Azra’s Social Diary: Ken Dedes episode 3 oleh maharaniamaliaazra

Artikel Kediri Bertutur

553027b10423bd871b8b4568

Source of visual: courtesy of https://indonesianmosaicstoneartpainting.wordpress.com/2012/10/13/indonesian-mosaic-stone-art-painting-ken-dedes/

Dear Diary,
Kali ini, aku melanjutkan membaca bagian ketiga dari buku Ken Dedes. Bagian ini dimulai dengan scene dimana semua orang sedang merasa sedih karena Ken Dedes, sang bunga telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Bukan hanya ibunya yang sedih, bahkan para cantrik serta para dhayang merasakan kesedihan yang sama besarnya dengannya. Pada saat itu, Empu Parwa masih diluar desa dan belum mengetahui apa yang telah terjadi kepada putrinya yang tercinta tersebut.
Walaupun Empu Parwa tidak mengetahui kejadian ini, hatinya merasa tidak tenang disaat ia sedang memimpin upacara dengan merapal mantra-mantra dalam bahasa Sanskerta; ini biasa dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Gusti Kang Murbeng Dumandi. Jikapun sang Empu Parwa merasa gelisah, ia mengabaikannya dan tetap berkonsentrasi dan melanjutkan upacara yang sedang berlangsung bersama murid-muridnya. Disaat malam tiba, banyak dari muridnya telah tertidur sedangkan yang lainnya dalam kondisi setengah tertidur. Empu Parwa sendiri masih terjaga dan terus melanjutkan upacara tersebut; ia adalah pemimpin dengan kewibawaan yang menjadi contoh bagi murid-muridnya. Tak terasa, matahari mulai menunjukkan dirinya dari ufuk timur, mengingatkan mereka bahwa saatnya untuk mengakhiri acara mereka tersebut dan kembali ke desa mereka.
Empu Parwa beserta murid-murdinya pun mengundurkan diri dan pulang. Disaat mereka sampai di pandepoknannya, cantrik-cantriknya mulai meminta maaf, mengatakan bahwa mereka telah gagal menjalankan perintah guru mereka. Empu Parwa meminta mereka untuk tenang dan menceritakan apa yang telah terjadi selama ia pergi. Mereka semua terdiam sampai salah seorang dari mereka berkata bahwa putrinya Ken Dedes telah diculik oleh Akuwu Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel. Hal ini membuat Empu kaget dan marah; bahkan wajahnya menjadi memerah, menahan murka. Tetapi ia tidak dapat merasa marah terhadap cantrik-cantriknya tersebut karena mereka menghadapi orang yang paling berkuasa di Tumapel.
Empu Parwa pun mulai berkata lantang bahwa ia akan terkena hukum karma dan ia akan mati ditikam sebuah Keris Empu Gandring (sebuah senjata pusaka yang berasa dari Kerajaan Singhasari atau lebih sdikenal dengan sebutan Keris.) Dan kita harus ingat, seperti yang kutulis di diaryku yang kedua, Empu Parwa dikenal sebagai brahmana yang gentur tapane; apapun yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan. Setelah ia mengeluarkan kutukannya, langit siang yang terang-benderang mendadak mengeluarkan suara halilintar yang menggelegar, seakan hal yang Empu Parwa katakan telah disetujui. Mata semua orang disekitar Empu Parwa membelalak disaat suara guntur terdengar begitu lantang dan mereka juga yakin bahwa kutukan itu akan menjadi kenyataan.
Hari demi hari pun berlalu semenjak Ken Dedes diculik. Ibunya masih menangis dan menolak untuk keluar dari kamarnya. Sebagai suami yang baik, Empu Parwa mencoba menenangkan istrinya. Istrinya pun bertanya kepada Empu mengapa ia tidak melakukan apapun? Apakah Empu Parwa hanya akan diam saja dan membiarkan putri yang sangat mereka cintai diculik begitu saja? Empu hanya bisa terdiam dan setelah beberapa lama menjawab bahwa ia percaya sang dewa agung pasti akan melindungi putri mereka dan penculikan ini adalah satu-satunya cara agar Ken Dedes (pada suatu hari nanti) dapat menjadi ibu dari raja-raja besar di Jawa. Istrinya pun menjadi lebih tenang dan mempercayai apa yang dikatakan suaminya.
Di bagian ini, memang tidak banyak penjelasan tentang Ken Dedes. Tetapi menurut aku, dalam situasi ini, Ken Dedes akan sabar, sama seperti ayahnya. Sampai sejauh ini, saya belajar bahwa Ken Dedes memiliki karakter tersebut dan yang lainnya seperti rendah hati, spiritual, memiliki pendirian yang tinggi, patuh kepada orang tua, dan hal-hal lainnya yang menurutku dapat kita tiru, apalagi orang-orang dikalangan muda seperti remaja. Oleh sebab itu, aku juga merasa bahwa Ken Dedes bisa menjadi seseorang yang inovatif karena ia memiliki sikap-sikap ini.

 

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 2 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

15974805

Dear diary,
Gayatri adalah salah satu tokoh wanita yang dikagumi oleh masyarakat, karena ia mempunyai sikap ketegasan dan mandiri yang seharusnya dimiliki seorang putri. Gayatri adalah wanita yang mendirikan kerajaan Majapahit. Majapahit tidak akan semakmur pada saat itu jika Gayatri tidak mempertahankan kekuasaannya.
Dalam bab kedua buku Gayatri Rajapatni, kerajaan mulai kembali berdiri dan melawan Mongol. Sejak serangan pasukan Mongol, Gayatri harus tidak diketahui keberadaannya agar dia aman. Gayatri dan pelayannya melarikan diri ke Kediri untuk bersembunyi dari para pasukan Mongol. Dia menyamar sebagai “Ratna Sutawan” yaitu seorang putri pegawai rendah. Pangeran Wijaya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Kediri, tetapi Raja Jayakatwang tidak tahu bahwa sebenarnya ia berencana untuk memenangkan hatinya sang Raja lalu mengkhianatinya. Pangeran Wijaya diam-diam membangun pasukan terdiri dari pengikut-pengikut setia kerajaan Singhasari. Wijaya berencana untuk menyerang Kediri dengan bergabung dengan pasukan Mongol. Sang pangeran menjanjikan bahwa ia akan membagikan sebagian harta yang ia dapatkan dari Kediri kepada Mongol, padahal sebenarnya ia akan bertarung dengan Mongol setelah ia selesai dengan kerajaan Kediri.
Dalam pertemuan rahasia Pangeran Wijaya dan Gayatri, kedua tokoh tersebut mulai mengembangkan perasaan untuk sesama. Gayatri tertarik dengan Pangeran Wijaya dan kebetulan keduanya saling menyukai. Hubungan Gayatri dan Wijaya itu romantis, sedangkan kalau Tribhuwana dan Wijaya pernikahannya terjadi untuk membuat keharmonian dan damai antara dua kerajaan.
Dalam bab ini sisi sensitifnya Gayatri itu lebih terlihat, karena tampaknya dia mulai mengembangkan perasaan untuk Pangeran Wijaya. Gayatri membuktikan bahwa seseorang bisa terlihat tabah tetapi bisa juga memiliki sisi yang lebih rentan. Karena Gayatri itu seorang putri dan menjadi sosok yang terkenal dalam masyarakat ia harus bersikap teguh untuk membuktikan bahwa dia itu sanggup menghadapi apa pun untuk merebut kerajaannya kembali. Namun, dalam keadaan tersebut dia harus menghindari publik agar dia tidak terdeteksi oleh Kublai Khan dan pasukannya untuk sementara.
Setelah orangtuanya Gayatri meninggal itu memberinya lebih banyak alasan untuk bersemangat dan merebut kerajaannya kembali. Mungkin dia merasa murung karena kedua orangtuanya yang dia sayangi sudah tiada, tetapi dia menunjukkan wajah yang berani dan tegar. Serangan dari Mongol itu nasib buruk untuk Gayatri, karena hanya dari satu kejadian itu dia sudah kehilangan orang-orang yang ia pedulikan dan sekarang dia harus pergi ke Kediri untuk menghindari pasukan Mongol. Pada saat itu Kediri dan kerajaan Singhasari itu memiliki konflik, tetapi Gayatri berani untuk memasuki wilayahnya raja Jayakatwang. Padahal Raja Jayakatwang adalah pembunuh ayahnya Gayatri, tetapi ia memberanikan diri untuk berkeliling di sana agar tidak diketahui keberadaannya oleh pasukan Mongol.

Setelah kejadian di mana orangtuanya Gayatri meninggal itu menjadi motivasinya untuk membangun kembali kerajaan yang sudah hancur berkeping-keping menjadi satu lagi. Kerajaan Singhasari sudah dalam kondisi yang sangat parah sejak serangan Mongol sampai raja Kertanegara harus bertarung dengan beberapa pasukannya, tetapi usahanya gagal karena akhirnya ia meninggal. Dengan bantuan Pangeran Wijaya dan saudari-saudarinya yang lebih tua dia pelan-pelan merebut kembali kerajaannya. Pada saat itu Singhasari membutuhkan seorang pemimpin, seorang raja untuk menjalankan kerajaan. Gayatri memilih Wijaya untuk memimpin kerajaan Majapahit karena dia percaya bahwa Wijaya dapat memenuhi kriteria yang dibutuhkan seorang raja. Wijaya memiliki hubungan dengan keluarganya Kertanegara, dia gagah dan kuat, dan dia memiliki niat untuk membangkitkan kerajaan kembali. Secara bijak, Gayatri memilih Wijaya untuk menguasai kerajaan sebagai raja Majapahit agar kerajaannya bisa kembali kepada kondisinya yang ideal.

Dalam lanjutan kisahnya Gayatri, dia harus menyamar sebagai anaknya seorang pegawai yang rendah dan dia harus berpenampilan sederhana. Di dalam buku tersebut memang dinyatakan bahwa Gayatri itu lebih nyaman jika menggunakan baju yang lebih simpel. Dari antara kakak-kakaknya ia yang berpenampilan lebih sportif, sedangkan saudari-saudarinya memberikan lebih banyak waktu dan usaha dalam berdandan.
Gayatri berbeda dengan saudari-saudarinya yang lebih tua, karena dia memiliki gaya yang tomboi tetapi tetap berpenampilan seperti wanita. Bahkan ayahnya sendiri mengatakan bahwa dia gayanya seperti lelaki. Daripada merasa tidak yakin terhadap penampilannya, Gayatri memilih untuk membanggakan gayanya karena itu menjadi ciri khasnya yang membuatnya berbeda dari saudari-saudarinya.

Selain penampilannya yang berbeda, Gayatri juga memiliki kesukaan teater yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Ketiga kakaknya yang lebih tua lebih menyenangi cerita Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Gayatri lebih menyukai kisah-kisah Panji. Alasan itu karena menurut dia kisah Panji itu lebih bermanfaat, karena kisah Panji itu cerita lokal. Dengan membaca kisah-kisah tersebut Gayatri merasa bahwa ceritanya akan bermanfaat saat dia menguasai kerajaan yang telah dibangun oleh ayahnya, Raja Kertanegara. Konflik yang terjadi dalam cerita Panji itu menyesuaikan situasi yang terjadi di dalam negara, maka dari itu memiliki lebih besar kemungkinan bahwa akan suatu saat terjadi. Caranya tokoh-tokoh dalam kerajaan menangani situasi saat terjadi permasalahan itu menjadi bahannya Gayatri untuk mempelajari kebijakan dalam menguasai suatu kerajaan. Dia mempelajari bahwa untuk menjadi seorang pemimpin Gayatri harus bersikap tabah.

Baca Episode berikutnya.

Wanita Inspiratif: Gayatri Rajapatni episode 1 by Anastasia Pradinia

Artikel Kediri Bertutur

Prajnaparamita_Java_Side_Detail

Dear diary,

Pada siang hari ini aku membaca buku tentang Gayatri Rajapatni karya tulisan Earl Drake, yaitu tokoh wanita yang membangun Kerajaan Majapahit. Awalnya aku tidak tertarik untuk membaca buku mengenai sejarah, tetapi sepanjang ini aku menemukan cerita ini unik. Caranya penulis menjelaskan ceritanya membuat pembaca mengerti karena pilihan kata yang mudah tetapi tetap bervariasi. Memang aku lebih menyukai cerita berbahasa Inggris dan yang lebih modern atau science fiction, tetapi saat aku membaca buku ini ternyata ada aspek fantasinya. Memang berbeda dengan hal yang akan kau baca dalam buku Harry Potter, tetapi menarik karena berbeda dengan materi yang kita baca pada jaman sekarang.

Setelah membaca buku itu aku mendapat keterangan bahwa Gayatri adalah tokoh yang kuat, karena sifat independennya dan ia juga tidak mudah menyerah. Sifat-sifat yang menjadi hal yang penting untuk dimiliki untuk menjadi orang yang hebat. Gayatri memiliki tiga kakak perempuan, yang pertama dan tertua bernama Tribhuwana, yang kedua Mahadewi, dan yang ketiga Jayendradewi. Gayatri sangat mengagumi kakaknya yang pertama karena sifatnya yang suka berlucu dan melawak. Gayatri tidak memiliki sifat itu, maka dia paling senang menghabiskan waktunya dengan kakaknya yang tertua yaitu Tribhuwana. Tribhuwana sudah menjadi seorang istri yang berpasangan dengan Pangeran Wijaya, yaitu sepupunya yang ketiga. Mahadewi, kakaknya yang kedua baru saja bertunangan dengan Ardaraja, yaitu sepupu jauhnya yang diangkat sebegai Komandan kawal untuk istana. Jayendradewi masih menunggu untuk dijodohkan oleh orangtuanya karena ia tidak sabar untuk bertemu dengan pasangannya.

Gayatri mengagumi ayahnya juga, karena dia menikmati waktu yang ia habiskan dengan ayahnya yang digunakan untuk berbincang mengenai topik-topik yang serius. Gayatri tidak terlalu peduli untuk menikah cepat-cepat seperti ketiga kakaknya yang lebih tua daripadanya. Namun kalau waktunya datang untuk Gayatri menikah, dia menginginkan laki-laki yang baik, berani, dan akan selalu menyayanginya dalam situasi apa pun. Gayatri pernah menyatakan bahwa satu-satunya laki-laki yang ingin untuk mengesankan adalah ayahnya sendiri. Gayatri itu memiliki sifat yang berbeda antara kakak-kakaknya, karena dia lebih mandiri dan berani. Dia sangat peduli pada konflik-konflik yang dihadapi kerajaan, maka dari itu iya akur dengan ayahnya. Gayatri juga cerdik, karena dia senang belajar hal-hal yang baru.

Selain mandiri dan pandai, Gayatri juga menyukai teater kuno karena ia menemukan kisah-kisah tersebut menarik. Dalam kisah-kisah yang diceritakan biasanya bisa ditemukan pesan moral yang berharga, karena dapat diaplikasikan ke dalam hidup sehari-hari. Ketiga kakaknya lebih menyukai kisah Mahabharata dan Ramayana, sedangkan Gayatri lebih tertarik dengan kisah-kisah yang lokal karena kejadian-kejadian yang terjadi dalam ceritanya memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadi dibandingkan hal-hal yang terjadi dalam ceritanya Mahabharata dan Ramayana. Jika kerajaan Jawa menghadapi masalah, bacaan kisah-kisah seperti Panji akan lebih bermanfaat untuk memecahkan konflik-konflik tersebut.

Dalam bab pertama buku ini diceritakan bahwa kerajaan Jawa diancam oleh Kaisar Mongol di Cina, yang bernama Kublai Khan. Disebutkan bahwa kerajaan Jawa itu dihina oleh Kaisar, maka dari itu sang Raja, ayahnya Gayatri, marah karena ungkapan Khan. Pada awalnya Raja ingin menakuti Cina dengan membunuh salah satu prajuritnya lalu dikirim balik ke Cina, tetapi salah satu pihak dalam diskusi, yaitu gurunya Gayatri tidak setuju dengan keputusan tersebut, karena Cina itu negara yang makmur dan kuat maka akan sulit untuk berperang dengan mereka. Gurunya Gayatri percaya jika kerajaan Jawa membalas ancaman Cina maka akan ada perang dan kemungkinan besar Jawa tidak akan bertahan dan kalah. Akhirnya Raja memutuskan untuk tidak melaksanakan rencana tersebut dan memilih untuk berdamai.

Prajurit-prajurit dari Mongol datang ke istana untuk menyerang kerajaan dan kedua orangtua Gayatri meninggal, Tribhuwana memutuskan untuk ikut dengan Pangeran Wijaya, dan kedua kakaknya diambil sebagai sandera. Gayatri sedih karena ia sangat menyayangi keluarganya dan kematian orangtuanya ada di tangan Kaisar Khan. Setelah kejadian tersebut dia tidak diam dan bersedu, tetapi itu hanya memberinya alasan untuk melawan balik. Dengan alasan motivasi yang tepat, Gayatri dapat memenangkan perang karena dia memiliki alasan yang kuat untuk melawan Mongol.

Dari bab ini aku belajar bahwa Gayatri itu tokoh yang memberikan banyak hal untuk disukai karena sifatnya yang heroik. Belum terlihat dari cerita ini karena usianya yang masih muda, tetapi sudah terlihat potensinya. Dari kejadian di mana orangtuanya meninggal dia menangani situasinya dengan baik. Pada awalnya dia pastinya sedih dan membutuhkan waktu untuk memproses semuanya sendiri, tetapi setelah itu ia kembali ke realitas dan menghadapi semuanya daripada lari dari konflik. Gayatri bertindak untuk menghadapi masalah-masalahnya dan hal seperti itu sesuatu yang harus dikagumi karena pilihan itu tidak mudah dan tindakan seperti itu langka pada jaman sekarang. Gayatri memilik banyak sifat yang membuatnya seorang ratu, karena dia pandai menangani seluruh kerajaan. Sejak kecil pun dia sudah menunjukkan bahwa dia sanggup memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh kerajaan. Dari ayahnya, sang raja, ia belajar berbagai hal yang harus ia bisa lakukan untuk mengatur suatu kerajaan. Gayatri mengagumi ayahnya sehingga dia mewarisi sifat-sifat kepribadiannya yang bijak.

Baca Episode berikutnya.

Caping Panji

Artikel Kediri Bertutur

IMG_1035d

Caping Panji menceritakan tentang budaya panji yang diambil dari sisi kehidupan masyarakat Jawa dalam kebudayaan agraris. Caping panji merupakan gambaran masyarakat Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam tatanan kehidupannya. Hidup makmur, damai, tentram dan sejahtera hanya dapat diwujudkan bila semuanya dapat selaras.

Penari:
– Slamet Jiromifa
– Indah Purnaningtyas
– Sanggar Carang Gedang
– Ilustrasi Musik: Mbah war

IMG_0488aIMG_0441aIMG_0601a

Caping Panji telah ditampilkan di “Gua selomangleng,” kota Kediri-Jawa timur [pada tanggal 20 Desember 2015], terletak di kaki Gunung Klotok. “Gunung Klotok” merupakan bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di sebelah timur. Gua Selomangleng merupakan situs bersejarah tempat pertapaan “Sanggrama Wijayatunggadewi, ” yang lebih dikenal dengan nama “Dewi Kilisuci,” seorang puteri mahkota dari Kerajaan Kahuripan. Dewi Kilisuci atau Sanggrama Wijaya adalah puteri Raja Airlangga yang lebih memilih jalan pertapaan demi mencapai pencerahaan dari pada menjadi pewaris tahta kerajaan. Kisah perjalan dewi kilisuci memiliki kemiripan dengan perjalanan Sidharta Gautama yang pergi meninggalkan kemewahaan istana demi perjalanan suci. “Gua Selomangleng,” merupakan Widya Kadewatan atau Widya Mandala, yang berarti tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dewi kilisuci adalah insipirator pluralisme dan pemersatu.

Adanya arca budha dan relief garuda mukha di dalam Gua Selomangleng menjadi bukti bahwa sinkretisme antara Hindu dan Budha sudah terjadi di era Dewi Kilisuci. Merujuk pada simbol Budha dan Hindu yang terdapat di dalam gua, berarti dulunya penganut Hindu dan penganut Budha pernah tinggal bersama-sama, hidup rukun dan damai di satu tempat yang sama yaitu; kawasan Gua Selomangleng.

Dewi Kilisuci adalah sosok sentral bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji. Bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji, berarti bersatunya kerajaan Jenggala dan Daha (Kediri). Kisah Dewi Kilisuci sebagai pemersatu Panji dan Dewi Sekartaji terdapat dalam cerita atau lakon “Panji Semirang.” Kisah Dewi Kilisuci banyak dikaitkan dengan mitos, legenda, foklor, sampai seni tradisi; mitos Lembu Sura dan Mahesa Sura yang ada di Gunung Kelud, kesenian kuda kepang dan reog kendang, cerita Panji Semirang dll.

IMG_0993IMG_1342aIMG_1536IMG_1627IMG_1520aIMG_1637aIMG_1572aIMG_1435IMG_1418IMG_1677

Behind-The-Scenes: ‘Bertutur Lewat Mading di Sekolah HighScope Indonesia’ by Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur

APY_3649

Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex merupakan sebuah bentuk lokakarya pendidikan tentang pentingnya peran wanita dalam lingkungan dan kehidupan sosial. Dengan kata lain, para peserta diberi wawasan tentang peranan wanita melalui seni bertutur serta menyampaikan informasi yang disampaikan sebelumnya dengan cara mengarang kisah-kisah wanita muda inspiratif melalui sebuah mading. Kegiatan mading sendiri terpilih menjadi kegiatan utama karena sudah mulai jarang dilakukan di lingkungan sekolah dan menjadikannya sebagai aktifitas yang sederhana dan bersifat nostalgia, balik ke masa kecil. Acara yang dimulai dengan sebuah ide sederhana memerlukan tenaga yang banyak agar tercapai pesannya dengan efektif kepada peserta lomba dan hadirin acara. Komentar-komentar peserta yang dikumpulkan setelah acara mencerminkan nilai-nilai yang mereka dapat seperti pentingnnya melestarikan budaya Indonesia karena nuansa dan tema acara yang tradisional dan menarik. Moral lain adalah pemberdayaan wanita-wanita muda menggunakan imajinasi dan pemikiran yang original. “Eventnya membantu mengembangkan kreatifitas generasi muda dan membangkitkan rasa nasionalisme dengan cara yang seru dan menarik.” (Assyla Ridha, MC acara).

Dibalik kesuksesan acara, rencana-rencana awal dimodifikasi sekian kalinya sampai akhirnya menciptakan hasil akhir yang memuaskan. Terdapat banyak perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi seperti tanggal acara, lokasi, jadwal/rundown yang tidak tampak pada saat acara berlangsung.

Berminggu-minggu sebelum acara berlangsung, informasi tentang sebuah kegiatan yang besar pada bulan Desember sudah disampaikan kepada guru dan kepala sekolah HighScope. Beberapa murid sudah diberikan informasi secukupnya tentang acara untuk disampaikan kepada teman-teman mereka, sebagai teaser untuk membuat murid-murid penasaran. Poster-poster hasil ciptaan murid-murid pilihan yang ditempel di lingkungan sekolah memamerkan hadiah utama dan mendorong banyak murid untuk semangat mengikuti lomba. Informasi tentang Lomba Bertutur Lewat Mading tersebar di berbagai grup ekstrakurikuler HighScope seperti PERMISHI, Literatur dan DLDA (Dark Lights Digital Arts) dan kertas registrasi pun disebarkan untuk diiisi oleh murid-murid yang tertarik mengikuti lomba. Pemberitahuan tentang lomba-lomba tambahan seperti foto live report dan video juga disampaikan agar menarik lebih banyak peserta.

Setelah rundown dan jadwal acara sudah disetujui oleh pihak Kotex dan sekolah HighScope, penetapan tanggal dan waktu masih menjadi salah satu rintangan yang dihadapi sebelum acara berlangsung. Setelah diberitahu tanggal acara yang sudah ditetapkan, beberapa murid protes karena situasi yang kurang sesuai dengan keinginan mereka, contohnya seperti pembatalan pertunjukan PERMISHI yang sudah menjadi tradisi untuk diadakan pada bulan Desember tiap tahun ajaran. Acara tahunan OSIS pun juga mengalami pengunduran. Agar semua pihak dapat mengatasi masalah, penyesuaian jadwal oleh pihak OSIS dan PERMISHI dilakukan agar pertunjukan mereka tetap bisa dilaksanakan di lain hari, yaitu pada tanggal 15 Desember. Band-band yang tidak tampil pada hari itu bersedia untuk tampil pada saat acara tanggal 16 Desember sebagai bentuk dukungan. Setelah pengumuman formal diberikan di grup angkatan kelas 10, 11 dan 12, murid-murid mulai banyak bertanya tentang syarat dan ketentuan serta rundown acara. Perincian lebih diberi kepada partisipan acara beberapa hari sebelumnya agar mereka dapat menentukan kelompok serta tema dari mading mereka.

Band-band sekolah sudah diminta partisipasi sebagai hiburan acara setelah informasi sudah tersebar, ditambah dengan partisipasi anggota OSIS yang diikutsertakan dalam proses pemilihan MC serta penyebaran informasi tambahan. Dipilih sebanyak tiga band sekolah dengan masing-masing membawakan 2 lagu. Para MC diundang rapat agar dapat diberi pengarahan yang jelas serta rundown acara.

IMG_4305

Malam sebelum hari acara, lokasi sedang penuh gemuruh campuran suara konstruksi panggung dan pajangan dekor, obrolan pengawas acara dan lantunan samar lagu-lagu yang akan mengiringi kegiatan acara. Properti yang dikirim itu langsung dari sumber-sumber diluar Jakarta seperti Malang Kediri, Pacitan, Gunung Kidul dan pasar pedesaan sudah diangkut ke lokasi dan tinggal dipasang ditempat. Berbagai macam wayang dan topeng tradisional mulai dipajang diatas instalasi gedebok-gedebok pisang di setiap sudut lokasi. Elemen-elemen visual yang hadir dalam Lomba Bertutur melalui Mading, HighScope juga mampu berceritera. Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung. Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini – “tembang dan dongeng” dilakonkan. Sederet keranjang anyaman penuh dengan potongan kain yang berpola ramai, kacang-kacangan dan biji-bijian kering serta bahan-bahan unik lainnya (sabut kelapa, kapas, dll.) untuk digunakan peserta lomba. Daun pisang juga tampak diletakkan diatas lantai yang tidak ditutupi oleh terpal biru, agar tidak mengotori lantai. Peralatan yang disiapkan oleh pihak sekolah, seperti cat, kuas dan lain-lain juga sudah disiapkan. Pekerja yang sudah tampak biasa kerja lembur menerima bekal makan malam yang disiapkan dengan senang hati.

IMG_4599

Pukul 00.00 haru Rabu tanggal 16 Desember, lokasi masih berisi pekerja dan panitia acara yang tangguh melawan rasa lelah merapikan peralatan-peralatan. Aula sekolah yang biasanya kosong tanpa hiasan pelan-pelan disulap menjadi indah dan siap untuk dipakai esok harinya. Semua merupakan hasil kerja keras tim dan pihak sekolah supaya acara tidak membosankan dan dijamin menyegarkan mata murid-murid dan tamu yang sudah matang direncanakan sejak bulan November yang lalu.

Acara yang dipenuhi dengan tawa dan kemeriahan suasana tradisional budaya Indonesia pada tanggal 16 Desember 2015 lalu menjadi buah bibir manis untuk murid-murid Sekolah HighScope Indonesia. Sebelum lomba dimulai, anak-anak sudah terhibur dengan pertunjukan seni bertutur oleh Kak Azis Franklin dan penampilan dari band-band PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia). Pada saat lomba berlangsung, kreativitas dan imajinasi anak-anak menjadi bahan ide untuk mading mereka yang dipajang dan dipresentasikan kepada para juri pada saat-saat terakhir. hiburan spontan dari pihak sekolah (pertunjukan musik dari murid dan para pengawas) ketika pemberian hadiah menjadi penutup yang mengesankan untuk acara tersebut. Diharapkan lebih banyak tawa dan kemeriahan yang dapat dialami oleh Sekolah HighScope Indonesia dengan acara-acara edukatif seperti Lomba Bertutur Lewat Mading yang diselenggarakan oleh Kotex.

APY_3698APY_3704APY_3711APY_3657APY_3689APY_3692

Inspirasi Kreasi Inovatif: Pengalaman Murid-Murid HighScope Indonesia By Praya Prayono

Inspirasi Kediri Bertutur
APY_3565

Lomba Bertutur Lewat Mading, SMU High/Scope, TB Simatupang, JakSel

Hari Rabu tanggal 16 Desember 2015 murid-murid Sekolah HighScope Indonesia telah menyambut dengan hangat kemeriahan suasana acara lomba Mading yang diselenggarakan oleh Kotex Indonesia. Dari luar tempat acara terdengar obrolan anak-anak, bercampur aduk menjadi seribu dengungan suara, dengan beberapa murid mencelotehkan komentar dan pertanyaan tentang dekorasi gedebok pisang dan berbagai macam wayang yang menjadi atraksi mata serta lukisan-lukisan tangan yang dipamerkan di dinding dan jendela lokasi. Mereka menunjuk kepada panggung yang tampak siap untuk menjadi serambi pertunjukkan seni, yang dikabarkan akan dipersembahkan oleh teman-teman mereka dari PERMISHI (Persatuan Musik Sekolah HighScope Indonesia) dan seorang seniman asli, bernama Kak Azis Franklin. Kak Azis tampak seru menjadi bahan obrolan murid-murid dengan alat musik tradisional yang dimainkannya, sebuah alat musik senar yang menyerupai gitar yang bernama Sampek. Lantunan lagu tradisional yang dibawakannya menjadi iringan obrolan anak-anak. Alat musiknya beserta nyanyian lantang oleh Kak Azis memperdalam nuansa Indonesia yang ditunjukkan oleh dekorasi-dekorasi ditambah dengan lantunan musik tradisional dan fusion (semi-tradisional) menjadi pengisi waktu yang sesuai sambil menunggu acara dimulai.

Memasuki tempat acara, para siswa/i dipersilahkan untuk membuka sepatu sebagai bentuk praktek lesehan, atau suasana kedaerahan dan kesederhanaan yang menjadi salah satu dasar budaya Indonesia. “Lesehan” memiliki konsep budaya dalam media komunikasi nenek moyang jaman dulu dimana dengan falsafah lesehan berarti duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Ini mengandung nilai kesetaraan, tenggang rasa, dan humanisme. Kedua MC acara, murid-murid HighScope bernama Rafael Aditya dan Assyla Ridha mengalihkan sorotan mata peserta acara dari dekorasi dan obrolan teman-teman mereka. Acara dimulai dengan tepuk tangan yang menggelegar, menyambut kehadiran Ms. Callie Mackenzie, sang Kepala Sekolah. Setelah apresiasi dari Ms. Callie, disambut lagi presentasi dari Kotex oleh Mbak Ami Damayanti (perwakilan dari Kotex). Seminar kecil ini menyampaikan kegunaan produk-produk dari Kotex serta mendukung aktifitas wanita-wanita muda yang sibuk serta memberikan solusi untuk para wanita yang merasa kesulitan untuk tetap aktif pada saat halangan dengan menggunakan produk mereka. Para peserta mendapat informasi yang lebih tentang brand dan produk-produk mereka. Siswi perempuan akan mendapat goodie bag berisi produk-produk Kotex dan siswa laki-laki pun mendapat informasi tambahan yang informatif serta sertifikat mengikuti acara. Pihak acara juga membagikan flyer berisi informasi tambahan untuk lomba Mading, fotografi dan video pada saat pidato Ms. Calllie.

APY_3128APY_3361

Setelah seminar dari Kotex, seniman Azis Franklin dipersilahkan kedua MC untuk memperagakkan seni bertutur, yaitu menceritakan dongeng tradisional Indonesia dengan menggunakan wayang dan media gambar-gambar yang diperlihatkan di layar putih. Kak Azis menunjukkan keluwesan dan kegesitannya dalam menggerakan wayang, dan peserta-peserta yang hadir pun terbawa dalam candaan dan pembawaan seniman yang memikat perhatian. Cerita-cerita yang dibawakannya berisi legenda dewa-dewi kuno Indonesia penuh dengan moral dan makna serta fabel yang menghibur dan diperankan oleh Kak Azis dengan memanipulasi suaranya menyerupai berbagai macam peran binatang. Cerita-cerita tersebut dapat menarik perhatian murid-murid yang jarang mendengar kisah-kisah tradisional selain yang sudah terbiasa dibawakan seperti Malin Kundang atau Jaka Tarub. Kak Azis menyampaikan kisah-kisah tradisional dengan gaya yang menarik dan sangat mendukung partisipasi murid-murid, sehingga penonton tidak merasa bosan dengan cerita yang dibawakan. Penggunaan media peraga, seperti wayang, topeng dan pakaian seniman tersebut menjadikan penampilannya sebagai pertunjukan seni asli dan tidak setengah-setengah. Murid-murid pun menjadi tertarik mendengarkan cerita yang tidak biasa disampaikan, dan senang melihat Kak Azis dengan gayanya yang hangat dan mengundang tawa. Murid-murid tampak santai duduk di lantai dan memakai batik untuk menunjukkan keragaman budaya Indonesia.

APY_3253APY_3283

Setelah pertunjukkan seni oleh Kak Azis, ia secara detil menjelaskan pentingnya melestarikan seni bertutur kepada murid-murid. Kak Azis dengan cermat memperagakkan berbagai macam metode untuk menyampaikan sebuah cerita dengan menarik dan menghibur. Seni bertutur diartikan sebagai seni menceritakan sebuah kisah yang memilikki makna dan pesan yang berarti, dan lebih memikat imajinasi penonton dibandingkan hiburan biasa. Agar tidak membosankan, Kak Azis tetap mempresentasikan seminar kecil tersebut dengan gaya khasnya yang ceria dan penuh canda. Kemeriahan acara ditambah dengan dinyanyikannya lagu ‘Happy Birthday’ untuk dua murid HighScope, dan menunjukkan kekompakan siswa/i. Kedua MC dengan semangat menyampaikan doa-doa dan harapan untuk kedua murid yang ulangtahun untuk mengisi waktu menunggu set-up oleh band PERMISHI yang akan tampil. Band yang bernama XNY dengan santai membawakan dua lagu sambil mempersilahkan peserta untuk memakan cemilan tradisional Indonesia yang sudah disiapkan diatas lembaran-lembaran daun pisang yang lebar dan hijau. Para peserta dipersilahkan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana. Murid-murid mendapat jeda sejenak dari pertunjukan budaya Indonesia dan mendengarkan dua lagu modern yang dibawakan band tersebut. Mereka tampak senang menikmati musik yang dibawakan oleh band dan memberi tepuk tangan yang besar setelah selesai.

APY_3340

Sambil membuka agenda selanjutnya, penyampaian aturan lomba oleh Mbak Kandi Windoe, para MC mempersilahkan peserta untuk kembali masuk ke dalam tempat acara dan mengumumkan bahwa waktu mulai lomba Mading akan segera dimulai. Para peserta terlihat tertarik mendengar penjelasan tentang definisi dan keterangan mading, sebuah karya seni yang jarang terdengar dan tidak sering dilakukan di sekolah. Mereka juga sangat konsentrasi dalam mendengar penjelasan tentang komponen-komponen penilaian yaitu muatan nilai pesan (40%) yang dinilai oleh Mr. Ody representatif dari HighScope, muatan bertutur (35%) yang dinilai oleh Kak Azis Franklin, dan muatan estetika (25%) yang dinilai oleh Mbak Ami, representatif dari Kotex. Setelah penjelasan tentang peraturan lomba Mading, foto live report dan video, murid-murid berukumpul dengan kelompoknya masing-masing dan mulai mengerjakan Mading mereka. Setiap kelompok diberi nomer urutan secara acak untuk waktu peniliaian. Kelompok yang terbentuk sebanyak 12 grup, dengan jumlah peserta yang berbeda-beda antara 5 hingga 10 orang.

IMG_5158APY_4139

Tema acara secara keseluruhan mencondong kepada budaya dan seni Indonesia, memamerkan keragaman kultur Indonesia yang dihubungkan kepada isi dan pesan yang diharapkan dalam produk mading. Sudah banyak anak-anak muda Indonesia yang merasa “asing” terhadap budaya mereka sendiri, tidak menyadari nilai-nilai kearifan lokal (toleransi, budi pekerti, keteladanan, keselarasan, dan keharmonisan). Maka, tema kreasi inovatif akan mengajak para peserta untuk memadukan unsur-unsur tradisional dan modern untuk menciptakan sebuah “pintu masuk” bagi generasi muda untuk mengenali dan mempelajari seni budaya milik bangsanya. Seni bertutur yang dilakukan oleh Kak Azis Franklin diharapkan menjadi inspirasi dan sumber inovasi untuk peserta. Nuansa Indonesia pun menjadi salah satu bahan yang dapat dimasukkan dalam mading untuk memberi dukungan kepada budaya Indonesia dan wanita-wanita muda Indonesia. Dengan tema kreasi inovatif, murid-murid diharapkan untuk dapat menyampaikan pesan-pesan positif tentang kalangan wanita-wanita muda dan bertutur lewat mading secara langsung pada saat penjurian. Ricuh suara peserta pun bercampur aduk dengan musik yang mengiringi acara ketika lomba Mading sudah dimulai. Para siswa/i dengan semangat mengumpulkan bahan-bahan mading yang telah disiapkan di bagian belakang ruangan, mulai dari alat-alat biasa seperti gunting, cat, lem dan pensil dan yang lebih unik seperti beras dan biji-bijian, potongan-potongan kain, serabut kelapa, batu hias, dan lain-lain. Setiap kelompok yang berisi maksimal 10 orang terlihat sibuk mendiskusikan konsep pesan serta desain yang akan disampaikan di mading mereka. Lirikan dan sorotan tajam terhadap kelompok lain juga dilakukan oleh peserta-peserta yang berambisi memenangkan hadiah utama. Jepretan hasil kamera dan handphone juga banyak terdengar disana-sini ruangan. Para peserta terlihat senang membuat mading, yakni sebuah instalasi seni yang berupa hasil dari kreativitas dan imajinasi mereka sendiri. Murid-murid dengan riang dan santai duduk di lantai dan mengobrol dengan teman-teman mereka, terbawa dengan suasana yang ramai dan seperti perkumpulan biasa, namun tidak lupa dengan karya dan cerita yang mereka harus siapkan. Ketika waktu yang diberikan sudah selesai, masih banyak peserta yang memilih untuk menyelesaikan mading mereka terlebih dahulu sebelum menyantap makan siang.

Diluar ruang acara, terdapat sketsel-sketsel hitam dengan aksen emas untuk menggantung karya-karya para peserta. Sketsel tersebut dibawa masuk ruangan dan para peserta menyiapkan mading mereka, hasil dari kerja keras mereka selama 3-4 jam. Biji-bijian dan batu hias tajam yang berserakan dilantai telah diumumkan oleh para MC dan dijadikan himbauan bagi para peserta. Tumpahan cat dan bahan-bahan mading lainnya yang sudah berantakan di laintai telah menjadi bukti akan semangat peserta. Grup 1-6 dipanggil untuk mempresentasikan mading-mading mereka, lengkap dengan seni bertutur dan moral yang bermakan untuk dinilai. Setelah grup 1-6 sudah selesai, grup yang tersisa dipanggil kedepan. Terdengar banyak tawa yang menggelegar pada saat cerita dan isi mading yang lucu, dan juga renungan untuk penonton ketika mading yang serius dan penuh arti telah selesai mempresentasikan karya seni mereka.

APY_3478APY_3948APY_4072APY_4044

Setelah juri sudah selesai memberikan evaluasi setiap karya mading, para MC mengundang dua band PERMISHI untuk mengisi waktu sambil memproses hasil penilaian. Mading-mading dipindahkan ke sebelah kanan tempat agar penonton dapat melihat band-band dengan jelas. Terdengar lagi tepukan tangan yang meriah, menyambut penampilan oleh teman-teman sekelas. Kegelisahan mereka akan pengumuman pemenang agak reda dengan hiburan musik yang meriah. Guru-guru pun menjadi sumber hiburan yang tak terduga, dengan ajakan MC untuk bebas memanggung ternyata mengungkapan talenta guru-guru di bidang musik, dengan banyak guru yang memperlihatkan keterampilan mereka memainkan alat-alat musik. Suasana menjadi lebih seru, mirip dengan festival seni dan budaya.

APY_4020APY_4038APY_4025APY_4016

Setelah pengumuman pemenang lomba mading dan fotog live report, para pemenang dengan langsung diberi hadiah dan apresiasi dari representatif dari penyelenggara acara. Karya-karya mading tetap dipajang di lokasi sebagai atraksi foto-foto dan menjadi sumber kebanggaan bagi para peserta. MC dengan gesit mengundang lagi hiburan musik untuk meningkatkan kemeriahan suasana, dan acara pun ditutup dengan berakhirnya lagi terakhir serta penutup dari para MC, ucapan terima kasih bagi penyelenggara dan peserta acara.

Jaranan tidak hanya sebatas penari ‘dadi’

Artikel Kediri Bertutur

Jaranan dikenal sebagai seni rakyat yang digemari oleh masyarakat di Kediri. Para prajurit mempertunjukkan karakter keberanian lelaki mereka melalui gerak-gerik yang gagah. Kuda Lumping/Jaranan/Kuda Kepang adalah seni tari yang dimainkan dengan menaiki kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Para prajurit biasanya diiringi dengan musik khusus yang sederhana yaitu dengan gong, kenong, kendang dan slompret (alat musik tradisional). Kesenian Jaranan begitu sederhana akan tetapi memiliki daya tarik yang kuat.

Dahulu rakyat menggunakan panggung rakyat sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa. Bentuk kesenian Kuda Kepang merupakan cara rakyat menyindir para penguasa. Kuda merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan elit bangsawan dan prajurit kerajaan yang di saat itu tidak dimiliki rakyat. Tarian Kuda Lumping dipentaskan tanpa mengikuti pakem seni tari yang berkembang di lingkungan kerajaan. Jelas bahwa seni tari Jaranan adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan kerajaan. Dikarenakan seni Kuda Lumping sangat digemari oleh semua kalangan masyarakat maka selain sebagai media perlawanan, Tarian Jaranan digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam, sama halnya melalui kesenian Wayang Kulit.

391025_2630646639717_853517348_n

Asal usulnya Jaran Kepang terkandung dalam cerita rakyat asli Kediri saat pemerintahan Prabu Amiseno dibawah Kerajaan Ngurawan (salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas). Sang Prabu Amiseno memiliki putri yang sangat cantik nan rupawan bernama Dyah Ayu Songgolangit (Dewi Sekartaji). Banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya.

Dewi Songgolangit memiliki adik laki-laki tampan dan terampil dalam olah keprajuritan bernama Raden Tubagus Putut. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Pengembaraannya membawa Raden Tubagus Putut untuk mengabdi kepada Prabu Kelono Sewandono di Kerajaan Bantar Angin (Ponorogo). Berkat keahliannya dalam olah keprajuritan, maka ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom.

Prabu Kelono Sewandono mendengar tentang kecantikan Dyah Ayu Songgolangit dan ingin meminangnya, maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui siapa dirinya oleh ayahandanya maupun kakaknya.

Di kerajaan Ngurawan banyak pelamar yang berdatangan diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Singakumbang (celeng). Dewi Songgolangit terkejut akan kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar, karena meskipun dia memakai topeng untuk menyamar, Dewi Songgolangit mengetahui bahwa itu adiknya sendiri.

Dewi Songgolangit menghadap ayahandanya untuk menyampaikan bahwa Pujonggo Anom adalah putranya dan mendengar penuturan itu, maka murkalah sang ayah. Sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topengnya yang dikenakan wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan kepada Dewi Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono.

Akhirnya Dewi Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; barang siapa yang dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad, serta pengarak manten menuju ke Kediri harus “nglandak sahandape bantala” (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri.

Pujonggo Anom melaporkan permintaan Dewi Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan bahan berupa batang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah, lempengan besi dijadikan tetabuhan yang enak didengar.

Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit. Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin (Ponorogo)  menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Kediri. Maka mulailah kesenian itu diberikan nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang penari yang menggambarkan punggawa kerajaan sedang menunggang kuda dengan tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh kelompok gamelan yang terdiri dari ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung.

401168_2631173372885_423954744_n

Kemudian datanglah Barong Singo Barong bersama Patih Singakumbang dari Lodoyo yang datang tidak melalui jalan biasa melainkan melalui bawah tanah menuju Alun Alun Kediri.  Barong Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singa Barong dan terjadilah perang. Singa Barong dan Singakumbang memiliki kekuatan gaib dimana mereka bisa merubah wujud menjadi binatang, Singa Barong menjadi singa dan Singakumbang menjadi celeng. Dalam keamarahannya, dalam bentuk singa dan celeng, Singa Barong dan Singakumbang beserta para pengikutnya menghancurkan segala sesuatu yang menghalang mereka.

397113_2629875980451_1122822844_n

Kelono Sewandono melawan mereka dengan pecut Samandiman, akan tetapi Pujonggo Anom ingat bahwa Singa Barong dan Singa kumbang senang mendengar suara gamelan, maka dimainkannya lagu gamelan. Singo Barong dan Singa kumbang menjadi tenang hingga mereka menari mengikuti alunan gamelan.

405127_2630438554515_1684064093_n

Singa Barong menjadi tunduk kepada Prabu Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri. Dengan bergabungnya Singa Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga sekarang ini.

Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang disebut “gambuh:” antara lain Dupa (kemenyan yang dicampur minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau, dan kapur yang dilumatkan menjadi satu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh akan membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang Gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari, maka penari itu bisa menari dibawah alam sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusupinya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang makan pecahan kaca semprong.

407533_2630485515689_1889845343_n

Terkadang tindakan kemasukan roh ke dalam raga ini dinilai sebagai sesuatu yang kurang baik atau kurang dipahami. Tanpa adanya pehaman konteks budaya, maka seni tari Jaranan sering disalahpahami. Saat pengaruh agama Hindu dan Buddha masih kental di jaman kerajaan Jawa, kedekatan diri dengan roh leluhur adalah bentuk harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta.

383642_2631175012926_456908227_n

Wujud laku spiritual dalam tataran batiniah, dan laku ritual dalam tataran lahiriah menentukan kualitas manusia. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Contoh yang baik adalah adanya pemberian sesaji yang memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).

378547_2631175972950_1716243457_n

Kebanyakkan seni tari rakyat telah lepas dari makna sejarah dan kandungan norma dan nilai pesan. Yang diapresiasi hanyalah sebatas tampilan saja sehingga condong menilai tanpa pemahaman sejarah maupun kandungan budaya.   Jaranan/Jaran Kepang/Kuda Lumping merupakan seni rakyat yang memiliki nilai sejarah dan mengandung nilai ksatria dalam membela yang adil dan benar.
Narasumber:

http://kudasaktikusumo.com/filosofi-kesenian-jaranan/

http://foreverjaranan.blogspot.com/2011_04_01_archive.html

Buku “Jaranan: The Horse Dance and Trance in East Java by Victoria M. Clara van Groenendael

Wayang Krucil Bangkit Di Tengah Sawah oleh Wd Asmara/Kratonpedia

Artikel Kediri Bertutur

Hamparan sawah menjelang masa panen tampak berwarna kuning keemasan, suasana sepi pedesaan dengan bentangan jalanan aspal yang sudah tidak mulus lagi membelah lahan persawahan. Siang itu panas cukup terik di desa Nglawak kecamatan Kertosono kabupaten Nganjuk. Jarak desa Nglawak dengan ibukota kabupaten Nganjuk 22 Km, sementara dari kota Kediri berjarak 23 Km, tapi jalanannya kecil dan beberapa ruas jalan terdapat banyak lubang. Terlepas dari kondisi cuaca dan jalanan yang kurang memadai, desa ini masih banyak ditumbuhi pohon-pohon trembesi besar (samanea saman/rain tree) yang meneduhkan jalan, seperti jalanan buatan jaman perlawanan dengan Belanda dulu.

Penduduk setempat mengungkapkan, konon dulunya di desa ini banyak orang yang suka ndagel (melucu/melawak), hingga akhirnya desa tersebut dikenal dengan nama desa Nglawak. Itupun hanya dugaan atau versi masyarakat setempat yang disampaikan dengan gaya melucu mereka, seolah membenarkan dugaan bahwa ini memang desanya para pelawak. Mayoritas masyarakat desa ini menggantungkan hidup dari bertani, dan sebagian kecil  dari mereka berdagang.

Setelah menyusuri jalanan yang makin menyempit dengan pemandangan dominan lahan persawahan, tampak sebuah rumah sederhana dengan warung kecil di bagian depannya. Di rumah inilah tinggal seorang dalang wayang krucil yang sudah mulai jarang dipertunjukkan. Namanya Jamiran, biasa dipanggil mbah Ran, kelahiran tahun 1939 atau 73 tahun yang lalu.

Mbah Ran biasa menyebut wayang-nya dengan nama wayang thimplong, masyarakat Nganjuk mengenalnya dengan nama wayang krucil. Konon wayang krucil ini diciptakan oleh Pangeran Pekik asal Surabaya dengan material utama dari kulit binatang dan berukuran kecil, sehingga dipopulerkan dengan nama wayang krucil. Kemudian wayang berukuran kecil ini mengalami perubahan bahan material utamanya menjadi terbuat dari kayu, hingga lahirlah nama baru yaitu wayang klithik seperti yang terdapat di daerah Kudus Jawa Tengah.

Namun dalang yang masih tampak segar bugar diusianya yang ke-73 ini meyakini bahwa wayang krucil adalah wayang yang diciptakan pertama kali sebelum wayang kulit dan wayang purwa. Berdasarkan pengetahuan yang turun temurun didapatkan dari orang tua dan kakeknya, mbah Ran meyakini bahwa wayang krucil ini sarat dengan kisah-kisah tua yang berasal dari serat Panji seperti yang terdapat pada cerita wayang gedog. Wayang gedog sendiri konon telah dipertontonkan pada masa kerajaan Majapahit, konon juga diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1485. Tapi wayang gedog menggunakan bahan utama kulit, dan dominasi bunyi pukulan kayu menjadikan wayang ini dinamakan wayang gedog, karena tidak menggunakan suara kecrekan dari besi. Sementara menurut sejarah, cerita Panji sudah ada sejak abad ke-11 pada masa pemerintahan Jayabaya di Kediri.

Terlepas dari masa yang sangat jauh ada dibelakang, yang jelas pancaran semangat untuk terus menghidupkan wayang krucil  dimasa kini sangat terlihat dari wajah mbah Ran. Meskipun kesenian wayang krucil ini juga dianggap sebagai kesenian khas atau budaya tua masyarakat Bojonegoro maupun di Kediri Jawa Timur, semoga kepemilikan budaya khas wayang langka ini tidak menyurutkan semangat siapa saja yang ingin melestarikannya.

Sesaat kobaran semangat menceritakan sejarah wayang ala mbah Ran-pun mereda, segelas kopi panas berwarna hitam pekat sesekali diseruput ki dalang sambil menikmati sebatang rokok filter. Tiba-tiba mbah Ran ingat kenangan masa lalu saat belajar bermain ludruk pada tahun 1951 bersama rekannya. Masa itu mbah Ran berperan sebagai tokoh pembantu atau cantrik yang harus melawak dalam pertunjukan, nama tokohnya Abu dan Gople. Mbah Ran memerankan tokoh Gople, yang akhirnya nama tersebut melekat hingga kini di kalangan teman-teman seusianya.

Profesi sebagai dalang baru digeluti pada tahun 1962, dan pada awalnya tanggapan wayang krucil bisa datang dari mana saja termasuk daerah diluar Nganjuk. Pernah suatu kali harus tampil dalam pertunjukan wayang krucil pada hari Sabtu di luar daerah, mbah Ran harus berjalan kaki di Jumat malamnya supaya Sabtu bisa sampai tepat waktu. Kenangan-kenangan perjuangannya di masa lalulah yang membuat mbah Ran terus menekuni seni pedalangan wayang krucil hingga kini. Sampai keahlian membuat karya wayang krucilpun dilakoni dengan belajar sendiri dari saat muda dulu.

Wayang krucil dibuat dari kayu sengon, tahap pertama digambar pola tokoh wayangnya dulu, setelah itu baru dibentuk perlahan dengan pisau kecil hingga memakan waktu empat hari pengerjaan untuk satu karakter wayang krucil. Sejak kecil ketrampilan membuat wayang ini sudah dimiliki oleh mbah Ran. Desa dimana dia dilahirkanpun menyediakan banyak sekali bahan damen atau batang padi untuk bermain diwaktu kecil. Dari suka cita bermain damen dan mengubahnya menjadi wayang mainan atau wayang damen, membuat sosok Jamiran kecil membawa kisah kenangan tokoh wayangnya hingga di masa tua sebagai dalang wayang krucil.

Dalam seni pertunjukan wayang krucil, cerita tidak diambil dari kisah Ramayana ataupun Mahabarata, melainkan kisah sejarah yang ada di negeri ini ataupun cerita Panji. Awalnya juga sering membawakan cerita perjalanan para Sunan/Wali Songo. Kalau di beberapa daerah menyebutkan jumlah tokoh dalam wayang krucil itu ada 73 karakter, mbah Ran memiliki wayang krucil sebanyak 90 karakter untuk beberapa cerita. Dari dulu hingga sekarang, yang masih bertahan adalah ciri utama soal waktu dilaksanakannya pertunjukan wayang krucil ini, yakni digelar saat ada upacara tradisi nyadran dan ruwatan. Sampai sekarangpun nuansa religius saat digelar pementasan wayang krucil bagi beberapa masyarakat desa, seperti di desa Nglawak ini masih sangat terasa. Hal ini dikarenakan pertunjukan wayang krucil tersebut pada jaman dulu biasanya dilaksanakan terkait dengan upacara permohonan doa keselamatan atau memohon berkah, salah satunya pada saat terjadi pageblug (wabah penyakit). Sementara tradisi ruwatan dilakukan apabila seseorang mempunyai anak tunggal (ontang-anting), atau punya empat anak laki-laki semua (gotong mayit), dan masih banyak lagi peristiwa yang terkait dengan diadakannya upacara ruwatan yang pada masa sekarang sudah jarang dilakukan.

Selain waktu pelaksanaannya, wayang krucil juga memiliki keunikan dalam persiapan pagelarannya. Upokoro atau hal yang harus disiapkan sebelum pertunjukan adalah, kelapa, beras, kopi, kemiri, pisang, cabe, bawang merah dan putih, jambe, sirih, uang, telur ayam dan minyak srimpi. Atau adanya pantangan seperti di desa Sonoageng tetangga desa Nglawak, yaitu tidak boleh ada yang memakai kain jarik kawung putih dan kain batik motif parang rusak. Semua ke-khasan tersebut merupakan keunikan tradisi yang masih kuat melekat dalam kehidupan masyarakat desa Nglawak yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Seiring berjalannya masa, kini mbah Ran mulai jarang tampil sebagai dalang wayang krucil, kecuali disaat perayaan tradisi nyadran. Selain buka warung kecil, mengolah sawah masih sanggup dia lakoni, juga sesekali mancing ikan bersama putra bungsunya di sungai dekat rumah. Tapi proses membuat wayang krucil masih terus dijalaninya, bahkan putra bungsu ki dalang yang bernama Purwanto, di usianya yang ke-29 tahun sekarang ini sudah mulai terlihat mewarisi keahlian membuat wayang krucil dan merintis menjadi dalang seperti bapaknya. Bagi mbah Ran, tidak ada kata terlambat untuk memulai apapun, termasuk meneruskan semangatnya berkisah melalui wayang krucil, meskipun harus dilakukan di antara lahan persawahan sekalipun. Salam Kratonpedia.

Narasumber:

http://www.kratonpedia.com/article-detail/2012/5/15/273/Wayang.Krucil.Bangkit.Di.Tengah.Sawah.html

Picture21 Picture34 Picture35 Picture36 Picture37 Picture38 Picture39 Picture40 Picture41 Picture42 Picture43

Bermain Dan Belajar Bertutur Dari Kediri oleh Wd Asmara/Kratonpedia

Artikel Kediri Bertutur

Suasana desa Bujel kecamatan Mojoroto kota Kediri saat itu masih sepi, pagi baru saja beranjak menuju siang dengan panas matahari yang cukup menyengat. Kediaman mas Pri seorang dalang wayang kulit di desa tersebut belum diwarnai kesibukan layaknya akan ada sebuah acara pementasan. Bujel adalah nama sebuah desa yang terletak di bagian barat kota Kediri, bagi masyarakat Kediri wilayah ini disebut dengan istilah daerah kulon kali, yang artinya bagian sebelah barat sungai Brantas yang menyatukan wilayah kota Kediri.

Pada tahun 1832 di kawasan Mojoroto ini pernah tinggal seorang dalang wayang klithik atau wayang krucil yang kondang bernama Ki Dermakanda. Saat itu negeri ini masih dalam kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dan keberadaan Ki Dermakanda ini menjadi menarik karena pada saat itu seorang pembesar pemerintahan Belanda yang berkuasa berusaha mencari tahu mengenai sejarah atau asal mula daerah Kediri. Dan melalui seorang Beskal atau Jaksa Ageng pertama di Kediri saat itu yang bernama Mas Ngabehi Poerbawidjaja, yang juga seorang canggah atau cicit dari Pangeran Katawengan yang berkuasa di kota Kediri kala itu, dipanggilah dalang asal Mojoroto tersebut untuk bercerita.

Dari sedikit penggalan kisah yang terdapat di Serat Babad Kadhiri tersebut, memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana sebuah budaya bertutur sangat kuat dan sangat berarti dimasa itu sebagai media untuk menyampaikan sebuah pesan. Dan yang dipercaya menjadi mediator untuk menyampaikan kisah dengan cara bertutur tersebut adalah seorang dalang. Karena pada masa itu masyarakat yang sebagian besar adalah kaum tani atau juga dikenal dengan golongan kawula di masa itu, mengenali jejak sejarah mereka melalui dongeng-dongeng dan legenda-legenda rakyat yang diwarisi secara turun temurun, dan bukan secara langsung melalui karya sastra atau prasasti dan pusaka-pusaka seperti golongan masyarakat yang tinggal di dalam Kraton atau Kerajaan yang lebih perpendidikan di masa itu.

Kembali ke kediaman mas Pri di desa Bujel, pukul 12:00 anak-anak mulai berdatangan ke rumah mas Pri yang hari itu menjadi tempat berkumpul dan tempat berganti kostum untuk acara Kediri Bertutur. Yang terlihat secara langsung dalam acara ini adalah, keterlibatan penuh masyarakat dalam proses terus menerus mengenal budaya aslinya, dengan melibatkan secara aktif di segala persiapan dan pelaksanaannya, dan bukan semata-mata sebuah bentuk hiburan rakyat  yang umum dilakukan secara komersial. Bagi anak-anak yang terlibat, acara ini tak ubahnya seperti mereka sedang bermain di pekarangan rumah saat bulan purnama tiba. Kemeriahan justru datang dari kesederhanaan dan spontanitas yang terjadi selama persiapan hingga digelarnya acara.

Pementasan dengan gaya dolanan kampung yang digelar di halaman rumah warga ini, rencananya akan digelar mulai pukul 15:00 hari Sabtu di akhir bulan Februari lalu. Para pengisi acara yang masih berusia antara delapan tahun hingga tiga belas tahun ini berasal dari Sekolah Dasar Negeri 3 Bujel Mojoroto, yang letaknya tidak  jauh dari lokasi pementasan dan kediaman mas Pri di desa Bujel. Selain para orang tua di sekitar lokasi acara, murid-murid SD yang juga tinggal di satu desa tersebut berdatangan untuk menonton keramaian tari jaranan yang dibawakan oleh teman-teman mereka.

Tapi saat hari kian sore, lewat pukul 15:00 mendung makin gelap menyelimuti langit diatas desa Bujel. Setelah segala pesiapan sudah dilakukan, hujan deraspun turun membanjiri jalanan desa bagian barat sungai sungai Brantas tersebut. Rejekipun tak bisa ditoak, limpahan air hujan yang sangat deras hanya merubah waktu pementasan yang harusnya digelar di sore hari menjadi bergeser ke malam hari. Meskipun saat itu acara sudah dibuka dengan pertunjukan kethek ogleng atau topeng monyet yang dikerumuni oleh anak-anak desa Bujel. Hikmahnya, hari itu yang tadinya cuaca sangat panas menyengat kulit, menjadi sejuk dan dingin meski sempat banjir di sepanjang jalan desa di sekitar lokasi acara.

Saatnya menunggu malam tiba, dari perbincangan dengan anak-anak desa Bujel ini, bisa terlihat ekspresi keceriaan yang mereka rasakan. Karena bagi anak-anak desa Bujel, baik yang mengisi acara maupun penontonnya, hujan dan mundurnya waktu acara tidaklah merusak kegembiraan mereka, bermain dan bertemu teman seusia mereka dalam kondisi apapun bahkan hingga malam menjelang acara dimulai, merupakan kegembiraan yang mereka selalu rasakan seperti halnya sedang  bermain di malam Mingguan.

Terlepas dari atribut yang mereka kenakan sebagai kostum, seperti dedaunan dan topeng atau penthul yang terbuat dari bahan alam, lakon yang mereka bawakan dari cerita Panji dan Dewi Sekartajipun tidak sepenuhnya mereka pahami secara utuh, namun semangat anak-anak ini sangat menjiwai dalam membawakan setiap perannya dalam pementasan tersebut. Mulai dari ukelan atau gerakan pakem tarian dalam membawakan jaranan, hingga saat kesurupan yang biasa terjadi dalam setiap pertunjukan.

Antusias warga masyarakat yang menonton bisa bertahan hingga malam sampai detik terakhir pertunjukan jaranan usai. Suasana berubah agak lengang saat acara penutup berupa pertunjukan wayang biting atau wayang yang dibuat dari batang lidi dibawakan oleh dalang mas Pri dimulai. Hal ini mudah dimaklumi, karena memang kesenian wayang biting yang menggambarkan dunia permainan anak tempo dulu ini secara ukuran dan bentuk pertunjukannya berbeda dibanding penampilan jaranan  sebelumnya. Dan sebagian besar  warga yang menonton juga tidak memahami cerita karena bahasa penyampaiannya bukan bahasa sehari-hari, dan kurang atraktif sebagai bentuk hiburan karena ukurannya kecil dan bentuknya sederhana. Meskipun ceritanya menarik dan disampaikan layaknya sang dalang seperti sedang mendongeng, wayang biting memang kurang diminati. Tapi munculnya wayang biting ini paling tidak bisa memberikan inspirasi untuk anak-anak, bahwa alam di sekitar lingkungan mereka tinggal juga bisa melatih mereka untuk kreatif saat bermain seperti pada jaman kakek nenek mereka dahulu.

Mengenal Panji dan petualangannya, menurut beberapa karya sastra dan cerita babad, karakter Panji atau Panji Inu Kertapati digambarkan sebagai seorang kesatria, laki-laki yang berwajah tampan, bersikap pendiam dan halus budi, gemar menuntut ilmu dan gemar membaca, seniman piawai dan mumpuni berbagai cabang seni, bertabiat jujur dan lurus hati, taat kepada orang tua terutama kepada ibu, menyayangi binatang terutama binatang piaraan, ramah dan sopan terhadap sesamanya, setia dan menghormati istrinya, simpatik dan menarik, pandai menulis di kertas lontar, pahlawan perang hingga dijuluki Kusuma Yudha, piawai menari dan bermain gamelan, piawai mendalang wayang.

Petualangan Panji, begitulah istilah yang mungkin cocok untuk menceritakan kisah-kisah perjalanan hidup seorang Panji pada jaman sekarang  ini. Cerita Panji Inu Kertapati atau yang juga dikenal dengan nama Panji Asmara Bangun setelah kisah petualangannya berakhir  dengan menikahi Candrakirana atau Dewi Sekartaji seorang putri dari kerajaan Daha (Kadhiri). Panji Inu Kertapati adalah seorang kesatria kraton Jenggala, nama saat masih berada didalam kraton adalah Raden Kudarawisrengga, merupakan putra tertua  dari Prabu Lembu Amiluhur  Raja Jenggala kala itu.  Awalnya  Panji Inu Kertapati dijodohkan dengan  sepupunya yang bernama Dewi Sekartaji,  yaitu puteri dari Prabu Lembu Amerdadu, Raja Daha yang merupakan adik kandung dari Raja Jenggala. Namun takdir berkata lain, dalam rencana perjodohan tersebut banyak diselingi perbagai rintangan dan kejadian yang membuat pernikahan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji urung dilaksanakan.

Perjodohan yang diterima sebagai bakti seorang anak kepada orang tua ini berubah menjadi sebuah kisah drama yang penuh dengan petualangan. Itu semua terjadi ketika ternyata Panji Inu Kertapati jatuh cinta dengan perempuan pujaan hatinya yakni Retno Angreni putri seorang Patih Kraton Jenggala. Bermula dari kisah percintaan inilah, drama dan berbagai konflik masuk dalam kehidupan Panji Inu Kertapati. Setelah Raja Jenggala menyadari bahwa ada hambatan yang menghalangi niatnya untuk menjodohkan Panji dengan Sekartaji, muncullah berbagai skenario untuk bisa mewujudkan rencana perjodohan tersebut. Semua itu akhirnya harus ditebus dengan kematian Retno Angreni. Kematian Angreni  melahirkan dua versi penyebab, yaitu Angreni bunuh diri karena tahu dirinya akan dibunuh oleh orang suruhan Raja,  dan mati dibunuh oleh Raden Nila Prabangsa yaitu anak  tertua dari selir Raja Jenggala.

Sejak kematian Retno Angreni itulah kehidupan Panji Inu Kertapati mulai diwarnai dengan pengembaraan dan peperangan. Dan berita batalnya pernikahan Panji Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji tersebut tersebar hingga ke negeri negeri asing yang membuat para Rajanya tertarik untuk melamar putri kraton Kediri tersebut. Termasuk Prabu Klana Sewandana, seorang Raja dari tanah Hindu yang berencana berangkat ke Kediri dengan membawa pasukan prajurit seratus kapal banyaknya untuk melamar Dewi Sekartaji. Kisah tersebut berakhir dengan peperangan besar antara pasukan Prabu Klana Sewandana dengan prajurit Kediri. Dan Prabu Klana Sewandana-pun akhirnya dikalahkan oleh Panji Inu Kertapati. Dan kisah kesetiaan penantian Dewi Sekartaji berakhir dengan bahagia karena Panji Inu Kertapati telah kembali dan menikahinya di Kediri.

Empat puluh lima menit perjalanan menuju desa Sonoageng Nganjuk, setelah melewati jalanan kecil dari kota Kediri menuju Prambon Kabupaten Nganjuk, dan sempat istirahat beberapa saat di rumah pak Toho  seorang pengrajin wayang kertas di desa Jabon Banyakan,  lalu kami ngobrol tentang cerita Panji diatas, rasanya cuaca panas siang itu mulai terobati oleh segarnya segelas es teh manis dan kisah petualangan Panji yang kami bahas siang itu.

Setelah melanjutkan perjalanan, akhirnya sampailah disebuah mulut gang kecil dengan gapura tembok yang terdapat dua patung sapi berwarna putih di salah satu sisi gapura. Rupanya inilah gerbang masuk ke desa Sonoageng yang dulunya terkenal dengan peternakan sapi tradisionalnya yang pernah menjadi juara Nasional atas keunggulan kualitas ternaknya. Tak jauh dari jalan masuk desa tersebut, di sebelah kiri jalan terlihat sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dengan rindangnya pepohonan, ada pohon mangga dan pohon nangka yang seolah memayungi halaman rumah tersebut dari sengatan sinar matahari yang panas siang itu.

Tidak berbeda dengan suasana di desa Bujel Mojoroto Kediri, tampak kerumunan anak-anak sedang berlarian dan saling dorong entah sedang bermain apa. Siang itu mereka sedang bersiap untuk pementasan tari jaranan seperti halnya yang dilakukan anak-anak di desa Bujel Mojoroto. Terlihat anak-anak yang akan terlibat dalam pementasan sore itu masih berusia rata-rata dibawah usia tujuh tahun. Disela mereka berlarian dan bercanda dengan temannya, ada juga yang sedang memungut ranting pohon yang sudah kering untuk bermain layaknya sedang menunggang kuda dan berjoget di bawah rindangnya pohon mangga.

Tak lama setelah itu, datanglah seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang tampak masih gagah dan terlihat muda. Warga desa Sonoageng memanggilnya mas Anto. Anak-anak mulai mengerumuni mas Anto yang siang itu akan merias mereka dengan dandanan dedaunan. Mas Anto adalah seniman jaranan senior di desa ini, lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat petani yang masih sangat kuat dengan tradisi, namun juga terbiasa dengan kedisiplinan serta kemandirian yang diajarkan oleh ayahnya yang pensiunan marinir.

Tak berapa lama semua anak sudah siap dengan kostum mereka. Dalam pementasan Kediri Bertutur  ini yang menjadi ciri khas dan kekuatannya adalah, semua pementasan disajikan oleh anak-anak dengan pakaian seadanya atau pakaian sehari-hari dengan penambahan atribut dari dedaunan, hal ini membuat suasana bermain lebih menonjol dibandingkan sebuah pementasan. Dari sini proses belajar dan mengenal budaya asli yang mereka warisi turun temurun terjadi lebih alami dan tidak dalam bentuk pemaksaan, sehingga rasa senang dan rasa suka bisa muncul dalam diri anak-anak, baik yang terlibat langsung maupun yang menonton. Anak-anak menikmati cara bertutur yang sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka dulu dengan cara mereka, yaitu dunia bermain. Tidak terlihat sebuah kegiatan atau bentuk pembelajaran atau menggurui yang tertangkap secara langsung di acara tersebut, yang ada adalah suasana bersenang-senang dan bermain.

Bermain adalah cara belajar yang menyenangkan, mulai dari lenggak lenggok jaranan anak-anak hingga gemulainya Dewi Sekartaji dan mbok embannya, kemeriahan gamelan sederhana yang mengiringi lagu-lagu dolanan anak, semuanya tersaji dengan ‘kemegahan’ yang sederhana, tapi susah menahan diri untuk tidak ikut bergoyang karenanya bila kita ada disana. Kediri Bertutur memberikan banyak inspirasi tentang cara belajar dari masa lalu, bukan dengan cara ‘semena-mena’ atau asal melestarikannya, tapi lebih memahami sebuah warisan cara bertutur yang mengajarkan kebaikan  dengan menanamnya dalam diri kita, apalagi sejak usia anak-anak. Kediri Bertutur meninggalkan kenangan akan keindahan dan  kepahlawanan kisah-kisah tempo dulu yang tidak akan usang meski hadir di jaman serba canggih sekalipun, dan saat terlihat anak-anak tetap bermain dengan kegembiraan dengan warisan tradisi mereka, sungguh mereka tidak merasa bahwa mereka sedang belajar tentang kebaikan di dalamnya. Salam Kratonpedia.

narasumber:

http://www.kratonpedia.com/article-detail/2012/3/6/248/Bermain.Dan.Belajar.Bertutur.Dari.Kediri.%281%29.html

http://www.kratonpedia.com/article-detail/2012/3/11/251/Bermain.Dan.Belajar.Bertutur.Dari.Kediri.%282%29.html

Picture1.jpg Picture2 Picture3 Picture4 Picture5 Picture6 Picture7 Picture8 Picture9 Picture10 Picture11 Picture12 Picture13 Picture14 Picture15 Picture16 Picture17 Picture18 Picture19 Picture20 Picture22 Picture23 Picture24 Picture25 Picture26 Picture27 Picture28 Picture29 Picture30 Picture31 Picture32 Picture33

Kediri Bertutur: Bermula dari Kepang Godong

Artikel Kediri Bertutur

Spanduk, umbul – umbul, papan reklame, yang terpasang berjubel di sepanjang jalan kota kediri, adalah kebun kota, yang tiap hari menjadi objek pemandangan bocah2 kota di kediri.  Matahari, Ramayana, Sri Ratu, adalah taman yang indah bagi para orang tua untuk mengajak anak2 mereka bermain dan berekreasi disetiap waktu.  Beragam produk mainan industri, seperti robot2an, mobil2an yang terpajang di etalase mal adalah mainan anak2  di masa kini. Bom – bom car, mandi bola, game fantasi adalah taman surga bagi dunia bocah.

Tak pernah kita melihat lagi, bocah-bocah bermain dengan mainan yang terbuat dari bahan – bahan hasil alam. Mainan Perang – perangan dari pelepah pisang, Tangkai kembang tebu (gelagah), kulit jeruk bali yang bisa dipakai mobil – mobilan, orang – orangan yang terbuat dari tumbuhan suket, sampai terompet – terompetan dari tangkai daun pepaya.

Kepang Godong adalah pentas kreasi baru koreografi anak,yang memakai bahan – bahan dari alam sebagai medianya. Kepang/jaranan, ganongan, barongan yang merupakan atribut media utama yang dipakai dalam pertunjukan pentas jaranan semuanya terbuat dari bahan2 daun serta plepah pisang. Pementasan Kepang Godong, adalah pementasan yang menghadirkan dan menumbuhkan kembali  spirit, kreativitas, bagaimana cara anak2 tempo dulu bermain dan membuat kreasi – kreasi mainannya sendiri. Lewat media2 yang terbuat dari daun, pementasan ini hadir untuk menumbuh kembangkan  kesadaran anak2 akan alam.

“Kepang Godong” anak2 desa Kawi, Mojoroto, Kediri, pementasan di Kampung komunitas seni kuda kepang,” desa Ngurah, Kediri.

IMG_9451 IMG_9453 IMG_9596 IMG_9605 IMG_9611 IMG_9691 IMG_9694 IMG_9704 IMG_9731 IMG_9768 IMG_9769 IMG_9419 IMG_9775 IMG_9813 IMG_9826 IMG_9835 IMG_9448 IMG_9855 IMG_9863 IMG_9878 IMG_9891 IMG_9982 IMG_0003 IMG_0013 IMG_0014 IMG_0098 IMG_9930 IMG_9946 IMG_0032 IMG_0038 IMG_0049 IMG_0085 IMG_9999 IMG_0025 IMG_0171 IMG_0103 IMG_0124 IMG_0154 IMG_0026 IMG_0206 IMG_0186 IMG_0194 IMG_0199