Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 4 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

Ken Dedes sang bunga desa

 

Dear Diary,
Aku melanjutkan cerita ini dengan membaca bagian keempat yang berjudul “Menanti Putra Mahkota dari Rahim Ken Dedes” (Menurutku judulnya sudah memberikan sedikit gambaran tentang bagian ini).
Bagian ini dimulai dengan betapa bahagianya sang Akuwu Tunggul karena telah berhasil menculik dan membawa pulang perempuan yang ia dambakan bernama Ken Dedes dengan paras yang sangat cantik dan ia akan menjadi calon permaisurinya. Sesampainya di istana, Akuwu disabut oleh nayaka praja yang berpura-pura bahagia untuknya karena didalam hati mereka, mereka tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh penguasa mereka tapi bisa apa mereka selain membisu dan ikuti kemauannya?
Setelah itu, Akuwu pun membawa Ken Dedes kepada dua orang abdi dalem (orang-orang yang mengabdikan diri mereka terhadap raja ataupun keratin) kepercayaannya yang bernama Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang yang bertugas di sebuah bilik agung Tumapel dan sekarang, mereka bertugas untuk melayani semua keinginan Ken Dedes. Dulunya, mereka bertugas, merawat, dan merias beberapa orang selir karena itu memang keahlian mereka. Akuwu meminta mereka untuk merawat dan merias calon permaisurinya dengan baik.
Mereka menerima tugas itu dan Akuwu akhirnya meninggalkan tempat tersebut, tetapi sebelum pergi ia sempat membisikkan sesuatu kepada kedua abdi dalem tanpa didengar oleh Ken Dedes; pastinya itu sesuatu yang penting. Setelah Akuwu benar-benar pergi, mereka berdua mempersilahkan Ken Dedes untuk membersihkan diri dengan air hangat yang diikuti oleh luluran, bedak, dan mangir. Ken Dedes hanya merespon dengan anggukan lesu karena pikirannya masih bercampur aduk akan kesedihan karena penculikan yang ia alami. Ia merasa seperti dipenjara walaupun saat itu, ia dikelilingi perhiasan-perhiasan indah dan akan menjadi calon permainsuri sang penguasa.
Kedua abdi dalem dapat merasakan kegelisahan yang dialami tuannya dan kesedihan juga terlihat di matanya yang berwarna biru. Mereka pun mencoba untuk menghiburnya. Tetapi, mereka juga merasa bingung. Mengapa perempuan secantik ini merasa sedih, padahal sebentar lagi ia akan menjadi permainsuri sang raja; wanita manapun pasti akan sangat bahagia jika mereka mendapatkan kesempatan tersebut. Nyai Gede Mirah dan Nyali Rimang pun akhirnya berbicara dan berbicara kepadanya, bertanya tentang hal tersebut. Ken Dedes tetap terdiam, hanya menjawab dalam hati. Ia berfikir, Bagaimana bisa merasa senang? Orang dia diculik oleh sang raja yang kejam dan hanya memikirkan kemauannya sendiri.
Mereka berdua pun bertanya lagi, mengatakan bahwa putranya kelak akan menjadi pangeran di istana tumapel dan akan menjadi raja. Akhirnya, Ken Dedes membuka mulut dan mengatakan, “Yang namanya cinta itu… apakah bisa dipaksakan? Meskipun aku hendak dijadikan sebagai permainsuri, tetapi kalau aku tidak mencintainya, apakah aku bisa merasakan kebahagiaan?”
Keduanya pun bertanya lagi, apa kurangnya Akuwu Tunggul, orang yang dimata mereka memiliki semuanya? Ken Dedes (terdengar sedikit kesal) menjawab bahwa menurutnya, cinta itu abstrak dan tidak dapat diukur dengan hal-hal bersifat duniawi. Cinta itu adalah hal yang bersifat suci dan murni dan tidak dapat diukur dengan ukuran serendah itu.
Nyai Gede Mirah dan Nyai Rimang pun sadar akan sikap Ken Dedes dan baru menyadari bahwa ia adalah putri Empu Parwa dari Desa Panawijen yang sudah kasura (atau terkenal). Pantas saja ia tidak seperti perempuan biasanya yang gila harta, ia berbeda.

Ken Dedes pun meminta untuk ditinggal sendirian. Setelah kedua abdi dalem tersebut pergi, Ken Dedes pun merenungi nasibnya dan memikirkan tentang bagaimana marahnya ayahnya tentang penculikan ini. Ia mulai berpikir, apakah ayahnya akan melakukan sesuatu tentang penculikan anak semata wayangnya ini? Atau apakah ayahnya akan merestui pernikahan ini? Didalam hatinya, ia tau pasti ayahnya tidak akan pernah merestui hal seperti ini.
Disini kita dapat melihat bahwa Ken Dedes tidak mempedulikan hal-hal yang berbau materialistik atau sementara, sama seperti ayahnya. Ia lebih mementingankan keluarganya dan terus memikirkan tentang mereka. Ia tidak peduli jika orang yang akan ia nikahi adalah orang paling terkaya dan paling berkuasa, jika hatinya busuk maka tidak ada intinya. Apalagi ia tidak mencintai Akuwu Tunggul sama sekali dan ia belum mendapat restu dari orang tuanya.

Ia pun memutuskan untuk melakukan semadi (perenungan dalam tapa brata) dan mencoba untuk mendapatkan ketenangan didalam hatinya. Ia terus melakukannya sampai tengah malah, tidak sempat untuk beristirahat walaupun besok adalah hari pernikahannya.

Besoknya, Akuwu Tunggul benar-benar berencana untuk melaksanakan pernikahannya bersama Ken Dedes secara diam-diam. Ia meminta mereka untuk mendandani calon permaisurinya. Setelah dirias, ia terlihat sangat cantik seperti bulan. Padahal, ekspresi Ken Dedes tidak menunjukkan sedikitpun kebahagiaan. Setelah selesai melakukan tugasnya, Nyai Gede Mirah pergi keluar dari bilik agung tempat Ken Dedes tinggal tersebut dan memanggil Akuwu Tunggul dan penasihat Keraton, sang Hyang Belangka yang akan menikahi Akuwu dan Ken Dedes. Ken Dedes mulai gemetaran, merasa takut akan hal yang akan menimpanya.

Ken Dedes pun didudukkan disebuah bangku yang telah dihiasi permadani dan diapit oleh kedua abdi dalem dimasing-masing sisi. Tak lama kemudian, terdengar suara mantra-mantra berbahasa Sanskerta yang diucapkan sebagai tanda resminya pernikahan tersebut. Setelah mantra selesai dibacakan, Ken Dedes sudah resmi menjadi permaisuri sang penguasa Tumapel!

Hari demi hari pun berlalu. Ken Dedes menjadi pengantin selama 40 hari; ia tidak diperbolehkan keluar dari biliknya sama sekali, bahkan jika hanya melihat-lihat pemandangan. Ken Dedes tidak dapat melakukan apapun selain pasrah dan nurut. Pada hari ke-40, Ia pun didandan lebih cantik lagi dan dibawa ke Alun-alun Negeri Tumapel bersama Akuwu Tunggul; disana, mereka melakukan upacara brahmacarya.
Mungkin menurut perempuan-perempuan lain diseluruh Tumapel, Ken Dedes adalah wanita yang paling beruntung dan bahagia tetapi dalam hatinya, Ken Dedes merasa sebaliknya.

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 3 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

553027b10423bd871b8b4568

Source of visual: courtesy of https://indonesianmosaicstoneartpainting.wordpress.com/2012/10/13/indonesian-mosaic-stone-art-painting-ken-dedes/

Dear Diary,
Kali ini, aku melanjutkan membaca bagian ketiga dari buku Ken Dedes. Bagian ini dimulai dengan scene dimana semua orang sedang merasa sedih karena Ken Dedes, sang bunga telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Bukan hanya ibunya yang sedih, bahkan para cantrik serta para dhayang merasakan kesedihan yang sama besarnya dengannya. Pada saat itu, Empu Parwa masih diluar desa dan belum mengetahui apa yang telah terjadi kepada putrinya yang tercinta tersebut.
Walaupun Empu Parwa tidak mengetahui kejadian ini, hatinya merasa tidak tenang disaat ia sedang memimpin upacara dengan merapal mantra-mantra dalam bahasa Sanskerta; ini biasa dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Gusti Kang Murbeng Dumandi. Jikapun sang Empu Parwa merasa gelisah, ia mengabaikannya dan tetap berkonsentrasi dan melanjutkan upacara yang sedang berlangsung bersama murid-muridnya. Disaat malam tiba, banyak dari muridnya telah tertidur sedangkan yang lainnya dalam kondisi setengah tertidur. Empu Parwa sendiri masih terjaga dan terus melanjutkan upacara tersebut; ia adalah pemimpin dengan kewibawaan yang menjadi contoh bagi murid-muridnya. Tak terasa, matahari mulai menunjukkan dirinya dari ufuk timur, mengingatkan mereka bahwa saatnya untuk mengakhiri acara mereka tersebut dan kembali ke desa mereka.
Empu Parwa beserta murid-murdinya pun mengundurkan diri dan pulang. Disaat mereka sampai di pandepoknannya, cantrik-cantriknya mulai meminta maaf, mengatakan bahwa mereka telah gagal menjalankan perintah guru mereka. Empu Parwa meminta mereka untuk tenang dan menceritakan apa yang telah terjadi selama ia pergi. Mereka semua terdiam sampai salah seorang dari mereka berkata bahwa putrinya Ken Dedes telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Hal ini membuat Empu kaget dan marah; bahkan wajahnya menjadi memerah, menahan murka. Tetapi ia tidak dapat merasa marah terhadap cantrik-cantriknya tersebut karena mereka menghadapi orang yang paling berkuasa di Tumapel.
Empu Parwa pun mulai berkata lantang bahwa ia akan terkena hukum karma dan ia akan mati ditikam sebuah Keris Empu Gandring (sebuah senjata pusaka yang berasa dari Kerajaan Singhasari atau lebih sdikenal dengan sebutan Keris.) Dan kita harus ingat, seperti yang kutulis di diaryku yang kedua, Empu Parwa dikenal sebagai brahmana yang gentur tapane; apapun yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Setelah ia mengeluarkan kutukannya, langit siang yang terang-benderang mendadak mengeluarkan suara halilintar yang menggelegar, seakan hal yang Empu Parwa katakan telah disetujui. Mata semua orang disekitar Empu Parwa membelalak disaat suara guntur terdengar begitu lantang dan mereka juga yakin bahwa kutukan itu akan menjadi kenyataan.
Hari demi hari pun berlalu semenjak Ken Dedes diculik. Ibunya masih menangis dan menolak untuk keluar dari kamarnya. Sebagai suami yang baik, Empu Parwa mencoba menenangkan istrinya. Istrinya pun bertanya kepada Empu mengapa ia tidak melakukan apapun? Apakah Empu Parwa hanya akan diam saja dan membiarkan putri yang sangat mereka cintai diculik begitu saja? Empu hanya bisa terdiam dan setelah beberapa lama menjawab bahwa ia percaya sang dewa agung pasti akan melindungi putri mereka dan penculikan ini adalah satu-satunya cara agar Ken Dedes (pada suatu hari nanti) dapat menjadi ibu dari raja-raja besar di Jawa. Istrinya pun menjadi lebih tenang dan mempercayai apa yang dikatakan suaminya.
Di bagian ini, memang tidak banyak penjelasan tentang Ken Dedes. Tetapi menurut aku, dalam situasi ini, Ken Dedes akan sabar, sama seperti ayahnya. Sampai sejauh ini, saya belajar bahwa Ken Dedes memiliki karakter tersebut dan yang lainnya seperti rendah hati, spiritual, memiliki pendirian yang tinggi, patuh kepada orang tua, dan hal-hal lainnya yang menurutku dapat kita tiru, apalagi orang-orang dikalangan muda seperti remaja. Oleh sebab itu, aku juga merasa bahwa Ken Dedes bisa menjadi seseorang yang inovatif karena ia memiliki sikap-sikap ini.

 

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 3 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

java-prajnaparamita2

 

Dear diary,
Pada Senin siang kemarin aku melanjutkan membaca buku mengenai Gayatri Rajapatni. Aku mulai mengerti nama belakangnya Gayatri, Rajapatni itu sebenarnya suatu gelar yang diberikan kepadanya dari Wijaya. Gayatri itu diberikan gelar tersebut membuktikan bahwa dia itu dipilih Wijaya untuk menjadi wanita utama dalam kerajaan. Wijaya akhirnya menjadi Raja Majapahit dan ia menikahi Gayatri, lalu dia memberikan Gayatri gelar Rajapatni, yang berarti Pendamping Raja. Gayatri menjadi Ratunya Majapahit, kerajaan yang asal-usul namanya itu berasal dari buah maja yang pahit. Dalam desa tersebut ditemukan banyak buah maja, maka dari itu kerajaannya dinamakan Majapahit. Gayatri dan Wijaya memiliki hubungan yang romantis, karena mereka saling memiliki perasaan untuk satu sama lainnya. Sedangkan hubungannya Tribhuwana dan Wijaya itu hanya dilaksanakan untuk menciptakan perdamaian antar kerajaan.
Wijaya jatuh cinta saat dia melihat bahwa Gayatri itu berniat untuk melakukan apa pun untuk merebut kembali kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya, sang Raja Kertanegara. Keteguhan Gayatri menjadi salah satu alasan mengapa Wijaya memilihnya untuk menjadi istrinya. Gayatri sangat pintar dalam bidang strategi, tata negara, hukum dan dia menikmati teater. Ilmunya dalam strategi membuat dia menjadi seorang ratu yang bijak karena dia pandai membuat rencana-rencana agar kerajaan bisa lebih sukses dan makmur. Wijaya semakin mengagumi Gayatri saat dia melihat bahwa Gayatri memiliki harapan tinggi untuk Majapahit, walaupun kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya sudah hancur. Selain memiliki harapan tinggi dia juga berniat untuk melakukan apa pun untuk membangun kembali kerajaan yang memenuhi kriteria yang dibuat oleh Raja Kertanegara.
Gayatri ternyata merasa cemas sebelum kakaknya yang tertua, Tribhuwana, akan bereaksi buruk terhadap hubungannya dengan Wijaya. Tetapi ternyata Tribhuwana mendukung hubungan Gayatri dan Wijaya, karena ia merasa bahwa Wijaya pantas menerima pasangan yang akan membuatnya bahagia. Takdir Tribhuwana dan kedua kakaknya Gayatri yang lain itu tidak terlalu jelas, namun disebutkan bahwa Wijaya menikahi dirinya ke dalam keluarganya Kertanegara maka dari itu dia melindungi kakak-kakaknya Gayatri. Dinyatakan bahwa ketiga kakaknya Gayatri mengalami trauma karena mereka disandera oleh Mongol, tetapi Wijaya memastikan bahwa saudari-saudarinya Gayatri dirawat dengan baik.

Dalam kisah-kisah Majapahit, Gayatri tidak terlalu kelihatan kalau dibandingkan dengan Hayam Wuruk, Raja Wijaya, Maha Patuh Gajah Mada, atau Ratu Tribhuwana. Gayatri itu sebenarnya memberi dampak yang besar dalam kejayaan kerajaan Majapahit, karena dia yang memiliki konsep yang dapat mempersatukan masyarakat dalam Kerajaan Majapahit. Ternyata menurut hasil research aku, Gayatri menjadi pembimbing dua tokoh yang terkenal dalam Kerajaan Majapahit, yaitu Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Hayam Wuruk adalah cucunya Gayatri, sedangkan Gajah Mada menjadi semacam muridnya. Gayatri melahirkan seorang putri yang dia namakan Tribhuwana, lalu Tribhuwana menikah dengan Kerthawardana dan memiliki anak yang bernama Hayam Wuruk. Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi penguasa-penguasa Kerajaan Majapahit di saat kerajaannya sudah stabil. Hayam Wuruk menjadi lelaki pertama yang menguasai kerajaan Singhasari dan Majapahit setelah kakek buyutnya, Raja Kertanegara.

Pada masa Gayatri dan Wijaya, Kerajaan Majapahit masih dalam kondisi di mana masih bertumbuh, maka dari itu mereka menjadi peran-peran yang penting dalam perkembangan Kerajaan Majapahit. Gayatri menjadi tulang belakang Kerajaan Majapahit karena dia dan Raja Wijaya membangunnya dari awal. Setelah jatuhnya kerajaan Singhasari, Gayatri dan Wijaya membangun kerajaan Majapahit karena keduanya ingin memenuhkan cita-cita ayahnya, Raja Kertanegara yang meninggal setelah serangan Mongol. Sejak kejadian tersebut Gayatri berjanji untuk mengembalikan kondisi kerajaan seperti sebelumnya dan merawat apa yang telah diwariskan oleh ayahnya.
Khusus minggu ini aku membaca dua bab dalam buku karena kekurangan materi mengenai Gayatri. Dalam bab selanjutnya aku mulai mengenali ciri-ciri kerajaan Majapahit, karena caranya Gayatri menguasai kerajaan tersebut. Dijelaskan bahwa ada orang asing yang datang ke Majapahit untuk mempelajari agama yang diaplikasikan oleh masyarakat Majapahit. Orang asing itu bernama Frater Odoric dan dia berasal dari Eropa. Tujuan dia untuk datang ke Istana Majapahit pada tahun 1322 adalah untuk mempelajari agama dan dia sempat berbagi cerita mengenai kepercayaan yang ia pegang. Frater Odoric adalah seorang Padri Kristen dan dia sangat terkagum oleh hal-hal baru yang dia telah pelajari dari Jawa. Tuan rumah, yaitu Gayatri itu merasa bahwa pengetahuan yang diceritakan oleh Frater Odoric itu kurang menarik. Beliau lebih tertarik dengan ilmu astronomi dan geografi yang Frater Odoric bawa. Orang-orang Jawa itu percaya adanya hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Pencipta dan manusia dengan alam. Sedangkan kepercayaan dari negeri Barat, hubungan manusia itu hanya sebatas manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan. Orang-orang Jawa sadar bahwa mereka harus merawat alam, karena alam sudah memberi manusia makanan, tempat tinggal, dan kekayaan alam yang melimpah sedangkan tanah di negeri-negeri Barat itu memiliki 4 musim dimana kekayaan alam tidak sekaya dengan pulau Jawa. Kepercayaan orang Barat itu lebih mengenai kontrol manusia atas alam dan terpisahnya kondisi realita dengan spiritual, sedangkan menurut kepercayaan Jawa masyarakat penting adanya keselarasan dalam aspek spiritual dengan kehidupan nyata. Masyarakat Jawa sudah merasa bahwa kepercayaannya lebih bermakna. Orang Jawa lebih bersyukur atas hal-hal yang sudah diberikan oleh alam karena kehidupan manusia tergantung dengan alam semesta. Cara memberi kembali kepada Tuhan dan alam semesta adalah dengan merawat yang telah diciptakan oleh Allah. Ini dinamakan keselarasan manusia dengan alam. Menurut kepercayaan Jawa caranya berhubungan dengan Tuhan adalah melewati alam. Mereka percaya bahwa alam itu memiliki kekuatan yang dapat berdampak besar dalam kehidupan manusia, maka dari itu mereka suka memberi sesajen dan semacam persembahan dan diberikan kembali ke alam.

Baca episode berikutnya

 

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 2 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

tumblr_mf366nofMl1rmmazso1_500

Visual: by dancing doll; source: deviantart.com

Dear Diary,
Aku melanjutkan membaca buku Ken Dedes, lebih spesifiknya bagian kedua. Ceritanya dimulai dengan penjelasan bahwa hati Akuwu Tunggul Ametung yang sudah tua ini masih tidak terpuaskan walaupun sudah memiliki puluhan selir dan masih mencari perempuan yang pantas menjadi permaisurinya. Menurut aku, sikap ini sangat serakah dan ini menunjukkan bahwa ia hanya peduli nikmat dunia dibandingkan alam baka.
Disaat Akuwu Tunggul Ametung akhirnya memiliki keinginan yang kuat untuk mencari permainsuri, salah satu brahmana sepuh menyebut nama Ken Dedes dan menceritakan bahwa ia adalah gadis yang sangat cantik dan terkenal dengan kawaskithan-nya sehingga membuatnya sebagai orang yang cocok untuk dijadikan permaisuri. Tetapi, Akuwu juga diperingatkan bahwa jangan sampai ia bersifat buruk didepan ayahnya Ken Dedes, sang Empu Parwa. Ia terkenal sebagai seorang brahmana yang gentur tapane; apapun yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Hal ini memang membuat Akuwu Tunggul Ametung menjadi takut. Tetapi, tekadnya malah semakin kuat dan merencanakan untuk langsung melamarnya pada keesokan harinya. Ia terus menerus membayangkan betapa cantiknya gadis yang disebut Ken Dedes ini.
Esoknya, Iapun berangkat menggunakan kereta kencananya, ditemani oleh ketiga orang kepercayaannya yang bernama Bapiang, Jarasandha, dan Kebo Ijo. Didalam perjalanannya, ketiga orang ini membahas tentang Ken Dedes, memberikan gambaran kepada Akuwu Tunggul Ametung tentang betapa cantiknya gadis ini dan membuatnya semakin tidak sabar untuk menemui calon permaisurinya.

Dia membayangkan bahwa saat ia sampai disana, ia disambut dengan hangat oleh Empu Parwa dan ia menanyakan maksud kedatangannya ke rumahnya. Iapun langsung menjelaskan bahwa ia ingin melamar anaknya yang diterima dengan senang hati direstui oleh Empu Parwa dan tanpa mereka ketahui, Ken Dedes mendengar segalanya dan merasa deg-degan, bahkan bisa dibilang malu. Ia terus-terusan mondar-mandir dari ruang tengah ke kamarnya; dia merasa tidak percaya diri dan mukanya memiliki ekspresi malu-malu kucing. Disaat itu juga, Akuwu pun mulai membahas tentang pernikahan yang akan dilaksanakan itu, pernikahan dimana akan terbuat janji suci diantara sang Akuwu dan Ken Dedes, sang gadis yang cantik jelita.
Lalu, seluruh imajinasi Akuwu Tunggul Ametung itu langsung runtuh seketika ketika ia mengetahui bahwa sang Empu Parwa sedang pergi memimpin upacara ritual keagamaan diluar desa. Karena ia sangat tidak sabar, Iapun meminta untuk bertemu dengan Ken Dedes. Iapun akhirnya masuk dan menemui Ken Dedes.

Dalam bagian ini, bisa terlihat bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seseorang yang sangat percaya diri karena ia adalah sang penguasa didaerahnya dan bisa dibilang cukup arogan, menganggap bahwa semua orang pasti akan tunduk padanya karena ia orang yang paling berkuasa dan penting. Dia juga terlihat tidak sabaran, ingin mendapatkan semua yang dia inginkan secepatnya tanpa ada halangan.

Dan saat itulah dimana sang hati Akuwu Tunggul Ametung langsung berdebar. Itulah saat dimana ia bertemu dengan Ken Dedes yang kecantikannya membuatnya salah tingkah. Matanya terus-terusan memandang kearah wajah Ken Dedes yang sudah lama ia impikan. Selain memiliki paras yang cantik, ia memang terlihat berbeda. Ia terlihat keibuan dan dewasa, membuat lelaki manapun menjadi jatuh hati pada pandangan pertama.

Akhirnya, Akuwu pun bertanya kepada Ken Dedes apakah dia mau tinggal di Kutharaja dan meninggalkan desanya. Ken Dedes terdiam dan berpikir mengapa sang Akuwuu mendadak bertanya seperti itu. Apakah sang Akuwu menyukainya? Akuwu pun bertanya lagi pertanyaan yang sama dan dibalas dengan, “mohon maaf, memangnya ada apa disana?”

Karena pikirannya sudah kesana kemari dan hatinya berdebar-debar, Sang Akuwu pun menyatakan cintanya kepada orang yang dicintainya itu dan memintanya untuk menjadi permaisurinya. Ken Dedes tidak langsung menjawab, malah terdiam dan mukanya memerah. Ia pun berbisik kepada dua orang emban-nya, mendiskusikan hal tersebut. Ini adalah impian semua perempuan dimanapun; menjadi seorang permainsuri. Tetapi, Ken Dedes akhirnya menolak lamaran sang Awuku secara baik-baik dengan alasan karena ayahnya sedang tidak dirumah dan dia merasa bingung. Iapun meminta untuk sang Akuwu untuk datang besok sore dan membicarakannya dengan ayahnya.

Disini, Ken Dedes menunjukkan pemikiran rasional dan tidak sembrono. Memang, hal ini adalah dambaan seluruh perempuan. Siapa yang tidak mau? Akan tetapi, ia juga memikirkan keluarganya; apakah ayahnya akan merestui? Iapun mengikuti hati nuraninya dan melakukan hal yang benar dan melanjutkan kebaktiannya kepada orang tuanya yang tercinta.

Tetapi, bukannya bersabar, Awuku malah berkata lain, ia menjadi keras kepala. Menurutnya, jawaban Ken Dedes lebih penting dari jawaban dan restu sang ayah. Merekapun sempat beradu mulut; disatu sisi Ken Dedes tidak mau menerima lamaran tanpa sepengetahuan dan restu ayahnya dan disisi lainnya, sang Akuwu sudah tidak sabar ingin menjadikan Ken Dedes sebagai permainsurinya dan membawanya ke Kutharaja.
Didalam hati, Akuwu kagum terhadap Ken Dedes. Memang terbukti bahwa ia adalah seorang gadis yang berbakti dan patuh kepada orang tuanya. Mau dipaksa apapun, ia tetap tidak mau pergi dari desanya.

Segala cara telah dicoba Akuwu tetapi Ken Dedes tetap tidak mau mematuhinya dan tidak terayu sedikitpun. Iapun menjadi marah dan mulai kehabisan ide. Akhirnya ia memilih cara terakhir, membawa paksa Ken Dedes ke istananya; dengan kata lain, menculiknya.
Ken Dedes yang masih lemah mencoba untuk melepaskan diri tetapi mereka terlalu kuat. Ia pun terpaksa untuk dibawa pergi ke istana milik sang raja dengan berat hati dan menitikkan air mata.

Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 1 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

13633367

Dear Diary,
Aku adalah seorang remaja yang bisa dibilang menyukai membaca. Biasanya aku membaca buku yang memiliki genre fiksi karena cerita-cerita tersebut memberikan sesuatu yang unik dan bahkan hal-hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Tetapi, aku mulai membaca buku yang berjudul Ken Dedes Sang Penggoda yang ditulis oleh Wawan Susetya. Aku bukanlah tipe orang yang suka membaca buku dengan cerita seperti ini tetapi mengapa tidak mencoba sesuatu yang baru ditahun yang baru? Jujur, aku tidak pernah mendengar apapun tentang buku ini ataupun nama Ken Dedes. Oleh karena itu, aku sangat clueless dan tidak tahu apapun mengenai buku ini. Akupun memulai membaca buku ini. Oleh karena itu, aku akan membaca buku ini per-bagian dan jika diperlukan, aku akan melakukan research singkat untuk lebih mengerti tentang buku ini.

Bagian pertama buku ini berjudul Rahasia Ardhanariswari atau Nareswari Ken Dedes. Cerita ini dimulai dengan pengenalan seorang karakter yang bernama Empu Parwa alias Empu Purwa Widada; Ia adalah seorang Pandhita (atau bisa disebut Mahaguru) dan disini diceritakan bahwa ia tinggal di desa Panawijen atau Panawijil yang dideskripsikan sebagai tempat yang masih hijau dan memiliki pemandangan yang indah dan hal tersebut terlihat di wajahnya yang terlihat tenang. Tetapi, kedudukannya sebagai Mahaguru terancam karena Empu Parwa diduga tidak memiliki izin resmi dan ia diduga telah menobatkan dirinya sendiri. Walaupun hal ini sedang terjadi, ia terus mengajar dan tidak mempedulikannya. Empu Parwa juga tidak melaporkan kegiatannya kepada Akuwu Tunggul Ametung ataupun sang Brahmana Belakangka.

Brahmana Belangka adalah seseorang yang sangat dimuliakan di Negeri Tumapel tetapi Empu Parwa mengatakan hal lain; mengapa kita harus memuliakan orang yang bekerja dibawah arahan Sri Kertajaya, seorang raja yang zalim? Mengapa kita harus memuja seseorang yang diam-diam memiliki pendulangan emas yang melimpah? Mengapa kita harus memberikan toleransi kepada orang yang mengambil hasi panen rakyat secara segan-segan? Brahmana Belangka dan orang-orang kaya lainnya hanya mementingan kepentingan pribadi masing-masing tanpa memedulikan kepentingan rakyat yang menderita. Karena sikap ini juga, mantra-mantra kitab suci Wedha telah kehilangan makna di lingkungan Negeri Tumapel.

Menurut Empu Purwa, manusia memang harus merenungkan tentang kehidupan yang mereka jalani; apakah mereka benar-benar ingin hidup yang bahagia atau tetap menderita seperti kehidupan di dunia? Ia mengatakan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian, bukan dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Saya setuju dengan pemikiran ini. Di dunia, tidak ada yang akan hidup selamanya, pasti suatu saat kita semua akan meninggal dan oleh sebab itu, sebisa mungkin kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya selagi ada waktu.

Empu Parwa memiliki satu anak perempuan yang bernama Ken Dedes. Istri Empu Parwa sangat menyayangi putri semata wayangnya ini sampai memanjakannya terus menerus (dan bisa dibilang terlalu berlebihan). Tentunya Empu Parwa tidak membiarkan sikap istrinya itu untuk melewati batas; ia tidak ingin putrinya menjadi anak yang manja. Mereka bahkan berdebat dan mengalami kesulitan untuk menetapkan hal yang benar.
Karena terbiasa dimanja oleh ibunya, Ken Dedes menjadi seorang anak yang berpenampilan acak-acakan dan terlihat sangat berbeda dari norma yang telah ditetapkan. Ia berani membantah siapapun yang tidak menuruti keinginannya, bahkan orang tuanya sendiri. Ia juga berani untuk menggoda murid-murid ayahnya, terutama yang memiliki wajah yang tampan. Akhirnya istri Empu Parwa sadar bahwa kelakuan anaknya sudah kelewatan dan akhirnya setuju dengan suaminya. Empu Parwa mulai mengenalkan tokoh-tokoh dongeng yang memiliki sifat heroik atau spiritual seperti kisah Sidharta Gautama dan perwayangan lainnya dan meyakinkan putrinya bahwa ia juga bisa seperti mereka. Empu juga tidak lupa untuk mengenalkan dan mengajarkan tentang kitab Wedha.

Walaupun awalnya Ken Dedes sangat malas dalam melakukan hal-hal tersebut, iapun (secara perlahan) mengikuti apa yang dikatakan ayahnya dengan baik. Setelah beberapa lama melakukan hal-hal tersebut, ia menjadi wanita yang bertolak belakang dari dia yang dulu; ia sudah menjadi perempuan yang dewasa; dia menjadi putri idaman kedua orang tuanya.

Ia sekarang memiliki balance antara cantik diluar dan didalam (atau disebut dengan filosofi Rupasampat Wahyabyantara). Bukan hanya itu, ia juga memiliki suatu rahasia tentang Ardhanariwari atau Nareswari yang konon dikatakan bahwa siapapun yang menikahi perempuan yang memiliki rahasia ini, maka ia diramalkan akan dapat keturunan raja-raja besar di Jawa. Hal ini didengar oleh sang Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel dan dia terkenal sebagai orang yang sangat haus akan perempuan-perempaun cantik.

Ken Dedes dicerminkan sebagai suatu tokoh yang awalnya memang melakukan hal-hal yang bisa dibilang tidak pantas ataupun sopan. Tetapi setelah ayahnya mulai mengajarkan tentang kebaikan, lama kelamaan iapun menjadi seorang gadis yang dewasa dan spiritual, mengikuti jejak ayahnya. Ia juga memiliki kecantikan bukan hanya diluar, tetapi didalam. Hal ini sangat penting karena buat apa cantik secara fisik tetapi didalamnya tidak ada kecantikan sama sekali? Ken Dedes juga dapat menjadi contoh kita dalam kehidupan sehari-hari; bagaimana ia berubah dari seorang anak perempuan yang terlalu dimanjakan dan semena-mena menjadi seorang perempuan yang spiritual dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Setelah membaca bagian pertama dari buku ini, aku menjadi lebih tertarik tentang cerita ini (walaupun diawal aku merasa cukup bosan). Aku juga belajar mengenai hal-hal baru seperti istilah-istilah baru bahkan filosofi yang tidak digunakan di conversation sehari-hari seperti Pandhita, Anglam-lami, Nitis, Camcara (samsara), Panandhang, dan masih banyak lagi. Aku juga jadi lebih tahu sedikit dan mendapatkan gambaran mengenai cerita ini serta alurnya.

Baca episode berikutnya.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 2 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

15974805

Dear diary,
Gayatri adalah salah satu tokoh wanita yang dikagumi oleh masyarakat, karena ia mempunyai sikap ketegasan dan mandiri yang seharusnya dimiliki seorang putri. Gayatri adalah wanita yang mendirikan kerajaan Majapahit. Majapahit tidak akan semakmur pada saat itu jika Gayatri tidak mempertahankan kekuasaannya.
Dalam bab kedua buku Gayatri Rajapatni, kerajaan mulai kembali berdiri dan melawan Mongol. Sejak serangan pasukan Mongol, Gayatri harus tidak diketahui keberadaannya agar dia aman. Gayatri dan pelayannya melarikan diri ke Kediri untuk bersembunyi dari para pasukan Mongol. Dia menyamar sebagai “Ratna Sutawan” yaitu seorang putri pegawai rendah. Pangeran Wijaya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Kediri, tetapi Raja Jayakatwang tidak tahu bahwa sebenarnya ia berencana untuk memenangkan hatinya sang Raja lalu mengkhianatinya. Pangeran Wijaya diam-diam membangun pasukan terdiri dari pengikut-pengikut setia kerajaan Singhasari. Wijaya berencana untuk menyerang Kediri dengan bergabung dengan pasukan Mongol. Sang pangeran menjanjikan bahwa ia akan membagikan sebagian harta yang ia dapatkan dari Kediri kepada Mongol, padahal sebenarnya ia akan bertarung dengan Mongol setelah ia selesai dengan kerajaan Kediri.
Dalam pertemuan rahasia Pangeran Wijaya dan Gayatri, kedua tokoh tersebut mulai mengembangkan perasaan untuk sesama. Gayatri tertarik dengan Pangeran Wijaya dan kebetulan keduanya saling menyukai. Hubungan Gayatri dan Wijaya itu romantis, sedangkan kalau Tribhuwana dan Wijaya pernikahannya terjadi untuk membuat keharmonian dan damai antara dua kerajaan.
Dalam bab ini sisi sensitifnya Gayatri itu lebih terlihat, karena tampaknya dia mulai mengembangkan perasaan untuk Pangeran Wijaya. Gayatri membuktikan bahwa seseorang bisa terlihat tabah tetapi bisa juga memiliki sisi yang lebih rentan. Karena Gayatri itu seorang putri dan menjadi sosok yang terkenal dalam masyarakat ia harus bersikap teguh untuk membuktikan bahwa dia itu sanggup menghadapi apa pun untuk merebut kerajaannya kembali. Namun, dalam keadaan tersebut dia harus menghindari publik agar dia tidak terdeteksi oleh Kublai Khan dan pasukannya untuk sementara.
Setelah orangtuanya Gayatri meninggal itu memberinya lebih banyak alasan untuk bersemangat dan merebut kerajaannya kembali. Mungkin dia merasa murung karena kedua orangtuanya yang dia sayangi sudah tiada, tetapi dia menunjukkan wajah yang berani dan tegar. Serangan dari Mongol itu nasib buruk untuk Gayatri, karena hanya dari satu kejadian itu dia sudah kehilangan orang-orang yang ia pedulikan dan sekarang dia harus pergi ke Kediri untuk menghindari pasukan Mongol. Pada saat itu Kediri dan kerajaan Singhasari itu memiliki konflik, tetapi Gayatri berani untuk memasuki wilayahnya raja Jayakatwang. Padahal Raja Jayakatwang adalah pembunuh ayahnya Gayatri, tetapi ia memberanikan diri untuk berkeliling di sana agar tidak diketahui keberadaannya oleh pasukan Mongol.

Setelah kejadian di mana orangtuanya Gayatri meninggal itu menjadi motivasinya untuk membangun kembali kerajaan yang sudah hancur berkeping-keping menjadi satu lagi. Kerajaan Singhasari sudah dalam kondisi yang sangat parah sejak serangan Mongol sampai raja Kertanegara harus bertarung dengan beberapa pasukannya, tetapi usahanya gagal karena akhirnya ia meninggal. Dengan bantuan Pangeran Wijaya dan saudari-saudarinya yang lebih tua dia pelan-pelan merebut kembali kerajaannya. Pada saat itu Singhasari membutuhkan seorang pemimpin, seorang raja untuk menjalankan kerajaan. Gayatri memilih Wijaya untuk memimpin kerajaan Majapahit karena dia percaya bahwa Wijaya dapat memenuhi kriteria yang dibutuhkan seorang raja. Wijaya memiliki hubungan dengan keluarganya Kertanegara, dia gagah dan kuat, dan dia memiliki niat untuk membangkitkan kerajaan kembali. Secara bijak, Gayatri memilih Wijaya untuk menguasai kerajaan sebagai raja Majapahit agar kerajaannya bisa kembali kepada kondisinya yang ideal.

Dalam lanjutan kisahnya Gayatri, dia harus menyamar sebagai anaknya seorang pegawai yang rendah dan dia harus berpenampilan sederhana. Di dalam buku tersebut memang dinyatakan bahwa Gayatri itu lebih nyaman jika menggunakan baju yang lebih simpel. Dari antara kakak-kakaknya ia yang berpenampilan lebih sportif, sedangkan saudari-saudarinya memberikan lebih banyak waktu dan usaha dalam berdandan.
Gayatri berbeda dengan saudari-saudarinya yang lebih tua, karena dia memiliki gaya yang tomboi tetapi tetap berpenampilan seperti wanita. Bahkan ayahnya sendiri mengatakan bahwa dia gayanya seperti lelaki. Daripada merasa tidak yakin terhadap penampilannya, Gayatri memilih untuk membanggakan gayanya karena itu menjadi ciri khasnya yang membuatnya berbeda dari saudari-saudarinya.

Selain penampilannya yang berbeda, Gayatri juga memiliki kesukaan teater yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Ketiga kakaknya yang lebih tua lebih menyenangi cerita Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Gayatri lebih menyukai kisah-kisah Panji. Alasan itu karena menurut dia kisah Panji itu lebih bermanfaat, karena kisah Panji itu cerita lokal. Dengan membaca kisah-kisah tersebut Gayatri merasa bahwa ceritanya akan bermanfaat saat dia menguasai kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya, Raja Kertanegara. Konflik yang terjadi dalam cerita Panji itu menyesuaikan situasi yang terjadi di dalam negara, maka dari itu memiliki lebih besar kemungkinan bahwa akan suatu saat terjadi. Caranya tokoh-tokoh dalam kerajaan menangani situasi saat terjadi permasalahan itu menjadi bahannya Gayatri untuk mempelajari kebijakan dalam menguasai suatu kerajaan. Dia mempelajari bahwa untuk menjadi seorang pemimpin Gayatri harus bersikap tabah.

Baca Episode berikutnya.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 1 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

Prajnaparamita_Java_Side_Detail

Dear diary,

Pada siang hari ini aku membaca buku tentang Gayatri Rajapatni karya tulisan Earl Drake, yaitu tokoh wanita yang membangun Kerajaan Majapahit. Awalnya aku tidak tertarik untuk membaca buku mengenai sejarah, tetapi sepanjang ini aku menemukan cerita ini unik. Caranya penulis menjelaskan ceritanya membuat pembaca mengerti karena pilihan kata yang mudah tetapi tetap bervariasi. Memang aku lebih menyukai cerita berbahasa Inggris dan yang lebih modern atau science fiction, tetapi saat aku membaca buku ini ternyata ada aspek fantasinya. Memang berbeda dengan hal yang akan kau baca dalam buku Harry Potter, tetapi menarik karena berbeda dengan materi yang kita baca pada jaman sekarang.

Setelah membaca buku itu aku mendapat keterangan bahwa Gayatri adalah tokoh yang kuat, karena sifat independennya dan ia juga tidak mudah menyerah. Sifat-sifat yang menjadi hal yang penting untuk dimiliki untuk menjadi orang yang hebat. Gayatri memiliki tiga kakak perempuan, yang pertama dan tertua bernama Tribhuwana, yang kedua Mahadewi, dan yang ketiga Jayendradewi. Gayatri sangat mengagumi kakaknya yang pertama karena sifatnya yang suka berlucu dan melawak. Gayatri tidak memiliki sifat itu, maka dia paling senang menghabiskan waktunya dengan kakaknya yang tertua yaitu Tribhuwana. Tribhuwana sudah menjadi seorang istri yang berpasangan dengan Pangeran Wijaya, yaitu sepupunya yang ketiga. Mahadewi, kakaknya yang kedua baru saja bertunangan dengan Ardaraja, yaitu sepupu jauhnya yang diangkat sebegai Komandan kawal untuk istana. Jayendradewi masih menunggu untuk dijodohkan oleh orangtuanya karena ia tidak sabar untuk bertemu dengan pasangannya.

Gayatri mengagumi ayahnya juga, karena dia menikmati waktu yang ia habiskan dengan ayahnya yang digunakan untuk berbincang mengenai topik-topik yang serius. Gayatri tidak terlalu peduli untuk menikah cepat-cepat seperti ketiga kakaknya yang lebih tua daripadanya. Namun kalau waktunya datang untuk Gayatri menikah, dia menginginkan laki-laki yang baik, berani, dan akan selalu menyayanginya dalam situasi apa pun. Gayatri pernah menyatakan bahwa satu-satunya laki-laki yang ingin untuk mengesankan adalah ayahnya sendiri. Gayatri itu memiliki sifat yang berbeda antara kakak-kakaknya, karena dia lebih mandiri dan berani. Dia sangat peduli pada konflik-konflik yang dihadapi kerajaan, maka dari itu iya akur dengan ayahnya. Gayatri juga cerdik, karena dia senang belajar hal-hal yang baru.

Selain mandiri dan pandai, Gayatri juga menyukai teater kuno karena ia menemukan kisah-kisah tersebut menarik. Dalam kisah-kisah yang diceritakan biasanya bisa ditemukan pesan moral yang berharga, karena dapat diaplikasikan ke dalam hidup sehari-hari. Ketiga kakaknya lebih menyukai kisah Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Gayatri lebih tertarik dengan kisah-kisah yang lokal karena kejadian-kejadian yang terjadi dalam ceritanya memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadi dibandingkan hal-hal yang terjadi dalam ceritanya Mahabharata dan Ramayana. Jika kerajaan Jawa menghadapi masalah, bacaan kisah-kisah seperti Panji akan lebih bermanfaat untuk memecahkan konflik-konflik tersebut.

Dalam bab pertama buku ini diceritakan bahwa kerajaan Jawa diancam oleh Kaisar Mongol di Cina, yang bernama Kublai Khan. Disebutkan bahwa kerajaan Jawa itu dihina oleh Kaisar, maka dari itu sang Raja, ayahnya Gayatri, marah karena ungkapan Khan. Pada awalnya Raja ingin menakuti Cina dengan membunuh salah satu prajuritnya lalu dikirim balik ke Cina, tetapi salah satu pihak dalam diskusi, yaitu gurunya Gayatri tidak setuju dengan keputusan tersebut, karena Cina itu negara yang makmur dan kuat maka akan sulit untuk berperang dengan mereka. Gurunya Gayatri percaya jika kerajaan Jawa membalas ancaman Cina maka akan ada perang dan kemungkinan besar Jawa tidak akan bertahan dan kalah. Akhirnya Raja memutuskan untuk tidak melaksanakan rencana tersebut dan memilih untuk berdamai.

Prajurit-prajurit dari Mongol datang ke istana untuk menyerang kerajaan dan kedua orangtua Gayatri meninggal, Tribhuwana memutuskan untuk ikut dengan Pangeran Wijaya, dan kedua kakaknya diambil sebagai sandera. Gayatri sedih karena ia sangat menyayangi keluarganya dan kematian orangtuanya ada di tangan Kaisar Khan. Setelah kejadian tersebut dia tidak diam dan bersedu, tetapi itu hanya memberinya alasan untuk melawan balik. Dengan alasan motivasi yang tepat, Gayatri dapat memenangkan perang karena dia memiliki alasan yang kuat untuk melawan Mongol.

Dari bab ini aku belajar bahwa Gayatri itu tokoh yang memberikan banyak hal untuk disukai karena sifatnya yang heroik. Belum terlihat dari cerita ini karena usianya yang masih muda, tetapi sudah terlihat potensinya. Dari kejadian di mana orangtuanya meninggal dia menangani situasinya dengan baik. Pada awalnya dia pastinya sedih dan membutuhkan waktu untuk memproses semuanya sendiri, tetapi setelah itu ia kembali ke realitas dan menghadapi semuanya daripada lari dari konflik. Gayatri bertindak untuk menghadapi masalah-masalahnya dan hal seperti itu sesuatu yang harus dikagumi karena pilihan itu tidak mudah dan tindakan seperti itu langka pada jaman sekarang. Gayatri memilik banyak sifat yang membuatnya seorang ratu, karena dia pandai menangani seluruh kerajaan. Sejak kecil pun dia sudah menunjukkan bahwa dia sanggup memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh kerajaan. Dari ayahnya, sang raja, ia belajar berbagai hal yang harus ia bisa lakukan untuk mengatur suatu kerajaan. Gayatri mengagumi ayahnya sehingga dia mewarisi sifat-sifat kepribadiannya yang bijak.

Baca Episode berikutnya.

Caping Panji

Artikel Kediri Bertutur

IMG_1035d

Caping Panji menceritakan tentang budaya panji yang diambil dari sisi kehidupan masyarakat Jawa dalam kebudayaan agraris. Caping panji merupakan gambaran masyarakat Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam tatanan kehidupannya. Hidup makmur, damai, tentram dan sejahtera hanya dapat diwujudkan bila semuanya dapat selaras.

Penari:
– Slamet Jiromifa
– Indah Purnaningtyas
– Sanggar Carang Gedang
– Ilustrasi Musik: Mbah war

IMG_0488aIMG_0441aIMG_0601a

Caping Panji telah ditampilkan di “Gua selomangleng,” kota Kediri-Jawa timur [pada tanggal 20 Desember 2015], terletak di kaki Gunung Klotok. “Gunung Klotok” merupakan bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di sebelah timur. Gua Selomangleng merupakan situs bersejarah tempat pertapaan “Sanggrama Wijayatunggadewi, ” yang lebih dikenal dengan nama “Dewi Kilisuci,” seorang puteri mahkota dari Kerajaan Kahuripan. Dewi Kilisuci atau Sanggrama Wijaya adalah puteri Raja Airlangga yang lebih memilih jalan pertapaan demi mencapai pencerahaan dari pada menjadi pewaris tahta kerajaan. Kisah perjalan dewi kilisuci memiliki kemiripan dengan perjalanan Sidharta Gautama yang pergi meninggalkan kemewahaan istana demi perjalanan suci. “Gua Selomangleng,” merupakan Widya Kadewatan atau Widya Mandala, yang berarti tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dewi kilisuci adalah insipirator pluralisme dan pemersatu.

Adanya arca budha dan relief garuda mukha di dalam Gua Selomangleng menjadi bukti bahwa sinkretisme antara Hindu dan Budha sudah terjadi di era Dewi Kilisuci. Merujuk pada simbol Budha dan Hindu yang terdapat di dalam gua, berarti dulunya penganut Hindu dan penganut Budha pernah tinggal bersama-sama, hidup rukun dan damai di satu tempat yang sama yaitu; kawasan Gua Selomangleng.

Dewi Kilisuci adalah sosok sentral bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji. Bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji, berarti bersatunya kerajaan Jenggala dan Daha (Kediri). Kisah Dewi Kilisuci sebagai pemersatu Panji dan Dewi Sekartaji terdapat dalam cerita atau lakon “Panji Semirang.” Kisah Dewi Kilisuci banyak dikaitkan dengan mitos, legenda, foklor, sampai seni tradisi; mitos Lembu Sura dan Mahesa Sura yang ada di Gunung Kelud, kesenian kuda kepang dan reog kendang, cerita Panji Semirang dll.

IMG_0993IMG_1342aIMG_1536IMG_1627IMG_1520aIMG_1637aIMG_1572aIMG_1435IMG_1418IMG_1677

Behind-The-Scenes: ‘Bertutur Lewat Mading di Sekolah HighScope Indonesia’ by Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur

APY_3649

Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex merupakan sebuah bentuk lokakarya pendidikan tentang pentingnya peran wanita dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, para peserta diberi wawasan tentang peranan wanita melalui seni bertutur serta menyampaikan informasi yang disampaikan sebelumnya dengan cara mengarang kisah-kisah wanita muda inspiratif melalui sebuah mading. Kegiatan mading sendiri terpilih menjadi kegiatan utama karena sudah mulai jarang dilakukan di lingkungan sekolah dan menjadikannya sebagai aktifitas yang sederhana dan bersifat nostalgia, balik ke masa kecil. Acara yang dimulai dengan sebuah ide sederhana memerlukan tenaga yang banyak agar tercapai pesannya dengan efektif kepada peserta lomba dan hadirin acara. Komentar-komentar peserta yang dikumpulkan setelah acara mencerminkan nilai-nilai yang mereka dapat seperti pentingnnya melestarikan budaya Indonesia karena nuansa dan tema acara yang tradisional dan menarik. Moral lain adalah pemberdayaan wanita-wanita muda menggunakan imajinasi dan pemikiran yang original. “Eventnya membantu mengembangkan kreatifitas generasi muda dan membangkitkan rasa nasionalisme dengan cara yang seru dan menarik.” (Assyla Ridha, MC acara).

Dibalik kesuksesan acara, rencana-rencana awal dimodifikasi sekian kalinya sampai akhirnya menciptakan hasil akhir yang memuaskan. Terdapat banyak perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi seperti tanggal acara, lokasi, jadwal/rundown yang tidak tampak pada saat acara berlangsung.

Berminggu-minggu sebelum acara berlangsung, informasi tentang sebuah kegiatan yang besar pada bulan Desember sudah disampaikan kepada guru dan kepala sekolah HighScope. Beberapa murid sudah diberikan informasi secukupnya tentang acara untuk disampaikan kepada teman-teman mereka, sebagai teaser untuk membuat murid-murid penasaran. Poster-poster hasil ciptaan murid-murid pilihan yang ditempel di lingkungan sekolah memamerkan hadiah utama dan mendorong banyak murid untuk semangat mengikuti lomba. Informasi tentang Lomba Bertutur Lewat Mading tersebar di berbagai grup ekstrakurikuler HighScope seperti PERMISHI, Literatur dan DLDA (Dark Lights Digital Arts) dan kertas registrasi pun disebarkan untuk diiisi oleh murid-murid yang tertarik mengikuti lomba. Pemberitahuan tentang lomba-lomba tambahan seperti foto live report dan video juga disampaikan agar menarik lebih banyak peserta.

Setelah rundown dan jadwal acara sudah disetujui oleh pihak Kotex dan sekolah HighScope, penetapan tanggal dan waktu masih menjadi salah satu rintangan yang dihadapi sebelum acara berlangsung. Setelah diberitahu tanggal acara yang sudah ditetapkan, beberapa murid protes karena situasi yang kurang sesuai dengan keinginan mereka, contohnya seperti pembatalan pertunjukan PERMISHI yang sudah menjadi tradisi untuk diadakan pada bulan Desember tiap tahun ajaran. Acara tahunan OSIS pun juga mengalami pengunduran. Agar semua pihak dapat mengatasi masalah, penyesuaian jadwal oleh pihak OSIS dan PERMISHI dilakukan agar pertunjukan mereka tetap bisa dilaksanakan di lain hari, yaitu pada tanggal 15 Desember. Band-band yang tidak tampil pada hari itu bersedia untuk tampil pada saat acara tanggal 16 Desember sebagai bentuk dukungan. Setelah pengumuman formal diberikan di grup angkatan kelas 10, 11 dan 12, murid-murid mulai banyak bertanya tentang syarat dan ketentuan serta rundown acara. Perincian lebih diberi kepada partisipan acara beberapa hari sebelumnya agar mereka dapat menentukan kelompok serta tema dari mading mereka.

Band-band sekolah sudah diminta partisipasi sebagai hiburan acara setelah informasi sudah tersebar, ditambah dengan partisipasi anggota OSIS yang diikutsertakan dalam proses pemilihan MC serta penyebaran informasi tambahan. Dipilih sebanyak tiga band sekolah dengan masing-masing membawakan 2 lagu. Para MC diundang rapat agar dapat diberi pengarahan yang jelas serta rundown acara.

IMG_4305

Malam sebelum hari acara, lokasi sedang penuh gemuruh campuran suara konstruksi panggung dan pajangan dekor, obrolan pengawas acara dan lantunan samar lagu-lagu yang akan mengiringi kegiatan acara. Properti yang dikirim itu langsung dari sumber-sumber diluar Jakarta seperti Malang Kediri, Pacitan, Gunung Kidul dan pasar pedesaan sudah diangkut ke lokasi dan tinggal dipasang ditempat. Berbagai macam wayang dan topeng tradisional mulai dipajang diatas instalasi gedebok-gedebok pisang di setiap sudut lokasi. Elemen-elemen visual yang hadir dalam Lomba Bertutur melalui Mading, HighScope juga mampu berceritera. Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung. Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan. Sederet keranjang anyaman penuh dengan potongan kain yang berpola ramai, kacang-kacangan dan biji-bijian kering serta bahan-bahan unik lainnya (sabut kelapa, kapas, dll.) untuk digunakan peserta lomba. Daun pisang juga tampak diletakkan diatas lantai yang tidak ditutupi oleh terpal biru, agar tidak mengotori lantai. Peralatan yang disiapkan oleh pihak sekolah, seperti cat, kuas dan lain-lain juga sudah disiapkan. Pekerja yang sudah tampak biasa kerja lembur menerima bekal makan malam yang disiapkan dengan senang hati.

IMG_4599

Pukul 00.00 haru Rabu tanggal 16 Desember, lokasi masih berisi pekerja dan panitia acara yang tangguh melawan rasa lelah merapikan peralatan-peralatan. Aula sekolah yang biasanya kosong tanpa hiasan pelan-pelan disulap menjadi indah dan siap untuk dipakai esok harinya. Semua merupakan hasil kerja keras tim dan pihak sekolah supaya acara tidak membosankan dan dijamin menyegarkan mata murid-murid dan tamu yang sudah matang direncanakan sejak bulan November yang lalu.

Acara yang dipenuhi dengan tawa dan kemeriahan suasana tradisional budaya Indonesia pada tanggal 16 Desember 2015 lalu menjadi buah bibir manis untuk murid-murid Sekolah HighScope Indonesia. Sebelum lomba dimulai, anak-anak sudah terhibur dengan pertunjukan seni bertutur oleh Kak Azis Franklin dan penampilan dari band-band PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia). Pada saat lomba berlangsung, kreativitas dan imajinasi anak-anak menjadi bahan ide untuk mading mereka yang dipajang dan dipresentasikan kepada para juri pada saat-saat terakhir. hiburan spontan dari pihak sekolah (pertunjukan musik dari murid dan para pengawas) ketika pemberian hadiah menjadi penutup yang mengesankan untuk acara tersebut. Diharapkan lebih banyak tawa dan kemeriahan yang dapat dialami oleh Sekolah HighScope Indonesia dengan acara-acara edukatif seperti Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex.

APY_3698APY_3704APY_3711APY_3657APY_3689APY_3692

Inspirasi Kreasi Inovatif: Pengalaman Murid-Murid HighScope Indonesia By Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur
APY_3565

Lomba Bertutur Lewat Mading, SMU High/Scope, TB Simatupang, JakSel

Hari Rabu tanggal 16 Desember 2015 murid-murid Sekolah HighScope Indonesia telah menyambut dengan hangat kemeriahan suasana acara lomba Mading yang diselenggarakan oleh Kotex Indonesia. Dari luar tempat acara terdengar obrolan anak-anak, bercampur aduk menjadi seribu dengungan suara, dengan beberapa murid mencelotehkan komentar dan pertanyaan tentang dekorasi gedebok pisang dan berbagai macam wayang yang menjadi atraksi mata serta lukisan-lukisan tangan yang dipamerkan di dinding dan jendela lokasi. Mereka menunjuk kepada panggung yang tampak siap untuk menjadi serambi pertunjukkan seni, yang dikabarkan akan dipersembahkan oleh teman-teman mereka dari PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia) dan seorang seniman asli, bernama Kak Azis Franklin. Kak Azis tampak seru menjadi bahan obrolan murid-murid dengan alat musik tradisional yang dimainkannya, sebuah alat musik senar yang menyerupai gitar yang bernama Sampek. Lantunan lagu tradisional yang dibawakannya menjadi iringan obrolan anak-anak. Alat musiknya beserta nyanyian lantang oleh Kak Azis memperdalam nuansa Indonesia yang ditunjukkan oleh dekorasi-dekorasi ditambah dengan lantunan musik tradisional dan fusion (semi-tradisional) menjadi pengisi waktu yang sesuai sambil menunggu acara dimulai.

Memasuki tempat acara, para siswa/i dipersilahkan untuk membuka sepatu sebagai bentuk praktek lesehan, atau suasana kedaerahan dan kesederhanaan yang menjadi salah satu dasar budaya Indonesia. “Lesehan” memiliki konsep budaya dalam media komunikasi nenek moyang jaman dulu dimana dengan falsafah lesehan berarti duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Ini mengandung nilai kesetaraan, tenggang rasa, dan humanisme. Kedua MC acara, murid-murid HighScope bernama Rafael Aditya dan Assyla Ridha mengalihkan sorotan mata peserta acara dari dekorasi dan obrolan teman-teman mereka. Acara dimulai dengan tepuk tangan yang menggelegar, menyambut kehadiran Ms. Callie Mackenzie, sang Kepala Sekolah. Setelah apresiasi dari Ms. Callie, disambut lagi presentasi dari Kotex oleh Mbak Ami Damayanti (perwakilan dari Kotex). Seminar kecil ini menyampaikan kegunaan produk-produk dari Kotex serta mendukung aktifitas wanita-wanita muda yang sibuk serta memberikan solusi untuk para wanita yang merasa kesulitan untuk tetap aktif pada saat halangan dengan menggunakan produk mereka. Para peserta mendapat informasi yang lebih tentang brand dan produk-produk mereka. Siswi perempuan akan mendapat goodie bag berisi produk-produk Kotex dan siswa laki-laki pun mendapat informasi tambahan yang informatif serta sertifikat mengikuti acara. Pihak acara juga membagikan flyer berisi informasi tambahan untuk lomba Mading, fotografi dan video pada saat pidato Ms. Calllie.

APY_3128APY_3361

Setelah seminar dari Kotex, seniman Azis Franklin dipersilahkan kedua MC untuk memperagakkan seni bertutur, yaitu menceritakan dongeng tradisional Indonesia dengan menggunakan wayang dan media gambar-gambar yang diperlihatkan di layar putih. Kak Azis menunjukkan keluwesan dan kegesitannya dalam menggerakan wayang, dan peserta-peserta yang hadir pun terbawa dalam candaan dan pembawaan seniman yang memikat perhatian. Cerita-cerita yang dibawakannya berisi legenda dewa-dewi kuno Indonesia penuh dengan moral dan makna serta fabel yang menghibur dan diperankan oleh Kak Azis dengan memanipulasi suaranya menyerupai berbagai macam peran binatang. Cerita-cerita tersebut dapat menarik perhatian murid-murid yang jarang mendengar kisah-kisah tradisional selain yang sudah terbiasa dibawakan seperti Malin Kundang atau Jaka Tarub. Kak Azis menyampaikan kisah-kisah tradisional dengan gaya yang menarik dan sangat mendukung partisipasi murid-murid, sehingga penonton tidak merasa bosan dengan cerita yang dibawakan. Penggunaan media peraga, seperti wayang, topeng dan pakaian seniman tersebut menjadikan penampilannya sebagai pertunjukan seni asli dan tidak setengah-setengah. Murid-murid pun menjadi tertarik mendengarkan cerita yang tidak biasa disampaikan, dan senang melihat Kak Azis dengan gayanya yang hangat dan mengundang tawa. Murid-murid tampak santai duduk di lantai dan memakai batik untuk menunjukkan keragaman budaya Indonesia.

APY_3253APY_3283

Setelah pertunjukkan seni oleh Kak Azis, ia secara detil menjelaskan pentingnya melestarikan seni bertutur kepada murid-murid. Kak Azis dengan cermat memperagakkan berbagai macam metode untuk menyampaikan sebuah cerita dengan menarik dan menghibur. Seni bertutur diartikan sebagai seni menceritakan sebuah kisah yang memilikki makna dan pesan yang berarti, dan lebih memikat imajinasi penonton dibandingkan hiburan biasa. Agar tidak membosankan, Kak Azis tetap mempresentasikan seminar kecil tersebut dengan gaya khasnya yang ceria dan penuh canda. Kemeriahan acara ditambah dengan dinyanyikannya lagu ‘Happy Birthday’ untuk dua murid HighScope, dan menunjukkan kekompakan siswa/i. Kedua MC dengan semangat menyampaikan doa-doa dan harapan untuk kedua murid yang ulangtahun untuk mengisi waktu menunggu set-up oleh band PERMISHI yang akan tampil. Band yang bernama XNY dengan santai membawakan dua lagu sambil mempersilahkan peserta untuk memakan cemilan tradisional Indonesia yang sudah disiapkan diatas lembaran-lembaran daun pisang yang lebar dan hijau. Para peserta dipersilahkan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana. Murid-murid mendapat jeda sejenak dari pertunjukan budaya Indonesia dan mendengarkan dua lagu modern yang dibawakan band tersebut. Mereka tampak senang menikmati musik yang dibawakan oleh band dan memberi tepuk tangan yang besar setelah selesai.

APY_3340

Sambil membuka agenda selanjutnya, penyampaian aturan lomba oleh Mbak Kandi Windoe, para MC mempersilahkan peserta untuk kembali masuk ke dalam tempat acara dan mengumumkan bahwa waktu mulai lomba Mading akan segera dimulai. Para peserta terlihat tertarik mendengar penjelasan tentang definisi dan keterangan mading, sebuah karya seni yang jarang terdengar dan tidak sering dilakukan di sekolah. Mereka juga sangat konsentrasi dalam mendengar penjelasan tentang komponen-komponen penilaian yaitu muatan nilai pesan (40%) yang dinilai oleh Mr. Ody representatif dari HighScope, muatan bertutur (35%) yang dinilai oleh Kak Azis Franklin, dan muatan estetika (25%) yang dinilai oleh Mbak Ami, representatif dari Kotex. Setelah penjelasan tentang peraturan lomba Mading, foto live report dan video, murid-murid berukumpul dengan kelompoknya masing-masing dan mulai mengerjakan Mading mereka. Setiap kelompok diberi nomer urutan secara acak untuk waktu peniliaian. Kelompok yang terbentuk sebanyak 12 grup, dengan jumlah peserta yang berbeda-beda antara 5 hingga 10 orang.

IMG_5158APY_4139

Tema acara secara keseluruhan mencondong kepada budaya dan seni Indonesia, memamerkan keragaman kultur Indonesia yang dihubungkan kepada isi dan pesan yang diharapkan dalam produk mading. Sudah banyak anak-anak muda Indonesia yang merasa “asing” terhadap budaya mereka sendiri, tidak menyadari nilai-nilai kearifan lokal (toleransi, budi pekerti, keteladanan, keselarasan, dan keharmonisan). Maka, tema kreasi inovatif akan mengajak para peserta untuk memadukan unsur-unsur tradisional dan modern untuk menciptakan sebuah “pintu masuk” bagi generasi muda untuk mengenali dan mempelajari seni budaya milik bangsanya. Seni bertutur yang dilakukan oleh Kak Azis Franklin diharapkan menjadi inspirasi dan sumber inovasi untuk peserta. Nuansa Indonesia pun menjadi salah satu bahan yang dapat dimasukkan dalam mading untuk memberi dukungan kepada budaya Indonesia dan wanita-wanita muda Indonesia. Dengan tema kreasi inovatif, murid-murid diharapkan untuk dapat menyampaikan pesan-pesan positif tentang kalangan wanita-wanita muda dan bertutur lewat mading secara langsung pada saat penjurian. Ricuh suara peserta pun bercampur aduk dengan musik yang mengiringi acara ketika lomba Mading sudah dimulai. Para siswa/i dengan semangat mengumpulkan bahan-bahan mading yang telah disiapkan di bagian belakang ruangan, mulai dari alat-alat biasa seperti gunting, cat, lem dan pensil dan yang lebih unik seperti beras dan biji-bijian, potongan-potongan kain, serabut kelapa, batu hias, dan lain-lain. Setiap kelompok yang berisi maksimal 10 orang terlihat sibuk mendiskusikan konsep pesan serta desain yang akan disampaikan di mading mereka. Lirikan dan sorotan tajam terhadap kelompok lain juga dilakukan oleh peserta-peserta yang berambisi memenangkan hadiah utama. Jepretan hasil kamera dan handphone juga banyak terdengar disana-sini ruangan. Para peserta terlihat senang membuat mading, yakni sebuah instalasi seni yang berupa hasil dari kreativitas dan imajinasi mereka sendiri. Murid-murid dengan riang dan santai duduk di lantai dan mengobrol dengan teman-teman mereka, terbawa dengan suasana yang ramai dan seperti perkumpulan biasa, namun tidak lupa dengan karya dan cerita yang mereka harus siapkan. Ketika waktu yang diberikan sudah selesai, masih banyak peserta yang memilih untuk menyelesaikan mading mereka terlebih dahulu sebelum menyantap makan siang.

Diluar ruang acara, terdapat sketsel-sketsel hitam dengan aksen emas untuk menggantung karya-karya para peserta. Sketsel tersebut dibawa masuk ruangan dan para peserta menyiapkan mading mereka, hasil dari kerja keras mereka selama 3-4 jam. Biji-bijian dan batu hias tajam yang berserakan dilantai telah diumumkan oleh para MC dan dijadikan himbauan bagi para peserta. Tumpahan cat dan bahan-bahan mading lainnya yang sudah berantakan di laintai telah menjadi bukti akan semangat peserta. Grup 1-6 dipanggil untuk mempresentasikan mading-mading mereka, lengkap dengan seni bertutur dan moral yang bermakan untuk dinilai. Setelah grup 1-6 sudah selesai, grup yang tersisa dipanggil kedepan. Terdengar banyak tawa yang menggelegar pada saat cerita dan isi mading yang lucu, dan juga renungan untuk penonton ketika mading yang serius dan penuh arti telah selesai mempresentasikan karya seni mereka.

APY_3478APY_3948APY_4072APY_4044

Setelah juri sudah selesai memberikan evaluasi setiap karya mading, para MC mengundang dua band PERMISHI untuk mengisi waktu sambil memproses hasil penilaian. Mading-mading dipindahkan ke sebelah kanan tempat agar penonton dapat melihat band-band dengan jelas. Terdengar lagi tepukan tangan yang meriah, menyambut penampilan oleh teman-teman sekelas. Kegelisahan mereka akan pengumuman pemenang agak reda dengan hiburan musik yang meriah. Guru-guru pun menjadi sumber hiburan yang tak terduga, dengan ajakan MC untuk bebas memanggung ternyata mengungkapan talenta guru-guru di bidang musik, dengan banyak guru yang memperlihatkan keterampilan mereka memainkan alat-alat musik. Suasana menjadi lebih seru, mirip dengan festival seni dan budaya.

APY_4020APY_4038APY_4025APY_4016

Setelah pengumuman pemenang lomba mading dan fotog live report, para pemenang dengan langsung diberi hadiah dan apresiasi dari representatif dari penyelenggara acara. Karya-karya mading tetap dipajang di lokasi sebagai atraksi foto-foto dan menjadi sumber kebanggaan bagi para peserta. MC dengan gesit mengundang lagi hiburan musik untuk meningkatkan kemeriahan suasana, dan acara pun ditutup dengan berakhirnya lagi terakhir serta penutup dari para MC, ucapan terima kasih bagi penyelenggara dan peserta acara.