Caping Panji

Artikel Kediri Bertutur

IMG_1035d

Caping Panji menceritakan tentang budaya panji yang diambil dari sisi kehidupan masyarakat Jawa dalam kebudayaan agraris. Caping panji merupakan gambaran masyarakat Jawa yang mengutamakan keselarasan dalam tatanan kehidupannya. Hidup makmur, damai, tentram dan sejahtera hanya dapat diwujudkan bila semuanya dapat selaras.

Penari:
– Slamet Jiromifa
– Indah Purnaningtyas
– Sanggar Carang Gedang
– Ilustrasi Musik: Mbah war

IMG_0488aIMG_0441aIMG_0601a

Caping Panji telah ditampilkan di “Gua selomangleng,” kota Kediri-Jawa timur [pada tanggal 20 Desember 2015], terletak di kaki Gunung Klotok. “Gunung Klotok” merupakan bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di sebelah timur. Gua Selomangleng merupakan situs bersejarah tempat pertapaan “Sanggrama Wijayatunggadewi, ” yang lebih dikenal dengan nama “Dewi Kilisuci,” seorang puteri mahkota dari Kerajaan Kahuripan. Dewi Kilisuci atau Sanggrama Wijaya adalah puteri Raja Airlangga yang lebih memilih jalan pertapaan demi mencapai pencerahaan dari pada menjadi pewaris tahta kerajaan. Kisah perjalan dewi kilisuci memiliki kemiripan dengan perjalanan Sidharta Gautama yang pergi meninggalkan kemewahaan istana demi perjalanan suci. “Gua Selomangleng,” merupakan Widya Kadewatan atau Widya Mandala, yang berarti tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dewi kilisuci adalah insipirator pluralisme dan pemersatu.

Adanya arca budha dan relief garuda mukha di dalam Gua Selomangleng menjadi bukti bahwa sinkretisme antara Hindu dan Budha sudah terjadi di era Dewi Kilisuci. Merujuk pada simbol Budha dan Hindu yang terdapat di dalam gua, berarti dulunya penganut Hindu dan penganut Budha pernah tinggal bersama-sama, hidup rukun dan damai di satu tempat yang sama yaitu; kawasan Gua Selomangleng.

Dewi Kilisuci adalah sosok sentral bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji. Bersatunya Panji dan Dewi Sekartaji, berarti bersatunya kerajaan Jenggala dan Daha (Kediri). Kisah Dewi Kilisuci sebagai pemersatu Panji dan Dewi Sekartaji terdapat dalam cerita atau lakon “Panji Semirang.” Kisah Dewi Kilisuci banyak dikaitkan dengan mitos, legenda, foklor, sampai seni tradisi; mitos Lembu Sura dan Mahesa Sura yang ada di Gunung Kelud, kesenian kuda kepang dan reog kendang, cerita Panji Semirang dll.

IMG_0993IMG_1342aIMG_1536IMG_1627IMG_1520aIMG_1637aIMG_1572aIMG_1435IMG_1418IMG_1677

Jaranan tidak hanya sebatas penari ‘dadi’

Artikel Kediri Bertutur

Jaranan dikenal sebagai seni rakyat yang digemari oleh masyarakat di Kediri. Para prajurit mempertunjukkan karakter keberanian lelaki mereka melalui gerak-gerik yang gagah. Kuda Lumping/Jaranan/Kuda Kepang adalah seni tari yang dimainkan dengan menaiki kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Para prajurit biasanya diiringi dengan musik khusus yang sederhana yaitu dengan gong, kenong, kendang dan slompret (alat musik tradisional). Kesenian Jaranan begitu sederhana akan tetapi memiliki daya tarik yang kuat.

Dahulu rakyat menggunakan panggung rakyat sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa. Bentuk kesenian Kuda Kepang merupakan cara rakyat menyindir para penguasa. Kuda merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan elit bangsawan dan prajurit kerajaan yang di saat itu tidak dimiliki rakyat. Tarian Kuda Lumping dipentaskan tanpa mengikuti pakem seni tari yang berkembang di lingkungan kerajaan. Jelas bahwa seni tari Jaranan adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan kerajaan. Dikarenakan seni Kuda Lumping sangat digemari oleh semua kalangan masyarakat maka selain sebagai media perlawanan, Tarian Jaranan digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam, sama halnya melalui kesenian Wayang Kulit.

391025_2630646639717_853517348_n

Asal usulnya Jaran Kepang terkandung dalam cerita rakyat asli Kediri saat pemerintahan Prabu Amiseno dibawah Kerajaan Ngurawan (salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas). Sang Prabu Amiseno memiliki putri yang sangat cantik nan rupawan bernama Dyah Ayu Songgolangit (Dewi Sekartaji). Banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya.

Dewi Songgolangit memiliki adik laki-laki tampan dan terampil dalam olah keprajuritan bernama Raden Tubagus Putut. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Pengembaraannya membawa Raden Tubagus Putut untuk mengabdi kepada Prabu Kelono Sewandono di Kerajaan Bantar Angin (Ponorogo). Berkat keahliannya dalam olah keprajuritan, maka ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom.

Prabu Kelono Sewandono mendengar tentang kecantikan Dyah Ayu Songgolangit dan ingin meminangnya, maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui siapa dirinya oleh ayahandanya maupun kakaknya.

Di kerajaan Ngurawan banyak pelamar yang berdatangan diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Singakumbang (celeng). Dewi Songgolangit terkejut akan kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar, karena meskipun dia memakai topeng untuk menyamar, Dewi Songgolangit mengetahui bahwa itu adiknya sendiri.

Dewi Songgolangit menghadap ayahandanya untuk menyampaikan bahwa Pujonggo Anom adalah putranya dan mendengar penuturan itu, maka murkalah sang ayah. Sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topengnya yang dikenakan wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan kepada Dewi Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono.

Akhirnya Dewi Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; barang siapa yang dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad, serta pengarak manten menuju ke Kediri harus “nglandak sahandape bantala” (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri.

Pujonggo Anom melaporkan permintaan Dewi Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan bahan berupa batang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah, lempengan besi dijadikan tetabuhan yang enak didengar.

Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit. Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin (Ponorogo)  menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Kediri. Maka mulailah kesenian itu diberikan nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang penari yang menggambarkan punggawa kerajaan sedang menunggang kuda dengan tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh kelompok gamelan yang terdiri dari ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung.

401168_2631173372885_423954744_n

Kemudian datanglah Barong Singo Barong bersama Patih Singakumbang dari Lodoyo yang datang tidak melalui jalan biasa melainkan melalui bawah tanah menuju Alun Alun Kediri.  Barong Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singa Barong dan terjadilah perang. Singa Barong dan Singakumbang memiliki kekuatan gaib dimana mereka bisa merubah wujud menjadi binatang, Singa Barong menjadi singa dan Singakumbang menjadi celeng. Dalam keamarahannya, dalam bentuk singa dan celeng, Singa Barong dan Singakumbang beserta para pengikutnya menghancurkan segala sesuatu yang menghalang mereka.

397113_2629875980451_1122822844_n

Kelono Sewandono melawan mereka dengan pecut Samandiman, akan tetapi Pujonggo Anom ingat bahwa Singa Barong dan Singa kumbang senang mendengar suara gamelan, maka dimainkannya lagu gamelan. Singo Barong dan Singa kumbang menjadi tenang hingga mereka menari mengikuti alunan gamelan.

405127_2630438554515_1684064093_n

Singa Barong menjadi tunduk kepada Prabu Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri. Dengan bergabungnya Singa Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga sekarang ini.

Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang disebut “gambuh:” antara lain Dupa (kemenyan yang dicampur minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau, dan kapur yang dilumatkan menjadi satu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh akan membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang Gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari, maka penari itu bisa menari dibawah alam sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusupinya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang makan pecahan kaca semprong.

407533_2630485515689_1889845343_n

Terkadang tindakan kemasukan roh ke dalam raga ini dinilai sebagai sesuatu yang kurang baik atau kurang dipahami. Tanpa adanya pehaman konteks budaya, maka seni tari Jaranan sering disalahpahami. Saat pengaruh agama Hindu dan Buddha masih kental di jaman kerajaan Jawa, kedekatan diri dengan roh leluhur adalah bentuk harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta.

383642_2631175012926_456908227_n

Wujud laku spiritual dalam tataran batiniah, dan laku ritual dalam tataran lahiriah menentukan kualitas manusia. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Contoh yang baik adalah adanya pemberian sesaji yang memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).

378547_2631175972950_1716243457_n

Kebanyakkan seni tari rakyat telah lepas dari makna sejarah dan kandungan norma dan nilai pesan. Yang diapresiasi hanyalah sebatas tampilan saja sehingga condong menilai tanpa pemahaman sejarah maupun kandungan budaya.   Jaranan/Jaran Kepang/Kuda Lumping merupakan seni rakyat yang memiliki nilai sejarah dan mengandung nilai ksatria dalam membela yang adil dan benar.
Narasumber:

http://kudasaktikusumo.com/filosofi-kesenian-jaranan/

http://foreverjaranan.blogspot.com/2011_04_01_archive.html

Buku “Jaranan: The Horse Dance and Trance in East Java by Victoria M. Clara van Groenendael

KE DI RI

Artikel Kediri Bertutur

“What’s in a name?” itu adalah pertanyaan yang sederhana akan tetapi sangat terbuka penuh makna. Kata KEDIRI bisa berbentuk KE DIRI dimana pemahaman menjadi “kembali ke diri sendiri.” Suatu perjalanan mengolah kembali mata hati. Mata hati adalah mata yang terdapat di dalam hati. Mata hati yang sehat adalah dimana seseorang bisa melihat keagungan Gusti Allah dan Alam Semesta. Mengolah mata hati adalah upaya secara batin untuk bisa mendekatkan hati dengan esensi sang Mahapencipta.

Kata KEDIRI bisa juga ditulis seperti ini: KEDI RI. Ada yang berpendapat bahwa nama KEDIRI berasal dari kata “KEDI” yang memiliki arti “MANDUL” atau “wanita yang tidak berdatang bulan.” Menurut kamus Jawa Kuno Wasito, “KEDI” bermakna “orang kebiri bidan atau dukun.” Ada juga yang menyatakan bahwa Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangkleng itu “KEDI” yang miliki makna “SUCI.” Dengan penuh kesadaran Dewi Kilisuci memilih untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Kesunyian Gua Selomangkleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan) lebih menarik perhatian sang Putri daripada memilih hiruk pikuk keduniawian sehingga menolak tawaran untuk menggantikan Prabu Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.

391918_2641238504507_1180603008_n

383247_2648072115343_253139216_n401465_2641231264326_796790303_n

Dalam bahasa Jawa Jumenengan, kata KEDIRI berasal dari kata “DIRI” yang berarti ADEG, ANGDHIRI, menghadiri atau, menjadi RAJA. Ada beberapa prasasti yang menyebutkan kata Kediri atau Kadiri. Dalam Prasasti Ceker tahun 1109 saka / 1185 M berlokasi di Desa Ceker (sekarang adalah Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo), menyebutkan bahwa penduduk Ceker berjasa kepada Raja, sehingga mereka semua memperoleh hadiah, “Tanah Perdikan” (tanah bebas pajak).  Disitu tertulis bahwa, “Sri Maharaja masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri” yang memiliki arti “raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri.”   Prasasti Ceker merupakan anugerah raja kepada penduduk desa Ceker yang telah mengabdikan dirinya guna kemajuan kerajaan dibawah Sri Kameswara.

Prasasti Kamulan di Desa Kamulan, Kabupaten Trenggalek pada tahun 1116 saka menyebutkan nama Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur, “Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo,” sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang (“tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri”). Menurut salah satu tim peneliti dari Universitas Negeri Malang, Muzakir Cahyono, “Kami menduga daerah Kamulan dulunya adalah tanah pardikan, semacam desa yang diberi anugerah (hak otonomi) oleh Raja Kertanegara atau Srengga pada masa Kerajaan Kadiri akhir.” “Prasasti Kamulan identik dengan prasasti-prasasti Srengga (Srengga Lancana) lain yang tersebar di wilayah wilayah selatan Sungai Brantas seperti Blitar, Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. Prasasti itu penanda anugerah raja Srengga untuk desa-desa yang diberi status sebagai tanah pardikan dan diberi hak mengelola pajak sendiri,” terangnya.

Menurut penelitian para ahli lembaga Javanologi seperti Bapak MM. Sukarton Kartoatmojo, adanya penyebutan nama Kadiri ada pada tiga prasasti Harinjing yang berada di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri yakni  Prasasti Harinjing A tertanggal 25 Maret 804 masehi,  prasasti Harinjing B tertanggal 19 September 921 dan prasasti Harinjing C tanggal 7 Juni 1015 Masehi. Isi dari ketiga prasasti Harinjing adalah tokoh dari desa Culanggi bernamakan Bagawanta Bhari yang memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong. Kiprah Bagawanta Bhari ketika itu, yaitu upaya untuk menyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya tersebut.
prasasti-siman1

prasasti-harinjing1Sumber foto:  https://jawatimuran.wordpress.com/2012/02/21/prasasti-kabupaten-kediri/

Ketekunan tanpa mengharap rasa pamrih inilah yang membuat dirinya dijadikan sebagai panutan masyarakat di waktu itu. Dirinya memperoleh gelar kehormatan “Wanuta Rama”, yaitu ayah yang terhormat atau Kepala Desa  dan tidak dikenakan berbagai macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari, seperti Culanggi dan Kawasan Kabikuannya. Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa “Kring Padammaduy” (Iuran Pemadam Kebakaran), “Tapahaji erhaji” (Iuran yang berkaitan dengan air), “Tuhan Tuha dagang” (Kepala perdagangan), “Tuha hujamman” (Ketua Kelompok masyarakat), “Manghuri” (Pujangga Kraton), “Pakayungan Pakalangkang” (Iuran lumbung padi), “Pamanikan” (Iuran manik-manik, permata) dan masih banyak pajak lainnya.

Menurut M.M. Soekarton Kartoadmodjo prasasti Harinjing A adalah prasasti yang ditemukan paling tertua yang menyebut nama Kediri pada Maret 804 Masehi. Saat tersebut Kediri mulai disebut-sebut sebagai sebuah negara atau kerajaan karena merupakan daerah yang mandiri. Dalam prasasti Harinjing juga disebutkan pembangunan sistem irigasi (yang terdiri atas saluran dan tanggul) yang disebut dawuhan pada anak sungai Kali Konto, yakni Kali Harinjing (Lombard, 2000). Kesuburan tanah sekitar sungai Brantas disebabkan adanya endapan material vulkanik dari beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru. Beberapa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Timur berkembang pada kondisi geografis yang didukung sungai Brantas tersebut yang juga didukung oleh peranan aktivitas Gunung Penanggungan. Sistem ekonomi kerajaan-kerajaan seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit yang mencakup perdagangan pun lebih diuntungkan dengan akses penghubung yang lebih cepat dan aman antara daerah pedalaman dengan pesisir. Dengan perkembangan tersebut, maka beralihlah sistem agraris ke maritim. Namun, kerajaan Majapahit mampu memadukan keunggulan agrarisnya dan memperluas kekuatan maritimnya dengan memanfaatkan sungai Brantas sebagai penghubung ke laut lepas. Dengan adanya jalur tersebut, penerapan bea cukai dan upeti pun marak dilakukan ketika masa kerajaan Kediri hingga Majapahit. Dari beberapa perkembangan tersebut mengakibatkan munculnya kejayaan kerajaan Majapahit yang bertumpu pada sungai Brantas.

Picture3

Picture2

Sumber visual:  http://mari-mengetahui-sejarah.blogspot.com/2014/11/sejarah-kabupaten-kediri.html dari tulisan makalah: Arti Penting Sungai Brantas terhadap Kehidupan di Jawa Timur, Nama:  Zulkifli Pelana

Nama Kediri berasal dari kata “diri” yang berarti “adeg” (berdiri) yang mendapat awalan “Ka” yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti “Menjadi Raja.” Dari uraian bukti prasasti serta kebesaran sejarah kerajaan Kediri hingga Majapahit diatas, makna kata Kediri berarti mandiri atau berdiri tegak, berkepribadian atau berswasembada.

Belajar dari ketekunannya Bagawanta Bhari yang berupaya menyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya tanpa mengharap rasa pamrih serta belajar dari sejarah, kehidupan serta budaya, dan ajaran-ajaran norma serta kearifan lokal dari leluhur moyang Nusantara, sangatlah cocok kata KE DI RI memiliki makna yang multidimensi.

Dalam perjalanan ke diri adalah jejak langkah mengasah mata hati. Dalam ilmu Jawa dikatakan bahwa jiwa tunduk pada keraping rahsa/rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif). Segenap upaya yang mendukung proses ‘penundukan’ unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawenlaku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Kembali mengakar, kembali kesejatian diri. KEDIRI

Narasumber:

http://www.kedirikab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=93&Itemid=180

http://vod.kompas.com/read/2012/01/21/070528/Harinjing.Kisah.Sudetan.Tertua

http://www.antaranews.com/berita/426522/peneliti-temukan-pemukiman-kuno-di-trenggalek

http://swetadwipa.blogspot.com/2014/04/goa-selomangleng-kadiri-pertapaan-dewi.html

https://jawatimuran.wordpress.com/2013/06/16/dewi-kilisuci-dan-kesunyian-selomangleng/

https://m.facebook.com/notes/kediri-lama-pusaka-negara/sejarah-dan-asal-mula-hari-jadi-kediri-25-maret-804-m/497905535577/

http://mari-mengetahui-sejarah.blogspot.com/2014/11/sejarah-kabupaten-kediri.html

tulisan makalah: Arti Penting Sungai Brantas terhadap Kehidupan di Jawa Timur, Nama         :  Zulkifli Pelana, NIM :  4415120305,  Prodi:  Pendidikan Sejarah, Matkul:  Geografi Sejarah

https://jawatimuran.wordpress.com/2012/02/21/prasasti-kabupaten-kediri/

“Menemukan Apa Yang Terlewatkan” oleh Asti

Inspirasi Kediri Bertutur

KATA PENGANTAR

Tulisan ini merupakan salah satu dari beberapa tulisan pilihan dari mahasiswa kelas “Analisa Konsumen” UNIVERSITAS INDONESIA, FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK, PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI, PROGRAM PENDIDIKAN S1 KLS INTERNASIONAL PERIKLANAN angkatan 2013.

Kediri bertutur diawali oleh sebuah perjalanan budaya: “Kusadari bahwa untuk mencapai tingkat kualitas kehidupan yang lebih baik bukan berarti mendapatkan status serta harta benda yang melimpah.  Dalam perjalananku, aku mencari kualitas hidup dimana spirit humanis yang menjadi penggerak jiwa ragaku. Pelajaran ini hanya bisa kudapatkan dengan melakukan perjalanan budaya,” Kandi Windoe.

Dengan spirit yang sama, Kediri Bertutur mengajak para mahasiswa untuk menemukan perjalanan budaya mereka. Saatnya Kediri Bertutur mempersembahkan karya Gabriella Astiti saat Jejak Jalan Pintar ke Jogja November 2014.

“Menemukan Apa Yang Terlewatkan” oleh Asti

Jalan-jalan kembali ke rumah rasanya memang menyenangkan, apalagi ketika kesempatan tersebut jarang didapatkan. Rumah disini adalah kota Yogya yang menjadi kampung halaman saya dan keluarga. Meskipun sudah tak terhitung berapa kali pulang ke Yogya, tidak akan pernah bosan rasanya. Saya sendiri bukanlah seseorang yang lahir dan besar di Yogya, namun darah Yogya mengalir kental dalam diri saya. Yogya juga merupakan kota terpilih untuk saya mengenyam pendidikan selama 3 tahun di SMA. Banyak hal yang sudah saya lewati di Yogya menjadikan kota ini lebih dari sekedar rumah dan kota kenangan, tapi tempat saya berproses dan mencari jati diri.

Di tengah kesibukan kuliah yang menggila, pada akhir bulan November kemarin saya mendapat kesempatan untuk pulang lagi ke Yogya. Jalan-jalan kali ini sangat lah berbeda dengan kesempatan sebelumnya. Kali ini jalan-jalan dilakukan bersama teman-teman kelas periklanan dan Mbak Kandi sebagai dosen kami. Jalan-jalan ini dilakukan dalam rangka pembelajaran mata kuliah Analisis Konsumer. Terlepas dari berbagai teori tentang perilaku konsumer, jalan-jalan ini memberi perspektif yang berbeda dan lebih dalam bagi kami untuk menganalisis konsumer lebih dalam. Lebih jauh dari sekedar kepentingan kuliah, jalan-jalan kali ini membawa arti sendiri untuk pembelajaran hidup saya.

13 mahasiswa, 1 dosen, beserta Mas Widi, seorang rekan dari Mbak Kandi yang sangat membantu dalam kelancaran trip ini, berjalan-jalan tidak hanya ke Yogya tetapi juga ke Solo, Magelang, dan Kulonprogo. Tempat-tempat yang memang juga tidak asing bagi saya. Trip kali ini berupa wisata budaya yang sangat berbeda dari wisata budaya lain yang pernah saya lakukan. Melihat dan merasakan lebih jauh kearifan lokal penduduk setempat menjadi poin utama dari perjalanan kali ini.

Berbeda karena destinasi dari kota-kota tersebut sama sekali bukanlah tempat wisata pada sesungguhnya. Kami mempunyai 6 destinasi sepanjang perjalanan. Tempat-tempat itu adalah Plenthe Percussion di Solo, kediaman Abdi Dalam di lingkungan Keraton Yogyakarta, sanggar Pamulangan Beksa yang masih berada di lingkungan keraton, desa Salaman di Magelang, sanggar tari Sripang Laras di Kulonprogo, dan kerajinan gerabah di Kasongan di Bantul, Yogya. Wisata budaya kali ini lebih mengutamakan silahturahmi sebagai bentuk pendalaman terhadap budaya dan kearifan lokal.

Sebelum melakukan perjalanan ini, saya merasa sangat percaya diri dan bahagia karena di antara teman-teman lainnya, saya lah yang paling mengenal kota-kota tersebut. Rasa percaya diri ini datang dari banyaknya pengalaman saya mengunjungi kota-kota yang menjadi pilihan trip kelas kami. Walaupun pada kenyataannya, 6 destinasi di atas sama sekali belum pernah saya dengar ataupun saya kunjungi sebelum melakukan perjalanan ini.

Ada rasa ragu yang terbesit sebelum perjalanan ini dilakukan dan ternyata itu benar-benar terjadi. Rasa keyakinan diri yang saya punya benar-benar berubah dengan rasa kekaguman yang luar biasa terhadap apa yang saya kunjungi. Saya mengira bahwa dengan berkali-kali mengunjungi kota-kota tersebut, apalagi tinggal selama 3 tahun lamanya di Yogya, menjadikan saya paham betul dengan budaya kesenian yang ada. Hal ini terbukti salah karena setelah mengunjungi keenam destinasi tersebut, banyak hal yang belum saya ketahui dan saya pelajari.Setelah merefleksikan kembali pengalaman saya tinggal di Yogya setelah melakukan trip ini, ternyata memang ada sesuatu yang terlewatkan, yaitu mendalami diri dengan budaya lokal ataupun kesenian lokal yang ada di Yogya. Ilmu saya selama ini hanya sebatas tahu dan bahkan itupun tidak banyak.

Sebagai pendatang dari Jakarta pada masa SMA, saya mempunyai motivasi yang mulia untuk belajar dalam suasana yang berbeda jauh dari Jakarta. Terlebih lagi sekolah saya adalah sekolah khusus perempuan yang menyediakan asrama dan disitulah tujuan utama saya berpindah dari Jakarta, untuk hidup mandiri di asrama. 3 tahun lamanya yang dirasa cukup untuk selain belajar di sekolah tetapi juga mengetahui budaya dan kearifan lokal. Melihat kembali dari trip ini, ternyata rasa mengetahui saja tidaklah cukup bagi seseorang untuk menghargai kesenian budayanya sendiri. 3 tahun lamanya, rasanya sama seperti seseorang yang tinggal di suatu lingkungan tetapi tidak tahu tetangga sekitarnya. Sebuah fenomena yang tak jarang terjadi di masa modern ini.

Pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di asrama semasa SMA sebenarnya tak terhitung banyaknya. Sekolah saya kebetulan adalah sekolah swasta yang digemari banyak penduduk lokal dan juga banyak sekali pendatang dari luar Yogya, bahkan dari luar pulau Jawa. Sekolah saya sendiri sudah menjadi tempat peleburan budaya dari berbagai penjuru Indonesia, terlebih lagi asrama saya tempat teman-teman pendatang tinggal. Fenomena peleburan budaya inilah yang saya hadapi sehari-hari mulai dari dialek, kebiasaan, cara berpikir, dan berkomunikasi yang melebur dalam kebudayaan Yogya.

Peleburan yang terjadi ini memang tidak membuat budaya asli Yogya punah, namun ketika sudah bercampur oleh budaya luar pastilah tidak terlalu original. Apalagi fenomena ini terjadi di kalangan pelajar yang sangat memeluk erat peradaban modern yang dinamis. Dimana mereka sangat update dengan trend yang terjadi saat itu dan tidak terlepas dari pengaruh budaya barat maupun budaya dari Jepang dan Korea. Dalam menghadapi fenomena ini, sekolah saya masih menyediakan kesempatan bagi murid-muridnya untuk belajar budaya asli Yogya, seperti muatan lokal bahasa Jawa di kelas 1 SMA, pelajaran seni tari selama 2 tahun pertama di SMA, dan ekstrakurikuler karawitan. Namun dirasa tidak ada yang dianggap serius dari ketiga pilihan itu. Hal serupa pun terjadi pada saya yang hanya melakukan itu semua demi nilai pelajaran. Saya merasa ada ketertarikan lain dibanding mendalami kesenian lokal pada saat itu. Kebebasan dalam berbudaya memang menjadi hak masing-masing individual, namun pendalaman nilai-nilai kearifan lokal yang tidak kuat hanya akan membuat kebudayaan modern semakin berkuasa.

Hal-hal inilah yang terlewatkan selama 3 tahun lamanya bersekolah di Yogya, bahkan ketika mengunjungi Yogya di saat liburan. Di kesempatan jalan-jalan inilah saya pada akhirnya sadar bahwa seni budaya daerah tidak di titik sekedar tahu saja, melainkan mendalami nilai-nilai di dalamnya. Semuanya tidak akan terjadi tanpa peran Mbak Kandi dan kecintaannya terhadap budaya dan kearifan lokal yang dengan semangat mengajak dan menginspirasi kami. Dalam wisata budaya ini, Mbak Kandi tidak mengajak kami ke tempat-tempat pertunjukannya melainkan kembali ke tempat dimana mereka semua berproses.

Kami semua memulai perjalanan di hari Jumat sore ketika kami pergi ke Solo untuk menuju kediaman Plenthe dan kawan-kawan. Plenthe percussion adalah sekelompok musisi perkusi yang bermain gendang dengan mas Suryadi sebagai pendirinya dan juga dikenal sebagai mas Plenthe. Kelompok perkusi ini mempunyai sejarah panjang dan perjuangan yang berat hingga bisa di titik ini. Plenthe percussion sudah banyak sekali menciptakan lagu dan juga konser ke luar negeri. Bersama rekan-rekan, Plenthe dapat mengawinkan segala jenis genre musik dengan alat musik tradisional. Tidak banyak yang mengenal mereka, namun sayangnya karyanya lebih banyak dihargai di luar negeri.

Dari tempat kediamannya, terasa sekali jejak-jejak perjuangan yang semua dimulai dari dasar, sangat dasar. Ada rasa kagum yang sangat mendalam dari grup Plenthe percussion karena semua ini diawali dengan meyakini pepatah klasik, yaitu “Malu Bertanya Sesat di Jalan”. Mas Suryadi yang hanya tamatan sekolah dasar berhasil berkarya berkat keberanian dia bertanya kepada mereka yang ahli. Dari bertanya tentang cara bermain musik, sampai bisa konser di luar negeri. Dari bertanya tentang cara menggunakan komputer, hingga mempunyai satu set iMac beserta audio mixer dan alat editing di studio rekamannya. Di kediamannya di solo itu lah studio rekaman dan tempat berlatih ia bangun sedikit demi sedikit.

Apa yang saya tangkap dari keyakinannya akan pepatah itu adalah Mas Suryadi berani belajar dari orang lain. Berbeda dengan orang modern kebanyakan jaman sekarang yang cenderung memilih untuk belajar sendiri dari internet. Dari bertanya, Mas Suryadi pun membangun relasi yang terbentuk hingga sekarang. Menurut pengakuannya, ia belajar tanpa sepeser pun uang keluar. Sebagai kontribusinya, Mas Suryadi juga mengajari banyak anak jalanan di sekitarnya untuk belajar perkusi. Rumahnya di Solo benar-benar terbuka untuk siapapun dari hanya sekedar nongkrong, membuat lagu, atau belajar musik.

Merefleksikan dari perjalanan Mas Suryadi, rasanya perjuangan itu benar-benar nyata dirasakan dari bagaimana ia memulai. Saya percaya bahwa nilai yang didapat oleh Plenthe sangat jauh berbeda dibanding saya yang juga berkarya namun segalanya telah tersedia oleh orang tua. Pelajaran berharga dari mas Plenthe lebih dari sekedar menghargai musik karya asli Indonesia, tetapi juga menaruh keyakinan yang tulus untuk berkarya tanpa menjadi komersil.

Jalan-jalan dilanjutkan pada hari kedua dimana pagi harinya kami mengunjungi kediaman seorang abdi dalam keraton. Keraton Yogyakarta memang adalah salah satu destinasi wisata favorit, namun untuk bersilahturahmi bersama abdi dalam langsung di kediamannya sungguhlah sesuatu yang spesial. Sesampainnya di rumah, kami bertemu dengan dua orang yang berpakaian khas abdi dalam keraton. Mas Sigit dan Pak Mono adalah dua orang abdi dalam yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun.

Abdi dalem adalah seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk berkerja demi kelangsungan Keraton Yogyakarta di bawah pimpinan Sri Sultan. Mas Sigit adalah seorang abdi dalem prajurit dan Pak Mono adalah seorang abdi dalem punakawan yang bekerja di bagian administrasi. Pekerjaan abdi dalem selama ini hanya mendapatkan sejumlah pemberian dari Sri Sultan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemberian terhadap mereka sangat jauh di bawah layaknya gaji pada umumnya. Itu pun hanya sebuah pemberian dari Sri Sultan, bukan gaji yang bisa dinego oleh karyawan. Memang saat ini mereka juga mendapat honor dari Pemerintah.

Menjadi Abdi dalem bagi mereka adalah suatu panggilan hidup yang mulia. Bekerja sepenuh hati tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih jarang bisa dijiwai oleh kebanyakan orang pada masa sekarang. Baik Pak Mono, Mas Sigit dan para abdi dalem lainnya hidup bahagia dalam kesederhanaan. Bentuk syukur dari kesederhanaan inilah yang pada akhirnya menjadi luar biasa jika dipandang dari saya yang percaya bahwa kebutuhan seseorang tidak akan pernah ada habisnya. Dari sini saya percaya bahwa level kebutuhan seseorang pada akhirnya ditentukan dari cara orang itu bersyukur.

Besarnya level dedikasi para abdi dalem tentunya juga mendapat timbal balik dari Keraton. Pak Mono merasa bersyukur karena dengan bekerja di Keraton beliau mendapat banyak ilmu. “Dari yang tadinya tidak tahu apa-apa, karena sering disuruh jadi banyak tahu” begitu menurut pengakuannya. Pak Mono pun sudah merasa senang jika dirinya menjadi salah satu kepercayaan Sultan. Bahkan saat ditugaskan membawa payung di saat pernikahan putri Sri Sultan, terbesit rasa bangga dari Pak Mono.

Apa yang saya suka dari abdi dalem adalah perbedaan pangkat sama sekali tidak terlihat dari seragamnya. Hal ini membuat mereka tidak segan satu sama lain. Selain itu banyak sekali filosofi di balik seragam abdi dalem. Salah satunya adalah lipatan yang ada di ujung jarik mereka yang mempunyai filosofi “sebesar-besarnya lautan masih ada batas”. Artinya adalah sebesar-besar apapun orang itu tentunya ada batasnya. Pelajaran berharga yang sesungguhnya sangat sederhana adalah menjalani dengan total apa yang menjadi panggilan hidup kita dan memaknai setiap rejeki yang kita punya. Dengan begitu hidup akan terasa lebih dari cukup.

Sekitar tiga jam silahturahmi bersama Pak Mono dan Mas Sigit, kami akhirnya melanjutkan perjalanan setelah makan siang menuju sebuah sanggar yang tidak jauh dari situ. Sanggar Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa adalah sebuah sanggar tari klasik Yogyakarta dibawah didikan ibu Siti Sutia yang berada di pendopo yang sudah berumur 1 abad lebih. Cinta murni dari ibu Tia akan tari tradisional membuat dia sangat berdedikasi untuk menularkan rasa cinta tersebut terhadap anak didiknya. Bu Tia, yang juga merupakan abdi dalem, dipercaya oleh Sri Sultan untuk mengajari seni tari kepada putri-putrinya. Rasa cinta itulah yang sudah membawa beliau pergi ke banyak Negara untuk mempersembahkan tari klasik Yogyakarta. Bagi ibu Tia menari adalah hidupnya. Dengan menari dan mendengarkan musik tradisional, bu Tia bisa mencapai relaksasi dan kentrentraman yang mendalam.

Keseluruhan dedikasi ibu Tia ada di sebuah falsafah jawa dari sebuat tari bernama Joget Mataram, yaitu nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Filosofi ini berartikan fokus terhadap apa yang kita kerjakan, semangat, percaya diri, dan punya disiplin yang kuat. Menurut bu Tia falsafah tersebut sudah cukup untuk membuat kita sukses dalam hal apapun. Berjam-jam kami berbincang bersama ibu Tia rasanya tidak terasa. Terbesit dengan jelas rasa bangga nya dia dengan kesenian tradisional. Hal ini benar-benar membuat saya menyesal karena tidak menanggapi serius kesempatan semasa SMA untuk belajar tari tradisional, melainkan hanya melakukan itu untuk sekedar nilai. Di sanggar itu, kami juga bertemu dengan mas Alin, anak dari bu Tia, yang menjadi pengajar tari putra di situ. Selain itu ada juga mbak Bunga, asli Palembang, yang sangat pandai dalam menari klasik Yogya.

Perjalanan berikutnya dalam hari yang sama ke desa Salaman di Magelang. Sebuah desa yang terkenal dengan designer-nya yang sudah banyak memenangkan kontes design dan mendapat ratusan dollar. Sebutan bagi mereka sendiri adalah desainer kampung, karena mereka berprofesi sebagai petani di siang hari dan menjadi desainer di malam hari. Melihat design-design mereka saya sangat berdecak kagum karena bisa membuat sampai sedemikian rupa dengan fasilitas yang terbatas. Dulu asumsi saya adalah orang design selalu mengutamakan laptop Mac, karena barang tersebut selalu di identifikasikan dengan orang yang kreatif.

Pada malam itu di Salaman sebenarnya ada sebuah seminar yang terdiri dari 6 pembicara, dan salah satunya adalah Mbak Kandi. Seminar tersebut bertujuan untuk membuka wawasan para desainer kampung bahwa design lebih dari sekedar karya kriya. Secara tidak langsung, seminar tersebut sangat berguna bagi diri saya juga. Sayangnya pada malam itu kami tidak mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para desainer kampung karena mereka semua sibuk mendengarkan seminar. Namun semangat dalam keterbatasan mereka sudah cukup membuat saya kagum luar biasa.

Esok harinya adalah hari terakhir kami dari jalan-jalan kami. Pada pagi hari kami mengunjungi sanggar Sripang Laras yang didirikan oleh ibu Sri. Sanggar tersebut terletak di pelosok Kulon Progo dan didirikan di tempat kediaman ibu Sri. Sanggar ini sangat terkenal dengan tari angguknya yang sudah membawa penarinya ke berbagai kota hingga Jakarta. Murid-murid dari ibu Tia semuanya adalah anak-anak yang juga mempunyai kecintaan yang tulus untuk belajar menari.

Menari, menari, dan menari sudah menjadi hobi bagi mereka dan hobi tersebut terus menular di kalangan anak-anak. Sama sekali tidak ada paksaan dari orang tua, semuanya datang dari inisiatif mereka. Andai hal seperti ini terjadi dimana-mana.

Sanggar ibu Sri sangatlah sederhana. Semua dia bangun dari keringatnya sendiri dan juga modal hutang dari bank. Sedikit demi sedikit dari hasil pentas ia kumpulkan untuk membeli kostum dan peralatan. Saat ini semua koleksi dia sudah lengkap bersama gamelan dan juga alat mixer yang sederhana. Semuanya dirasa cukup untuk saat ini walaupun beliau menginginkan untuk mempunyai joglo.

Hal yang luar biasa dari ibu Sri adalah dia turut mengajar anak-anak yang berkebutuhan khusus. Menurut ibu Sri, anak anak SLB jauh lebih pintar dalam mendalami daripada anak-anak pada umumnya. Dari situ juga ibu Sri bisa belajar bahasa isyarat. Saya pun bersama teman-teman sangat menikmati momen-momen dimana berbincang dengan anak-anak. Cukup banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari bagaimana ibu Tia berproses bersama anak-anak didiknya.

Akhirnya sampailah kami di destinasi terakhir kami yaitu desa Kasongan di Bantul tempat para pengrajin gerabah. Sesampainya disitu perhatian kami langsung tertuju untuk membentuk prakarya dari gerabah. Tempat pengrajin yang kami datangi bernama Lakeisha. Jika biasanya kami fokus untuk mewawancara orang-orang, di situ kami tidak terinvensi bahkan untuk dokumentasi sekalipun. Konsentrasi total tersebut harus diakui bahwa itu jarang dirasakan di kelas, sehingga saya pun menikmati setiap proses pembuatan Gerabah. Untungnya saya sempat bertanya-tanya sebentar sebelum pulang kepada pemiliknya. Lakeisha sendiri adalah salah satu tempat pengrajin gerabah yang sangat unggul di bidang online marketing sehingga selalu kebanjiran pesananan.

Perjalanan kami akhirnya selesai disitu dengan berbekal banyak pelajaran hidup. Melihat kembali cerita di atas tentang apa saja yang saya lewatkan selama tiga tahun tinggal di Yogya, rasanya dalam tiga hari saja saya mendapat lebih dari sekedar pengetahuan tentang kesenian budaya. Dari silahturahmi yang kami lakukan, nilai-nilai mendalam tentang budaya dan kearifan lokal dapat dimengerti dengan mudah. Kebebasan berbudaya memang sepenuhnya hak masing-masing individual. Kita pun tidak harus menguasai salah satu kesenian tradisional bila tidak memungkinkan. Namun dengan mengapresiasi, mendukung, dan ikut melestarikan, kesenian tidak akan pernah hilang. Sebagai orang yang sangat paham dengan dinamika jaman yang modern, akan lebih baik bahwa kesenian budaya juga ikut diselaraskan.

Mengutip dari mas Widi, jalan-jalan pintar ini bagi saya tidak hanya mengajarkan saya untuk berbudaya, tetapi juga belajar menaruh dedikasi total tentang apa yang menjadi pilihan hidup kita. Berbagai hal yang membatasi kiranya tidak mejadi halangan karena kreatifitas tidak terpaku pada halangannya saja. Tak lupa, atas apa yang kita kerjakan, akan lebih baik jika ilmu tersebut diajarkan juga kepada banyak orang. Menjalin relasi kira nya sangat penting juga demi kelangsungan perjalanan hidup kita, karena kita tidak akan tahu kejutan lain yang akan terjadi.

 

***

Wayang Krucil Bangkit Di Tengah Sawah oleh Wd Asmara/Kratonpedia

Artikel Kediri Bertutur

Hamparan sawah menjelang masa panen tampak berwarna kuning keemasan, suasana sepi pedesaan dengan bentangan jalanan aspal yang sudah tidak mulus lagi membelah lahan persawahan. Siang itu panas cukup terik di desa Nglawak kecamatan Kertosono kabupaten Nganjuk. Jarak desa Nglawak dengan ibukota kabupaten Nganjuk 22 Km, sementara dari kota Kediri berjarak 23 Km, tapi jalanannya kecil dan beberapa ruas jalan terdapat banyak lubang. Terlepas dari kondisi cuaca dan jalanan yang kurang memadai, desa ini masih banyak ditumbuhi pohon-pohon trembesi besar (samanea saman/rain tree) yang meneduhkan jalan, seperti jalanan buatan jaman perlawanan dengan Belanda dulu.

Penduduk setempat mengungkapkan, konon dulunya di desa ini banyak orang yang suka ndagel (melucu/melawak), hingga akhirnya desa tersebut dikenal dengan nama desa Nglawak. Itupun hanya dugaan atau versi masyarakat setempat yang disampaikan dengan gaya melucu mereka, seolah membenarkan dugaan bahwa ini memang desanya para pelawak. Mayoritas masyarakat desa ini menggantungkan hidup dari bertani, dan sebagian kecil  dari mereka berdagang.

Setelah menyusuri jalanan yang makin menyempit dengan pemandangan dominan lahan persawahan, tampak sebuah rumah sederhana dengan warung kecil di bagian depannya. Di rumah inilah tinggal seorang dalang wayang krucil yang sudah mulai jarang dipertunjukkan. Namanya Jamiran, biasa dipanggil mbah Ran, kelahiran tahun 1939 atau 73 tahun yang lalu.

Mbah Ran biasa menyebut wayang-nya dengan nama wayang thimplong, masyarakat Nganjuk mengenalnya dengan nama wayang krucil. Konon wayang krucil ini diciptakan oleh Pangeran Pekik asal Surabaya dengan material utama dari kulit binatang dan berukuran kecil, sehingga dipopulerkan dengan nama wayang krucil. Kemudian wayang berukuran kecil ini mengalami perubahan bahan material utamanya menjadi terbuat dari kayu, hingga lahirlah nama baru yaitu wayang klithik seperti yang terdapat di daerah Kudus Jawa Tengah.

Namun dalang yang masih tampak segar bugar diusianya yang ke-73 ini meyakini bahwa wayang krucil adalah wayang yang diciptakan pertama kali sebelum wayang kulit dan wayang purwa. Berdasarkan pengetahuan yang turun temurun didapatkan dari orang tua dan kakeknya, mbah Ran meyakini bahwa wayang krucil ini sarat dengan kisah-kisah tua yang berasal dari serat Panji seperti yang terdapat pada cerita wayang gedog. Wayang gedog sendiri konon telah dipertontonkan pada masa kerajaan Majapahit, konon juga diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1485. Tapi wayang gedog menggunakan bahan utama kulit, dan dominasi bunyi pukulan kayu menjadikan wayang ini dinamakan wayang gedog, karena tidak menggunakan suara kecrekan dari besi. Sementara menurut sejarah, cerita Panji sudah ada sejak abad ke-11 pada masa pemerintahan Jayabaya di Kediri.

Terlepas dari masa yang sangat jauh ada dibelakang, yang jelas pancaran semangat untuk terus menghidupkan wayang krucil  dimasa kini sangat terlihat dari wajah mbah Ran. Meskipun kesenian wayang krucil ini juga dianggap sebagai kesenian khas atau budaya tua masyarakat Bojonegoro maupun di Kediri Jawa Timur, semoga kepemilikan budaya khas wayang langka ini tidak menyurutkan semangat siapa saja yang ingin melestarikannya.

Sesaat kobaran semangat menceritakan sejarah wayang ala mbah Ran-pun mereda, segelas kopi panas berwarna hitam pekat sesekali diseruput ki dalang sambil menikmati sebatang rokok filter. Tiba-tiba mbah Ran ingat kenangan masa lalu saat belajar bermain ludruk pada tahun 1951 bersama rekannya. Masa itu mbah Ran berperan sebagai tokoh pembantu atau cantrik yang harus melawak dalam pertunjukan, nama tokohnya Abu dan Gople. Mbah Ran memerankan tokoh Gople, yang akhirnya nama tersebut melekat hingga kini di kalangan teman-teman seusianya.

Profesi sebagai dalang baru digeluti pada tahun 1962, dan pada awalnya tanggapan wayang krucil bisa datang dari mana saja termasuk daerah diluar Nganjuk. Pernah suatu kali harus tampil dalam pertunjukan wayang krucil pada hari Sabtu di luar daerah, mbah Ran harus berjalan kaki di Jumat malamnya supaya Sabtu bisa sampai tepat waktu. Kenangan-kenangan perjuangannya di masa lalulah yang membuat mbah Ran terus menekuni seni pedalangan wayang krucil hingga kini. Sampai keahlian membuat karya wayang krucilpun dilakoni dengan belajar sendiri dari saat muda dulu.

Wayang krucil dibuat dari kayu sengon, tahap pertama digambar pola tokoh wayangnya dulu, setelah itu baru dibentuk perlahan dengan pisau kecil hingga memakan waktu empat hari pengerjaan untuk satu karakter wayang krucil. Sejak kecil ketrampilan membuat wayang ini sudah dimiliki oleh mbah Ran. Desa dimana dia dilahirkanpun menyediakan banyak sekali bahan damen atau batang padi untuk bermain diwaktu kecil. Dari suka cita bermain damen dan mengubahnya menjadi wayang mainan atau wayang damen, membuat sosok Jamiran kecil membawa kisah kenangan tokoh wayangnya hingga di masa tua sebagai dalang wayang krucil.

Dalam seni pertunjukan wayang krucil, cerita tidak diambil dari kisah Ramayana ataupun Mahabarata, melainkan kisah sejarah yang ada di negeri ini ataupun cerita Panji. Awalnya juga sering membawakan cerita perjalanan para Sunan/Wali Songo. Kalau di beberapa daerah menyebutkan jumlah tokoh dalam wayang krucil itu ada 73 karakter, mbah Ran memiliki wayang krucil sebanyak 90 karakter untuk beberapa cerita. Dari dulu hingga sekarang, yang masih bertahan adalah ciri utama soal waktu dilaksanakannya pertunjukan wayang krucil ini, yakni digelar saat ada upacara tradisi nyadran dan ruwatan. Sampai sekarangpun nuansa religius saat digelar pementasan wayang krucil bagi beberapa masyarakat desa, seperti di desa Nglawak ini masih sangat terasa. Hal ini dikarenakan pertunjukan wayang krucil tersebut pada jaman dulu biasanya dilaksanakan terkait dengan upacara permohonan doa keselamatan atau memohon berkah, salah satunya pada saat terjadi pageblug (wabah penyakit). Sementara tradisi ruwatan dilakukan apabila seseorang mempunyai anak tunggal (ontang-anting), atau punya empat anak laki-laki semua (gotong mayit), dan masih banyak lagi peristiwa yang terkait dengan diadakannya upacara ruwatan yang pada masa sekarang sudah jarang dilakukan.

Selain waktu pelaksanaannya, wayang krucil juga memiliki keunikan dalam persiapan pagelarannya. Upokoro atau hal yang harus disiapkan sebelum pertunjukan adalah, kelapa, beras, kopi, kemiri, pisang, cabe, bawang merah dan putih, jambe, sirih, uang, telur ayam dan minyak srimpi. Atau adanya pantangan seperti di desa Sonoageng tetangga desa Nglawak, yaitu tidak boleh ada yang memakai kain jarik kawung putih dan kain batik motif parang rusak. Semua ke-khasan tersebut merupakan keunikan tradisi yang masih kuat melekat dalam kehidupan masyarakat desa Nglawak yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Seiring berjalannya masa, kini mbah Ran mulai jarang tampil sebagai dalang wayang krucil, kecuali disaat perayaan tradisi nyadran. Selain buka warung kecil, mengolah sawah masih sanggup dia lakoni, juga sesekali mancing ikan bersama putra bungsunya di sungai dekat rumah. Tapi proses membuat wayang krucil masih terus dijalaninya, bahkan putra bungsu ki dalang yang bernama Purwanto, di usianya yang ke-29 tahun sekarang ini sudah mulai terlihat mewarisi keahlian membuat wayang krucil dan merintis menjadi dalang seperti bapaknya. Bagi mbah Ran, tidak ada kata terlambat untuk memulai apapun, termasuk meneruskan semangatnya berkisah melalui wayang krucil, meskipun harus dilakukan di antara lahan persawahan sekalipun. Salam Kratonpedia.

Narasumber:

http://www.kratonpedia.com/article-detail/2012/5/15/273/Wayang.Krucil.Bangkit.Di.Tengah.Sawah.html

Picture21 Picture34 Picture35 Picture36 Picture37 Picture38 Picture39 Picture40 Picture41 Picture42 Picture43

Bermain Dan Belajar Bertutur Dari Kediri oleh Wd Asmara/Kratonpedia

Artikel Kediri Bertutur

Suasana desa Bujel kecamatan Mojoroto kota Kediri saat itu masih sepi, pagi baru saja beranjak menuju siang dengan panas matahari yang cukup menyengat. Kediaman mas Pri seorang dalang wayang kulit di desa tersebut belum diwarnai kesibukan layaknya akan ada sebuah acara pementasan. Bujel adalah nama sebuah desa yang terletak di bagian barat kota Kediri, bagi masyarakat Kediri wilayah ini disebut dengan istilah daerah kulon kali, yang artinya bagian sebelah barat sungai Brantas yang menyatukan wilayah kota Kediri.

Pada tahun 1832 di kawasan Mojoroto ini pernah tinggal seorang dalang wayang klithik atau wayang krucil yang kondang bernama Ki Dermakanda. Saat itu negeri ini masih dalam kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dan keberadaan Ki Dermakanda ini menjadi menarik karena pada saat itu seorang pembesar pemerintahan Belanda yang berkuasa berusaha mencari tahu mengenai sejarah atau asal mula daerah Kediri. Dan melalui seorang Beskal atau Jaksa Ageng pertama di Kediri saat itu yang bernama Mas Ngabehi Poerbawidjaja, yang juga seorang canggah atau cicit dari Pangeran Katawengan yang berkuasa di kota Kediri kala itu, dipanggilah dalang asal Mojoroto tersebut untuk bercerita.

Dari sedikit penggalan kisah yang terdapat di Serat Babad Kadhiri tersebut, memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana sebuah budaya bertutur sangat kuat dan sangat berarti dimasa itu sebagai media untuk menyampaikan sebuah pesan. Dan yang dipercaya menjadi mediator untuk menyampaikan kisah dengan cara bertutur tersebut adalah seorang dalang. Karena pada masa itu masyarakat yang sebagian besar adalah kaum tani atau juga dikenal dengan golongan kawula di masa itu, mengenali jejak sejarah mereka melalui dongeng-dongeng dan legenda-legenda rakyat yang diwarisi secara turun temurun, dan bukan secara langsung melalui karya sastra atau prasasti dan pusaka-pusaka seperti golongan masyarakat yang tinggal di dalam Kraton atau Kerajaan yang lebih perpendidikan di masa itu.

Kembali ke kediaman mas Pri di desa Bujel, pukul 12:00 anak-anak mulai berdatangan ke rumah mas Pri yang hari itu menjadi tempat berkumpul dan tempat berganti kostum untuk acara Kediri Bertutur. Yang terlihat secara langsung dalam acara ini adalah, keterlibatan penuh masyarakat dalam proses terus menerus mengenal budaya aslinya, dengan melibatkan secara aktif di segala persiapan dan pelaksanaannya, dan bukan semata-mata sebuah bentuk hiburan rakyat  yang umum dilakukan secara komersial. Bagi anak-anak yang terlibat, acara ini tak ubahnya seperti mereka sedang bermain di pekarangan rumah saat bulan purnama tiba. Kemeriahan justru datang dari kesederhanaan dan spontanitas yang terjadi selama persiapan hingga digelarnya acara.

Pementasan dengan gaya dolanan kampung yang digelar di halaman rumah warga ini, rencananya akan digelar mulai pukul 15:00 hari Sabtu di akhir bulan Februari lalu. Para pengisi acara yang masih berusia antara delapan tahun hingga tiga belas tahun ini berasal dari Sekolah Dasar Negeri 3 Bujel Mojoroto, yang letaknya tidak  jauh dari lokasi pementasan dan kediaman mas Pri di desa Bujel. Selain para orang tua di sekitar lokasi acara, murid-murid SD yang juga tinggal di satu desa tersebut berdatangan untuk menonton keramaian tari jaranan yang dibawakan oleh teman-teman mereka.

Tapi saat hari kian sore, lewat pukul 15:00 mendung makin gelap menyelimuti langit diatas desa Bujel. Setelah segala pesiapan sudah dilakukan, hujan deraspun turun membanjiri jalanan desa bagian barat sungai sungai Brantas tersebut. Rejekipun tak bisa ditoak, limpahan air hujan yang sangat deras hanya merubah waktu pementasan yang harusnya digelar di sore hari menjadi bergeser ke malam hari. Meskipun saat itu acara sudah dibuka dengan pertunjukan kethek ogleng atau topeng monyet yang dikerumuni oleh anak-anak desa Bujel. Hikmahnya, hari itu yang tadinya cuaca sangat panas menyengat kulit, menjadi sejuk dan dingin meski sempat banjir di sepanjang jalan desa di sekitar lokasi acara.

Saatnya menunggu malam tiba, dari perbincangan dengan anak-anak desa Bujel ini, bisa terlihat ekspresi keceriaan yang mereka rasakan. Karena bagi anak-anak desa Bujel, baik yang mengisi acara maupun penontonnya, hujan dan mundurnya waktu acara tidaklah merusak kegembiraan mereka, bermain dan bertemu teman seusia mereka dalam kondisi apapun bahkan hingga malam menjelang acara dimulai, merupakan kegembiraan yang mereka selalu rasakan seperti halnya sedang  bermain di malam Mingguan.

Terlepas dari atribut yang mereka kenakan sebagai kostum, seperti dedaunan dan topeng atau penthul yang terbuat dari bahan alam, lakon yang mereka bawakan dari cerita Panji dan Dewi Sekartajipun tidak sepenuhnya mereka pahami secara utuh, namun semangat anak-anak ini sangat menjiwai dalam membawakan setiap perannya dalam pementasan tersebut. Mulai dari ukelan atau gerakan pakem tarian dalam membawakan jaranan, hingga saat kesurupan yang biasa terjadi dalam setiap pertunjukan.

Antusias warga masyarakat yang menonton bisa bertahan hingga malam sampai detik terakhir pertunjukan jaranan usai. Suasana berubah agak lengang saat acara penutup berupa pertunjukan wayang biting atau wayang yang dibuat dari batang lidi dibawakan oleh dalang mas Pri dimulai. Hal ini mudah dimaklumi, karena memang kesenian wayang biting yang menggambarkan dunia permainan anak tempo dulu ini secara ukuran dan bentuk pertunjukannya berbeda dibanding penampilan jaranan  sebelumnya. Dan sebagian besar  warga yang menonton juga tidak memahami cerita karena bahasa penyampaiannya bukan bahasa sehari-hari, dan kurang atraktif sebagai bentuk hiburan karena ukurannya kecil dan bentuknya sederhana. Meskipun ceritanya menarik dan disampaikan layaknya sang dalang seperti sedang mendongeng, wayang biting memang kurang diminati. Tapi munculnya wayang biting ini paling tidak bisa memberikan inspirasi untuk anak-anak, bahwa alam di sekitar lingkungan mereka tinggal juga bisa melatih mereka untuk kreatif saat bermain seperti pada jaman kakek nenek mereka dahulu.

Mengenal Panji dan petualangannya, menurut beberapa karya sastra dan cerita babad, karakter Panji atau Panji Inu Kertapati digambarkan sebagai seorang kesatria, laki-laki yang berwajah tampan, bersikap pendiam dan halus budi, gemar menuntut ilmu dan gemar membaca, seniman piawai dan mumpuni berbagai cabang seni, bertabiat jujur dan lurus hati, taat kepada orang tua terutama kepada ibu, menyayangi binatang terutama binatang piaraan, ramah dan sopan terhadap sesamanya, setia dan menghormati istrinya, simpatik dan menarik, pandai menulis di kertas lontar, pahlawan perang hingga dijuluki Kusuma Yudha, piawai menari dan bermain gamelan, piawai mendalang wayang.

Petualangan Panji, begitulah istilah yang mungkin cocok untuk menceritakan kisah-kisah perjalanan hidup seorang Panji pada jaman sekarang  ini. Cerita Panji Inu Kertapati atau yang juga dikenal dengan nama Panji Asmara Bangun setelah kisah petualangannya berakhir  dengan menikahi Candrakirana atau Dewi Sekartaji seorang putri dari kerajaan Daha (Kadhiri). Panji Inu Kertapati adalah seorang kesatria kraton Jenggala, nama saat masih berada didalam kraton adalah Raden Kudarawisrengga, merupakan putra tertua  dari Prabu Lembu Amiluhur  Raja Jenggala kala itu.  Awalnya  Panji Inu Kertapati dijodohkan dengan  sepupunya yang bernama Dewi Sekartaji,  yaitu puteri dari Prabu Lembu Amerdadu, Raja Daha yang merupakan adik kandung dari Raja Jenggala. Namun takdir berkata lain, dalam rencana perjodohan tersebut banyak diselingi perbagai rintangan dan kejadian yang membuat pernikahan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji urung dilaksanakan.

Perjodohan yang diterima sebagai bakti seorang anak kepada orang tua ini berubah menjadi sebuah kisah drama yang penuh dengan petualangan. Itu semua terjadi ketika ternyata Panji Inu Kertapati jatuh cinta dengan perempuan pujaan hatinya yakni Retno Angreni putri seorang Patih Kraton Jenggala. Bermula dari kisah percintaan inilah, drama dan berbagai konflik masuk dalam kehidupan Panji Inu Kertapati. Setelah Raja Jenggala menyadari bahwa ada hambatan yang menghalangi niatnya untuk menjodohkan Panji dengan Sekartaji, muncullah berbagai skenario untuk bisa mewujudkan rencana perjodohan tersebut. Semua itu akhirnya harus ditebus dengan kematian Retno Angreni. Kematian Angreni  melahirkan dua versi penyebab, yaitu Angreni bunuh diri karena tahu dirinya akan dibunuh oleh orang suruhan Raja,  dan mati dibunuh oleh Raden Nila Prabangsa yaitu anak  tertua dari selir Raja Jenggala.

Sejak kematian Retno Angreni itulah kehidupan Panji Inu Kertapati mulai diwarnai dengan pengembaraan dan peperangan. Dan berita batalnya pernikahan Panji Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji tersebut tersebar hingga ke negeri negeri asing yang membuat para Rajanya tertarik untuk melamar putri kraton Kediri tersebut. Termasuk Prabu Klana Sewandana, seorang Raja dari tanah Hindu yang berencana berangkat ke Kediri dengan membawa pasukan prajurit seratus kapal banyaknya untuk melamar Dewi Sekartaji. Kisah tersebut berakhir dengan peperangan besar antara pasukan Prabu Klana Sewandana dengan prajurit Kediri. Dan Prabu Klana Sewandana-pun akhirnya dikalahkan oleh Panji Inu Kertapati. Dan kisah kesetiaan penantian Dewi Sekartaji berakhir dengan bahagia karena Panji Inu Kertapati telah kembali dan menikahinya di Kediri.

Empat puluh lima menit perjalanan menuju desa Sonoageng Nganjuk, setelah melewati jalanan kecil dari kota Kediri menuju Prambon Kabupaten Nganjuk, dan sempat istirahat beberapa saat di rumah pak Toho  seorang pengrajin wayang kertas di desa Jabon Banyakan,  lalu kami ngobrol tentang cerita Panji diatas, rasanya cuaca panas siang itu mulai terobati oleh segarnya segelas es teh manis dan kisah petualangan Panji yang kami bahas siang itu.

Setelah melanjutkan perjalanan, akhirnya sampailah disebuah mulut gang kecil dengan gapura tembok yang terdapat dua patung sapi berwarna putih di salah satu sisi gapura. Rupanya inilah gerbang masuk ke desa Sonoageng yang dulunya terkenal dengan peternakan sapi tradisionalnya yang pernah menjadi juara Nasional atas keunggulan kualitas ternaknya. Tak jauh dari jalan masuk desa tersebut, di sebelah kiri jalan terlihat sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dengan rindangnya pepohonan, ada pohon mangga dan pohon nangka yang seolah memayungi halaman rumah tersebut dari sengatan sinar matahari yang panas siang itu.

Tidak berbeda dengan suasana di desa Bujel Mojoroto Kediri, tampak kerumunan anak-anak sedang berlarian dan saling dorong entah sedang bermain apa. Siang itu mereka sedang bersiap untuk pementasan tari jaranan seperti halnya yang dilakukan anak-anak di desa Bujel Mojoroto. Terlihat anak-anak yang akan terlibat dalam pementasan sore itu masih berusia rata-rata dibawah usia tujuh tahun. Disela mereka berlarian dan bercanda dengan temannya, ada juga yang sedang memungut ranting pohon yang sudah kering untuk bermain layaknya sedang menunggang kuda dan berjoget di bawah rindangnya pohon mangga.

Tak lama setelah itu, datanglah seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang tampak masih gagah dan terlihat muda. Warga desa Sonoageng memanggilnya mas Anto. Anak-anak mulai mengerumuni mas Anto yang siang itu akan merias mereka dengan dandanan dedaunan. Mas Anto adalah seniman jaranan senior di desa ini, lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat petani yang masih sangat kuat dengan tradisi, namun juga terbiasa dengan kedisiplinan serta kemandirian yang diajarkan oleh ayahnya yang pensiunan marinir.

Tak berapa lama semua anak sudah siap dengan kostum mereka. Dalam pementasan Kediri Bertutur  ini yang menjadi ciri khas dan kekuatannya adalah, semua pementasan disajikan oleh anak-anak dengan pakaian seadanya atau pakaian sehari-hari dengan penambahan atribut dari dedaunan, hal ini membuat suasana bermain lebih menonjol dibandingkan sebuah pementasan. Dari sini proses belajar dan mengenal budaya asli yang mereka warisi turun temurun terjadi lebih alami dan tidak dalam bentuk pemaksaan, sehingga rasa senang dan rasa suka bisa muncul dalam diri anak-anak, baik yang terlibat langsung maupun yang menonton. Anak-anak menikmati cara bertutur yang sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka dulu dengan cara mereka, yaitu dunia bermain. Tidak terlihat sebuah kegiatan atau bentuk pembelajaran atau menggurui yang tertangkap secara langsung di acara tersebut, yang ada adalah suasana bersenang-senang dan bermain.

Bermain adalah cara belajar yang menyenangkan, mulai dari lenggak lenggok jaranan anak-anak hingga gemulainya Dewi Sekartaji dan mbok embannya, kemeriahan gamelan sederhana yang mengiringi lagu-lagu dolanan anak, semuanya tersaji dengan ‘kemegahan’ yang sederhana, tapi susah menahan diri untuk tidak ikut bergoyang karenanya bila kita ada disana. Kediri Bertutur memberikan banyak inspirasi tentang cara belajar dari masa lalu, bukan dengan cara ‘semena-mena’ atau asal melestarikannya, tapi lebih memahami sebuah warisan cara bertutur yang mengajarkan kebaikan  dengan menanamnya dalam diri kita, apalagi sejak usia anak-anak. Kediri Bertutur meninggalkan kenangan akan keindahan dan  kepahlawanan kisah-kisah tempo dulu yang tidak akan usang meski hadir di jaman serba canggih sekalipun, dan saat terlihat anak-anak tetap bermain dengan kegembiraan dengan warisan tradisi mereka, sungguh mereka tidak merasa bahwa mereka sedang belajar tentang kebaikan di dalamnya. Salam Kratonpedia.

narasumber:

http://www.kratonpedia.com/article-detail/2012/3/6/248/Bermain.Dan.Belajar.Bertutur.Dari.Kediri.%281%29.html

http://www.kratonpedia.com/article-detail/2012/3/11/251/Bermain.Dan.Belajar.Bertutur.Dari.Kediri.%282%29.html

Picture1.jpg Picture2 Picture3 Picture4 Picture5 Picture6 Picture7 Picture8 Picture9 Picture10 Picture11 Picture12 Picture13 Picture14 Picture15 Picture16 Picture17 Picture18 Picture19 Picture20 Picture22 Picture23 Picture24 Picture25 Picture26 Picture27 Picture28 Picture29 Picture30 Picture31 Picture32 Picture33

Kediri Bertutur: Bermula dari Kepang Godong

Artikel Kediri Bertutur

Spanduk, umbul – umbul, papan reklame, yang terpasang berjubel di sepanjang jalan kota kediri, adalah kebun kota, yang tiap hari menjadi objek pemandangan bocah2 kota di kediri.  Matahari, Ramayana, Sri Ratu, adalah taman yang indah bagi para orang tua untuk mengajak anak2 mereka bermain dan berekreasi disetiap waktu.  Beragam produk mainan industri, seperti robot2an, mobil2an yang terpajang di etalase mal adalah mainan anak2  di masa kini. Bom – bom car, mandi bola, game fantasi adalah taman surga bagi dunia bocah.

Tak pernah kita melihat lagi, bocah-bocah bermain dengan mainan yang terbuat dari bahan – bahan hasil alam. Mainan Perang – perangan dari pelepah pisang, Tangkai kembang tebu (gelagah), kulit jeruk bali yang bisa dipakai mobil – mobilan, orang – orangan yang terbuat dari tumbuhan suket, sampai terompet – terompetan dari tangkai daun pepaya.

Kepang Godong adalah pentas kreasi baru koreografi anak,yang memakai bahan – bahan dari alam sebagai medianya. Kepang/jaranan, ganongan, barongan yang merupakan atribut media utama yang dipakai dalam pertunjukan pentas jaranan semuanya terbuat dari bahan2 daun serta plepah pisang. Pementasan Kepang Godong, adalah pementasan yang menghadirkan dan menumbuhkan kembali  spirit, kreativitas, bagaimana cara anak2 tempo dulu bermain dan membuat kreasi – kreasi mainannya sendiri. Lewat media2 yang terbuat dari daun, pementasan ini hadir untuk menumbuh kembangkan  kesadaran anak2 akan alam.

“Kepang Godong” anak2 desa Kawi, Mojoroto, Kediri, pementasan di Kampung komunitas seni kuda kepang,” desa Ngurah, Kediri.

IMG_9451 IMG_9453 IMG_9596 IMG_9605 IMG_9611 IMG_9691 IMG_9694 IMG_9704 IMG_9731 IMG_9768 IMG_9769 IMG_9419 IMG_9775 IMG_9813 IMG_9826 IMG_9835 IMG_9448 IMG_9855 IMG_9863 IMG_9878 IMG_9891 IMG_9982 IMG_0003 IMG_0013 IMG_0014 IMG_0098 IMG_9930 IMG_9946 IMG_0032 IMG_0038 IMG_0049 IMG_0085 IMG_9999 IMG_0025 IMG_0171 IMG_0103 IMG_0124 IMG_0154 IMG_0026 IMG_0206 IMG_0186 IMG_0194 IMG_0199

PERJALANAN BUDAYA: DI BALIK LAYAR KEDIRI BERTUTUR

Artikel Kediri Bertutur

16  tahun aku berkecimpung  di dunia komunikasi dan marketing, cukup kupahami bahwa kompetisi  yang ketat serta gigihnya manusia berusaha demi mencari keuntungan  merupakan  nilai  yang menggerakkan jiwa dan raga bagi orang-orang yang memiliki kehidupan di kota.  Setelah 16 tahun aku bekerja dan berkarir mencapai posisi General Manager di sebuah perusahaan iklan multinasional,  aku berhenti mendaki puncak karir.  Aku memiliki suatu kesadaran yakni “keinginan untuk  mencari  kekayaan dan jabatan tak akan ada hentinya.”

Di tahun 2011, saya berhenti bekerja dan melepaskan semua atribut-atribut yang melekat dengan jabatan seorang General Manager.  Kulepas kemapanan yang terikat dengan jabatan, akan tetapi aku tetap bekerja sebagai pekerja lepasan untuk mencari nafkah.

Kusadari bahwa untuk mencapai tingkat kualitas kehidupan yang lebih baik bukan berarti mendapatkan status serta harta benda yang melimpah.  Dalam perjalananku, aku mencari kualitas hidup dimana spirit humanis yang menjadi penggerak jiwa ragaku. Pelajaran ini hanya bisa kudapatkan dengan melakukan perjalanan budaya.

Kutelusuri jalan di hadapanku yang membawa diriku mengapreasiasi wayang orang Bharata di jalan Kalilio, Pasar Senin. Setiap hari Sabtu malam, aku rajin hadir untuk setiap lakon yang dipentaskan.  Kunikmati indahnya nilai-nilai Jawa yang dibawakan melalui gerakan indah serta alunan gending yang membuai jiwa.  Pelajaran yang kudapati adalah dalam hidup ini ada baiknya jika memiliki penyikapan dan tingkah laku yang lembut.  Cara inilah yang lebih bijaksana. Kusadari bahwa budaya Jawa memiliki tata cara dan  penyikapan santun yang lebih elegan dari budaya negara-negara maju.  Suatu tradisi yang dianggap orang-orang kota kuno ternyata menurutku justru lebih tinggi derajatnya dan semakin dibutuhkan di masa kini.

Petualangan ini kemudian membawaku ke halaman kampungku di Mojoroto, Kediri, Jawa Timur.  Aku pelajari Cerita Panji dan Dewi Sekartaji/Candrakirana serta kaitannya dengan seni tari rakyat Jaranan. Cerita “Raden Panji dan Dewi Sekartaji/Galuh Candrakirana” adalah cerita populer di kalangan masyarakat jawa dulu. Sejarah kerajaan Kediri adalah setting dari kidung asmara kisah cinta antara Raden Panji dan Candrakirana. Kisah asmara mereka adalah perjalanan cinta yang penuh liku bahkan melalui jalan “peperangan dan pengembaraan”.

Dibalik peristiwa peperangan, pengembaraan dalam perjalanan asmara yang penuh liku terkandung nilai-nilai edukasi dan sarat dengan pesan moral yang mencakup aspek politik (pemerintahan birokrasi), sosial, ekonomi, budaya, religi, serta harmonisasi antara manusia dan alam.Andhe-andhe lumut, Kethek Ogleng, Panji Laras, Keong Emas, Timun Emas, Panji Anggreni, Panji Angkronakung adalah lakon-lakon cerita yang sangat populer di kalangan masyarakat jawa dulu dan di kalangan dalam keraton diantara ratusan bahkan ribuan cerita Panji yang ada.

Perwujudan pentas lakon Panji ditampilkan melalui seni wayang beber, wayang krucil/kayu, wayang gedog, tari topeng, ketoprak, tembang(macapat), relief, arca dan tradisi/ budaya bertutur orang tua dulu. Lakon-lakon cerita Panji dan Candrakirana pada peradaban dan budaya masyarakat kekinian, sudah tidak mendapat tempat lagi sehingga terpendam dalam budaya jaman kekinian dan dianggap usang dan kuno.

Nenek moyang kita dulu telah mewariskan budaya yang sangat cerdas dan eksotis. Bertutur adalah salah satu kegeniusan tradisi (“lokal genius”) yang disebarkan dari kampung ke kampung.  Tembang, dongeng adalah bentuk-bentuk tradisi bertutur. Hanya dengan merangkai daun, tangkai, suket jadilah bentuk wayang. Tembang dan wayang daun/suket dipakai untuk melakonkan cerita dan dongeng. Tradisi bertutur ini bisa dilakukan kapanpun dan dimana saja. Di gubug tengah sawah, di kebun, di bawah pohon bambu, di tepi sungai atau di pekarangan halaman rumah, tradisi bertutur ini –“tembang dan dongeng” dilakonkan.

Lewat Kediri Bertutur, lakon-lakon cerita Panji dan Candrakirana diketengahkan dan diceritakan lagi di tengah masyarakat kita yang kekinian dan telah kehilangan jejak akar budayanya sendiri.

Melalui seni rakyat (jaran kepang), tradisi bertutur nenek moyang dulu “wayang dari merang (batang padi) dan daun” sampai pentas wayang krucil adalah perwujudan Kampung Bertutur dalam menjaga, merawat dan melestarikan harta karun budaya milik bangsa sendiri “Budaya Panji” yang juga sangat populer di luar jawa sampai mancanegara. Terciptanya iklim masyarakat yang guyub “kebersamaan” dan rukun di tempo dulu serta penanaman nilai-nilai budi pekerti kepada anak-anak, tidak bisa dipisahkan dari peranan dan fungsi “tradisi bertutur.” Lewat Kediri Bertutur ini, “kegeniusan tradisi” nenek moyang dulu yaitu “bertutur” tidak lagi menjadi “tradisi yang hilang” dalam masyarakat sekarang yang berkiblat pada budaya modernitas.

IMG_5027 IMG_5033 IMG_5111 IMG_0434 IMG_0448 IMG_1257 IMG_1262 IMG_1323 IMG_1334 IMG_9737 IMG_9750 IMG_9753 IMG_9800 IMG_9810 IMG_9833 IMG_9844 IMG_9853 IMG_9907 IMG_9919 IMG_9925 IMG_9933 IMG_9940 IMG_9988 IMG_3889 IMG_3920 IMG_4015 IMG_4026 IMG_4106 IMG_4121 Kediri Bertutur_25 Junic Kediri Bertutur_25Junia Kediri Bertutur_25Junib Kediri Bertutur_25Junid Kediri Bertutur_25Junie Kediri bertutur_25Junif Kediri Bertutur_25Junig Kediri Bertutur_25junih Kediri Bertutur_25Junij Kediri Bertutur_25Junik kediri bertutur_26juni kediri bertutur_26junia kediri bertutur_26junib kediri bertutur_26junic kediri bertutur_26junid kediri bertutur_26junif kediri bertutur_26junig kediri bertutur_26junih kediri bertutur_26junii kediri bertutur_26junij kediri bertutur_26junik kediri bertutur_26junil kediri bertutur_26junim kediri bertutur_26junin kediri bertutur_26junio kediri bertutur_27junie

Kediri Bertutur dalam ekspresi WPAP

Artikel Kediri Bertutur

WPAP adalah Wedha’s Pop Art Portrait. Bapak Wedha Abdul Rasyid adalah seorang illustrator di majalah remaja  Hai yang juga sering disebut-sebut sebagai Bapak Illustrator Indonesia karena kontribusi dan karya-karyanya di bidang illustrasi dan seni rupa.

Profesi sebagai illustrator sudah dikerjakan Wedha yang malang melintang di media cetak sejak tahun 1970-an. Mulai 1977, ketika bergabung dengan majalah Hai, ia banyak membuat ilustrasi terutama karya-karya fiksi Arswendo Atmowiloto dan Hilman dengan Lupus-nya yang fenomenal. Di majalah itulah Wedha mengerjakan potret para tokoh dunia dari segala latar belakang: tokoh politik, musisi, seniman, sampai tokoh-tokoh fiktif.

Pada tahun 1990, Wedha kemudian memulai style baru untuk illustrasi gambar wajah. Hal ini menurutnya dikarenakan penurunan daya penglihatan karena usia yang telah mencapai 40 tahun sehingga ia sulit menggambar wajah dalam bentuk yang realistis dan detail. Wedha kemudian mencoba illustrasi bergaya kubisme untuk gambarnya. Gaya ini kemudian tumbuh dan semakin populer sebagai bagian dari gaya popart bahkan hingga dengan saat ini. Gaya illustrasi ini disebut Wedha’s Pop Art Potrait (WPAP), bahkan ada yang menyebutnya sebagai aliran Wedhaism.

Lihat karya-karya Wedha. Bentuk dan tekniknya khas, ia gambarkan wajah para tokoh itu disusun dalam mosaik warna yang dipecah menurut faset-fasetnya. Bukan dalam pengertian kubisme, tapi lebih menggabungkan ragam warna yang harmonis sehingga membentuk tokoh yang digambarkan. Meski karyanya tidak detail, namun mampu mewakili karakter wajah dengan sangat baik.

Kediri Bertuturpun sangat menarik ditangkap dalam bentuk WPAP yang kekinian. Pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur diharapkan menjadi “peristiwa budaya,” yang sanggup membangkitkan kembali “kesadaran dan spirit” masyarakat saat ini akan “keluhuran dan kegeniusan budaya” yang diwariskan nenek moyang kita.

Kediri Bertutur mengucapkan terima kasih kepada mas Arif Wicaksono atas karya WPAP foto-foto Kediri Bertutur.

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 Picture1 Picture2 Picture3 Picture4 Picture5 Picture7 Picture8 Picture9 Picture10 Picture11 Picture12 Picture13 Picture14 Picture15 Picture16

Kediri Bertutur 2012: Kegeniusan budaya nenek moyang

Artikel Kediri Bertutur

Pagelaran Seni dan Budaya “Kediri Bertutur” mengetengahkan dan menghadirkan kembali lakon-lakon cerita Panji dan Dewi Sekartaji, ditengah masyarakat kita yang “kekinian,” yang telah kehilangan “jati diri” akar budayanya sendiri. Bentuk-bentuk kesenian budaya Panji dan Dewi Sekartaji seperti seni rakyat jaran kepang, wayang krucil, reyog ponogoro, tari dan tembang jawa adalah wahana “ekpresi dan eksplorasi” bentuk pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur.

Budaya spiritual masyarakat jawa kuno, “ritual peribadatan, sesaji, ruwatan sampai tradisi panen raya,” sebagai sumber pendekatan dan penafsiran dari gagasan dan konsepsi pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur. Pagelaran seni dan budaya Kediri Bertutur diharapkan menjadi “peristiwa budaya,” yang sanggup membangkitkan kembali “kesadaran dan spirit” masyarakat saat ini akan “keluhuran dan kegeniusan budaya” yang diwariskan nenek moyang kita.

Desa Sonoageng, Prambon, Nganjuk dengan pementasan Musik Klotekan dan barisan Patrol, Pentas Wayang Kayu dan Koreografi Tari ‘Kelir Bolong Bumi Kediri”

Sendang Pamenang, Kediri dengan pementasan Kolaborasi Pentas Wayang Krucil dengan tari Ledek, Pentas Wayang Janur, Pentas Kontemporer “seni rakyat Jaranan.”

IMG_1935 IMG_2000 IMG_2464 IMG_2467 IMG_2514 IMG_2522 IMG_2556 IMG_2560 IMG_2568 IMG_2571 IMG_2587 IMG_2594 IMG_2602 IMG_2613 IMG_2620 IMG_2637 IMG_2645 IMG_2662 IMG_2748 IMG_2791 IMG_2845 IMG_2851 IMG_2852 IMG_2861 IMG_2878 IMG_2892Kandi Windoe IMG_2277 IMG_2279 IMG_2281 IMG_2283 IMG_2284 IMG_2305 IMG_2317 IMG_2323 IMG_2329 IMG_2332 IMG_2338 IMG_2343 IMG_2348 IMG_2356 IMG_2358 IMG_2371 IMG_2406 IMG_2414 IMG_2419 IMG_2090 IMG_2109 IMG_2150 IMG_2251 IMG_2703 IMG_2711 IMG_2726 IMG_2761 IMG_2773 IMG_2778 IMG_2790 IMG_2129 IMG_2134 IMG_2147 IMG_2159 IMG_2167 IMG_2173 IMG_2194 IMG_2199 IMG_2201 IMG_2256 IMG_2267 IMG_2271 IMG_2906 IMG_2910 IMG_2915 IMG_2926 IMG_2932 IMG_2943 IMG_2948 IMG_2957 IMG_2963 IMG_2971 IMG_2978 IMG_2983 IMG_2985 IMG_3017 IMG_3022 IMG_3040 IMG_3065 IMG_3067 IMG_3076 IMG_3102 IMG_3107 IMG_3111 IMG_3122 IMG_3124 IMG_3130 IMG_3134 IMG_3137 IMG_3140 IMG_3180 IMG_3187 IMG_3193 IMG_3198 IMG_3203 IMG_3207 IMG_3215 IMG_3229 IMG_3238 IMG_3272 IMG_3273 IMG_3280 IMG_3285 IMG_3288 IMG_3293 IMG_3302 IMG_3304 IMG_3320 IMG_3373 IMG_3401 IMG_3410 IMG_3415 IMG_3422 IMG_3428 IMG_3437 IMG_3456 IMG_3468 IMG_3485 IMG_3683 IMG_3691 IMG_3702 IMG_4044 IMG_4066 IMG_4250 IMG_4306 IMG_4333 IMG_4363 IMG_4368 IMG_4396 IMG_4404 IMG_4423 IMG_4456 IMG_4539 IMG_4558 IMG_4576 IMG_4591 IMG_4595 IMG_4609 IMG_4634 IMG_4659 IMG_4661 IMG_4668 IMG_4670 IMG_4686 IMG_4704 IMG_4721 IMG_4725 IMG_4756 IMG_3962 IMG_4054 IMG_4287 IMG_4319 IMG_4350 IMG_4363 IMG_4369 IMG_4442 IMG_4470 IMG_4475 IMG_4633 IMG_3962 IMG_4054 IMG_4287 IMG_4319 IMG_4350 IMG_4363 IMG_4369 IMG_4442 IMG_4470 IMG_4475