Tokoh “Dewi Kilisuci” Dalam Cerita Panji Yang Tak Terganti, Meski Di Jaman Ken Dedes, ataupun Gayatri.

Artikel Kediri Bertutur
5-1
Dalam wayang beber Pacitan, cerita Panji “Jaka Kembang Kuning,” dikisahkan Dewi Kilisuci bertindak sebagai pemimpin upacara pernikahan Panji-Sekartaji. Dalam gambar wayang beber Pacitan, adegan pernikahan Panji-Sekartaji dipimpin “acarya” Dewi Kilisuci dengan latar Kerajaan Jenggala-Panjalu (Daha). Pada adegan itu, jelas bahwa Dewi Kilisuci merupakan tokoh sentral yang berada di balik bersatunya Jenggala dan Panjalu (Daha) melalui pernikahan Panji-Sekartaji.
Dalam wayang beber Wonosari-Jogjakarta, lakon Panji “Remeng Mangunjaya,” dikisahkan Prasanta dan Punta (abdi kinasih Panji) menghadap pada Dewi Kilisuci yang bertapa di Gunung Kapucangan. Prasanta dan Punta memberi kabar berita pada Dewi Kilisuci atas kemenangan Panji dalam peperangan melawan Raja Klana Sewandono.
Wayang beber Pacitan dan wayang beber Wonosari-Jogjakarta adalah artefak “arkeologis” (memiliki arti dan nilai penting bagi sejarah kesenian dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan).
Dalam folklor dan karya-karya kesusasteraan yang pernah berkembang pada masa kerajaan di Jawa Timur, dari Mpu Sindok sampai Majapahit, tokoh “Dewi Kili Suci,” selalu ditemukan di lakon-lakon cerita yang berlatar Jenggala dan Panjalu (Doho). Tokoh “Dewi Kilisuci,” adalah tokoh yang dikaitkan dengan Sanggramawijaya Tunggadewi, putri mahkota raja Airlangga. Ini berarti Dewi Kilisuci adalah tokoh yang sejaman dengan Kerajaan Kahuripan sampai kerajaan Jenggala-Daha. “Dewi Kilisuci,” bukan tokoh yang muncul di era kerajaan Kanjuruhan (Raja Simha dan Raja Gajayana), Mpu Sindok, kerajaan Singhasari maupun kerajaan Majapahit.
Banyak pendapat bahwa cerita Panji ada di masa Jenggala-Daha, Singhasari, sampai Majapahit. Lantas kenapa tokoh “Dewi Kilisuci” tetap ada di era Ken Dedes dan Gayatri? Padahal sangat mudah bagi “Ken Dedes” dan “Gayatri” untuk mencatatkan nama mereka dalam sejarah dan menggantikan tokoh “Dewi Kilisuci,” yang berasal bukan pada jaman Singhasari maupun Majapahit. Kenapa dan untuk alasan apakah, Ken Dedes dan Gayatri tetap memberikan kedudukan terhormat bagi tokoh Dewi Kilisuci?
Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur.

Bertanya Pada Film Setan Jawa 2

Artikel Kediri Bertutur

Picture1

Penulisan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan dari Lydia Kieven (peneliti budaya Panji dari Jerman) di FB beliau mengenai tulisan saya; tulisan itu berawal dari artikel-artikel Film Setan Jawa yang saya baca di tulisan ataupun artikel2 di google. Hampir seluruh artikel menuliskan film Setan Jawa “Ritual Kandang Bubrah” merupakan “Mitologi Jawa.”

contoh: http://jogja.antaranews.com/berita/346595/bbdf-setan-jawa-kental-mitologi-jawa

Penyebutan istilah “Mitologi Jawa” di artikel-artikel film Setan Jawa yang ada di google membuat saya berfikir; “Mitologi” merupakan unsur penting yang bersifat suci dalam religi, dan bagaimana bisa “setan dalam ritual kandang bubrah” dianggap bagian dari Mitologi yang bersifat suci atau sakral. Sedangkan setan merupakan simbol kesesatan dan dosa. Seharusnya dalam narasi yang ditulis dalam artikel-artikel di tulisan2 narasi film tidak menyebutkan atau memakai istilah “Mitologi jawa,” namun cukup dengan Setan Jawa, “Ritual Kandang Bubrah.”

Airlangga, raja Jawa di masa Hindu-Buddha, setelah turun tahta, pergi bertapa di lereng gunung penanggungan untuk menempuh jalan hidup suci dengan menjadi Rsi. Airlangga meninggalkan segala urusan duniawi (kekayaan/materi). Dari perjalanan Airlangga yang menganut Mitologi Jawa di masa Hindu-Buddha, menunjukan bahwa kekayaan dan materi bukan segala-galanya, dan bukan menjadi tujuan utama dalam hidup ini.

Cerita Panji merupakan folklor di Jawa yang dianggap suci/sakral-cerita mitos, “Cerita Panji direliefkan di candi.” Cerita Panji juga bersumber pada “Mitologi Jawa” dalam masa Hindu-Buddha. Dalam cerita “Enthit,” Panji putra mahkota kerajaan Jenggala, bangsawan kerajaan yang menjadi seorang “petani.” Dalam cerita ini mengandung nilai pesan bahwa untuk memperoleh kekayaan/harta benda, seseorang harus bekerja,dan bukan bekerjasama dengan setan dengan melakukan ritual pesugihan.

Airlangga dan Cerita Panji, saya tulis sebagai antithesis atas penulisan “Mitologi Jawa” dalam film Setan Jawa “ritual kandang bubrah.” Jalan hidup Airlangga dan Cerita Panji yang bersumber pada Mitologi Jawa di masa Hindu-Buddha tidak ada kaitannya dengan “Mitologi Jawa-film Setan Jawa-ritual kandang bubrah.”

Penulisan “Mitologi Jawa” dalam film Setan Jawa, bisa me-generalisir pemikiran masyarakat tentang mitologi yang bersifat suci diidentikkan dengan setan. “Orang bertapa dan bersemedi di gua dan di gunung untuk melakukan ritual suci, bisa-bisa dianggap bekerjasama dengan setan. Padahal tempat-tempat seperti gunung-gunung, sungai-sungai dalam Mitologi Jawa di masa Hindu-Buddha merupakan tempat-tempat suci, selain di candi-candi. Jadi sebaiknya narasi film itu, seperti yang ditulis dalam artikel-artikel tidak memakai istilah “Mitologi Jawa,” cukup Setan Jawa “ritual kandang bubrah.”

Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur.

“Bertanya Pada Film Setan Jawa.”

Artikel Kediri Bertutur
ColK6jgW8AEb7N3.jpg large

Mitologi merupakan unsur penting dari suatu religi. Mitologi memuat personifikasi lambang dan simbol suci. Sementara itu mitologi dalam cerita (cerita mitos) merupakan cerita-cerita mengenai dunia khayangan dan dewa-dewa yang berhubungan dengan aliran keyakinan dan kepercayaan tertentu.

“Mitologi JAWA” dalam periode masa klasik bersumber pada ajaran Hindu dan Budha. Dalam kebudayaan Hindu, “Trimurti (Shiwa, Wisnu, Brahma),” penyatuan 3 dewa sebagai manifestasi sifat-sifat keTuhanan memiliki kedudukan tertinggi dalam ajaran Hindu. Dan Sidharta Gautama,”Sang Buddha” dalam keyakinan Hindu diyakini sebagai awatara dewa Wisnu. Baik ajaran Hindu ataupun Budha yang berkembang di Jawa dalam menjalankan aktifitas ritual keagamaanya dilakukan di “candi-candi.” Dan adapun ritual-ritual khusus yang dilakukan di luar candi, seperti “Bhairawa” dilakukan di Ksetra (lapangan mayat), yaitu; ritual kesaktian.

Dalam mitologi Jawa “Hindu-Budha,” tidak mengenal istilah ritual “Kandang Bubrah.” Ritual “pesugihan/kekayaan” yang dilakukan di punden-punden “bukan di candi.” Sudah menjadi “jalan hidup” bagi raja-raja Jawa (Hindu-Buddha) ketika turun tahta menjadi Rsi dan tinggal di gunung-gunung, meninggalkan semua keduniawian/harta benda.

Airlangga, salah satu Raja besar Jawa (11 M), memilih menjadi Rsi dan tinggal di sekitar lereng gunung Penanggungan. Dan Situs Jolotundo yang ada di lereng gunung penanggungan menjadi bukti kesejarahan perjalanan Airlangga menjadi Rsi. Panji dalam cerita “Enthit,” folklor yang berkembang di masa kerajaan besar nusantara “Majapahit,” dikisahkan Panji, putra mahkota kerajaan Jenggala yang “bekerja” sebagai petani. Dalam Cerita “Enthit,” mengandung nilai pesan bahwa untuk menjadi kaya dengan cara bekerja dan berusaha, “Bukan Dengan Cara Ritual Pesugihan.”

Film Setan Jawa yang mengangkat “Ritual Pesugihan Kandang Bubrah,” yang diyakini sebagai ”mitologi Jawa,” patut menjadi “pertanyaan.”  Yang dimaksud mitologi Jawa “Pesugihan Kandang Bubrah” ini bersumber pada mitologi Jawa pada periode apa? Jawa dalam masa pra sejarah, Jawa dalam masa kolonial (penjajahan), atau Jawa dalam masa agama yang “bukan” Hindu-Buddha. Yang pasti bukan mitologi Jawa pada masa Hindu-Budha.

Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur. 

Melihat makna gaya rambut pendek Panji Asmorobangun.

Artikel Kediri Bertutur

kkk

Perwujudan arca raja-raja Jawa dan dewa – dewa pada umumnya digambarkan berambut panjang terurai. Dan bila mengamati figur Panji Asmorobangun di relief-relief candi dan arca, figur Panji Asmorobangun digambarkan berambut pendek.

Didalam konteks raja-raja jawa di masa Hindu-Buddha, rambut juga diartikan sebagai mahkota (simbol kebangsawanan). Di masa (Hindu-Buddha), rambut menunjukan status sosial (kasta) seseorang, apakah berasal dari kalangan bangsawan atau rakyat biasa. Dan tentunya rakyat biasa tidak memiliki rambut panjang (simbol mahkota), hanya kaum bangsawan dan brahmana yang berambut panjang.

Penggambaran gaya rambut figur Panji Asmorobangun yang berambut pendek, dan penggambaran raja-raja jawa (Hindu-Buddha), ataupun dewa-dewa yang selalu digambarkan berambut panjang, perbedaan ini menunjukan adanya/terjadinya pergeseran nilai.

Pastinya ada pesan nilai yang terkandung di dalam penggambaran figur Panji Asmorobangun yang bergaya rambut pendek, yang identik dengan rakyat biasa. Panji Asmorobangun adalah bangsawan kerajaan jawa (Hindu-Buddha) yang bermahkotakan simbol rakyat (berambut pendek).

“Figur Panji merupakan gambaran bangsawan (raja-raja) Kerajaan Majapahit yang membaur dan menyatu dengan rakyatnya. Bukan bangsawan (raja) yang hanya duduk di atas singgasana kerajaan dengan keagungannya, seperti kaisar Cina, Jepang yang sangat Eksklusif (Sakral). Jangankan untuk bertemu dan bertatap muka, memandang dan melihat seorang kaisar saja, rakyat biasa sudah dianggap bersalah.” (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

“Dunia Telah Lupa Akan Arti Pengaruh (Dampak) Kemenangan Majapahit Atas Kublai Khan”

Artikel Kediri Bertutur

image-6

Tewasnya Kublai Khan (Mongol) di Jawa bukanlah sebatas kemenangan Majapahit atas “Pasukan Langit – pasukan yang hampir tak terkalahkan di dunia.” Kublai Khan merupakan penguasa keji yang menjadikan dunia penuh pembantaian tanpa belas kasihan, dan dunia bagai kerajaan hewan.

Kekalahan Mongol atas Majapahit berarti “dunia telah terbebas dari masa kegegelapan.” Dan kemenangan Majapahit berarti kemenangan dunia. Dunia kembali berani menatap masa depannya. Eropa dilepaskan dari pembantaian, dan dunia Islam diberikan kemudahan untuk menyingkirkan para penguasa keji Mongol, dan Cina kembali lagi dipimpin penguasa dari anak-anak negeri.

Kemenangan Majapahit atas Kublai Khan (Mongol) berarti terbebasnya dunia dari masa-masa kegelapan. “Sudah seharusnya Dunia berterimakasih pada Majapahit yang berasal dari Jawa.” (Sumber: Majapahit Peradaban Maritim, karya Irawan Djoko Nugroho). Shared By: Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur.

source foto:
http://www.akarnews.com/4802-seri-kejayaan-nusantara-menung…

”Damar Wulan & Minak Djinggo,” Benar Ada Atau Fiksi Belaka.

Artikel Kediri Bertutur

Dari catatan silsilah Raja Majapahit tak mencatat nama “Damar Wulan” didalamnya. Apakah ini bisa diartikan bahwa sebenarnya sosok Damar Wulan hanya fiksi belaka?

Damar Wulan adalah seorang ksatria yang mampu mengalahkan penguasa Blambangan (Minak Djinggo) yang menyerang kerajaan Majapahit. Putri Suhita (Kencana Wungu) adalah alasan di balik kemurkaan Minak Djinggo (Penguasa Blambangan). “Minak Djinggo Nagih Janji.”

ade-soekirno-damarwulan-ils-jan-m-2

Minak Djinggo menuntut yang telah menjadi haknya atas jasa-jasanya yaitu menyelamatkan Kerajaan Majapahit dari serangan musuh. Dan sebagai imbalannya, Minak Djinggo akan dinikahkan dengan Putri Suhita (Kencana Wungu). Namun Putri Suhita (Kencana Wungu) menolak untuk dipersunting Minak Djinggo yang buruk rupa. “Minak Djinggo Menggugat.” Majapahit dianggap ingkar janji.

Puncaknya Minak Djinggo melakukan pemberontakan pada Majapahit. Dan muncullah sosok Damar Wulan, ksatria yang berwajah tampan, penyelamat kerajaan Majapahit dari murka Minak Djinggo. Damar Wulan mampu mengalahkan Minak Djinggo, dan atas jasanya itu Damar Wulan dinikahkan dengan Putri Suhita.

Cerita ini bertahan ratusan tahun hingga sekarang, “Minak Djinggo Nagih Janji, dan Majapahit Ingkar Janji.” Dan jika Damar Wulan dan Minak Djinggo adalah sosok yang sebenarnya tak pernah ada, kenapa ada dan untuk tujuan apa cerita ini dibuat?

ade-s-damarwulan-hal-dlm-1Ade s. - Damarwulan hal dlm 2.jpg

Sedangkan Majapahit merupakan Kerajaan pembaharu di tanah Jawa, dimana ideologi pengaruh Hindu (India) tidaklah mutlak sebagai “kebenaran absolut” yang berdiri sendiri, namun bersanding (selaras) dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalam Cerita Panji (asli Jawa) yang terpahat di candi-candi kerajaan Majapahit.

Lantas, apa peran dan fungsi cerita Damar Wulan vs Minak Djinggo dibuat, dan dikaitkan dengan kerajaan Majapahit yang telah mencapai puncak kebudayaan (peradaban)?

Apakah peran dan fungsi cerita Damar Wulan vs Minak Djinggo dibuat untuk tujuan mencitrakan Majapahit tentang kebenaran yang sebenarnya tak pernah ada – tipu muslihat? (Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur)

source foto:
http://sastrobuku.blogspot.co.id/2012_11_01_archive.html

“Surgo Nunut, Neroko Katut. Benarkah ini falsafah Jawa ataukah falsafah impor yang dijawakan?”

Artikel Kediri Bertutur

1485168876508500838882

Kesejarahan di era kerajaan Majapahit, kebudayaan Jawa pada waktu itu tidak menganut sistem patriarkhi. Ini terbukti di masa Kerajaan Majapahit, bahwa perempuan pernah menduduki tahta kerajaan (Raja) yaitu; Tribuana Wijaya Tungga Dewi dan Suhita.

Dan di dalam cerita Panji sendiri jelas mengandung makna pesan “Kesetaraan Antara Laki Dan Perempuan.” Pesan kesetaraan ini bisa dilihat saat Panji sendirian (tanpa Sekartaji), kisah hidupnya tanpa arah dan tujuan, demikian juga sebaliknya jika Sekartaji tanpa Panji. Setelah penyatuan Panji dan Sekartaji, barulah kehidupan yang selaras (serasi) dapat dicapai.

Jika melihat kesejarahan Majapahit, dan menangkap pesan yang terkandung di dalam cerita Panji , “Surgo Nunut, Neroko Katut” jelas bukan sistem yang ada di dalam kebudayaan Jawa. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

”Melihat Keberadaan Cerita Panji di Relief-Relief Candi Hindu Masa Kerajaan Majapahit”

Artikel Kediri Bertutur

relief-panji-di-candi-penataran2

Di banyak peninggalan bangunan candi-candi kerajaan Majapahit yang bernafas Hindu, kita akan menemukan banyak relief-relief cerita Panji dipahatkan. Di candi-candi peninggalan itu, kita juga menjumpai arca-arca dewa-dewi dalam mitologi Hindu.

Relief cerita Panji yang tidak datang dari India, namun sebuah karya asli Jawa, juga memiliki kedudukan yang sama penting dengan dewa-dewi dalam mitologi Hindu. Mitologi Hindu dan cerita Panji yang bersanding di dalam sebuah bangunan candi Hindu memberikan bukti bahwa Jawa pada saat itu, dibawah Kerajaan Majapahit telah mencapai “peradaban.”

relief-candi-prambanan

”Peradaban” yang dimaksud disini adalah hasil pencapaian yang bersifat kehalusan rasa, budi pekerti, keindahan akan keberagaman, dan rasa seni. Dibawah kekuasan Kerajaan Majapahit, nusantara lama bagai surga (aman, damai, dan tentram) bagi semua suku bangsa di dunia dengan segala perbedaannya. (Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur)

Foto source:
http://www.gonjangganjing.com/tag/prambanan/
https://kediribertutur.com/2015/08/

“Menafsir Bancak – Doyok Figur Kedewaan Jawa Yang Tidak Terpengaruh Dari Kebudayaan India.”

Artikel Kediri Bertutur

Bancak, Doyok dalam cerita Panji dikenal sebagai abdi (pengasuh) Panji Asmorobangun. Personifikasi Bancak-Doyok di relief-relief Panji digambarkan berpenampilan layaknya rakyat biasa. Abdi yang menemani dan mengawal tuannya (Panji Asmorobangun) menempuh pengembaraan di alam bebas (diluar istana). Pengembaraan Panji di luar istana bukanlah sesuatu yang mudah, “Hukum rimba berlaku disana.”

Apakah benar Bancak-Doyok adalah seorang abdi biasa yang tanpa memiliki keilmuan?

Bagaimana mungkin Bancak-Doyok mampu mengemban tugas mengasuh dan mengawal pengembaraan putra mahkota bila tanpa memiliki kesaktian (keilmuan)?

Tentunya Bancak-Doyok bukanlah orang biasa, Bancak -Doyok adalah figur yang memiliki kekuatan (keilmuaan) yang tinggi bak dewa. Mengasuh, membimbing, mengawal serta melindungi pengembaraan Panji Asmorobangun, bangsawan kerajaan bukan perkara mudah, dan tidaklah mungkin orang biasa mampu menjalankan peran yang diemban Bancak-Doyok.

Dalam mitologi Hindu personifikasi kedewaan digambarkan dengan perwujudan yang tidak “riil” seperti manusia. Figur dewa secara umum dalam mitologi Hindu digambarkan mempunyai banyak tangan, dan masing-masing memegang senjata (simbol keilmuan-kesaktian langit).

Sementara itu Bancak- Doyok, figur yang memiliki kekuatan kedewaan digambarkan sebagai rakyat biasa. Bancak-Doyok bukanlah figur kedewaan yang berada di khayangan (langit). Bancak -Doyok figur kedewaan orisinil jawa yang sangat sederhana bersahaja, dan membumi.

Filsafat padi, “semakin tinggi ilmu seseorang justru semakin menunduk.” Inilah ajaran original filsafat Jawa yang tanpa dipengaruhi kebudayaan India. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

Source Foto:
Penari 2 tokoh dari Padukuhan Kembang Sore, Doyok dan Bancak http://www.kompasiana.com/…/kampretjebul3-bangkitnya-wayang…

Relief Panji Gambyok: http://blog.ullensentalu.com/author/admin/

Foto topeng Bancak Doyok: https://www.tokopedia.com/beatourcraft/topeng-bancak-doyok

Nasionalisme Generasi Muda oleh Pradinia Windoe

Inspirasi Kediri Bertutur

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki keberagaman tradisi, namun tidak semuanya memperdulikan kebudayaan yang kita miliki. Salah satu sifat yang harus kita miliki sebagai generasi penerus bangsa Indonesia adalah nasionalisme. Kekurangan anak-anak muda masa sekarang adalah rasa kebanggaan untuk menjadi warga negara Indonesia yang makmur sumber daya alam serta kaya akan seni dan budaya ini. Masa modern memang telah memperluaskan keilmuan manusia ke seluruh dunia, tetapi itu juga menyebabkan globalisasi yang mempengaruhi pola pemikiran anak muda sekarang. Indonesia bukan negara yang paling diketahui di dunia, karena kurang diangkat di media dibandingkan negara-negara yang sudah mendunia seperti Amerika, Inggris, Paris, dll. Negara-negara yang sudah terkenal itu biasanya yang menjadi trend-setter dan Indonesia ketinggalan karena pengaruh negara kita kurang berdampak pada dunia sekarang.
Walaupun situasi yang dihadapi sulit, generasi muda seharusnya bisa mempromosikan kebudayaan Indonesia yang beragam dan memberi nama baik untuk negara dan bangsa. Salah satu program yang melestarikan budaya Indonesia adalah 40 days in Europe yaitu
pertunjukkan angklung yang dilakukan oleh anak-anak muda yang berasal dari Indonesia. Empat puluh orang berasal dari Jawa Barat sekarang berada di London di mana mereka dijadwalkan untuk bertampil lagu-lagu khas Indonesia seperti Jali Jali. Maulana Syuhada
adalah koordinator acara tersebut, semua di mulai saat ia mendapat SMS untuk mengatur perjalanan angklung ini. Kelompok 40 days in Europe sudah berhasil mengelilingi sebagian besar Eropa dan mereka tetap tampil sampai sekarang. Mereka telah membuktikan bahwa
mereka itu bangga untuk menjadi warga negara dengan mempromosikan lagu-lagu tradisional Indonesia secara internasional.
Jadi nasionalisme itu apa sih? Nasionalisme adalah suatu paham dan sikap politik dari masyarakat suatu banga yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri. 1
Nasionalisme dapat dirumuskan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu identitas yang dimiliki sebagai ikatan bersama dalam satu kelompok. 2

 

Menurut aku, nasionalisme adalah rasa kebanggaan terhadap negara asal, karena individual tersebut merasa mereka menemukan rumah di mana mereka merasa nyaman dan aman.
Seorang individual bisa mereka suatu keterikatan terhadap negara asalnya, karena itulah tempat di mana mereka bertumbuh selama sebagian besar hidup mereka. Hal-hal yang mereka capai mereka akui sebagai aksi yang mereka lakukan untuk negara untuk
mensejahterakan dan mengharumkan nama negara, agar lebih makmur dan maju.
Sebenarnya apa pentingnya nasionalisme? Nasionalisme itu penting karena memotivasikan generasi muda untuk memajukan negara kita. Nasionalisme bisa menyatukan satu bangsa untuk bekerja sama sebagai organisasi yang besar untuk menaklukkan segala tantangan yang muncul. Persatuan adalah salah satu unsur yang penting untuk suatu negara, karena dapat menggabungkan satu bangsa yang saling mendukung dan peduli terhadap sesama.
Nasionalisme bisa mengembangkan perasaan keterikatan kepada seorang individual terhadap negaranya.
Keterikatan itu akan menimbulkan kesetiaan, karena individual tersebut akan merasa bahwa dia memiliki hubungan yang kuat dengan tempat asalnya. Jika perasaan itu sudah matang, maka para individual tersebut akan memiliki keinginan untuk memajukan negara agar negara lebih sejahtera. Kalau satu orang bisa membuat perubahan, satu bangsa
bisa mencapai hal-hal yang lebih luar biasa. Apakah hal-hal yang bisa menyebabkan hilangnya nasionalisme pada kalangan muda sekarang?

1. Pertama adalah sistem pemerintahan kita yang kurang tegas dan disiplin. Keadaan pemerintahan sekarang masih kurang ideal, karena masih ada terjadinya kasus-kasus korupsi dan lainnya. Semua kasus-kasus tersebut membuat para pemuda merasa
kecewa karena negaranya tidak bisa mencapai hal-hal yang negara-negara lain bisa. Pemerintahan kita sekarang tidak memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin yang ideal, karena mereka telah berkali-kali mengecewakan kita dengan mencuri uang negara dan menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk mengambil keuntungan untuk mereka sendiri.

2. Kedua, kekurangan rasa nasionalisme orang-orang sekitar. Kalangan muda lebih mudah terpengaruh oleh orang-orang yang mereka kenal, seperti keluarganya. Jika keluarganya sendiri tidak merasa terikat dengan bangsa Indonesia, maka mereka akan cenderung memikir kenapa mereka harus peduli juga.

3. Ketiga, timbulnya rasa egois pada generasi muda. Pada jaman sekarang, banyak anak-anak yang beruntung yang bisa bersekolah tetapi mereka tidak menyadari betapa susahnya orangtuanya kerja untuk membayar uang sekolah. Terkadang anak-anak sekarang tidak bersyukur atas apa yang mereka punya dan menyiakan kesempatan mereka untuk menjadi yang terbaik dalam hal yang mereka lakukan.

4. Keempat, Indonesia belum mencapai hal-hal yang bisa diraih oleh negara-negara lain, maka itu bisa menyebabkan kalangan remaja sekarang untuk tidak merasa bangga dengan negaranya sendiri. Indonesia sekarang masih dalam keadaan berkembang, karena masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki, seperti etika bangsa dalam memenuhi peraturan. Sering kali kita membuang sampah sembarangan karena tempat sampahnya jauh jadi kita letakkan di selokkan got, tetapi itu bukan cara pemikiran yang benar dan harus diperbaiki. Karena membuang sampah sembarangan, pada saat hujan deras pasti akan banjir, karena selokkan gotnya tertutup oleh sampah masyarakat.

5. Terakhir adalah pengaruh globalisasi yang telah mempengaruhi generasi muda kita sekarang. Banyak remaja yang memilih kebudayaan negara lain, karena mereka merasa bahwa kulturnya lebih menarik dan trendy. Padahal, negara kita memiliki kebudayaan yang beragam dan unik. Banyak hal yang bisa mempengaruhi anak muda sekarang untuk
tidak mencintai Indonesia, tetapi itu harus dihentikan sekarang.

Negara Indonesia adalah asal kita dan harus dihargai. Para pahlawan Indonesia telah berusaha susah payah untuk membuat Indonesia merdeka, maka kita sebagai penerus bangsa harus meneruskan rasa semangat untuk mensejahterakan negara kita ini. Salah satu perusahaan dari industri kreatif yang telah mengekspresikan rasa nasionalisme terhadap Indonesia adalah Bierkko, yang didirikan oleh Trias Affiandy, Syahrul Mulia, Nevi Rotorasiko, dan Yorika Rotorasiko. Mereka bisa membuat barang barang yang lama menjadi baru lagi dengan mendesain kembali alat tersebut. Mereka menggabungkan alat yang lama dengan yang baru, semacam recycling, lalu menyatukannya dengan peralatan yang baru
agar bisa berfungsi kembali. Bierkko mendeskripsikan gayanya sebagai “industrial vintage” karena itulah konsep bisnis mereka. Hal-hal yang mereka perbarui merupakan aksesoris seperti lighting, furnitur, dan fashion accessories. Bierkko telah berhasil mendapat perhatian para pembeli karena mereka memiliki desain yang unik dan berkualitas.
Selain itu, ada juga Iwet Ramadhan yang membuat pakaian batik untuk berbisnis. Nama perusahaannya Tik Tshirts yang menjual baju batik secara online. Tujuan dia membuat bisnis tersebut adalah untuk mempromosikan batik, yaitu khas Indonesia, dan memperbaruinya dengan gaya trend sekarang agar remaja mau menggunakannya.
Desain batik mereka itu lokal dan menggunakan bahan yang berkualitas, maka masyarakat akan tertarik untuk membeli.

 

Salah satu artis yang bernama Edhi Sunarso juga terkenal sebagai pejuang bangsa. Edhi lahir pada tanggal 2 Juli 1932 dan berasal dari Jawa Tengah. Saat dia muda dia menjadi prajurit, tetapi dia lama-lama menjadi lelah karena kegiatannya yang berat. Lalu, dia
melanjutkan pendidikannnya ke Akademi Seni Rupa Indonesia dan lulus pada tahun 1955. Karyanya yang terkenal adalah Patung Pancoran yang tingginya 9 meter dan terbuat dari perunggu. Edhi Sunarso tidak pernah membuat patung sebesar yang diperintahkan
oleh Soekarno, tetapi demi bangsa dia berani melakukannya. Pada saat itu dia tidak diberikan dana oleh Presiden Soekarno untuk membuat monumennya, tetapi dia rela mengorbankan dirinya dalam hutang untuk membuat patung tersebut sampai dia menggadaikan rumahnya.

 

Banyak orang telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk Indonesia, kami sebagai generasi muda harus meneruskan semangat itu! Pahlawan-pahlawan Indonesia telah susah payah membuat Indonesia merdeka, kita jangan sampai kalah semangatnya dan
berusaha sekeras-kerasnya untuk Indonesia yang terbaik.

 

footnote: 1 Alirastra, Risanda. 2015. Semangat Nasionalisme Indonesia Generasi
Muda. http://www.kompasiana.com/risandaabe/semangat-nasionalisme-
2 Aini, Erra Fazira. Pentingnya Rasa Nasionalisme Bagi Kelangsungan Hidup
Bangsa dan Negara. https://errafaziraaini.wordpress.com/ppkn-3/75-2/ (3
September 2016)