Nasionalisme Generasi Muda oleh Pradinia Windoe

Inspirasi Kediri Bertutur

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki keberagaman tradisi, namun tidak semuanya memperdulikan kebudayaan yang kita miliki. Salah satu sifat yang harus kita miliki sebagai generasi penerus bangsa Indonesia adalah nasionalisme. Kekurangan anak-anak muda masa sekarang adalah rasa kebanggaan untuk menjadi warga negara Indonesia yang makmur sumber daya alam serta kaya akan seni dan budaya ini. Masa modern memang telah memperluaskan keilmuan manusia ke seluruh dunia, tetapi itu juga menyebabkan globalisasi yang mempengaruhi pola pemikiran anak muda sekarang. Indonesia bukan negara yang paling diketahui di dunia, karena kurang diangkat di media dibandingkan negara-negara yang sudah mendunia seperti Amerika, Inggris, Paris, dll. Negara-negara yang sudah terkenal itu biasanya yang menjadi trend-setter dan Indonesia ketinggalan karena pengaruh negara kita kurang berdampak pada dunia sekarang.
Walaupun situasi yang dihadapi sulit, generasi muda seharusnya bisa mempromosikan kebudayaan Indonesia yang beragam dan memberi nama baik untuk negara dan bangsa. Salah satu program yang melestarikan budaya Indonesia adalah 40 days in Europe yaitu
pertunjukkan angklung yang dilakukan oleh anak-anak muda yang berasal dari Indonesia. Empat puluh orang berasal dari Jawa Barat sekarang berada di London di mana mereka dijadwalkan untuk bertampil lagu-lagu khas Indonesia seperti Jali Jali. Maulana Syuhada
adalah koordinator acara tersebut, semua di mulai saat ia mendapat SMS untuk mengatur perjalanan angklung ini. Kelompok 40 days in Europe sudah berhasil mengelilingi sebagian besar Eropa dan mereka tetap tampil sampai sekarang. Mereka telah membuktikan bahwa
mereka itu bangga untuk menjadi warga negara dengan mempromosikan lagu-lagu tradisional Indonesia secara internasional.
Jadi nasionalisme itu apa sih? Nasionalisme adalah suatu paham dan sikap politik dari masyarakat suatu banga yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri. 1
Nasionalisme dapat dirumuskan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu identitas yang dimiliki sebagai ikatan bersama dalam satu kelompok. 2

 

Menurut aku, nasionalisme adalah rasa kebanggaan terhadap negara asal, karena individual tersebut merasa mereka menemukan rumah di mana mereka merasa nyaman dan aman.
Seorang individual bisa mereka suatu keterikatan terhadap negara asalnya, karena itulah tempat di mana mereka bertumbuh selama sebagian besar hidup mereka. Hal-hal yang mereka capai mereka akui sebagai aksi yang mereka lakukan untuk negara untuk
mensejahterakan dan mengharumkan nama negara, agar lebih makmur dan maju.
Sebenarnya apa pentingnya nasionalisme? Nasionalisme itu penting karena memotivasikan generasi muda untuk memajukan negara kita. Nasionalisme bisa menyatukan satu bangsa untuk bekerja sama sebagai organisasi yang besar untuk menaklukkan segala tantangan yang muncul. Persatuan adalah salah satu unsur yang penting untuk suatu negara, karena dapat menggabungkan satu bangsa yang saling mendukung dan peduli terhadap sesama.
Nasionalisme bisa mengembangkan perasaan keterikatan kepada seorang individual terhadap negaranya.
Keterikatan itu akan menimbulkan kesetiaan, karena individual tersebut akan merasa bahwa dia memiliki hubungan yang kuat dengan tempat asalnya. Jika perasaan itu sudah matang, maka para individual tersebut akan memiliki keinginan untuk memajukan negara agar negara lebih sejahtera. Kalau satu orang bisa membuat perubahan, satu bangsa
bisa mencapai hal-hal yang lebih luar biasa. Apakah hal-hal yang bisa menyebabkan hilangnya nasionalisme pada kalangan muda sekarang?

1. Pertama adalah sistem pemerintahan kita yang kurang tegas dan disiplin. Keadaan pemerintahan sekarang masih kurang ideal, karena masih ada terjadinya kasus-kasus korupsi dan lainnya. Semua kasus-kasus tersebut membuat para pemuda merasa
kecewa karena negaranya tidak bisa mencapai hal-hal yang negara-negara lain bisa. Pemerintahan kita sekarang tidak memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin yang ideal, karena mereka telah berkali-kali mengecewakan kita dengan mencuri uang negara dan menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk mengambil keuntungan untuk mereka sendiri.

2. Kedua, kekurangan rasa nasionalisme orang-orang sekitar. Kalangan muda lebih mudah terpengaruh oleh orang-orang yang mereka kenal, seperti keluarganya. Jika keluarganya sendiri tidak merasa terikat dengan bangsa Indonesia, maka mereka akan cenderung memikir kenapa mereka harus peduli juga.

3. Ketiga, timbulnya rasa egois pada generasi muda. Pada jaman sekarang, banyak anak-anak yang beruntung yang bisa bersekolah tetapi mereka tidak menyadari betapa susahnya orangtuanya kerja untuk membayar uang sekolah. Terkadang anak-anak sekarang tidak bersyukur atas apa yang mereka punya dan menyiakan kesempatan mereka untuk menjadi yang terbaik dalam hal yang mereka lakukan.

4. Keempat, Indonesia belum mencapai hal-hal yang bisa diraih oleh negara-negara lain, maka itu bisa menyebabkan kalangan remaja sekarang untuk tidak merasa bangga dengan negaranya sendiri. Indonesia sekarang masih dalam keadaan berkembang, karena masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki, seperti etika bangsa dalam memenuhi peraturan. Sering kali kita membuang sampah sembarangan karena tempat sampahnya jauh jadi kita letakkan di selokkan got, tetapi itu bukan cara pemikiran yang benar dan harus diperbaiki. Karena membuang sampah sembarangan, pada saat hujan deras pasti akan banjir, karena selokkan gotnya tertutup oleh sampah masyarakat.

5. Terakhir adalah pengaruh globalisasi yang telah mempengaruhi generasi muda kita sekarang. Banyak remaja yang memilih kebudayaan negara lain, karena mereka merasa bahwa kulturnya lebih menarik dan trendy. Padahal, negara kita memiliki kebudayaan yang beragam dan unik. Banyak hal yang bisa mempengaruhi anak muda sekarang untuk
tidak mencintai Indonesia, tetapi itu harus dihentikan sekarang.

Negara Indonesia adalah asal kita dan harus dihargai. Para pahlawan Indonesia telah berusaha susah payah untuk membuat Indonesia merdeka, maka kita sebagai penerus bangsa harus meneruskan rasa semangat untuk mensejahterakan negara kita ini. Salah satu perusahaan dari industri kreatif yang telah mengekspresikan rasa nasionalisme terhadap Indonesia adalah Bierkko, yang didirikan oleh Trias Affiandy, Syahrul Mulia, Nevi Rotorasiko, dan Yorika Rotorasiko. Mereka bisa membuat barang barang yang lama menjadi baru lagi dengan mendesain kembali alat tersebut. Mereka menggabungkan alat yang lama dengan yang baru, semacam recycling, lalu menyatukannya dengan peralatan yang baru
agar bisa berfungsi kembali. Bierkko mendeskripsikan gayanya sebagai “industrial vintage” karena itulah konsep bisnis mereka. Hal-hal yang mereka perbarui merupakan aksesoris seperti lighting, furnitur, dan fashion accessories. Bierkko telah berhasil mendapat perhatian para pembeli karena mereka memiliki desain yang unik dan berkualitas.
Selain itu, ada juga Iwet Ramadhan yang membuat pakaian batik untuk berbisnis. Nama perusahaannya Tik Tshirts yang menjual baju batik secara online. Tujuan dia membuat bisnis tersebut adalah untuk mempromosikan batik, yaitu khas Indonesia, dan memperbaruinya dengan gaya trend sekarang agar remaja mau menggunakannya.
Desain batik mereka itu lokal dan menggunakan bahan yang berkualitas, maka masyarakat akan tertarik untuk membeli.

 

Salah satu artis yang bernama Edhi Sunarso juga terkenal sebagai pejuang bangsa. Edhi lahir pada tanggal 2 Juli 1932 dan berasal dari Jawa Tengah. Saat dia muda dia menjadi prajurit, tetapi dia lama-lama menjadi lelah karena kegiatannya yang berat. Lalu, dia
melanjutkan pendidikannnya ke Akademi Seni Rupa Indonesia dan lulus pada tahun 1955. Karyanya yang terkenal adalah Patung Pancoran yang tingginya 9 meter dan terbuat dari perunggu. Edhi Sunarso tidak pernah membuat patung sebesar yang diperintahkan
oleh Soekarno, tetapi demi bangsa dia berani melakukannya. Pada saat itu dia tidak diberikan dana oleh Presiden Soekarno untuk membuat monumennya, tetapi dia rela mengorbankan dirinya dalam hutang untuk membuat patung tersebut sampai dia menggadaikan rumahnya.

 

Banyak orang telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk Indonesia, kami sebagai generasi muda harus meneruskan semangat itu! Pahlawan-pahlawan Indonesia telah susah payah membuat Indonesia merdeka, kita jangan sampai kalah semangatnya dan
berusaha sekeras-kerasnya untuk Indonesia yang terbaik.

 

footnote: 1 Alirastra, Risanda. 2015. Semangat Nasionalisme Indonesia Generasi
Muda. http://www.kompasiana.com/risandaabe/semangat-nasionalisme-
2 Aini, Erra Fazira. Pentingnya Rasa Nasionalisme Bagi Kelangsungan Hidup
Bangsa dan Negara. https://errafaziraaini.wordpress.com/ppkn-3/75-2/ (3
September 2016)

 

Behind-The-Scenes: ‘Bertutur Lewat Mading di Sekolah HighScope Indonesia’ by Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur

APY_3649

Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex merupakan sebuah bentuk lokakarya pendidikan tentang pentingnya peran wanita dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, para peserta diberi wawasan tentang peranan wanita melalui seni bertutur serta menyampaikan informasi yang disampaikan sebelumnya dengan cara mengarang kisah-kisah wanita muda inspiratif melalui sebuah mading. Kegiatan mading sendiri terpilih menjadi kegiatan utama karena sudah mulai jarang dilakukan di lingkungan sekolah dan menjadikannya sebagai aktifitas yang sederhana dan bersifat nostalgia, balik ke masa kecil. Acara yang dimulai dengan sebuah ide sederhana memerlukan tenaga yang banyak agar tercapai pesannya dengan efektif kepada peserta lomba dan hadirin acara. Komentar-komentar peserta yang dikumpulkan setelah acara mencerminkan nilai-nilai yang mereka dapat seperti pentingnnya melestarikan budaya Indonesia karena nuansa dan tema acara yang tradisional dan menarik. Moral lain adalah pemberdayaan wanita-wanita muda menggunakan imajinasi dan pemikiran yang original. “Eventnya membantu mengembangkan kreatifitas generasi muda dan membangkitkan rasa nasionalisme dengan cara yang seru dan menarik.” (Assyla Ridha, MC acara).

Dibalik kesuksesan acara, rencana-rencana awal dimodifikasi sekian kalinya sampai akhirnya menciptakan hasil akhir yang memuaskan. Terdapat banyak perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi seperti tanggal acara, lokasi, jadwal/rundown yang tidak tampak pada saat acara berlangsung.

Berminggu-minggu sebelum acara berlangsung, informasi tentang sebuah kegiatan yang besar pada bulan Desember sudah disampaikan kepada guru dan kepala sekolah HighScope. Beberapa murid sudah diberikan informasi secukupnya tentang acara untuk disampaikan kepada teman-teman mereka, sebagai teaser untuk membuat murid-murid penasaran. Poster-poster hasil ciptaan murid-murid pilihan yang ditempel di lingkungan sekolah memamerkan hadiah utama dan mendorong banyak murid untuk semangat mengikuti lomba. Informasi tentang Lomba Bertutur Lewat Mading tersebar di berbagai grup ekstrakurikuler HighScope seperti PERMISHI, Literatur dan DLDA (Dark Lights Digital Arts) dan kertas registrasi pun disebarkan untuk diiisi oleh murid-murid yang tertarik mengikuti lomba. Pemberitahuan tentang lomba-lomba tambahan seperti foto live report dan video juga disampaikan agar menarik lebih banyak peserta.

Setelah rundown dan jadwal acara sudah disetujui oleh pihak Kotex dan sekolah HighScope, penetapan tanggal dan waktu masih menjadi salah satu rintangan yang dihadapi sebelum acara berlangsung. Setelah diberitahu tanggal acara yang sudah ditetapkan, beberapa murid protes karena situasi yang kurang sesuai dengan keinginan mereka, contohnya seperti pembatalan pertunjukan PERMISHI yang sudah menjadi tradisi untuk diadakan pada bulan Desember tiap tahun ajaran. Acara tahunan OSIS pun juga mengalami pengunduran. Agar semua pihak dapat mengatasi masalah, penyesuaian jadwal oleh pihak OSIS dan PERMISHI dilakukan agar pertunjukan mereka tetap bisa dilaksanakan di lain hari, yaitu pada tanggal 15 Desember. Band-band yang tidak tampil pada hari itu bersedia untuk tampil pada saat acara tanggal 16 Desember sebagai bentuk dukungan. Setelah pengumuman formal diberikan di grup angkatan kelas 10, 11 dan 12, murid-murid mulai banyak bertanya tentang syarat dan ketentuan serta rundown acara. Perincian lebih diberi kepada partisipan acara beberapa hari sebelumnya agar mereka dapat menentukan kelompok serta tema dari mading mereka.

Band-band sekolah sudah diminta partisipasi sebagai hiburan acara setelah informasi sudah tersebar, ditambah dengan partisipasi anggota OSIS yang diikutsertakan dalam proses pemilihan MC serta penyebaran informasi tambahan. Dipilih sebanyak tiga band sekolah dengan masing-masing membawakan 2 lagu. Para MC diundang rapat agar dapat diberi pengarahan yang jelas serta rundown acara.

IMG_4305

Malam sebelum hari acara, lokasi sedang penuh gemuruh campuran suara konstruksi panggung dan pajangan dekor, obrolan pengawas acara dan lantunan samar lagu-lagu yang akan mengiringi kegiatan acara. Properti yang dikirim itu langsung dari sumber-sumber diluar Jakarta seperti Malang Kediri, Pacitan, Gunung Kidul dan pasar pedesaan sudah diangkut ke lokasi dan tinggal dipasang ditempat. Berbagai macam wayang dan topeng tradisional mulai dipajang diatas instalasi gedebok-gedebok pisang di setiap sudut lokasi. Elemen-elemen visual yang hadir dalam Lomba Bertutur melalui Mading, HighScope juga mampu berceritera. Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung. Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan. Sederet keranjang anyaman penuh dengan potongan kain yang berpola ramai, kacang-kacangan dan biji-bijian kering serta bahan-bahan unik lainnya (sabut kelapa, kapas, dll.) untuk digunakan peserta lomba. Daun pisang juga tampak diletakkan diatas lantai yang tidak ditutupi oleh terpal biru, agar tidak mengotori lantai. Peralatan yang disiapkan oleh pihak sekolah, seperti cat, kuas dan lain-lain juga sudah disiapkan. Pekerja yang sudah tampak biasa kerja lembur menerima bekal makan malam yang disiapkan dengan senang hati.

IMG_4599

Pukul 00.00 haru Rabu tanggal 16 Desember, lokasi masih berisi pekerja dan panitia acara yang tangguh melawan rasa lelah merapikan peralatan-peralatan. Aula sekolah yang biasanya kosong tanpa hiasan pelan-pelan disulap menjadi indah dan siap untuk dipakai esok harinya. Semua merupakan hasil kerja keras tim dan pihak sekolah supaya acara tidak membosankan dan dijamin menyegarkan mata murid-murid dan tamu yang sudah matang direncanakan sejak bulan November yang lalu.

Acara yang dipenuhi dengan tawa dan kemeriahan suasana tradisional budaya Indonesia pada tanggal 16 Desember 2015 lalu menjadi buah bibir manis untuk murid-murid Sekolah HighScope Indonesia. Sebelum lomba dimulai, anak-anak sudah terhibur dengan pertunjukan seni bertutur oleh Kak Azis Franklin dan penampilan dari band-band PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia). Pada saat lomba berlangsung, kreativitas dan imajinasi anak-anak menjadi bahan ide untuk mading mereka yang dipajang dan dipresentasikan kepada para juri pada saat-saat terakhir. hiburan spontan dari pihak sekolah (pertunjukan musik dari murid dan para pengawas) ketika pemberian hadiah menjadi penutup yang mengesankan untuk acara tersebut. Diharapkan lebih banyak tawa dan kemeriahan yang dapat dialami oleh Sekolah HighScope Indonesia dengan acara-acara edukatif seperti Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex.

APY_3698APY_3704APY_3711APY_3657APY_3689APY_3692

Inspirasi Kreasi Inovatif: Pengalaman Murid-Murid HighScope Indonesia By Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur
APY_3565

Lomba Bertutur Lewat Mading, SMU High/Scope, TB Simatupang, JakSel

Hari Rabu tanggal 16 Desember 2015 murid-murid Sekolah HighScope Indonesia telah menyambut dengan hangat kemeriahan suasana acara lomba Mading yang diselenggarakan oleh Kotex Indonesia. Dari luar tempat acara terdengar obrolan anak-anak, bercampur aduk menjadi seribu dengungan suara, dengan beberapa murid mencelotehkan komentar dan pertanyaan tentang dekorasi gedebok pisang dan berbagai macam wayang yang menjadi atraksi mata serta lukisan-lukisan tangan yang dipamerkan di dinding dan jendela lokasi. Mereka menunjuk kepada panggung yang tampak siap untuk menjadi serambi pertunjukkan seni, yang dikabarkan akan dipersembahkan oleh teman-teman mereka dari PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia) dan seorang seniman asli, bernama Kak Azis Franklin. Kak Azis tampak seru menjadi bahan obrolan murid-murid dengan alat musik tradisional yang dimainkannya, sebuah alat musik senar yang menyerupai gitar yang bernama Sampek. Lantunan lagu tradisional yang dibawakannya menjadi iringan obrolan anak-anak. Alat musiknya beserta nyanyian lantang oleh Kak Azis memperdalam nuansa Indonesia yang ditunjukkan oleh dekorasi-dekorasi ditambah dengan lantunan musik tradisional dan fusion (semi-tradisional) menjadi pengisi waktu yang sesuai sambil menunggu acara dimulai.

Memasuki tempat acara, para siswa/i dipersilahkan untuk membuka sepatu sebagai bentuk praktek lesehan, atau suasana kedaerahan dan kesederhanaan yang menjadi salah satu dasar budaya Indonesia. “Lesehan” memiliki konsep budaya dalam media komunikasi nenek moyang jaman dulu dimana dengan falsafah lesehan berarti duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Ini mengandung nilai kesetaraan, tenggang rasa, dan humanisme. Kedua MC acara, murid-murid HighScope bernama Rafael Aditya dan Assyla Ridha mengalihkan sorotan mata peserta acara dari dekorasi dan obrolan teman-teman mereka. Acara dimulai dengan tepuk tangan yang menggelegar, menyambut kehadiran Ms. Callie Mackenzie, sang Kepala Sekolah. Setelah apresiasi dari Ms. Callie, disambut lagi presentasi dari Kotex oleh Mbak Ami Damayanti (perwakilan dari Kotex). Seminar kecil ini menyampaikan kegunaan produk-produk dari Kotex serta mendukung aktifitas wanita-wanita muda yang sibuk serta memberikan solusi untuk para wanita yang merasa kesulitan untuk tetap aktif pada saat halangan dengan menggunakan produk mereka. Para peserta mendapat informasi yang lebih tentang brand dan produk-produk mereka. Siswi perempuan akan mendapat goodie bag berisi produk-produk Kotex dan siswa laki-laki pun mendapat informasi tambahan yang informatif serta sertifikat mengikuti acara. Pihak acara juga membagikan flyer berisi informasi tambahan untuk lomba Mading, fotografi dan video pada saat pidato Ms. Calllie.

APY_3128APY_3361

Setelah seminar dari Kotex, seniman Azis Franklin dipersilahkan kedua MC untuk memperagakkan seni bertutur, yaitu menceritakan dongeng tradisional Indonesia dengan menggunakan wayang dan media gambar-gambar yang diperlihatkan di layar putih. Kak Azis menunjukkan keluwesan dan kegesitannya dalam menggerakan wayang, dan peserta-peserta yang hadir pun terbawa dalam candaan dan pembawaan seniman yang memikat perhatian. Cerita-cerita yang dibawakannya berisi legenda dewa-dewi kuno Indonesia penuh dengan moral dan makna serta fabel yang menghibur dan diperankan oleh Kak Azis dengan memanipulasi suaranya menyerupai berbagai macam peran binatang. Cerita-cerita tersebut dapat menarik perhatian murid-murid yang jarang mendengar kisah-kisah tradisional selain yang sudah terbiasa dibawakan seperti Malin Kundang atau Jaka Tarub. Kak Azis menyampaikan kisah-kisah tradisional dengan gaya yang menarik dan sangat mendukung partisipasi murid-murid, sehingga penonton tidak merasa bosan dengan cerita yang dibawakan. Penggunaan media peraga, seperti wayang, topeng dan pakaian seniman tersebut menjadikan penampilannya sebagai pertunjukan seni asli dan tidak setengah-setengah. Murid-murid pun menjadi tertarik mendengarkan cerita yang tidak biasa disampaikan, dan senang melihat Kak Azis dengan gayanya yang hangat dan mengundang tawa. Murid-murid tampak santai duduk di lantai dan memakai batik untuk menunjukkan keragaman budaya Indonesia.

APY_3253APY_3283

Setelah pertunjukkan seni oleh Kak Azis, ia secara detil menjelaskan pentingnya melestarikan seni bertutur kepada murid-murid. Kak Azis dengan cermat memperagakkan berbagai macam metode untuk menyampaikan sebuah cerita dengan menarik dan menghibur. Seni bertutur diartikan sebagai seni menceritakan sebuah kisah yang memilikki makna dan pesan yang berarti, dan lebih memikat imajinasi penonton dibandingkan hiburan biasa. Agar tidak membosankan, Kak Azis tetap mempresentasikan seminar kecil tersebut dengan gaya khasnya yang ceria dan penuh canda. Kemeriahan acara ditambah dengan dinyanyikannya lagu ‘Happy Birthday’ untuk dua murid HighScope, dan menunjukkan kekompakan siswa/i. Kedua MC dengan semangat menyampaikan doa-doa dan harapan untuk kedua murid yang ulangtahun untuk mengisi waktu menunggu set-up oleh band PERMISHI yang akan tampil. Band yang bernama XNY dengan santai membawakan dua lagu sambil mempersilahkan peserta untuk memakan cemilan tradisional Indonesia yang sudah disiapkan diatas lembaran-lembaran daun pisang yang lebar dan hijau. Para peserta dipersilahkan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana. Murid-murid mendapat jeda sejenak dari pertunjukan budaya Indonesia dan mendengarkan dua lagu modern yang dibawakan band tersebut. Mereka tampak senang menikmati musik yang dibawakan oleh band dan memberi tepuk tangan yang besar setelah selesai.

APY_3340

Sambil membuka agenda selanjutnya, penyampaian aturan lomba oleh Mbak Kandi Windoe, para MC mempersilahkan peserta untuk kembali masuk ke dalam tempat acara dan mengumumkan bahwa waktu mulai lomba Mading akan segera dimulai. Para peserta terlihat tertarik mendengar penjelasan tentang definisi dan keterangan mading, sebuah karya seni yang jarang terdengar dan tidak sering dilakukan di sekolah. Mereka juga sangat konsentrasi dalam mendengar penjelasan tentang komponen-komponen penilaian yaitu muatan nilai pesan (40%) yang dinilai oleh Mr. Ody representatif dari HighScope, muatan bertutur (35%) yang dinilai oleh Kak Azis Franklin, dan muatan estetika (25%) yang dinilai oleh Mbak Ami, representatif dari Kotex. Setelah penjelasan tentang peraturan lomba Mading, foto live report dan video, murid-murid berukumpul dengan kelompoknya masing-masing dan mulai mengerjakan Mading mereka. Setiap kelompok diberi nomer urutan secara acak untuk waktu peniliaian. Kelompok yang terbentuk sebanyak 12 grup, dengan jumlah peserta yang berbeda-beda antara 5 hingga 10 orang.

IMG_5158APY_4139

Tema acara secara keseluruhan mencondong kepada budaya dan seni Indonesia, memamerkan keragaman kultur Indonesia yang dihubungkan kepada isi dan pesan yang diharapkan dalam produk mading. Sudah banyak anak-anak muda Indonesia yang merasa “asing” terhadap budaya mereka sendiri, tidak menyadari nilai-nilai kearifan lokal (toleransi, budi pekerti, keteladanan, keselarasan, dan keharmonisan). Maka, tema kreasi inovatif akan mengajak para peserta untuk memadukan unsur-unsur tradisional dan modern untuk menciptakan sebuah “pintu masuk” bagi generasi muda untuk mengenali dan mempelajari seni budaya milik bangsanya. Seni bertutur yang dilakukan oleh Kak Azis Franklin diharapkan menjadi inspirasi dan sumber inovasi untuk peserta. Nuansa Indonesia pun menjadi salah satu bahan yang dapat dimasukkan dalam mading untuk memberi dukungan kepada budaya Indonesia dan wanita-wanita muda Indonesia. Dengan tema kreasi inovatif, murid-murid diharapkan untuk dapat menyampaikan pesan-pesan positif tentang kalangan wanita-wanita muda dan bertutur lewat mading secara langsung pada saat penjurian. Ricuh suara peserta pun bercampur aduk dengan musik yang mengiringi acara ketika lomba Mading sudah dimulai. Para siswa/i dengan semangat mengumpulkan bahan-bahan mading yang telah disiapkan di bagian belakang ruangan, mulai dari alat-alat biasa seperti gunting, cat, lem dan pensil dan yang lebih unik seperti beras dan biji-bijian, potongan-potongan kain, serabut kelapa, batu hias, dan lain-lain. Setiap kelompok yang berisi maksimal 10 orang terlihat sibuk mendiskusikan konsep pesan serta desain yang akan disampaikan di mading mereka. Lirikan dan sorotan tajam terhadap kelompok lain juga dilakukan oleh peserta-peserta yang berambisi memenangkan hadiah utama. Jepretan hasil kamera dan handphone juga banyak terdengar disana-sini ruangan. Para peserta terlihat senang membuat mading, yakni sebuah instalasi seni yang berupa hasil dari kreativitas dan imajinasi mereka sendiri. Murid-murid dengan riang dan santai duduk di lantai dan mengobrol dengan teman-teman mereka, terbawa dengan suasana yang ramai dan seperti perkumpulan biasa, namun tidak lupa dengan karya dan cerita yang mereka harus siapkan. Ketika waktu yang diberikan sudah selesai, masih banyak peserta yang memilih untuk menyelesaikan mading mereka terlebih dahulu sebelum menyantap makan siang.

Diluar ruang acara, terdapat sketsel-sketsel hitam dengan aksen emas untuk menggantung karya-karya para peserta. Sketsel tersebut dibawa masuk ruangan dan para peserta menyiapkan mading mereka, hasil dari kerja keras mereka selama 3-4 jam. Biji-bijian dan batu hias tajam yang berserakan dilantai telah diumumkan oleh para MC dan dijadikan himbauan bagi para peserta. Tumpahan cat dan bahan-bahan mading lainnya yang sudah berantakan di laintai telah menjadi bukti akan semangat peserta. Grup 1-6 dipanggil untuk mempresentasikan mading-mading mereka, lengkap dengan seni bertutur dan moral yang bermakan untuk dinilai. Setelah grup 1-6 sudah selesai, grup yang tersisa dipanggil kedepan. Terdengar banyak tawa yang menggelegar pada saat cerita dan isi mading yang lucu, dan juga renungan untuk penonton ketika mading yang serius dan penuh arti telah selesai mempresentasikan karya seni mereka.

APY_3478APY_3948APY_4072APY_4044

Setelah juri sudah selesai memberikan evaluasi setiap karya mading, para MC mengundang dua band PERMISHI untuk mengisi waktu sambil memproses hasil penilaian. Mading-mading dipindahkan ke sebelah kanan tempat agar penonton dapat melihat band-band dengan jelas. Terdengar lagi tepukan tangan yang meriah, menyambut penampilan oleh teman-teman sekelas. Kegelisahan mereka akan pengumuman pemenang agak reda dengan hiburan musik yang meriah. Guru-guru pun menjadi sumber hiburan yang tak terduga, dengan ajakan MC untuk bebas memanggung ternyata mengungkapan talenta guru-guru di bidang musik, dengan banyak guru yang memperlihatkan keterampilan mereka memainkan alat-alat musik. Suasana menjadi lebih seru, mirip dengan festival seni dan budaya.

APY_4020APY_4038APY_4025APY_4016

Setelah pengumuman pemenang lomba mading dan fotog live report, para pemenang dengan langsung diberi hadiah dan apresiasi dari representatif dari penyelenggara acara. Karya-karya mading tetap dipajang di lokasi sebagai atraksi foto-foto dan menjadi sumber kebanggaan bagi para peserta. MC dengan gesit mengundang lagi hiburan musik untuk meningkatkan kemeriahan suasana, dan acara pun ditutup dengan berakhirnya lagi terakhir serta penutup dari para MC, ucapan terima kasih bagi penyelenggara dan peserta acara.

Lomba Bertutur Lewat Mading: Kreasi Inovatif

Inspirasi Kediri Bertutur

Setelah sukses menggelar program Sarasehan Seni Bertutur yang bekerjasama dengan komunitas mahasiswa dan juga pihak Laboratorium Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Malang, Kotex kembali mengajak generasi muda untuk berinteraksi dan memberikan edukasi tentang seni bertutur dengan tema “Kreasi Inovatif” yang diselenggarakan di SMU Highscope, Jakarta.
Kotex adalah produk pembalut yang diutamakan bagi wanita muda di seluruh Indonesia agar dapat selalu nyaman beraktivitas, bebas berkarya dan berekspresi, serta berprestasi meski sedang datang bulan maupun mengalami kelembaban. Kelembutan dan fungsi Kotex membuat wanita di seluruh Indonesia selalu tampil segar dan penuh percaya diri. Kotex merupakan solusi keberhasilan bagi wanita muda dengan ragam produk yang lengkap dan melindungi secara maksimal.
Pihak Kotex dan SMU Highscope TB Simatupang, Jakarta Selatan berkolaborasi dalam membuat sebuah Lomba Bertutur Lewat Mading pada tanggal 16 Desember 2015 serta Sarasehan Seni Bertutur. Dalam ajang ini, Kotex mengkombinasikan kegiatan marketing dan kegiatan sarasehan berbagi ilmu yang menyasar pada komunitas pelajar dan mahasiswa. Kotex mengundang Praktisi Komunikasi, Kandi Windoe dan Azis Franklin sebagai pendongeng pentas yang akan memberikan materi pelatihan tentang seni bertutur melalui penulisan naskah, penyutradaraan, membangun artistik visual dan pementasan bertutur. Dari pelatihan ini kemudian peserta dapat mengaplikasikan seni bertutur tersebut melalui media majalah dinding (mading) atau media video yang dapat diikutsertakan dalam kompetisi. Terdapat beberapa kompetisi dalam kegiatan ini selain Lomba Bertutur lewat Mading SMU yaitu Lomba Photo Live Report yang diselenggarakan on the spot, dan juga lomba dalam masa tunggu satu bulan penyerahan terdiri dari Lomba Karya Tulis Online dan Lomba Karya Video Online.
Program ini merupakan bentuk wujud terima kasih Kotex kepada wanita-wanita muda Indonesia yang telah mendukung produk Kotex. Program edukatif dan kreatif yang akan terus dikembangkan merupakan bentuk “saling memberi” antara satu sama lain. Jalinan relasi interaksi yang terbina diharapkam mampu menjadi sinergi positif antara Kotex dengan konsumen. Jalinan hubungan Kotex dengan konsumen bukan sebatas hubungan yang bersifat dagang, akan tetapi didasari semangat untuk saling membangun.
Azis Franklin, Pendongeng asal kota Malang menjelaskan “Dongeng memiliki kekuatan lebih dibanding tayangan TV karena dapat meningkatkan imajinasi pendengar melalui cerita yang disampaikan. pendongeng hanya perlu menggali kreativitas seperti menyesuaikan intonasi suara berdasarkan karakter dalam cerita dan penggambaran sehingga pendengar akan merasa senang.” Menurut pemain teater ini “Dongeng dapat memberi pesan moral tanpa merasa dinasihati.”
Dari sisi komunikasi, Kandi Windoe menjelaskan, “Seni bertutur merupakan seni dalam berkomunikasi, pesan yang akan disampaikan berupa perpaduan dari dongeng dan seni rupa atau peraga visual. Sementara mading merupakan salah satu media komunikasi massa yang biasanya memiliki konten tulisan, gambar, atau kombinasi keduanya yang disusun secara variatif dan harmonis sehingga terlihat menarik.” Praktisi Komunikasi ini menambahkan “Lomba bertutur lewat mading ini memadukan berbagai ilmu mulai dari komunikasi, seni dan sosial ke dalam sebuah aktifitas yang kreatif. Nilai-nilai seperti; team work (kerjasama), komunikasi, apresiatif lewat karya dan tulisan, adalah nilai-nilai edukatif yang dikembangkan melalui kegiatan lomba ini.”
Tema yang diangkat adalah Kreasi Inovatif. Indonesia sangat kaya akan seni dan budayanya. Akan tetapi generasi muda saat ini tidak lagi mengenali, atau bahkan sangat “asing” dengan seni dan budaya milik bangsanya. Padahal seni dan budaya Indonesia kaya akan nilai-nilai “history,” serta mengandung nilai-nilai kearifan lokal (toleransi, budi pekerti, keteladanan, keselarasan & keharmonisan). Melalui pengembangan “Kreasi Inovasi,“ yang memadukan “estetika” seni tradisi dan unsur modern dalam bentuk kolaborasi bisa menjadi karya inovatif. Karya-karya inovatif (kolaborasi tradisi & modern) bisa menjadi “pintu masuk” bagi generasi muda untuk mengenali dan mempelajari seni budaya milik bangsanya.
“SMU Highscope sangat mendukung kerjasama dengan pihak Kotex dalam menyelenggarakan kegiatan yang berkualitas ini sehingga anak didik Highscope Indonesia dapat bertambah ilmu tentang seni bertutur baik dari sisi teori dan juga praktek. Dari kegiatan ini pula diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk menunjukan sisi kreatif mereka baik dalam berkreasi melalui mading dan berkarya melalui media fotografi, videografi dan karya tulis.” Tutup Callie R. Mackenzie, Highscope High School Principal, TB Simatupang.

Swarung Mandala Selomangleng & Sarasehan Budaya Kediri

Inspirasi Kediri Bertutur

“Gua selomangleng” di kota Kediri-Jawa timur, terletak di kaki Gunung Klotok. “Gunung Klotok” merupakan bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di sebelah timur. Gua Selomangleng merupakan situs bersejarah tempat pertapaan “Sanggrama Wijayatunggadewi, ” yang lebih dikenal dengan nama “Dewi Kilisuci,” seorang puteri mahkota dari Kerajaan Kahuripan. Dewi Kilisuci atau Sanggrama Wijaya adalah puteri Raja Airlangga yang lebih memilih jalan pertapaan demi mencapai pencerahaan dari pada menjadi pewaris tahta kerajaan. Kisah perjalan dewi kilisuci memiliki kemiripan dengan perjalanan Sidharta Gautama yang pergi meninggalkan kemewahaan istana demi perjalanan suci. “Gua Selomangleng,” merupakan Widya Kadewatan atau Widya Mandala, yang berarti tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dewi kilisuci adalah insipirator pluralisme dan pemersatu.
Adanya arca budha dan relief garuda mukha di dalam Gua Selomangleng menjadi bukti bahwa sinkretisme antara Hindu dan Budha sudah terjadi di era Dewi Kilisuci. Merujuk pada simbol Budha dan Hindu yang terdapat di dalam gua, berarti dulunya penganut Hindu dan penganut Budha pernah tinggal bersama-sama, hidup rukun dan damai di satu tempat yang sama yaitu; kawasan Gua Selomangleng.
Dewi Kilisuci adalah sosok sentral bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji. Bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji, berarti bersatunya kerajaan Jenggala dan Daha (Kediri). Kisah Dewi Kilisuci sebagai pemersatu Panji dan Dewi Sekartaji terdapat dalam cerita atau lakon “Panji Semirang.” Kisah Dewi Kilisuci banyak dikaitkan dengan mitos, legenda, foklor, sampai seni tradisi; mitos Lembu Sura dan Mahesa Sura yang ada di Gunung Kelud, kesenian kuda kepang dan reog kendang, cerita Panji Semirang dll.
“Srawung Mandala Selomangleng,” adalah aktifitas budaya melalui pagelaran dan sarasehan (seminar) yang bertujuan “merevitalisasi ” fungsi sakral Gua Selomangleng sebagai tempat sumber ilmu pengetahuan dan keselarasan.
Judul Sarasehan
a. Kajian Panji Dalam Cerita Mbok Rondo Sumber Dadapan. Narasumber: Prof. Dr. L. Dyson P, Drs, M.A.
b. Dongeng Panji Inspirasi Perkokoh Ke-Bhineka-an NKRI. Narasumber: Agus Bima Prayitna (Mbah Bima Merapi Timur)
c. Fungsi Sakral Gua Selomangleng Lintas Masa. Narasumber: Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum.
d. Seni Pertunjukan. Narasumber: Daniel Haryono B.A., M. Hum.

Sarasehan Seni Bertutur

Inspirasi Kediri Bertutur

Sadar akan banyaknya wanita muda Indonesia yang memiliki keunikan karakter dan kemampuan luar biasa yang dapat memberikan manfaat positif bagi orang lain dan lingkungan sekitar, Kotex berinisiatif membuat suatu media untuk berinteraksi dan berbagi mengenai karya kreatif yang dibungkus dalam suatu program bertajuk “Hai Wanita Muda Tunjukan Inovatifmu” yang diselenggarakan di Universitas Muhamadiyah Malang tanggal 1 December 2015.

Tema yang diangkat Kotex adalah “Hai wanita muda tunjukan inovatifmu,” diperuntukkan sebagai wadah kreatifitas dan bentuk apresiasi bagi wanita muda kreatif. Ini bukan ajang pencarian bakat, akan tetapi merupakan media interaksi dan berbagi lewat ekspresi karya kreatif mulai dari bidang: seni, style, hobby, entrepreneur, lingkungan, sampai pemberdayaan edukatif.

“Hai wanita muda tunjukan inovatifmu,” bisa menjadi sumber inspirasi kreatif wanita muda seluruh Indonesia untuk berkarya.
“Masa muda adalah masa-masa indah dan jangan sia-siakan.” Lewat ekspresi kreatif ini, Kotex mengajak wanita muda seluruh Indonesia untuk mengisi keindahan masa-masa muda dengan semangat karya.

Kotex adalah produk pembalut yang diutamakan bagi wanita muda di seluruh Indonesia agar dapat selalu nyaman beraktivitas, bebas berkarya dan berekspresi, serta berprestasi meski sedang datang bulan maupun mengalami kelembaban. Kelembutan dan kehalusan Kotex membuat wanita di seluruh Indonesia selalu tampil segar dan penuh percaya diri. Kotex merupakan solusi keberhasilan bagi wanita muda dengan ragam produk yang lengkap dan melindungi secara maksimal.

Dalam ajang ini metode berkarya dalam seni bertutur atau storytelling dapat diaplikasikan dalam bentuk kompetisi video dan foto oleh para peserta. Dalam kompetisi rekam cerita, peserta dapat menceritakan tentang perjalanan dalam membuat suatu karya, mulai dari ide kreatif, visi dan misi serta hambatan dan tantangan. Video dan foto rekam jejak inspiratif ini dapat dilakukan dengan berkelompok atau individu yang di unggah melalui sosial media.

Universitas Muhamadiyah memberikan respon positif atas kerjasama yang diajukan oleh pihak Kotex. Kegiatan ini sangat berkualitas dan mendorong para mahasiswa untuk ikut berkarya, serta meningkatkan skill mereka dari apa yang dasarnya sudah mereka terima melalui materi perkuliahan.

Dengan menggunakan metode bertutur dalam karya video dan foto akan menjadi menarik. Bertutur adalah bentuk komunikasi aktif dan bukan satu arah. Umumnya metode komunikasi satu arah bersifat pasif, penerima pesan hanya menerima dari pemberi pesan, dan tidak ada interaksi langsung. Bertutur merupakan seni komunikasi. Sebagai seni komunikasi, penyampaian pesan lewat metode bertutur pastinya tidak terlepas dari bentuk, unsur-unsur, serta aktifitas seni. Bertutur memiliki pesan / isi yang inspiratif: nilai pesan yang mampu menjadi teladan (budi pekerti, tuntunan), sumber kreatifitas/inovasi dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Bertutur mengandung kisah atau cerita perjalanan mulai dari ide kreatif, visi dan misi, hambatan dan tantangan. Adanya perpaduan seni seperti; pedalangan, dongeng, tembang (nyanyi) dalam aktifitas bertutur, berarti aspek storytelling sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat kita. Bertutur merupakan metode komunikasi yang mencerminkan karakter dan kepribadian masyarakat Indonesia. Bertutur bukan hanya metode komunikasi, akan tetapi bertutur juga sebagai pengikat jalinan kebersamaan, serta kekeluargaan.

Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung. Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan. Terciptanya iklim masyarakat yang guyub “kebersamaan” dan rukun di tempo dulu serta penanaman nilai-nilai budi pekerti kepada anak-anak, tidak bisa dipisahkan dari peranan dan fungsi “tradisi bertutur.” Lewat Kotex Sarasehan Seni Bertutur ini, “kegeniusan tradisi” nenek moyang dulu yaitu “bertutur” tidak lagi menjadi “tradisi yang hilang” dalam masyarakat sekarang yang berkiblat pada budaya modernitas.

 

 

Peradaban, seni dan budaya nusantara milik bangsa indonesia sebagai warisan dunia.

Inspirasi Kediri Bertutur

Membuka kembali sejarah peradaban klasik nusantara bukan berarti tenggelam dalam romantisme (nostalgia) masa lalu. Ilmuwan-ilmuwan barat tidak memiliki istilah dan kata “ndeso-kuno” tatkala menelusuri dan mempelajari peradaban klasik nusantara yang justru dipandang “kampungan dan ketinggalan zaman ” oleh generasi (masyarakat) jaman sekarang. “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut diseberang lautan justru tampak jelas,” sebuah perumpamaan yang bisa dipakai untuk menerangkan perspektif budaya dari generasi (masyarakat) zaman sekarang.

Indonesia pernah menjadi pusat penting ilmu pengetahuan agama Buddha se-Asia Tenggara. Berita dari Cina 682M mengabarkan I-Tsing seorang pendeta dari Tionghok pernah menimba dan mendalami ilmu paramasastra atau tata bahasa sanskerta di pusat perguruan tinggi terbesar se-Asia Tenggara dan se-Asia Timur yang pernah didirikan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim terkuat yang menguasai perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya telah merambah ke Kamboja, Thailand Selatan sampai Semenanjung Malaya. Kerajaan Sriwijaya kaya akan emas hingga disebut Negeri Swarnadwipa (pulau emas).

Candi Sukuh, Karanganyar di Jawa Tengah2

Melihat kibar sang saka Merah Putih berarti melihat kejayaan dan kebesaran Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya pendiri kerajaan Majapahit (1293 M) akan terus dikenang sepanjang sejarah bangsa Cina. Kerajaan Majapahit berhasil mengalahkan dan menaklukkan “pasukan langit, ” Kerajaan Yuan dari Cina. Pasukan bangsa Mongol dibawah pimpinan Raja Kublai Khan merupakan pasukan terkuat di dunia pada saat itu. Hampir semua pertempuran dan peperangan yang dilakukan untuk menaklukkan dan menguasai dunia telah dimenangkannya. Kibar sang saka Getih-Getah telah menandai kemenangan pasukan Raden Wijaya atas pasukan Kublai Khan. Dan sang saka Getih-Getah merupakan panji (bendera) kebesaran Kerajaan Majapahit. Peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia mengenai kemenangan pertempuran pasukan Raden Wijaya atas pasukan bangsa Mongol tercatat didalam Piagam Merah Putih atau Prasasti Butak yang berangka tahun 1292 M.

Dewi Sekartaji putri raja Kerajaan Daha dari Cerita Panji2Dunia mengakui sejarah kejayaan dan kebesaran peradaban nusantara di jaman dulu mulai dari Kerajaan Sriwijaya (Sumatera), Mataram kuno (Jawa Tengah) hingga Majapahit dengan pusat
kerajaannya berada di Trowulan-Mojokerto. Candi-candi dengan keindahan reliefnya, seperti Borobudur, Prambanan, Penataran, Sukuh dan masih banyak situs-situs ataupun artefak lainnya yang tersebar di nusantara merupakan bukti-bukti peninggalan bersejarah dari sebuah peradaban yang sangat tinggi.

“Indonesia’s world heritage: Borobudur” dibuat oleh seniman Indonesia bukan dari India. Cerita Mahakarmawibhanga di relief Candi Borobudur banyak menggambarkan alam geografis dan kehidupan sehari-hari masyarakat di Jawa. Bukti lain dengan tidak ditemukannya pemukiman orang-orang India saat penggalian, dan adanya inskripsi (tulisan) dalam aksara dan kata-kata Jawa kuno bukan aksara Deva-Nagari maupun bahasa Sanskerta di atas panil Candi Borobudur telah menegaskan bahwa Candi Borobudur merupakan sebuah mahakarya dari peradaban nusantara.

Cerita Panji tidak dipengaruhi kisah Mahabarata ataupun Ramayana dari India. Kisah Panji bukan sekedar roman percintaan biasa. Di balik kisah Cerita Panji terkandung makna tentang keselaras religius, keselarasan ekologi, sistem norma (aturan atau petunjuk hidup), keteladanan kepemimpinan, sampai falsafah dan tuntunan kehidupan (kesetiaan, perjuangan, kejujuran, budi pekerti). Cerita Panji telah menjadi sumber inspirasi bagi sistem kebudayaan di Asia Tenggara khususnya Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Relief Cerita Panji banyak dipahatkan di candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Cerita Panji juga dapat ditemukan dalam bentuk sastra, kesenian tari, pertunjukkan wayang sampai karya seni lukis.

Relief Panji di Candi Penataran2

Unesco secara internasional juga telah mengkukuhkan hasil karya asli indonesia sebagai warisan dunia diantaranya: wayang kulit (2003), keris(2005), batik (2009), angklung(2009), tari saman (2009).

“Memakai jas, celana jeans, berada dalam mobil mewah, menyanyikan musik jazz, hip hop sampai rock & roll adalah suka-suka. Sah – sah saja memilih budaya modernitas. Akan tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal dalam keurbananmu adalah penting, agar kehidupan ini bisa selaras. Jangan takut lagi menggali dan menemukan nilai-nilai peradaban, seni dan budaya nusantaramu karena gak ada yang ndeso atau kampungan di dalamnya”.

Relief Candi Sukuh, Karanganyar di Jawa Tengah2

Sosok Garuda di Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah2

Kreatifitas Anak Kampung Gedang

Inspirasi Kediri Bertutur

Cerita Panji umumnya berlatar kebudayaan agraris. Penggambaran peristiwa atau tempat kejadian dalam kisah Cerita Panji yang ada di relief-relief, tembang dan dongeng berkenaan dengan hutan, sumber air, tradisi panen raya sampai aktifitas di pasar.

Tradisi panen raya dalam Cerita Panji adalah sumber inspirasi dibalik gagasan Kreatifitas Anak Kampung Gedang. Kegiatan ini telah diawali dengan menanam biji jagung bersama anak-anak serta warga Kampung Gedang. Saat menunggu masa panen, anak-anak dibekali berbagai bentuk kreatifitas lewat workshop oleh mahasiswa UI, program periklanan internasional. Pertunjukkan hasil workshop akan diadakan bertepatan saat masa panen tiba.

Menumbuhkan kesadaran sejak dini pada anak-anak akan arti pentingnya menjaga, merawat serta melestarikan alam (harmonisasi manusia dan alam) adalah tujuan dari diadakannya edukasi tradisi panen raya lewat Kreatifitas Anak di Kampung Gedang.

Cerita di balik program Kreatifitas Anak Kampung Gedang adalah merupakan program kreatif edukatif bagi mahasiswa yg mengintegrasikan berbagai disiplin keilmuan, seni, potensi dan bakat mahasiswa secara aplikatif.

Program ini didesain (memiliki pola rancang) sebagai sarana brainstorming, pendalaman dan penajaman perspektif mahasiswa dlm melihat aspek media, integrasi, marketing bukan dari aspek komersial komoditas, melainkan dari aspek antropologi budaya.

Budaya masyarakat adalah perpaduan aspek integrasi media dan marketing bila di lihat dari aspek antropologi budaya.

Dengan cara antropologi budaya, media tidak lagi dilihat hanya dalam bentuk cetak, visual audio serta teknologi perangkat semata.

Dan marketing tidak lagi dilihat dari aspek kebutuhan konsumen saja, melainkan dari aspek komunikasi dalam tradisi serta budaya masyarakat.

Mahasiswa akan bekerjasama untuk membuat konten budaya untuk digunakan melalui berbagai media seperti  kegiatan ‘event’ sederhana di outdoor dengan komunitas yang tinggal di Kampung Gedang  dengan adanya kegiatan ‘engagement’ secara kontinu selama 3 bulan.

Pengalaman ‘engagement’ off-air ini merupakan bahan untuk materi online dimana mahasiswa akan membuat berbagai macam konten secara individual untuk disebarluaskan di internet.

Seni dan tradisi budaya masyarakat adalah perpaduan integrasi media dan marketing yang secara utuh. Seni tari, musik, dll. secara media dipakai  untuk komunikasi pesan dalam menyampaikan nilai-nilai budaya secara universal. Tradisi budaya adalah marketing untuk mempertahankan nilai-nilai budaya.

Bentuk: membentuk kampung kreatifitas anak.

Kegiatan:

  1. Merancang event kreatif “seni dan daur ulang sampah”
    2. Berkebun bersama ”tanam jagung’‘ menanamkan kesadaran peduli dan cinta lingkungan

Community Marketing: The process is as important as the result

Inspirasi Kediri Bertutur

Community Marketing is not an event, it is not activation within a community, nor it is event organization done for communities. Community Marketing does not buy consumers, what it does is meet their needs in a conducive context best for the brand and consumers to interact and engage.  Community Marketing is a combination of interaction, communication, nurturing, networking, collaboration, fusion and assimilation of vision.  These processes are critical in the very beginning when we approach each community under a common ground. There are no shortcuts, no formula, and no one standard operating procedure that can apply to all. Most tend to think that it is about building friendship and let social media amplify engagement around that relationship. It is more than that if one is to immerse and build commonality via culture building and cultivation. Anthropology, sociology & cross cultural sciences are knowledge one must use to manage the dynamics of community marketing. Regardless of how big or small the scale of the project, the process of identification, interaction, nurturing and cultivation are all critical to the proper implementation of community marketing.

Muniz and O’Guinn (1991) define a brand community as a “specialized, non-geographically bound community based on a structured set of relationships among admirers or a brand.” According to their research, brand communities share three core characteristics: the existence of a consciousness of a kind, the presence of shared rituals, and a sense of moral responsibility between members (source: A Brand Building Literature Review by Francisco Guzman (ESADE); excerpt from PhD thesis “Brand Building Towards Social Values: Associating to Public Goods”).

Marketing communication strategies such as advertising, promotion, PR, and sales all focus on attaining customers, community marketing focuses on the needs of existing customers. In order to fulfill these needs, we need to turn to the sciences of anthropology, sociology & cross cultural knowledge and create communication campaigns leveraging digital marketing, community relations, public relations, engagement tactics and storytelling. This combination of relevant communication disciplines are used within the context of group culture development.

People have many needs in their lives, and effective community brands cast a wide net of support. These needs covers the following: reach beyond my network, establish permanent roots, preserve moments of privacy, capture the present, get help to get stuff done, cultivate my skills, stay adventurous, manage expectations, seek tools to support my unique DNA, raise the quality of my interactions, pursue luxuries guilt-free, sustain my passions, explore different parts of my identity, express devotion, deepen bonds through shared ownership, aspire to be my own keeper, use social rules to position myself in the larger picture and level out my connections. Community efforts that work to recognize and fulfill the needs of real people – individually and collectively – are those that gain momentum and deliver results (source: The Seven Deadly Sins of Brand Community “Management” By Susan Fournier (Boston University) and Lara Lee (Jump Associates).

This is where it is critical to gain unity in a single vision by establishing commonality via creating a compelling value and mission for the recruitment of potential communities. Integrate a purpose to bond and bind community members by creating a platform for the brand to facilitate within the communities and become the integrator towards a common goal/greater purpose. Create an immersion program to penetrate communities and build co-create culture to strengthen the brand into the culture of the communities by positioning the brand as community co-creator. Nurture the relationship and engage with content on a routine and consistent basis.

Brand communities (Muniz and O’Guinn 2001; McAlexander, Schouten, and Koenig 2002) is a concept that strengthen brand equity and reinforcing the social nature of brands, thus, encouraging the process of brand community participation. “Brand communities carry out important functions on behalf of the brand, such as sharing information, perpetuating the history and culture of the brand, and providing assistance. (Muniz and O’Guinn 2001). Members actively engages in community activities and interacts with other brand community members (source: A Brand Building Literature Review by Francisco Guzman (ESADE); excerpt from PhD thesis “Brand Building Towards Social Values: Associating to Public Goods”).

Based on research on brand communities suggests various outcomes of brand community cultivation. For example, McAlexander et al. (2002) state that community participation encourages multifaceted relationships (i.e., between owners and the community, as well as between customers and the brand) that exert direct, positive, and long-term influences on brand loyalty.

Participation ensures a community’s long-term growth by attracting new members and strengthening the foundation of older members. Brand managers can benefit from community participation that offers valuable insights into potential product design improvements and new product development opportunities (Algesheimer et al., 2005) (source: A Brand Building Literature Review by Francisco Guzman (ESADE); excerpt from PhD thesis “Brand Building Towards Social Values: Associating to Public Goods”).

To create bonding of such depth, it is key to view communities as a sub-culture group (a subculture is a group of people within a culture that differentiates itself from the larger culture to which it belongs). Community is about building sustainable and lasting impact:  it’s about cultivating cultural bedrock in which everyone can find a role.  The strongest communities recognize and nurture multiple roles beyond those dedicated to buzz-making, and enable members to evolve, negotiate, and change their community roles over time. Strong communities appreciate the complete person, and refuse to segment into fragmented, static roles (source: The Seven Deadly Sins of Brand Community “Management” By Susan Fournier (Boston University) and Lara Lee (Jump Associates).

  1. Audience: receives and validates performances
  2. Learner: takes mentorship and seeks improvement
  3. Back-up: act as a safety net to others
  4. Partner: acts as both peer and motivator
  5. Storyteller: carries the culture within the community
  6. Hero: acts as a role model to others
  7. Catalyst: introduces others to new people or things
  8. Provider: hosts or takes care of others
  9. Mentor: teaches others and shared expertise
  10. Decision Maker: makes key choices affecting community function and form
  11. Talent Scout: recruits and invites new people
  12. Performer: takes the spotlight and makes themselves visibile
  13. Ambassador: represent the community to the outside
  14. Celebrity: well known figures of the community

In viewing communities as sub-culture groups therefore, communication is about engaging the audience in an active, non-intrusive prospect and customer conversation.  There are 3 Tools of Community Marketing which consists of:

  1. Pools: People have loose associations with others in the community and strong associations with the shared activity, goals, or values. The activity, goals or belief is key to this affiliation.
  2. Webs: People have strong one to one relationships with others in the community who have a similar set of needs. The other people are key to this affiliation.
  3. Hubs: People have strong connections to a central person in the community and weaker associations to others in the community, the central person is key to this affiliation

Astute companies fully leverage community by engaging all three forms of affiliation—pools, webs and hubs—in ways that are relevant to consumers and the brand.

  1. Brand pools can be strengthened by actively cultivating webs within the community, and expanded by selectively affiliating with hubs to bring in new members.
  2. Hubs can be used to create bridges to new pools with shared values, and webs can be fostered to encourage assimilation of new members and deeper connections among the existing base.

Multiple approaches allow the firm to create and capture more value than through one affiliation form alone. Community as a system can be optimized for maximum strength (source: The Seven Deadly Sins of Brand Community “Management” By Susan Fournier (Boston University) and Lara Lee (Jump Associates).

Whatever the communication activities/programs like digital, event, engagement, collaborative projects etc., community marketing positions the communities as assets and prioritize collaboration with brands in bringing innovation and creativity. Community marketing is structured on 3 key elements:

  1. Community is a potential strength when in collaboration. The strength lies in the power of partnership, togetherness, teamwork and involvement/engagement with consumers. Community marketing has the appeal of sustainable engagement since the characteristics of community are teamwork, synergy and integration founded on similar values and goals. Communities are potential market that go beyond selling, more so it builds culture and when done right can provides innovation for the brand.
  2. Content: is the lifeblood for community building. This is bridge for the creation of creativity and innovation. Conversations and co-creation culture will thrive on content that solidify the values and interactions between its members. It is this content that provides context and breadth for the brand to speak and voice out.                                                                                                                                                                                                                        It is critical to create an independent digital ecosystem that will aggregate and become the home of the communities collaborative & co-creation efforts. In gathering all members into one web, it collects database of the collective communities that the brand is able to synergize and integrate. Content will focus on creating and distributing valuable, relevant, and consistent content to attract and retain a clearly-defined audience — and, ultimately, to drive profitable customer action.
  3. Consumer: any consumers that aspire to the same value will engage and gain added value by being associated to the community and the brand.  Recruitment of consumers will be the results of collaboration and co-creation where the brand will come to life through creativity and innovation.

How do brands navigate in community marketing? It is best to accept the truth early on in the process that brands can not and do not own communities. Brands are gatekeepers of values and nurture that value into action via community marketing. Brands are community co-creators. Brand stewards view themselves as community co-creators: colleagues who act in tacit partnership with the community to help members reach their goals. Community members continually refresh the brand’s meaning through new applications and expressions.

Doing activation riding on community events via community leaders is only an entry tactic however will not be sustainable in the long run in building brand community participation. The brand steward’s job is to create conditions in which the community can thrive and flourish, and stay attuned to opportunities to meet community needs as they evolve. Engage with the community based on core design principles that allow the flexibility that communities need to thrive and grow.

The convention defines ‘market’ as a place of buy & sell, community marketing has a different perspective. Market can be created and cultivated within existing communities through culture and collaboration.

Community marketing is compelling especially when community costs less, community bonds closer, community maintains authenticity & relevancy, and community drives innovation.

 

Lessons from the Golden Age: Majapahit by Nadine

Inspirasi Kediri Bertutur

 FOREWORD

 This writing is one of the selected essays done by undergraduate students of “Organizational Communication” from University of Indonesia, the faculty of social and political sciences, international communication program of public relations 2013.

“It starts with interactions between two worlds: the modern and the tradition. Through conversations and engagements build bridges towards understanding. Accepting differences mean being open to diversity. Open the doors toward collaboration of different worlds and of different cultures and arts. Being authentic is as important as being different. Prevention of going obsolete starts with a conversation of differences. It is our job as communicators to build bridges from our roots progressing forward to the present and future. So when everyone else is going global, we are deeply rooted in our local wisdom whilst keeping touch with modernity,” Kandi Windoe

Inspired by the same spirit, Kediri Bertutur takes the undergraduate students on their own cultural journeys. Kediri Bertutur presents Nadine Kamarwan’s personal writing after taking a look into Indonesia’s history of Majapahit kingdom.

Lessons from the Golden Age: Majapahit

BACKGROUND: Indonesia is a huge country made up of a convergence of thousands of islands, rich in both culture and natural resources and equipped with one of the world’s largest populations, it would not be difficult to imagine Indonesia in a high position of power on an international scale. It is one of the most heavily populated countries in the world, with an economy that has joined the ranks of the top twenty biggest economies on the planet that is still rapidly growing. Within it are people of diverse ethnicities with seven-hundred distinct spoken languages, plants and animals unlike those that can be found anywhere else in the world, and inarguably the most amazing food in the world. However, even with all these resources, Indonesia is still far from the powerhouse that it has the potential to be. After years of colonization and oppressive regimes, what was once a glimmering country rife with the potential for greatness, the flowering bud that was Indonesia seems to have wilted. In all those years, what could have possibly changed a country so drastically?

INTRODUCTION: Nationalism, the pride one has in his/her country used to be all the rage back in the twentieth century. This was the period in which nationalism was at its peak importance to fight against the imperialists and gain independence. Another time nationalism ran rampant throughout the streets was in the overthrowing of the Soeharto regime in the late nineties. From these two events we can conclude that nationalism and patriotism is most prevalent in times of oppression in which the people demand freedom and fight against injustice. However, in recent years, with minimal conflicts be it within the country or outside of it, Indonesia has entered a state of relative peace. The force of nationalism that was once needed to solidify the country in the collective fight against oppression slowly fell out of fashion. In the current age less and less people are interested in their own country. Globalization has introduced us to many new interesting cultures that we want to assimilate into our lives. And the recent state of politics within Indonesia has led many young people to become cynical and disdainful towards their own country, as one would be when constantly being bombarded by said nations terrible aspects from all media. The international reputation of Indonesia could also do with some help. Though it is undeniable that Indonesia is beautiful and its natural resources and beauty is plentiful, this does not distract the international community from Indonesia’s many flaws. According to Transparency International, an organization focusing on international corruption, Indonesia ranked one hundred fourteenth out of the one hundred seventy-seven countries being evaluated 1. Within South-East Asia, Indonesia is the wealthiest country, however when taking into account the population of each country, the numbers drastically change 2. As a large country with a huge population, it is not a walk in the park to keep this country morally upright and going in the right direction all the time, thus leading us to the outside perception that Indonesia is poor, that we are lazy, that we are terrorists and corruptors, that we are uncivilized and a third world country. These incorrect outward perception of Indonesia also plays a role in the way we as our countries citizens view ourselves. It is not that Indonesia’s potential has faded, it is merely that many of our people still fail to see it, and many that do fail to utilize it for the improvement of the country and its people as a whole. In the modern era, though we are in abundance of peace, pessimism and cynicism regarding our own country still runs rampant amongst the people.

With the advent of globalization and the rise of the middle class, more and more individuals are losing their sense of national identity. Though change is inevitable and good, the collateral damage lies in the form of our culture and traditions. Changes in time have caused a dissonance, a rift between rich and poor, between traditional ways and new more “glamorous” western sensibilities, between people who try to preserve the old world and people too eager to move on into the sparkling new. Though we cannot fault those who wish to press forward, there is still much to learn from our ancestors, whose leadership built kingdoms and forged bonds amongst the islands far before the creation of modern day communication technology. The main issues that modern day Indonesia are facing are mainly the decline of a national identity and morale. This one issue can lead to a slew of even more pressing matters such as the dissolve of Indonesian customs and traditions. Another big problem lies in our geography. As Indonesia is a country separated by bodies of water we are relatively detached from island to island, most of the development and population are concentrated in the island of Java leading to inequalities and uneven distributions of power, education, and representation. This issue further adds to the waning national identity that is the only thing holding out scattered islands together. So now comes the question of how we can restore Indonesia to its original glory, the simple answer to which lies in looking back into our past, to the era of the great kingdoms. Mainly, the kingdom considered the greatest of all of Indonesia’s ancient kingdoms, The Majapahit Empire.

MAJAPAHIT: Majapahit was one of the great empires of Indonesia’s past and although it was based on the island of Java, it was the biggest empire to have ever formed in South-East Asia with territories reaching out as far as some of the Philippine islands. It was established in the thirteenth century, reached its peak power on the fourteenth century before its eventual decline in the fifteen hundreds. Frequently dubbed as the greatest era of Indonesia, the Majapahit Kingdom was known for its grandeur, palaces decorated in gold, extravagant homes for the royals, and plenty of spices for trade. In books written by travellers, merchants, and other world leaders of the time, no intricacy of the Majapahit lifestyle was left out. It was this grandeur that attracted many to the kingdom, some for trade, others for less noble purposes. Much of the information that can be found about the Majapahit Kingdom can be found in the eulogy to Majapahit King, Hayam Wuruk, “Nagarakretagama”. Within it details the traditions, ceremonies, historical figures, and a detailed description of the kingdom itself. The main production of the kingdom included spices and rice as well as craftsmanship and their architecture. Most of their economy is built on spice trade and trade of their natural resources such as woods and other plants, fruits, and vegetables. The Majapahit Kingdom also had a currency system made out of coins made of silver and gold. Later on, however, the currency changed into copper cons brought to the kingdom by Chinese traders and merchants. The kingdom also had and implicated a tax system to be paid in cash. They were well versed with foreign trade and had trade agreements and arrangements with various neighbouring kingdoms reaching as far as South Indian empires. Through the artifacts that they left behind, we are able to gauge the values and principles that people of the Majapahit kingdom had at the time. From their architecture through which they’ve decorated with traditional stories and art, we see their kingdom depicted as an agrarian society focusing on agriculture and the cultivation of the land, they valued craftsmanship and art, they were well versed with the technology available to them at the time and were able to use said technology efficiently and usefully in the building of their kingdom and civilization, and they were very aware of city planning and environmental management. Majapahit, being a Hindu kingdom, also holds traditional Hindu values. These values are known as the “Nine Beliefs of Hinduism”. These beliefs include the belief in one supreme divine being, the belief in an eternal cycle of creation preservation and destruction, the belief that life is sacred, the belief in destiny through karma, the belief reincarnation, and the belief in an unseen world occupied by divine beings among many others. If they had followed these beliefs thoroughly, it would be safe to assume that the Majapahit people were tolerant and accepting and valued life and faith. Being a large empire, it is not surprising that one of Majapahit’s goals was expansion into new territories. They did this through expedition, both naval and military. However, rather than pillaging and taking, they settled for a more diplomatic route and build alliances. Several of the things we can learn from the values they hold include the acceptance and tolerance of one another, the appreciation of art, their community building skills, as well as their respect towards nature and the environment. We have much to learn from our ancestors, proven by how prosperous of a kingdom they’ve created. Aspects of the ancient civilization still permeate into our modern culture and the basis of our country. Our national motto, “Bhinneka Tunggal Ika” originates from a Majapahit poet. Majapahit was believed to be the ideal society by many Indonesians, our very first president, Soekarno, even tried to shape this new country after the old glory of the fallen kingdom. We have established that, yes indeed, the values of Majapahit has incorporated itself deeply within our country’s sould, henceforth, the challenge will be how to peak the interest of the public regarding the old ways of Majapahit as well as how to best communicate this information to the public in a way that will be game changing and revolutionary.

CAMPAIGNS: There is much to learn from the Majapahit era. Some valuable lessons can be learned and applied to modern day Indonesia in hopes to solve several of our current issues. Therefore, it is imperative for the nation to look back into our history and mine it for said lessons. The first step to doing so would be to raise public interest in the topic, then to raise awareness about the Majapahit Kingdom, and lastly to infuse understanding on the traditions and customs of the Majapahit people thus enabling the public to see the benefits of bringing back some aspects of our traditional lifestyle. Some of the things that are able to each us may even help solve the discrepancies between the islands of Indonesia and establish a stronger national identity for the population. As mentioned previously, the campaign will aim to inform people about Majapahit and ingrain their values into modern day Indonesia; such values include community building, appreciation of the arts, being more environmentally conscious, and the building of acceptance and tolerance for all. The key message we hope to deliver with this campaign would be nationalism or pride in one’s nation, that will help solidify us as a country once more under our motto, “Bhinneka Tunggal Ika”. First of all, when creating a campaign it is important to go into it knowing whom to target. In this case, I believe that the ideal target for the Majapahit awareness campaign would be young people, children and students. I believe this is the ideal demographic because it is a ripe age to start nurturing a sense of wonder and openness to new ideas. When children are introduced to a new concept at a young age that interests them, it will stick with them throughout their lives. Young adults such as students can also benefits greatly from learning about the Majapahit era as they are at an age when they are building their identity for the real world and thus integrating such topics into their lives can help foster some national pride and identity, solving one of the key issues of strengthening national identity. Aside from that, the young people of Indonesia will be the future of the country and as such, the campaigns would benefit them the most. CAMPAIGN I – School Visits The first campaign would require experts and historians to make school visits throughout elementary to junior high schools all over Indonesia. During these visits stories and legends from the Majapahit era can be told to the students and activities such as arts and crafts and planting trees and harvesting food from farms in accordance with the Majapahit values of appreciating the arts and respecting the environment. Each school can be visited for a period of about a week each to further ingrain the Majapahit values onto the kids in a fun almost summer-camp-like environment. Museum visits can also be helpful in the education of the children regarding the history of Indonesia and Majapahit.

CAMPAIGN II:  Online/Gaming Presence With youth as a target audience it is important to optimize the use of the Internet and the online platform. Youths today are wildly regarded as digital natives and in Indonesia a growing fondness of technology has overtaken the young people. Thus, having a strong online presence will be extremely helpful in the hopes of raising awareness and understanding on Majapahit culture as it juxtaposes the old and the new in a seamless way. Several ways to create an online presence may be through the use of a website or social media, however, to really draw in people into the subject there has to be an element of interactivity. This can be achieved possibly through the use of online gaming. An online game about Majapahit has already been created once, named Nusantara Rising, this game was a strategy game in which ones objective would be expansion of territory, cultivating the land, and building villages, it is a single player game with multiplayer functions up to six people. However, though this game is well though out and shows several Majapahit values, a better game to represent the values of Majapahit Kingdom would be on an MMORPG platform. MMORPG stands for Massively Multiplayer Online Role Playing Game in which many people can all log into a server at the same time and play. This will foster a sense of community and togetherness much like the community of the real Majapahit at the time. Players can take the role of a peasant or a king and build villages and form bonds much like they would in real life. This campaign would require many game developers, graphic designers, and computer experts. For the game to garner attention print, TV, and online ads can be placed everywhere as well as employing a celebrity spokesperson. To garner more players, the first few months of the game can be a free trial period in which users can get a taste of the game.

CAMPAIGN III: Design Competition The last campaign could be a design competition for clothing or other consumer products focusing around the theme of Majapahit. This can be done with companies such as “Damn! I Love Indonesia,” which is a social media and commerce company dedicated to design around the idea of Indonesian traditional culture. Their aim is to promote the beauty and richness of Indonesian culture specifically at the youth and younger generation, to get them proud to be Indonesian. I believe that this goal and vision has a lot in common with the idea of these campaigns and thus, they would be an ideal partner. The competition can be marketed through social media as well as “Damn! I Love Indonesia’s” website and outlets and registrations can take online. The submissions can be uploaded to the website and the audience will be the ones voting for who wins. Of course, the designs must be based around the Majapahit era and sufficient explanation and understanding has to be achieved by the designers about this era. Therefore, when entering their designs they choose one specific aspect of the Majapahit Kingdom they would like to focus on, create the design, and write a short essay about why they chose to create such design and the significance of it for both the Majapahit era as well as modern times. The winning designs will be available in the shops and the winner will receive a sum of money from the proceeds of the sales. This will encourage youths to research about the Majapahit era and also encourage the Majapahit values of design, art, and craftsmanship. Out of all of these methods, I believe that the most useful and affective one would be the first campaign in which school visits will be employed to deliver the message. Due to the fact that out of all the campaigns, this one has the most potential to reach evenly out to all youths of Indonesia. Campaign number two requires the use of internet connectivity which many rural areas do not have and campaign number three seems to be more Jakarta and big city focused as “Damn! I Love Indonesia” is based in Jakarta. However, I also believe that it can be in our best interest to use the other campaign as well due to the fact of the diversity of the Indonesian public. What may work for some youth may not work for others depending on their location, their resources, their education, beliefs, and how they were raised. To uniformly educate all youths, as we wish to do to try to bridge the gap between rural and urban areas of Indonesia, a variety of methods would be ideal to be used in the spread of this information. Mainly though, no matter what campaign we chose, it has to be fun and interactive for the audience.

CONCLUSION: In conclusion, there is so much we can still learn from our past, it is far too valuable for us to forget. Some values remain relevant through time and these values we can learn from the great kingdom of Majapahit. Therefore, it is important for us to keep remembering and looking into the past for guidance, especially at a time where national pride and patriotism is at an all time low. It can bring the country together under a renewed sense of national identity and set us back on the right path to achieve our potential and be the strong nation that we have always been able to become. The key is in the youth and children and within the lessons we teach them. Instill a love for their country and its history from an early age and watch the difference it can make. To do so however, we must speak in terms of the youth, no any old form of communication will get to them. We must effectively make use of the tools and technology we have now to make a change just as our ancestors have been doing for years and years. The emergence of technology that brought about globalization and weakened national pride can also be used to strengthen it. Once again, the teaching of history is important, in the wise words of philosopher, George Santayana, “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”

Footnotes:

1 Transparency International, (Corruption by Country/Territory, 2012)

2 Tue, RI improves ranking on global corruption perception index, Antara News (2013)

REFERENCES