“Surgo Nunut, Neroko Katut. Benarkah ini falsafah Jawa ataukah falsafah impor yang dijawakan?”

Artikel Kediri Bertutur

1485168876508500838882

Kesejarahan di era kerajaan Majapahit, kebudayaan Jawa pada waktu itu tidak menganut sistem patriarkhi. Ini terbukti di masa Kerajaan Majapahit, bahwa perempuan pernah menduduki tahta kerajaan (Raja) yaitu; Tribuana Wijaya Tungga Dewi dan Suhita.

Dan di dalam cerita Panji sendiri jelas mengandung makna pesan “Kesetaraan Antara Laki Dan Perempuan.” Pesan kesetaraan ini bisa dilihat saat Panji sendirian (tanpa Sekartaji), kisah hidupnya tanpa arah dan tujuan, demikian juga sebaliknya jika Sekartaji tanpa Panji. Setelah penyatuan Panji dan Sekartaji, barulah kehidupan yang selaras (serasi) dapat dicapai.

Jika melihat kesejarahan Majapahit, dan menangkap pesan yang terkandung di dalam cerita Panji , “Surgo Nunut, Neroko Katut” jelas bukan sistem yang ada di dalam kebudayaan Jawa. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s