi Hindu personifikasi kedewaan digambarkan dengan perwujudan yang tidak “riil” seperti manusia. Figur dewa secara umum dalam mitologi Hindu digambarkan mempunyai banyak tangan, dan masing-masing memegang senjata (simbol keilmuan-kesaktian langit).

Sementara itu Bancak- Doyok, figur yang memiliki kekuatan kedewaan digambarkan sebagai rakyat biasa. Bancak-Doyok bukanlah figur kedewaan yang berada di khayangan (langit). Bancak -Doyok figur kedewaan orisinil jawa yang sangat sederhana bersahaja, dan membumi.

Filsafat padi, “semakin tinggi ilmu seseorang justru semakin menunduk.” Inilah ajaran original filsafat Jawa yang tanpa dipengaruhi kebudayaan India. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

Source Foto:
Penari 2 tokoh dari Padukuhan Kembang Sore, Doyok dan Bancak http://www.kompasiana.com/…/kampretjebul3-bangkitnya-wayang…

Relief Panji Gambyok: http://blog.ullensentalu.com/author/admin/

Foto topeng Bancak Doyok: https://www.tokopedia.com/beatourcraft/topeng-bancak-doyok