Tokoh “Dewi Kilisuci” Dalam Cerita Panji Yang Tak Terganti, Meski Di Jaman Ken Dedes, ataupun Gayatri.

Artikel Kediri Bertutur
5-1
Dalam wayang beber Pacitan, cerita Panji “Jaka Kembang Kuning,” dikisahkan Dewi Kilisuci bertindak sebagai pemimpin upacara pernikahan Panji-Sekartaji. Dalam gambar wayang beber Pacitan, adegan pernikahan Panji-Sekartaji dipimpin “acarya” Dewi Kilisuci dengan latar Kerajaan Jenggala-Panjalu (Daha). Pada adegan itu, jelas bahwa Dewi Kilisuci merupakan tokoh sentral yang berada di balik bersatunya Jenggala dan Panjalu (Daha) melalui pernikahan Panji-Sekartaji.
Dalam wayang beber Wonosari-Jogjakarta, lakon Panji “Remeng Mangunjaya,” dikisahkan Prasanta dan Punta (abdi kinasih Panji) menghadap pada Dewi Kilisuci yang bertapa di Gunung Kapucangan. Prasanta dan Punta memberi kabar berita pada Dewi Kilisuci atas kemenangan Panji dalam peperangan melawan Raja Klana Sewandono.
Wayang beber Pacitan dan wayang beber Wonosari-Jogjakarta adalah artefak “arkeologis” (memiliki arti dan nilai penting bagi sejarah kesenian dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan).
Dalam folklor dan karya-karya kesusasteraan yang pernah berkembang pada masa kerajaan di Jawa Timur, dari Mpu Sindok sampai Majapahit, tokoh “Dewi Kili Suci,” selalu ditemukan di lakon-lakon cerita yang berlatar Jenggala dan Panjalu (Doho). Tokoh “Dewi Kilisuci,” adalah tokoh yang dikaitkan dengan Sanggramawijaya Tunggadewi, putri mahkota raja Airlangga. Ini berarti Dewi Kilisuci adalah tokoh yang sejaman dengan Kerajaan Kahuripan sampai kerajaan Jenggala-Daha. “Dewi Kilisuci,” bukan tokoh yang muncul di era kerajaan Kanjuruhan (Raja Simha dan Raja Gajayana), Mpu Sindok, kerajaan Singhasari maupun kerajaan Majapahit.
Banyak pendapat bahwa cerita Panji ada di masa Jenggala-Daha, Singhasari, sampai Majapahit. Lantas kenapa tokoh “Dewi Kilisuci” tetap ada di era Ken Dedes dan Gayatri? Padahal sangat mudah bagi “Ken Dedes” dan “Gayatri” untuk mencatatkan nama mereka dalam sejarah dan menggantikan tokoh “Dewi Kilisuci,” yang berasal bukan pada jaman Singhasari maupun Majapahit. Kenapa dan untuk alasan apakah, Ken Dedes dan Gayatri tetap memberikan kedudukan terhormat bagi tokoh Dewi Kilisuci?
Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s