Tokoh “Dewi Kilisuci” Dalam Cerita Panji Yang Tak Terganti, Meski Di Jaman Ken Dedes, ataupun Gayatri.

Artikel Kediri Bertutur
5-1
Dalam wayang beber Pacitan, cerita Panji “Jaka Kembang Kuning,” dikisahkan Dewi Kilisuci bertindak sebagai pemimpin upacara pernikahan Panji-Sekartaji. Dalam gambar wayang beber Pacitan, adegan pernikahan Panji-Sekartaji dipimpin “acarya” Dewi Kilisuci dengan latar Kerajaan Jenggala-Panjalu (Daha). Pada adegan itu, jelas bahwa Dewi Kilisuci merupakan tokoh sentral yang berada di balik bersatunya Jenggala dan Panjalu (Daha) melalui pernikahan Panji-Sekartaji.
Dalam wayang beber Wonosari-Jogjakarta, lakon Panji “Remeng Mangunjaya,” dikisahkan Prasanta dan Punta (abdi kinasih Panji) menghadap pada Dewi Kilisuci yang bertapa di Gunung Kapucangan. Prasanta dan Punta memberi kabar berita pada Dewi Kilisuci atas kemenangan Panji dalam peperangan melawan Raja Klana Sewandono.
Wayang beber Pacitan dan wayang beber Wonosari-Jogjakarta adalah artefak “arkeologis” (memiliki arti dan nilai penting bagi sejarah kesenian dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan).
Dalam folklor dan karya-karya kesusasteraan yang pernah berkembang pada masa kerajaan di Jawa Timur, dari Mpu Sindok sampai Majapahit, tokoh “Dewi Kili Suci,” selalu ditemukan di lakon-lakon cerita yang berlatar Jenggala dan Panjalu (Doho). Tokoh “Dewi Kilisuci,” adalah tokoh yang dikaitkan dengan Sanggramawijaya Tunggadewi, putri mahkota raja Airlangga. Ini berarti Dewi Kilisuci adalah tokoh yang sejaman dengan Kerajaan Kahuripan sampai kerajaan Jenggala-Daha. “Dewi Kilisuci,” bukan tokoh yang muncul di era kerajaan Kanjuruhan (Raja Simha dan Raja Gajayana), Mpu Sindok, kerajaan Singhasari maupun kerajaan Majapahit.
Banyak pendapat bahwa cerita Panji ada di masa Jenggala-Daha, Singhasari, sampai Majapahit. Lantas kenapa tokoh “Dewi Kilisuci” tetap ada di era Ken Dedes dan Gayatri? Padahal sangat mudah bagi “Ken Dedes” dan “Gayatri” untuk mencatatkan nama mereka dalam sejarah dan menggantikan tokoh “Dewi Kilisuci,” yang berasal bukan pada jaman Singhasari maupun Majapahit. Kenapa dan untuk alasan apakah, Ken Dedes dan Gayatri tetap memberikan kedudukan terhormat bagi tokoh Dewi Kilisuci?
Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur.

Bertanya Pada Film Setan Jawa 2

Artikel Kediri Bertutur

Picture1

Penulisan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan dari Lydia Kieven (peneliti budaya Panji dari Jerman) di FB beliau mengenai tulisan saya; tulisan itu berawal dari artikel-artikel Film Setan Jawa yang saya baca di tulisan ataupun artikel2 di google. Hampir seluruh artikel menuliskan film Setan Jawa “Ritual Kandang Bubrah” merupakan “Mitologi Jawa.”

contoh: http://jogja.antaranews.com/berita/346595/bbdf-setan-jawa-kental-mitologi-jawa

Penyebutan istilah “Mitologi Jawa” di artikel-artikel film Setan Jawa yang ada di google membuat saya berfikir; “Mitologi” merupakan unsur penting yang bersifat suci dalam religi, dan bagaimana bisa “setan dalam ritual kandang bubrah” dianggap bagian dari Mitologi yang bersifat suci atau sakral. Sedangkan setan merupakan simbol kesesatan dan dosa. Seharusnya dalam narasi yang ditulis dalam artikel-artikel di tulisan2 narasi film tidak menyebutkan atau memakai istilah “Mitologi jawa,” namun cukup dengan Setan Jawa, “Ritual Kandang Bubrah.”

Airlangga, raja Jawa di masa Hindu-Buddha, setelah turun tahta, pergi bertapa di lereng gunung penanggungan untuk menempuh jalan hidup suci dengan menjadi Rsi. Airlangga meninggalkan segala urusan duniawi (kekayaan/materi). Dari perjalanan Airlangga yang menganut Mitologi Jawa di masa Hindu-Buddha, menunjukan bahwa kekayaan dan materi bukan segala-galanya, dan bukan menjadi tujuan utama dalam hidup ini.

Cerita Panji merupakan folklor di Jawa yang dianggap suci/sakral-cerita mitos, “Cerita Panji direliefkan di candi.” Cerita Panji juga bersumber pada “Mitologi Jawa” dalam masa Hindu-Buddha. Dalam cerita “Enthit,” Panji putra mahkota kerajaan Jenggala, bangsawan kerajaan yang menjadi seorang “petani.” Dalam cerita ini mengandung nilai pesan bahwa untuk memperoleh kekayaan/harta benda, seseorang harus bekerja,dan bukan bekerjasama dengan setan dengan melakukan ritual pesugihan.

Airlangga dan Cerita Panji, saya tulis sebagai antithesis atas penulisan “Mitologi Jawa” dalam film Setan Jawa “ritual kandang bubrah.” Jalan hidup Airlangga dan Cerita Panji yang bersumber pada Mitologi Jawa di masa Hindu-Buddha tidak ada kaitannya dengan “Mitologi Jawa-film Setan Jawa-ritual kandang bubrah.”

Penulisan “Mitologi Jawa” dalam film Setan Jawa, bisa me-generalisir pemikiran masyarakat tentang mitologi yang bersifat suci diidentikkan dengan setan. “Orang bertapa dan bersemedi di gua dan di gunung untuk melakukan ritual suci, bisa-bisa dianggap bekerjasama dengan setan. Padahal tempat-tempat seperti gunung-gunung, sungai-sungai dalam Mitologi Jawa di masa Hindu-Buddha merupakan tempat-tempat suci, selain di candi-candi. Jadi sebaiknya narasi film itu, seperti yang ditulis dalam artikel-artikel tidak memakai istilah “Mitologi Jawa,” cukup Setan Jawa “ritual kandang bubrah.”

Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur.

“Bertanya Pada Film Setan Jawa.”

Artikel Kediri Bertutur
ColK6jgW8AEb7N3.jpg large

Mitologi merupakan unsur penting dari suatu religi. Mitologi memuat personifikasi lambang dan simbol suci. Sementara itu mitologi dalam cerita (cerita mitos) merupakan cerita-cerita mengenai dunia khayangan dan dewa-dewa yang berhubungan dengan aliran keyakinan dan kepercayaan tertentu.

“Mitologi JAWA” dalam periode masa klasik bersumber pada ajaran Hindu dan Budha. Dalam kebudayaan Hindu, “Trimurti (Shiwa, Wisnu, Brahma),” penyatuan 3 dewa sebagai manifestasi sifat-sifat keTuhanan memiliki kedudukan tertinggi dalam ajaran Hindu. Dan Sidharta Gautama,”Sang Buddha” dalam keyakinan Hindu diyakini sebagai awatara dewa Wisnu. Baik ajaran Hindu ataupun Budha yang berkembang di Jawa dalam menjalankan aktifitas ritual keagamaanya dilakukan di “candi-candi.” Dan adapun ritual-ritual khusus yang dilakukan di luar candi, seperti “Bhairawa” dilakukan di Ksetra (lapangan mayat), yaitu; ritual kesaktian.

Dalam mitologi Jawa “Hindu-Budha,” tidak mengenal istilah ritual “Kandang Bubrah.” Ritual “pesugihan/kekayaan” yang dilakukan di punden-punden “bukan di candi.” Sudah menjadi “jalan hidup” bagi raja-raja Jawa (Hindu-Buddha) ketika turun tahta menjadi Rsi dan tinggal di gunung-gunung, meninggalkan semua keduniawian/harta benda.

Airlangga, salah satu Raja besar Jawa (11 M), memilih menjadi Rsi dan tinggal di sekitar lereng gunung Penanggungan. Dan Situs Jolotundo yang ada di lereng gunung penanggungan menjadi bukti kesejarahan perjalanan Airlangga menjadi Rsi. Panji dalam cerita “Enthit,” folklor yang berkembang di masa kerajaan besar nusantara “Majapahit,” dikisahkan Panji, putra mahkota kerajaan Jenggala yang “bekerja” sebagai petani. Dalam Cerita “Enthit,” mengandung nilai pesan bahwa untuk menjadi kaya dengan cara bekerja dan berusaha, “Bukan Dengan Cara Ritual Pesugihan.”

Film Setan Jawa yang mengangkat “Ritual Pesugihan Kandang Bubrah,” yang diyakini sebagai ”mitologi Jawa,” patut menjadi “pertanyaan.”  Yang dimaksud mitologi Jawa “Pesugihan Kandang Bubrah” ini bersumber pada mitologi Jawa pada periode apa? Jawa dalam masa pra sejarah, Jawa dalam masa kolonial (penjajahan), atau Jawa dalam masa agama yang “bukan” Hindu-Buddha. Yang pasti bukan mitologi Jawa pada masa Hindu-Budha.

Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur. 

Melihat makna gaya rambut pendek Panji Asmorobangun.

Artikel Kediri Bertutur

kkk

Perwujudan arca raja-raja Jawa dan dewa – dewa pada umumnya digambarkan berambut panjang terurai. Dan bila mengamati figur Panji Asmorobangun di relief-relief candi dan arca, figur Panji Asmorobangun digambarkan berambut pendek.

Didalam konteks raja-raja jawa di masa Hindu-Buddha, rambut juga diartikan sebagai mahkota (simbol kebangsawanan). Di masa (Hindu-Buddha), rambut menunjukan status sosial (kasta) seseorang, apakah berasal dari kalangan bangsawan atau rakyat biasa. Dan tentunya rakyat biasa tidak memiliki rambut panjang (simbol mahkota), hanya kaum bangsawan dan brahmana yang berambut panjang.

Penggambaran gaya rambut figur Panji Asmorobangun yang berambut pendek, dan penggambaran raja-raja jawa (Hindu-Buddha), ataupun dewa-dewa yang selalu digambarkan berambut panjang, perbedaan ini menunjukan adanya/terjadinya pergeseran nilai.

Pastinya ada pesan nilai yang terkandung di dalam penggambaran figur Panji Asmorobangun yang bergaya rambut pendek, yang identik dengan rakyat biasa. Panji Asmorobangun adalah bangsawan kerajaan jawa (Hindu-Buddha) yang bermahkotakan simbol rakyat (berambut pendek).

“Figur Panji merupakan gambaran bangsawan (raja-raja) Kerajaan Majapahit yang membaur dan menyatu dengan rakyatnya. Bukan bangsawan (raja) yang hanya duduk di atas singgasana kerajaan dengan keagungannya, seperti kaisar Cina, Jepang yang sangat Eksklusif (Sakral). Jangankan untuk bertemu dan bertatap muka, memandang dan melihat seorang kaisar saja, rakyat biasa sudah dianggap bersalah.” (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

“Dunia Telah Lupa Akan Arti Pengaruh (Dampak) Kemenangan Majapahit Atas Kublai Khan”

Artikel Kediri Bertutur

image-6

Tewasnya Kublai Khan (Mongol) di Jawa bukanlah sebatas kemenangan Majapahit atas “Pasukan Langit – pasukan yang hampir tak terkalahkan di dunia.” Kublai Khan merupakan penguasa keji yang menjadikan dunia penuh pembantaian tanpa belas kasihan, dan dunia bagai kerajaan hewan.

Kekalahan Mongol atas Majapahit berarti “dunia telah terbebas dari masa kegegelapan.” Dan kemenangan Majapahit berarti kemenangan dunia. Dunia kembali berani menatap masa depannya. Eropa dilepaskan dari pembantaian, dan dunia Islam diberikan kemudahan untuk menyingkirkan para penguasa keji Mongol, dan Cina kembali lagi dipimpin penguasa dari anak-anak negeri.

Kemenangan Majapahit atas Kublai Khan (Mongol) berarti terbebasnya dunia dari masa-masa kegelapan. “Sudah seharusnya Dunia berterimakasih pada Majapahit yang berasal dari Jawa.” (Sumber: Majapahit Peradaban Maritim, karya Irawan Djoko Nugroho). Shared By: Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur.

source foto:
http://www.akarnews.com/4802-seri-kejayaan-nusantara-menung…

”Damar Wulan & Minak Djinggo,” Benar Ada Atau Fiksi Belaka.

Artikel Kediri Bertutur

Dari catatan silsilah Raja Majapahit tak mencatat nama “Damar Wulan” didalamnya. Apakah ini bisa diartikan bahwa sebenarnya sosok Damar Wulan hanya fiksi belaka?

Damar Wulan adalah seorang ksatria yang mampu mengalahkan penguasa Blambangan (Minak Djinggo) yang menyerang kerajaan Majapahit. Putri Suhita (Kencana Wungu) adalah alasan di balik kemurkaan Minak Djinggo (Penguasa Blambangan). “Minak Djinggo Nagih Janji.”

ade-soekirno-damarwulan-ils-jan-m-2

Minak Djinggo menuntut yang telah menjadi haknya atas jasa-jasanya yaitu menyelamatkan Kerajaan Majapahit dari serangan musuh. Dan sebagai imbalannya, Minak Djinggo akan dinikahkan dengan Putri Suhita (Kencana Wungu). Namun Putri Suhita (Kencana Wungu) menolak untuk dipersunting Minak Djinggo yang buruk rupa. “Minak Djinggo Menggugat.” Majapahit dianggap ingkar janji.

Puncaknya Minak Djinggo melakukan pemberontakan pada Majapahit. Dan muncullah sosok Damar Wulan, ksatria yang berwajah tampan, penyelamat kerajaan Majapahit dari murka Minak Djinggo. Damar Wulan mampu mengalahkan Minak Djinggo, dan atas jasanya itu Damar Wulan dinikahkan dengan Putri Suhita.

Cerita ini bertahan ratusan tahun hingga sekarang, “Minak Djinggo Nagih Janji, dan Majapahit Ingkar Janji.” Dan jika Damar Wulan dan Minak Djinggo adalah sosok yang sebenarnya tak pernah ada, kenapa ada dan untuk tujuan apa cerita ini dibuat?

ade-s-damarwulan-hal-dlm-1Ade s. - Damarwulan hal dlm 2.jpg

Sedangkan Majapahit merupakan Kerajaan pembaharu di tanah Jawa, dimana ideologi pengaruh Hindu (India) tidaklah mutlak sebagai “kebenaran absolut” yang berdiri sendiri, namun bersanding (selaras) dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalam Cerita Panji (asli Jawa) yang terpahat di candi-candi kerajaan Majapahit.

Lantas, apa peran dan fungsi cerita Damar Wulan vs Minak Djinggo dibuat, dan dikaitkan dengan kerajaan Majapahit yang telah mencapai puncak kebudayaan (peradaban)?

Apakah peran dan fungsi cerita Damar Wulan vs Minak Djinggo dibuat untuk tujuan mencitrakan Majapahit tentang kebenaran yang sebenarnya tak pernah ada – tipu muslihat? (Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur)

source foto:
http://sastrobuku.blogspot.co.id/2012_11_01_archive.html

“Surgo Nunut, Neroko Katut. Benarkah ini falsafah Jawa ataukah falsafah impor yang dijawakan?”

Artikel Kediri Bertutur

1485168876508500838882

Kesejarahan di era kerajaan Majapahit, kebudayaan Jawa pada waktu itu tidak menganut sistem patriarkhi. Ini terbukti di masa Kerajaan Majapahit, bahwa perempuan pernah menduduki tahta kerajaan (Raja) yaitu; Tribuana Wijaya Tungga Dewi dan Suhita.

Dan di dalam cerita Panji sendiri jelas mengandung makna pesan “Kesetaraan Antara Laki Dan Perempuan.” Pesan kesetaraan ini bisa dilihat saat Panji sendirian (tanpa Sekartaji), kisah hidupnya tanpa arah dan tujuan, demikian juga sebaliknya jika Sekartaji tanpa Panji. Setelah penyatuan Panji dan Sekartaji, barulah kehidupan yang selaras (serasi) dapat dicapai.

Jika melihat kesejarahan Majapahit, dan menangkap pesan yang terkandung di dalam cerita Panji , “Surgo Nunut, Neroko Katut” jelas bukan sistem yang ada di dalam kebudayaan Jawa. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

”Melihat Keberadaan Cerita Panji di Relief-Relief Candi Hindu Masa Kerajaan Majapahit”

Artikel Kediri Bertutur

relief-panji-di-candi-penataran2

Di banyak peninggalan bangunan candi-candi kerajaan Majapahit yang bernafas Hindu, kita akan menemukan banyak relief-relief cerita Panji dipahatkan. Di candi-candi peninggalan itu, kita juga menjumpai arca-arca dewa-dewi dalam mitologi Hindu.

Relief cerita Panji yang tidak datang dari India, namun sebuah karya asli Jawa, juga memiliki kedudukan yang sama penting dengan dewa-dewi dalam mitologi Hindu. Mitologi Hindu dan cerita Panji yang bersanding di dalam sebuah bangunan candi Hindu memberikan bukti bahwa Jawa pada saat itu, dibawah Kerajaan Majapahit telah mencapai “peradaban.”

relief-candi-prambanan

”Peradaban” yang dimaksud disini adalah hasil pencapaian yang bersifat kehalusan rasa, budi pekerti, keindahan akan keberagaman, dan rasa seni. Dibawah kekuasan Kerajaan Majapahit, nusantara lama bagai surga (aman, damai, dan tentram) bagi semua suku bangsa di dunia dengan segala perbedaannya. (Dwi Aris Setiawan – Kediri Bertutur)

Foto source:
http://www.gonjangganjing.com/tag/prambanan/
https://kediribertutur.com/2015/08/

“Menafsir Bancak – Doyok Figur Kedewaan Jawa Yang Tidak Terpengaruh Dari Kebudayaan India.”

Artikel Kediri Bertutur

Bancak, Doyok dalam cerita Panji dikenal sebagai abdi (pengasuh) Panji Asmorobangun. Personifikasi Bancak-Doyok di relief-relief Panji digambarkan berpenampilan layaknya rakyat biasa. Abdi yang menemani dan mengawal tuannya (Panji Asmorobangun) menempuh pengembaraan di alam bebas (diluar istana). Pengembaraan Panji di luar istana bukanlah sesuatu yang mudah, “Hukum rimba berlaku disana.”

Apakah benar Bancak-Doyok adalah seorang abdi biasa yang tanpa memiliki keilmuan?

Bagaimana mungkin Bancak-Doyok mampu mengemban tugas mengasuh dan mengawal pengembaraan putra mahkota bila tanpa memiliki kesaktian (keilmuan)?

Tentunya Bancak-Doyok bukanlah orang biasa, Bancak -Doyok adalah figur yang memiliki kekuatan (keilmuaan) yang tinggi bak dewa. Mengasuh, membimbing, mengawal serta melindungi pengembaraan Panji Asmorobangun, bangsawan kerajaan bukan perkara mudah, dan tidaklah mungkin orang biasa mampu menjalankan peran yang diemban Bancak-Doyok.

Dalam mitologi Hindu personifikasi kedewaan digambarkan dengan perwujudan yang tidak “riil” seperti manusia. Figur dewa secara umum dalam mitologi Hindu digambarkan mempunyai banyak tangan, dan masing-masing memegang senjata (simbol keilmuan-kesaktian langit).

Sementara itu Bancak- Doyok, figur yang memiliki kekuatan kedewaan digambarkan sebagai rakyat biasa. Bancak-Doyok bukanlah figur kedewaan yang berada di khayangan (langit). Bancak -Doyok figur kedewaan orisinil jawa yang sangat sederhana bersahaja, dan membumi.

Filsafat padi, “semakin tinggi ilmu seseorang justru semakin menunduk.” Inilah ajaran original filsafat Jawa yang tanpa dipengaruhi kebudayaan India. (Dwi Aris Setiawan-Kediri Bertutur)

Source Foto:
Penari 2 tokoh dari Padukuhan Kembang Sore, Doyok dan Bancak http://www.kompasiana.com/…/kampretjebul3-bangkitnya-wayang…

Relief Panji Gambyok: http://blog.ullensentalu.com/author/admin/

Foto topeng Bancak Doyok: https://www.tokopedia.com/beatourcraft/topeng-bancak-doyok

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 10 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

Prajnaparamita_Java_Side_Detail

 

Dear diary,

Dalam bab terakhir dalam buku Gayatri Rajapatni, perjuangan Gayatri untuk kerajaan Majapahit telah dihargai masyarakat. Hayam Wuruk melanjutkan kuasa keluarganya atas kerajaan Majapahit. Tribhuwana ingin mengenang Gayatri dalam cara yang spesial, karena dia ingin memastikan bahwa segala aksi yang telah dilakukan oleh Gayatri untuk Majapahit itu tidak terlupakan. Mayoritas masyarakat tidak mengenali usahanya Gayatri untuk membangun kerajaan Majapahit, namun mereka mengenali nama-nama sosok prianya, seperti Raja Wijaya, Kertanegara, dan Hayam Wuruk. Mereka memang tokoh-tokoh yang penting dalam kisah Majapahit, namun mereka melupakan Gayatri. Gayatri adalah satu-satunya keturunan ayahnya, sang raja Kertanegara, yang melanjutkan kerajaan Singhasari. Gayatri memenuhi kewajibannya sebagai putri kerajaan dengan mengelola pemerintahan. Seharusnya pada saat itu Gayatri menjadi pemimpin kerajaan, namun dia tahu bahwa untuk kebaikan kerajaan, masyarakat membutuhkan seorang raja. Gayatri mengambil aksi dan memilih untuk menikahi Wijaya, karena dia memang memiliki relasi yang dekat dengan keluarganya Kertanegara.

Gayatri sudah mengetahui dari awal bahwa pilihan yang tepat adalah untuk membuat Wijaya rajanya Majapahit, karena dia memiliki sifat-sifat yang tepat. Wijaya sudah membuktikan bahwa dia itu mampu untuk mengelola kerajaan. Wijaya juga membangun kerajaan Majapahit, maka dari itu dia pasti akan peduli citra kerajaan Majapahit karena dia tahu bahwa usaha untuk menyatukan masyarakat itu membutuhkan upaya yang besar. Gayatri menjadi ratunya Majapahit dan dia menjadi peran yang bijak dalam pemerintahan. Gayatri menghilangkan banyak hal dalam kehidupannya, namun dia tetap teguh untuk masyarakat. Sebagai bagian dari kerajaan dia juga membuat keputusan yang sulit, seperti membunuh Jayanegara agar kedua putrinya bisa memilih untuk menikahi siapa saja yang mereka mau dan juga untuk kebaikan kerajaan Majapahit. Gayatri membuat keputusan-keputusan yang tidak mudah, namun masyarakat meremehkan betapa sulitnya untuk membuat pilihan yang benar. Gayatri mengetahui bahwa tidak ada keputusan yang sempurna, karena pasti akan ada sisi positif dan negatif dalam segala hal. Gayatri harus mengorbankan berbagai hal untuk kerajaan Majapahit, dia juga menghabiskan bertahun-tahun untuk mengelola kerajaan. Gayatri memiliki kewajiban untuk meneruskan apa yang telah dibuat oleh ayahnya, maka dari itu dia membuat Majapahit dan mengelolanya sebaik-baik mungkin.

Tribhuwana tidak ingin masyarakat Majapahit melupakan segala hal yang harus dilakukan Gayatri untuk membawa Majapahit ke dalam kondisinya yang ideal. Gayatri bekerja keras dan harus mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk membuat Majapahit kerajaan yang sukses dan makmur. Semua usaha Gayatri akan diperingati dalam upacara yang telah diatur oleh Tribhuwana. Tribhuwana sudah merencanakan untuk mengadakan acara sraddha untuk Gayatri. Tujuan acara tersebut adalah untuk mengenang kematiannya dan juga untuk membuat perjalanannya lebih mudah untuk bersatu dengan Prajnaparamita, yaitu dewi kebijaksanaan yang tinggi.

Upacara untuk mengenang Gayatri itu bisa dilakukan hanya dengan beberapa orang, yang termasuk pendeta dan keluarga dekat. Namun, Tribhuwana juga menginginkan upacaranya untuk memiliki dampak politis terhadap kematiannya Gayatri. Tribhuwana ingin masyarakat Majapahit untuk mengenang peninggalan Gayatri juga, karena dia percaya bahwa itu akan membuat kesan baik untuk Gayatri untuk yang terakhir kalinya. Tribhuwana ingin ibunya untuk dikenang dalam cara yang megah dan penuh dengan hormat. Tribhuwana juga sudah mengakali bahwa nilai moral dari semua aksi yang telah dilakukan oleh Gayatri itu akan menjadi bahan yang diutamakan dalam upacara ini. Gayatri itu memang sangat spiritual, maka dari itu dia menjadi sosok yang bijaksana dan pandai. Tujuannya upacara ini adalah untuk mengenang betapa kuatnya Gayatri sudah memerangi berbagai masalah yang dihadapainya untuk mengelola kerajaan Majapahit dan untuk mempertahankan keadaannya dengan baik. Secara spiritual, jiwanya Gayatri juga dilepaskan untuk melanjutkan perjalanannya bersama dewi Prajnaparamita, yaitu salah satu dewi kesukaan Gayatri. Sejak dulu Gayatri memang memiliki suatu ketertarikan dengan dewi Prajnaparamita, karena dia memiliki sifat-sifat yang Gayatri inginkan dalam dirinya. Gayatri sudah membuktikan bahwa dia mampu melakukan hal-hal dengan bijaksana, karena dia telah membuat beberapa keputusan-keputusan tersulit untuk mempertahankan kondisinya kerajaan Majapahit. Tribhuwana percaya bahwa kesuksesan Gayatri itu datang dari ilmunya untuk menyatui masyarakat yang berbeda. Gayatri itu mampu untuk menyatukan satu negara, bahkan dia telah berhasil untuk bersekutu dengan daerah-daerah lain untuk bergabung dengan kerajaan Majapahit agar bisa meluaskan wilayah daerah. Kemampuannya Gayatri untuk mengerti orang itu luar biasa, karena dia memiliki bakat dalam memilih aksi yang tepat untuk dilakukan dalam situasi-situasi yang sulit. Dalam keadaan sulit pun dia merelakan diri untuk menyelamatkan orang-orang yang masih setia pada kerajaan Singhasari. Semua itu ingin diperlihatkan oleh Tribhuwana agar orang-orang mengingat Gayatri sebagai sosok bijaksana yang pandai dan telah membimbing kerajaan Majapahit ke arah kesuksesan.

Gajah Mada akhirnya dipanggil kembali oleh Tribhuwana dan pemerintahan untuk kembali dan menjadi dewan menteri untuk Majapahit. Gajah Mada kembali dan membantu mengelola Majapahit lagi. Gajah Mada telah mendengar rencananya Tribhuwana dan dia mendukung idenya untuk mengadakan acara sraddha. Gayatri dan Gajah Mada memang memiliki hubungan yang dekat, maka dari itu sejak Gayatri meninggal, Gajah Mada menjadi sedih karena orang yang dia bisa percaya itu telah hilang. Namun, Gajah Mada tetap teguh untuk masyarakat Majapahit agar membuktikan bahwa dia akan tetap bersemangat untuk berjuang untuk Majapahit.

Hayam Wuruk juga mengadakan acara kesenian untuk memperingati Gayatri. Gayatri memang menyukai hal-hal dalam bentuk seni, karena dia menghargai kisah-kisah tradisional Jawa. Ada beberapa penampilan yang pentas untuk acara tersebut. Hayam Wuruk ingin acara tersebut mengekspresikan segala sifatnya Gayatri, dan salah satunya adalah seni. Rasa cintanya Gayatri untuk seni itu luar biasa dan dia telah membuktikan itu kepada Hayam Wuruk dengan memberinya berbagai bahan bacaan mengenai Panji dan tokoh-tokoh yang dia gemari. Gajah Mada dan Tribhuwana juga merencanakan untuk membuat patung figurnya Gayatri untuk memperingatinya. Patung-patung tersebut ditempatkan di candi-candi yang berada di seluruh Indonesia. Setiap kali orang-orang pergi ke candi tersebut mereka akan melihat patungnya Gayatri dan teringat oleh perjuangannya untuk kerajaan Majapahit.